Breaking News

Tuesday, 12 January 2016

Makalah Nilai Tukar Rupiah Yang Melemah

NILAI TUKAR RUPIAH YANG MELEMAH
Makalah ini disusun guna Memenuhi Tugas Mandiri
Mata kuliah PEREKONOMIAN DI INDONESIA
Dosen Pengampu: HERMANITA, MM




SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
JURAI SIWO METRO
2014/2015



KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kehadirat ALLAH SWT. Yang senantiasa melimpahkan Rahmat dan hidayah-NYA kepada kita semua, penyusunan makalah ini dapat saya selesaikan.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Perekonomian Di Indonesia dan juga teman-teman yang ikut terlibat dalam penyusunan makalah ini.
Saya menyadari penyusunan makalah ini jauh dari kata sempurna, sehingga saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun, saya  bisa memperbaiki malakah saya. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca .


Metro,  Desember 2015


Penulis







BAB I
PENDAHULUAN

            A.    LATAR BELAKANG
     Kabar rupiah yang terus terpuruk menjadi berita ekonomi yang menghiasi media belakangan ini. Bertepatan juga dengan perombakan kabinet yang dilakukan pemerintah guna memperbaiki ekonomi Indonesia yang melambat di tengah pengaruh ekonomi global yang tak tentu, kabinet Jokowi-JK, khususnya bidang perekonomian mendapat sorotan dari perbagai pihak. Target pertumbuhan ekonomi yang belum mencapai target dan terus melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS membuat kinerja mereka selalu menjadi sorotan. Di bawah koordinasi menko perekonomian yang baru yaitu Darmin Nasution, pemerintah berusaha meningkatkan kinerja ekonomi dan berupaya untuk menghadapi pelemahan rupiah yang mendekati angka Rp14.000,- per dolar Amerika.

            B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa penyebab nilai tukar rupiah melemah?
2.      Bagaimana Pertanggungjawaban Pemerintah Terkait Pelemahan Rupiah?
3.      Bagaiman Rekomendasi Solusi terhadap Depresiasi Rupiah?

C.     TUJUAN
1.      Untuk mengetahui penyebab nilai tukar rupiah melemah.
2.      Untuk mengetahui pertanggungjawaban pemerintah terhadap pelemahan rupiah.
3.      Untuk mengetahui rekomendasi solusi terhadap depresiasi rupiah.

BAB II
PEMBAHASAN
NILAI TUKAR RUPIAH YANG MELEMAH

            A.    Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin pagi, 14 Desember 2015, melemah 0,19 persen. Pelemahan tersebut membuat kurs rupiah tembus ke angka Rp 14.019 per dolar AS. Hal ini juga terjadi pada hari ini, Selasa 15 Desember 2015.
Data Bloomberg Dollar Index mencatat, rupiah dibuka melemah 62 poin atau 0,44 persen ke level Rp 14.061 per dolar AS. Namun, sekitar pukul 08.10 WIB, mata uang rupiah kembali melemah sebesar 43 poin atau 0,30 persen ke Rp 14.080 per dolar AS. nilai tukar rupiah yang terus melemah. 
Melemahnya nilai tukar rupiah dikarenakan para investor menunggu pertemuan Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) yang dipantau hingga pekan ini. Para investor secara luas memperkirakan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunganya di pertemuan kebijakan moneter pada 15 dan 16 Desember untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade. The Fed telah menahan suku bunga selama hampir 7 tahun. Langkah The Fed menahan suku bunga di level rendah tersebut untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Amerika yang terpuruk akibat kasus subprime mortgage. Rencana kenaikan suku bunga ini meningkatkan kehawatiran dari pelaku pasar akan adanya pelarian dana-dana asing.
Selain itu, pelemahan harga minyak dunia juga menjadi penyebab rupiah melemah. Pelemahan minyak menjadi gambaran kepanikan terhadap kinerja rupiah. Dengan melemahnya minyak dunia perilaku pasar tidak punya keberanian melakukan transaksi, karena transaksi terbesar di pasar uang kemudian pasar komoditas. Menyikapi hal ini, Bank Indonesia telah melakukan langkah-langkah strategis.
Bank Indonesia menambah amunisi untuk menjaga stabilitas pasar finansial, melalui kerja sama dengan sebuah bank sentral lainnya. Bank Indonesia sebelumnya sudah bekerja sama melalui skema bilateral currency swap agreement (BCSA) dengan beberapa negara, termasuk Tiongkok yang baru saja menambah nilai BCSA tersebut menjadi 20 miliar dolar AS dari 15 miliar dolar AS.
Index Harga Saham Gabungan (IHSG) juga alami pelemahan. Ini terlihat dari penutupan perdagangan saham Senin, 14 Desember 2015. IHSG bergerak di zona merah, melemah 19,33 poin atau 0,44 persen ke level 4.374,19. penyebab melemahnya rupiah hingga menembus Rp 14.061 per dolar AS.[1]

           1.      Rupiah Anjlok, Kritik Kinerja Ekonomi Presiden Jokowi
pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat terus belangsung. Laporan terakhir menyebut, Rabu kemarin, 23 September 2015, rupiah dibuka melemah di posisi Rp14.597 per USD untuk kemudian semakin melemah sebesar 88 poin atau setara 0,60 persen ke posisi Rp14.640 per USD.
Pelaku bisnis mengkhawatirkan dampak pelemahan rupiah ini terhadap naiknya harga bahan baku, khususnya yang diimpor dari luar negeri. Sementara itu, publik mencemaskan anjloknya rupiah membuat harga barang kebutuhan semakin melonjak dan ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) semakin marak.
Tim ekonomi pemerintahan Presiden Joko Widodo nampaknya juga tidak begitu berdaya menghadapi kondisi perekonomian Indonesia yang semakin terpuruk ini. Pergantian beberapa jajaran menteri Kabinet Kerja, khususnya di bidang ekonomi juga belum secara signifikan mendongkrak nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Sementara itu, mereka yang tidak puas dengan kinerja tim ekonomi Presiden Jokowi menyarakan kritik keras.[2]

           2.      Rupiah Anjlok Hingga Rp 13.400/USD
Senin, 8 Juni 2015 kemarin nilai tukar Rupiah Rp13.400 dalam pedagangan di pasar ada dua faktor yang menjadi penyebab utama anjloknya Rupiah. Impor bahan baku menjelang bulan puasa dan repatriasi dividen yang dilakukan investor asing.
Faktor yang tak kalah mempengaruhi jatuhnya nilai tukar rupiah adalah data tenaga kerja AS yang membaik. Ternyata tidak hanya rupiah yang anjlok. Beberapa mata uang negara asia lainnya mengalami hal serupa, antara lain Korean Won dan Ringgit Malaysia.
Diperkirakan, sampai akhir Juni tekanan atas nilai tukar rupiah masih akan kuat. Namun, di saat puasa dan Lebaran diperkirakan jauh lebih baik. Hal itu dikarenakan biasanya investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) mulai masuk.
Bank Indonesia berupaya menstabilkan nilai tukar rupiah yang anjlok tersebut. Berbagai langkah antisipasi juga dilakukan BI untuk mencegah hal serupa kembali terjadi di masa mendatang. Sementara itu, sebab-sebab jebloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar, himbauan terhadap pemerintah Jokowi memperbaiki kinerja tim ekonominya sehingga bisa mengatasi hal ini.[3]

           B.     Nilai Tukar Rupiah Sentuh Titik Terendah Sejak 1998
Kondisi perekonomian Indonesia sepertinya belum benar-benar stabil. Hal ini terlihat dari fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dollar. Pada Jumat 24 Juli 2015 kemarin, rupiah mengalami titik terendah dalam nilai tukar terhadap dollar. Mata uang Indonesia ini mendekati level 13.500 per dollar Amerika Serikat. Hal ini merupakan rekor tertendah rupiah sejak krisis ekonomi menghantam Indonesia pada 1998.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) menunjukkan rupiah berada di posisi 13.448 per dollar AS. terpuruknya rupiah disebabkan oleh membaiknya data ekonomi Amerika Serikat. Hal ini membuat pasar wait and see terhadap pernyataan Gubernur The Fed Janet Yellen yang akan disampaikan pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan depan.
Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro membantah sinyalemen terpuruknya nilai tukar mata uang Rupiah disebabkan oleh kondisi di Yunani. “Rupiah itu terkena pressure semua mata uang karena ada sinyal bahwa Fed akan menaikkan rate-nya sebelum akhir tahun. Itu yang dijadikan spekulasi oleh investor mata uang saat ini,” kata Bambang
Meski demikian, pemerintah, sebut Bambang, tetap mengupayakan agar terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tidak memberatkan dunia usaha. “Kalau dilihat menguat terhadap mata uang lain, barangkali kita harus memikirkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dollar AS,” ucap Bambang. nilai tukar rupiah hampir menyetuh titik 13.500 per dollar Amerika Serikat. Utamanya terkait dengan kondisi perekonomian Indonesia dan nasib rakyat ke depannya.
Jatuhnya nilai tukar rupiah yang merupakan rekor terendah sejak krisis ekonomi menghantam Indonesia pada tahun 1998. Meski demikian, anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat ini bukan semata-mata salah para menteri bidang keuangan.[4]

            C.    Pertanggungjawaban Pemerintah Terkait Pelemahan Rupiah
Nilai tukar rupiah bervariasi dengan kecenderungan menguat di awal Agustus 2015. Sentimen global dinilai masih jadi faktor utama mempengaruhi nilai tukar rupiah. Mengutip data valuta asing Bloomberg, Senin (3/8), rupiah pada pukul 11.01 waktu Jakarta menguat ke level 13.487 per dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tukar rupiah sempat menguat ke level 13.465 per dolar AS. Gerak nilai tukar rupiah berada di kisaran 13.464-13.516 pada Senin siang.
Sentimen global terutama rencana bank sentral Amerika Serikat (AS)/The Federal Reserve menaikkan suku bunga pada September masih menekan nilai tukar rupiah. Sentimen negatif lainnya ditambah dari kekhawatiran ekonomi Tiongkok melambat. 
Selain itu, pelaku pasar juga menantikan rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2015 pada Selasa 4 Agustus 2015. Bila pertumbuhan ekonomi kuartal II 2015 lebih lemah dari kuartal I 2015 di kisaran 4,7% maka berdampak negatif  terhadap niai tukar rupiah.
Terkaparnya rupiah atas dolar Amerika Serikat menggoyang stabilitas perekonomian Indonesia. Sejumlah sektor ekonomi Indonesia pun terpukul. Terutama sektor yang berbasis impor, seperti sektor farmasi, kimia dan automotif. Namun, ada pula yang diuntungkan dengan melemahnya rupiah, seperti sektor yang berbasis ekspor karena adanya keuntungan selisih kurs. Industri perkebunan dan perdagangan, misalnya, diuntungkan dengan kondisi melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika.
Sementara itu, sebanyak 2.376 kicauan mengomentari aksi yang dilakukan Bank Indonesia untuk menahan pelemahan rupiah. Bank Indonesia (BI) mengaku tak akan segan-segan melakukan intervensi pasar untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah saat ini disebabkan adanya tekanan ekonomi global, terutama karena adanya kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat serta dampak krisis Yunani dan perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok menjadi faktor lain yang menyebabkan mata uang rupiah goyah.
Menanggapi jatuhnya keterpurukan nilai tukar rupiah yang makin dalam, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menjelaskan bukanlah tugas Pemerintah untuk mengeluarkan rangkaian kebijakan untuk mengamankan level rupiah. Bambang mengatakan, kebijakannya ada di Bank Indonesia, menurutnya nilai tukar bukan tanggung jawab kita, utamanya adalah tanggung jawab Bank Indonesia.
Namun menurut Wakil ketua DPR RI Fadli Zon, pemerintah harus bertanggung jawab terkait pelemahan rupiah, bukannya melempar tanggung jawab ini kepada Bank Indonesia. Fadli pun menambahkan bahwa hal ini merupakan cerminan dari buruknya koordinasi pemerintah dengan Bank Indonesia.
Selain itu, Presiden Republik Indonesia saat ini Joko Widodo atau biasa disebut Jokowi dibuat pusing atas kejadian ini. Melemahnya nilai tukar rupiah membuat pemerintah mesti bekerja ekstra keras untuk menjaga kestabilan ekonomi. menurut Jokowi kondisi saat ini justru membuat sejumlah eksportir untung. “Saya tetap optimis bahwa kondisi perlemahan rupiah bisa mendapatkan keuntungan terutama buat para eksportir”.[5]

D.    Faktor penyebab melemahnya Rupiah
Penentuan nilai mata uang suatu negara dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor domestik.
1.      Perbaikan Ekonomi AS (Eksternal)
Pada tahun 2008, The Fed, Amerika Serikat menerapkan kebijakan Quantitative Easing (QE) yaitu menyuntikan dana ke seluruh dunia dengan cara pembelian obligasi jangka panjang dikarenakan terjadinya krisis ekonomi dari pasar finansial. Sejak ekonomi negeri paman Sam membaik, The Fed memberhentikan stimulus (tapering off) pada awal 2014. Lebih dari itu, tersebar pula rencana bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada tahun 2015.
 Akibatnya, dana segar dari negara yang semula disimpan di luar Amerika Serikat kembali lagi ke asalnya karena kebijakan pemotongan dana stimulus dan rencana kenaikan suku bunga The Fed. Tak ayal, negara-negara berkembang seperti Indonesia yang mendapat dana investasi dari Amerika Serikat harus kehilangan dana tersebut karena penarikan modal oleh investor secara besar-besara. Oleh karenanya, jumlah dolar di Indonesia semakin menipis yang menyebabkan rupiah terus terkoreksi dari nilai fundamentalnya.
Capital Flight
Dikeluarkannya kebijakan tapering off oleh The Fed yang menghentikan stimulus dana untuk negara berkembang membuat modal yang ada di Indonesia akhirnya ditarik kembali ke Amerika Serikat atau disebut dengan capital flight. Dampaknya, arus modal yang keluar tinggi menyebabkan permintaan modal di pasar uang meningkat. Pemerintah Jokowi melakukan hal tersebut dengan cara mendapatkan tambahan dana untuk pembangunan di pasar uang. Tak ayal, utang luar negeri Indonesia naik dari 129.736 juta USD pada Desember 2014 ke angka 135.724 juta USD di Januari 2015.
Naiknya utang pemerintah karena kekurangan dana untuk investasi menyebabkan tingkat suku bunga riil pun naik. Pada bulan Januari 2015, tingkat suku bunga Bank Indonesia naik dari 7,50% ke 7,75%. Keluarnya arus kas modal yang begitu deras menyebabkan terdepresiasinya nilai riil mata uang rupiah dan menambah jumlah uang rupiah yang beredar. Oleh sebab itu, rupiah akan terus terkoreksi ketika terjadi capital flight.
Devaluasi Yuan oleh Pemerintah Tiongkok (Eksternal)
Keputusan pemerintah Tiongkok untuk mendevaluasi atau menurunkan nilai mata uang regionalnya sebesar 3% pada bulan ini berdampak pada nilai mata uang negara lain di dunia. Salah satu yang terkena imbasnya adalah rupiah yang terkoreksi turun sekitar 1,4%. Negara di kawasan Asia Pasifik dan Afrika juga mengalami hal yang sama. Turki mengalami pelemahan paling tinggi, yaitu sekitar 3,9% sementara Singapura hanya melemah sebesar 0,2% saja. Devaluasi ini bukan tanpa sebab, melainkan karena maksud pemerintah Tiongkok untuk memacu pertumbuhan ekonomi domestik yang melamban.
 Demi peningkatan ekspor, pemerintah Tiongkok menurunkan nilai mata uangnya agar dapat bersaing di pasar global. Namun, hal itu malah memicu terjadinya currency war atau perang kurs antar negara. Rupiah pun kian terpuruk karena kebijakan devaluasi yuan oleh negeri tirai bambu tersebut.
2.      Kondisi Neraca Perdagangan Indonesia (Internal)
Neraca perdagangan Indonesia juga memberikan pengaruh terhadap nilai tukar mata uang rupiah. Kegiatan ekspor dan impor berperan dalam penentuan nilai mata uang. Seperti diketahui, neraca perdagangan Indonesia sedang mengalami surplus. Saat ini, kegiatan ekspor sebesar 11.408 juta USD lebih tinggi dari impor yang turun ke angka 10.076 juta USD. Walaupun kondisi neraca perdagangan Indonesia sedang surplus, hal ini terjadi karena penurunan ekspor yang lebih rendah dari penurunan impor. Penurunan ekspor ini menjadi salah satu faktor rupiah terdepresiasi.
E.     Efek yang Ditimbulkan dari Terdepresiasinya Rupiah
Melemahnya nilai mata uang rupiah jelas memperlambat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pelemahan rupiah menimbulkan dampak negatif di berbagai sektor. Salah satunya, penurunan daya beli masyarakat terhadap barang yang diimpor dari luar negeri sehingga harga barang relatif meningkat. Sebagai contohnya, harga tempe dan tahu yang meningkat akibat harga kedelai yang diimpor dari luar negeri meningkat dalam rupiah. Hal serupa juga terjadi di sektor industri lain seperti sektor manufaktur dan tekstil.
Namun, beberapa sektor tidak terlalu berpengaruh atas pelemahan rupiah: sektor perkebunan dan pertambangan. Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM juga terkena dampak pelemahan rupiah.  Sektor ini penting untuk diperhatikan karena UMKM merupakan sektor penggerak ekonomi terbesar di Indonesia, sebanyak lebih dari 95% usaha di Indonesia merupakan UMKM.
Melemahnya nilai rupiah seharusnya menjadi kesempatan untuk meningkatkan ekspor. Secara teori, dengan melemahnya rupiah maka komoditas ekspor dari Indonesia dapat bersaing karena harga yang murah. Neraca perdagangan pada Juli 2015 pun seakan-akan mendukung teori tersebut karena mengalami surplus sebesar 1,33 milliar dolar AS, tertinggi sejak Januari 2014. Namun faktanya, neraca perdagangan yang surplus bukan berasal dari ekspor yang meningkat, melainkan penurunan impor yang jauh lebih banyak dibandingkan penurunan ekspor.
 Ekspor bulan Juli 2015 menurun sebesar 15,53%  sedangkan impor bulan Juli 2015 menurun sebesar 22,36%. Selain disebabkan oleh infrastruktur dan teknologi yang masih tertinggal, penurunan ekspor Indonesia juga disebabkan oleh belum mampunya Indonesia bersaing dengan Cina dan Vietnam yang melakukan devaluasi mata uang sehingga produk-produk  yang berasal dari Cina dan Vietnam lebih murah dibandingkan dengan produk-produk Indonesia.
F.     Rekomendasi Solusi terhadap Depresiasi Rupiah
Hal yang pemerintah dapat lakukan pada kondisi ini yaitu memperbaiki sektor ekspor. Dimulai dengan program pembangunan infrastruktur dan teknologi sebagai faktor utama yang mendukung kegiatan ekonomi di Indonesia. Pemerintah dapat meningkatkan government spending untuk memicu investasi dan kegiatan ekonomi lainnya di Indonesia, seperti mengurangi biaya produksi melalui penurunan harga listrik, tax holiday, penurunan suku bunga, atau melakukan deregulasi peraturan yang menghambat usaha-usaha di Indonesia karena adanya birokrasi yang rumit.
Selama infrastruktur belum mencukupi dalam kegiatan ekspor, devaluasi mata uang bukanlah solusi yang tepat untuk saat ini. Pemerintah juga seharusnya mengeluarkan kebijakan untuk mempercepat realisasi belanja dan penyerapan APBN dan APBD yang saat ini masih lambat untuk mempercepat proses pembangunan infrastruktur dan teknologi.
Aksi buyback atau pembelian kembali saham yang dilakukan oleh beberapa BUMN juga dapat mengatasi bursa saham yang menurun drastis. Didukung dengan keluarnya kebijakan baru oleh OJK melalui Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 22/SEOJK.04/2015 yang secara garis besar memperbolehkan emiten untuk membeli kembali (buyback) tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), seharusnya aksi buyback dapat mengatasi pasar saham yang lesu dengan efektif.
Pemerintah juga harus melakukan langkah untuk membuat para pengusaha-pengusaha yang menyimpan dolar di luar negeri dari hasil ekspor untuk melepas valuta asing untuk menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Bank Indonesia (BI) sudah menyiapkan beberapa kebijakan untuk mengatasi pelemahan rupiah. BI menyiapkan kebijakan Bilateral Swap Agreement (BSA) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Lalu BI akan melakukan intervensi di pasar valas untuk mengendalikan volatilitas nilai tukar rupiah dengan menggunakan cadangan devisa. Kebijakan selanjutnya adalah melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder namun tetap memperhatikan dampak ketersediaan SBN untuk masuknya dana asing, dan likuiditas pasar. BI juga mengambil setidaknya tiga langkah dalam Operasi Pasar Terbuka.
  1. Mengubah mekanisme lelang Reverse Repo (RR) SBN dari variable rate tender menjadi fixed rate tender
  2. Menyesuaikan pricing RR SBN dan memperpanjang tenor dengan menerbitkan RR SBN 3 bulan.
  3. Mengubah skema lelang Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI) dari variable rate tender menjadi fixed rate tender dan menyesuaikan pricing serta menerbitkan SDBI tenor 6 bulan. Term Deposit Valas juga diubah dari variable rate tender menjadi fixed rate tender dengan menyesuaikan pricing dan memperpanjang tenor sampai 3 bulan. Selain itu BI juga menyesuaikan frekuensi lelang Foreign Exchange Swap dari 2 kali seminggu menjadi 1 kali seminggu, dan menurunkan batas pembelian valas tanpa pembuktian dokumen underlying transaction, dari yang berlaku saat ini US$ 100.000 menjadi US$ 25.000 per nasabah per bulan.
Satu hal yang dapat ditarik dari keseluruhan adalah adanya urgensi untuk menenangkan rakyat untuk mengembalikan kepercayaan pasar. Dengan kembalinya kepercayaan pasar, investor dapat kembali menanamkan modalnya di Indonesia dan perekonomian Indonesia dapat kembali stabil.
Tentunya solusi-solusi tersebut harus diseimbangkan antara kebijakan jangka pendek dengan jangka panjang sehingga tidak terjadi perumpamaan ‘gali lubang, tutup lubang’. Pemerintah, BI, dan OJK sebagai pengatur sektor fiskal, moneter, dan perbankan seharusnya melakukan koordinasi secara intensif untuk membuat kebijakan yang tersinkronasi dengan baik antara fiskal, moneter, dan perbankan.

BAB III
PENUTUP


KESIMPULAN
Melemahnya nilai tukar rupiah dikarenakan para investor menunggu pertemuan Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) yang dipantau hingga pekan ini. Para investor secara luas memperkirakan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunganya di pertemuan kebijakan moneter pada 15 dan 16 Desember untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade. The Fed telah menahan suku bunga selama hampir 7 tahun. Langkah The Fed menahan suku bunga di level rendah tersebut untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Amerika yang terpuruk akibat kasus subprime mortgage. Rencana kenaikan suku bunga ini meningkatkan kehawatiran dari pelaku pasar akan adanya pelarian dana-dana asing.
Satu hal yang dapat ditarik dari keseluruhan adalah adanya urgensi untuk menenangkan rakyat untuk mengembalikan kepercayaan pasar. Dengan kembalinya kepercayaan pasar, investor dapat kembali menanamkan modalnya di Indonesia dan perekonomian Indonesia dapat kembali stabil.










DAFTAR PUSTAKA










[2] http://eveline.co.id/ekonomi/rupiah-anjlok-netizen-kritik-kinerja-ekonomi-presiden-jokowi/

[3] http://eveline.co.id/ekonomi/rupiah-anjlok-hingga-rp13-400usd-netizen-cemas/

[4] http://eveline.co.id/ekonomi/netizen-khawatir-nilai-tukar-rupiah-sentuh-titik-terendah-sejak-1998/#

No comments:

Post a Comment

Designed By VungTauZ.Com