SUKU BUNGA THE FED
MENGHANTUI EKONOMI INDONESIA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perekonomian
Di Indonesia yang di
ampu oleh Hermanita, MM.
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH
JURUSAN
SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) JURAI SIWO METRO
2015
Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong
mengatakan, kenaikan suku bunga acuan atau Fed Fund Rate (FFR) membuka peluang
ekspor yang lebih besar lagi ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat.
"Buat kita-kita di negara berkembang, itu
berita yang cukup menggembirakan (bahwa) perekonomian Amerika Serikat semakin
menguat, perekonomian Eropa semakin menguat. Itu memberikan peluang lebih
positif kepada kita untuk ekspor," kata Thomas di Jakarta, Selasa
(22/12/2015).
Kenaikan suku bunga acuan FFR sebesar 25-50 basis
poins, lanjut Thomas, menunjukkan bahwa perekonomian Amerika Serikat
menunjukkan pemulihan. Dia memperkirakan, ekonomi Eropa juga akan menyusul
perbaikan ekonomi Amerika Serikat.
"Kita jangan hanya melihat sisi negatif bahwa
bunga naik. Tetapi kenapa bunga dollar AS naik. Suku bunga naik karena bank
sentral AS percaya diri sekali bahwa ekonominya kuat dan akan semakin
menguat," sambung Thomas.
Thomas menuturkan, kenaikan suku bunga FFR
seharusnya bisa dilihat dari dua sisi. Memang benar, sambung dia, bahwa di satu
sisi kenaikan suku bunga FFR mengakibatkan tekanan pada nilai tukar rupiah
terhadap dollar AS. Dan tekanan nilai tukar ini pun dialami semua negara-negara
berkembang.
"Di lain sisi, AS berani menaikkan suku
bunganya karena perekonomian makin pulih. Akselerasi perekonomian AS, disusul
akselerasi perekonomian Eropa, ujungnya saya yakin akan positif untuk
perdagangan," ucapnya.
Pada Kamis pekan lalu, sidang FOMC telah menyepakati
kenaikan suku bunga acuan sebesar 25-50 bps. Federal Reserve juga diprediksikan
kembali mengerek suku bunga acuannya sebesar 100 bps secara gradual tahun
depan.
Menurut Andry Asmoro, Head of Macroeconomic Research
Department Bank Mandiri, sayangnya selama ini ekspor Indonesia didominasi oleh
komoditas. Di sisi lain, apabila ingin menangkap peluang pemulihan ekonomi
Amerika Serikat, maka pemerintah perlu mendorong produk manufaktur.
Lantas produk apa saja yang berpeluang dikirim ke
negeri Paman Sam? Berkaca dari kinerja ekspor 2014, setidaknya ada lima
kelompok produk potensial ekspor dengan tujuan Amerika Serikat. Mereka adalah
apparel dan sejenisnya, karet dan produk turunannya, ekspor perikanan, ekspor
peralatan elektronik, serta alas kaki.
Sepanjang 2014, ekspor produk apparel dan sejenisnya
ke Amerika Serikat mencapai 3,7 miliar dollar AS. Sementara ekspor produk karet
dan turunannya tercatat sebesar 1,7 miliar dollar AS.
Adapun ekspor produk perikanan mencapai 1,3 miliar
dollar AS, produk peralatan elektronik mencapai 1,3 miliar dollar AS, dan alas
kaki mencapai 1,1 miliar dollar AS. "Jadi ini adalah yang diharapkan
sekali (ekspornya naik) jika Amerika Serikat lebih cepat lagi
pertumbuhannya," kata Andry, Senin (21/12/2015).[1]
Bank sentral Amerika (The Fed) akhirnya menaikkan
suku bunga secara bertahap, dimulai dengan menaikkan sebesar 25 basis poin dari
0-0,25% menjadi 0,25- 0,50%.
Kebijakan ini ditempuh The Fed setelah rapat Federal
Open Market Committee (FOMC) yang digelar 15- 16 Desember 2015. Rapat FOMC ini
memandang perbaikan pasar tenaga kerja dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi
Amerika Serikat (AS) saat ini menjadi momentum menaikkan suku bunga,
meninggalkan zona suku bunga murah ke era kebijakan ketat.
KenaikansukubungaTheFedtahun 2015 sepertinya tidak
terlalu mengkhawatirkan seperti dugaan banyak kalangan, khususnya risiko
terjadinya capital-outflow secara besar-besaran. Namun, langkah The Fed untuk
menaikkan suku bunga tidak hanya berhenti pada tahun ini saja. Direncanakan
tahun 2016-2018, suku bunga The Fedakandinaikkan kembalisecara bertahap sampai
pada level optimum.
Inilah yang perlu diantisipasi oleh Indonesia
terkait dengan kebijakan moneter yang akan ditempuh oleh The Fed di 2016.
Kenaikan suku bunga ini menandakanera easy money telahberakhirdankebijakan
ekonomi ketat mulai dilakukan. Kenaikan suku bunga The Fed secara bertahap akan
dilakukan hingga mencapailevelnormaldikisaran3,5% dengan kemungkinan sekenario
2016 (1,5%), 2017 (2,5%) dan 2018 (3,5%). Keputusan kenaikan suku bunga The Fed
ini tentunya mengakhiri ketidakpastian di pasar, baik global mupun regional.
Tiap-tiap otoritas moneter dan fiskal di hampir
semua kawasan mulai melakukan kalkukasi strategis dalam
mengantisipasidampakdari tahapankenaikan ini. Kebijakan menaikkan suku bunga
The Fed ini tentunya semakin memperluas gap dengan kebijakan bunga di zona
Eropa yang tengah menempuh pelonggaran kebijakan.
Pada awal bulan inibanksentralEropa(ECB) kembali
menurunkan suku bunga acuannya dari minus 0,2% menjadi minus 0,3% dan
mempertahankan program stimulus pasar sebesar 60 miliar euro per bulan hingga
2017. Keputusan The Fed terhadap kebijakan suku bunga acuannya
dalamjangkapendek setidaknya telahmeredamspekulasidipasar. Hal ini sekaligus
memberikan ruang kepastian yang lebih bagi pengelolaan sistem keuangan global,
regional dan domestik.
Namun langkah The Fed menaikkan suku bunga akan
terus berlanjut di tahun 2016 dan hal ini perlu diantisipasi. Terlebih saat
ini, kondisi ekonomi Eropa, Tiongkok, Jepang, dan Amerika Latin tidak terlalu
menjanjikan. Sepertinya The Fed juga sangat hati-hati dalam memutuskan kenaikan
suku bunga. Ini membuat kenaikan suku bunga pertama di tahun 2015 tidak
menciptakan guncangan sangat besar di pasar keuangan dunia.
Hal itu pula yang tentunya diharapkan oleh banyak
negara ketika The Fed akan melakukan kenaikan lanjutan di sepanjang 2016. Bagi
Indonesia, kondisi ini perlu terus diikuti dengan penguatan fundamental ekonomi
di tahun 2016. Penguatan fundamental dapat dilakukan melalui empat faktor
berikut; pertama, kebijakan nilai tukar rupiah perlu mendapat perhatian besar
bagi otoritas moneter mengingat sepanjang2015, nilai tukar mengalami tekanan
yang cukup dalam (terdepresiasi sekitar 8-9% sepanjang Januari- November 2015).
Terdepresiasinya nilai tukar rupiah ini mendorong
pembengkakan sejumlah pembiayaan yang menggunakan dolar AS di satu sisi
sementara pendapatan yang diperoleh menggunakan mata uang rupiah. Begitu pula
dengan sejumlah industri yang banyak menggunakan bahan baku impor. Ongkos
produksi akan meningkat sementara permintaan relatif melemah akibat terkurasnya
daya beli masyarakat.
Di sisi lain, depresiasi nilai tukar rupiah
memberikan dampak positif bagi kegiatan ekspor. Selain mendorong ekspor,
kebijakan yang mendatangkan devisa seperti sektor pariwisata perlu
dioptimalkan. Selain itu, kebijakan menahan sisa hasil devisa ekspor untuk
beberapa waktu tertentu dapat dilakukan untuk meredam tekanan terhadap nilai
tukar rupiah.
Kedua, kenaikan suku bunga lanjutan The Fed tentunya
mendorong pembalikan arus modal keluar mengingat sejumlah pembelian di pasar
keuangan banyak didominasi oleh asing, misalnya di pasar saham, asing menguasai
sekitar 60% kepemilikan, dan di pasar obligasi pemerintah di kisaran 40%.
Eksposur kepemilikan asing di pasar keuangan ini tentunya sangat rentanterhadap
pemulihan ekonomi Amerika Serikat. Ketika suku bunga The Fed naik, bisa
diproyeksikan secara perlahan asing akan mulai mengalihkan modalnya kembali ke
Amerika Serikat.
Kondisi ini tidak hanya berlaku di Indonesia, tetapi
juga terjadidinegara- negara berkembang lainnya. Pelarian modal di pasar
keuangan dapat diantisipasi melalui dorongan untuk memperluas kapasitas di
sektor riil. Langkah yang perlu dilakukan untuk meredam dampak ini salah
satunya denganmendorongiklim usaha yang business friendly termasuk upaya
memangkas sejumlah regulasi perizinan usaha yang tidak ramah investasi.
Ketiga, imbas kenaikan The Fed juga berpotensi
menekan fiskal negara-negara berkembang khususnya bagi negara yang memiliki
defisit fiskal yang besar. Pemerintah Indonesia bebarapa waktu lalu menaikkan
proyeksi defisit fiskal dari 2,7% menjadi 2,9%. Hal ini dilakukan mengingat
ruang fiskal pada tahun 2015 semakin terbatas sehingga Kementerian Keuangan
mengambil kebijakan menaikkan proyeksi defisit ke level 2,9%.
Dengan naiknya proyeksi defisit ini, pemerintah berharap
ruang fiskal masih dapat mendorong sejumah agenda pembangunandi2015. Memang
menjadi persoalan ketika target penerimaan pajak sebagai tulang
punggungAPBNtidakterpenuhi. Tercatat hingga akhir November 2015, realisasi
penerimaan pajak baru mencapai Rp841 triliun atau 65% dari target APBNP 2015
sebesar Rp1.294,2 triliun.
Proyeksi realisasi penerimaan pajak hingga 31
desember 2015 diperkirakan hanya akan mampu menyentuh angka Rp950 triliiun atau
73% dari target APBNP 2015. Dengan realita ini tentunya pemerintah dapat
mengalkulasi ulang proyeksi penerimaan pajak 2016 yang ditargetkan dalam APBN
2016 sebesar Rp1.360,1 triliun.
Sementara itu, saat ini dunia usaha Indonesia juga
membutuhkan kebijakan perpajakan yang lebih ramah agar dunia usaha dan penciptaan
lapangan kerja terus berkembang. Keempat, asumsi kehatihatian The Fed dalam
memutuskan kenaikan Fed Fund Rate (FFR) akan dilanjutkan pada 2016. Kita
berharap bahwa kenaikan lanjutan suku bunga di Amerika Serikat tidak akan
memberikan guncangan besar di pasar keuangan dunia seperti yang terjadi pekan
lalu.
Mempertimbangkan akan hal ini, perlu stimulus untuk
menaikkan daya saing industri dan pelaku usaha melalui penyesuaian suku bunga
acuan BI. Tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia saat ini di level 7,5% dapat
diturunkan ke level 6,0-7,0% di tahun 2016 untuk memberi ruang bagi ekspansi
usaha-usaha dalam negeri (khususnya UMKM). Penurunan suku bunga acuan ini dapat
menekan suku bunga kredit sehingga industri dalam negeri dapat tetap tumbuh.
Meskipun dengan angka suku bunga di kisaran 6%, suku
bunga kredit Indonesia masih relatif tinggi di banding negara negara seperti
Vietnam, Malaysia dan Singapura. Keempat hal ini menurut pandangan saya perlu
menjadi perhatian pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla khususnya dalam
menahan efek perlambatan ekonomi global. Keempat faktor ini berimbas langsung
pada upaya penguatan daya beli masyarakat sekaligus mendorong penguatan ekonomi
domestik, tentunya di samping sejumlah pembangunan infrastuktur yang sedang
berjalan.
Kita berharap paket ekonomi yang telah berjalan
(1-7) dan yang akan dikeluarkan dapat efektif di tingkat implementasi untuk
semakin memperkuat fundamental ekonomi nasional di tengah ketidakpastian
ekonomi global 2016. Koordinasi dan sinkronisasi antara otoritas fiskal-moneter
dan sektor riil menjadi titik simpul yang penting untuk menjaga stabilitas dan
mendorong pertumbuhan nasional.[2]
Kenaikan suku bunga Bank Federal Amerika
Serikat dinilai bisa memangkas keuntungan pabrikan otomotif pada tahun
mendatang dan mempengaruhi penjualan mobil beserta pembiayaan otomotif.
Untuk kali pertama sejak 2006 The Fed
akhirnya menaikkan suku bunga ke level 0,25-0,5 persen, dan sejumlah ekonom
memprediksikan setidaknya tiga-empat kali penyesuaian suku bunga akan dilakukan
The Fed hingga akhir 2016 nanti.
Pengetatan dari bank sentral AS tersebut,
bakal membuat perusahaan seperti Ford Motor Co dan General Motors sedikit
kesulitan memperoleh dana dari pasar obligasi karena tingkat suku bunga yang
tinggi dan mahal.
Pabrikan tersebut akan membebankan ongkos
tambahan kepada para konsumen akibat tekanan persaingan. Di sisi lain bagi
bank-bank di AS, kenaikan suku bunga The Fed tidak akan membengkakkan ongkos
pembiayaan meski misalkan penyesuaian dilakukan satu atau dua kali, sebab mereka
akan tetap mempertahankan suku bunga yang mereka gunakan untuk pembiayaan
otomotif. (Zum/Nji)[3]

Nama saya adalah Cynthia Johnson. kita hipotek, pinjaman rumah, kredit mobil, pinjaman Hotel, tawaran komersial Umum Mr John Carlson, orang harus memperbarui semua situasi keuangan di dunia / perusahaan untuk membantu mereka yang terdaftar pemberi pinjaman uang pinjaman pribadi, kredit konstruksi, rendah suku bunga 2% dll kredit modal, pinjaman usaha dan pinjaman kredit buruk bekerja, Memulai. Kami membiayai proyek di tangan dan perusahaan Anda / mitra dan saya juga ingin menawarkan pinjaman pribadi untuk klien mereka. hubungi kami melalui e-mail untuk informasi lebih lanjut: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com
ReplyDeleteKabar Baik, Setiap Satu. Nama saya Aris Setymin Dari Indonesia tapi aku tinggal di Prahova Rumania, aku cepat-cepat ingin menggunakan media ini untuk berbagi kesaksian tentang bagaimana Tuhan mengarahkan saya untuk pemberi pinjaman kredit Legit dan nyata yang telah mengubah hidup saya dari rumput untuk rahmat, saya pernah menjadi miskin wanita tapi dia telah berubah saya untuk orang kaya sekarang, karena saya sekarang dapat membanggakan dari hidup sehat dan kaya tanpa stres atau kesulitan keuangan.
ReplyDeleteSetelah berbulan-bulan mencoba untuk mendapatkan pinjaman di internet, saya ditipu oleh perusahaan pinjaman lain untuk membayar jumlah total Rp98,700,500, saya menjadi begitu putus asa dalam mendapatkan pinjaman dari pemberi pinjaman online yang sah yang tidak akan meningkatkan rasa sakit saya, jadi aku memutuskan untuk menghubungi seorang wanita yang baru saja pinjaman diterima secara online, kita membahas tentang masalah ini dan kesimpulan kami dia bercerita tentang seorang wanita bernama CYNTHIA JOHNSON yang merupakan CEO dari Cynthia Johnson Pinjaman Perusahaan.
Aku diterapkan untuk jumlah pinjaman ($520,000.00USD) dengan tingkat bunga rendah dari 2%, sehingga pinjaman disetujui dengan mudah tanpa stres dan semua persiapan dilakukan pada transfer kredit, karena fakta bahwa tidak memerlukan agunan untuk transfer pinjaman, saya hanya diberitahu untuk mendapatkan sertifikat lisensi kesepakatan dari mereka untuk mentransfer kredit saya dan dalam waktu kurang dari dua jam dan 20 menit pinjaman disetorkan ke rekening bank saya.
Jadi saya ingin saran siapa saja yang membutuhkan pinjaman untuk cepat menghubungi dia melalui: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dia tidak tahu bahwa saya melakukan ini dan saya berdoa agar Tuhan memberkati dia dan keluarganya untuk hal-hal baik yang telah dilakukan di hidupku. Anda juga dapat menghubungi saya di arissetymin@gmail.com untuk info lebih lanjut. dan di sini adalah email dari teman saya: ladymia383@gmail.com yang memperkenalkan saya kepada Ibu Cynthia Anda juga dapat menghubungi dia.