NILAI TUKAR RUPIAH YANG MELEMAH
Makalah ini disusun guna Memenuhi
Tugas Mandiri
Mata kuliah PEREKONOMIAN DI
INDONESIA
Dosen Pengampu: HERMANITA, MM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)
JURAI SIWO METRO
2014/2015
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kehadirat
ALLAH SWT. Yang senantiasa melimpahkan Rahmat dan hidayah-NYA
kepada kita semua, penyusunan makalah ini dapat
saya selesaikan.
Saya juga mengucapkan terima
kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Perekonomian
Di Indonesia dan juga teman-teman
yang ikut terlibat dalam penyusunan makalah ini.
Saya menyadari penyusunan makalah ini jauh dari kata sempurna, sehingga saya mengharapkan kritik dan saran yang
membangun, saya bisa memperbaiki malakah saya. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca .
Metro, Desember 2015
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kabar rupiah yang terus terpuruk menjadi berita ekonomi yang
menghiasi media belakangan ini. Bertepatan juga dengan perombakan kabinet yang
dilakukan pemerintah guna memperbaiki ekonomi Indonesia yang melambat di tengah
pengaruh ekonomi global yang tak tentu, kabinet Jokowi-JK, khususnya bidang
perekonomian mendapat sorotan dari perbagai pihak. Target pertumbuhan ekonomi
yang belum mencapai target dan terus melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap
dolar AS membuat kinerja mereka selalu menjadi sorotan. Di bawah koordinasi
menko perekonomian yang baru yaitu Darmin Nasution, pemerintah berusaha
meningkatkan kinerja ekonomi dan berupaya untuk menghadapi pelemahan rupiah
yang mendekati angka Rp14.000,- per dolar Amerika.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa penyebab
nilai tukar rupiah melemah?
2.
Bagaimana Pertanggungjawaban Pemerintah Terkait Pelemahan Rupiah?
3.
Bagaiman Rekomendasi Solusi terhadap Depresiasi
Rupiah?
C.
TUJUAN
1.
Untuk mengetahui penyebab nilai tukar rupiah
melemah.
2.
Untuk mengetahui pertanggungjawaban pemerintah
terhadap pelemahan rupiah.
3.
Untuk mengetahui rekomendasi solusi terhadap
depresiasi rupiah.
BAB II
PEMBAHASAN
NILAI TUKAR RUPIAH YANG MELEMAH
A.
Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan
Senin pagi, 14 Desember 2015, melemah 0,19 persen. Pelemahan tersebut membuat
kurs rupiah tembus ke angka Rp 14.019 per dolar AS. Hal ini juga terjadi pada
hari ini, Selasa 15 Desember 2015.
Data Bloomberg Dollar Index mencatat, rupiah dibuka melemah 62 poin atau
0,44 persen ke level Rp 14.061 per dolar AS. Namun, sekitar pukul 08.10 WIB,
mata uang rupiah kembali melemah sebesar 43 poin atau 0,30 persen ke Rp 14.080
per dolar AS. nilai tukar rupiah yang terus melemah.
Melemahnya nilai tukar rupiah dikarenakan para investor menunggu pertemuan
Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) yang dipantau hingga pekan
ini. Para investor secara luas memperkirakan bahwa The Fed akan menaikkan
suku bunganya di pertemuan kebijakan moneter pada 15 dan 16 Desember untuk
pertama kalinya dalam hampir satu dekade. The Fed telah menahan suku bunga
selama hampir 7 tahun. Langkah The Fed menahan suku bunga di level rendah
tersebut untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Amerika yang terpuruk akibat
kasus subprime mortgage. Rencana kenaikan suku bunga ini
meningkatkan kehawatiran dari pelaku pasar akan adanya pelarian dana-dana
asing.
Selain itu, pelemahan harga minyak dunia juga menjadi penyebab rupiah
melemah. Pelemahan minyak menjadi gambaran kepanikan terhadap kinerja rupiah.
Dengan melemahnya minyak dunia perilaku pasar tidak punya keberanian melakukan
transaksi, karena transaksi terbesar di pasar uang kemudian pasar
komoditas. Menyikapi hal ini, Bank Indonesia telah melakukan
langkah-langkah strategis.
Bank Indonesia menambah amunisi untuk menjaga stabilitas pasar finansial,
melalui kerja sama dengan sebuah bank sentral lainnya. Bank Indonesia
sebelumnya sudah bekerja sama melalui skema bilateral currency swap agreement
(BCSA) dengan beberapa negara, termasuk Tiongkok yang baru saja menambah nilai
BCSA tersebut menjadi 20 miliar dolar AS dari 15 miliar dolar AS.
Index Harga Saham Gabungan (IHSG) juga alami pelemahan. Ini terlihat
dari penutupan perdagangan saham Senin, 14 Desember 2015. IHSG bergerak di
zona merah, melemah 19,33 poin atau 0,44 persen ke level 4.374,19.
penyebab melemahnya rupiah hingga menembus Rp 14.061 per dolar AS.[1]
1.
Rupiah Anjlok, Kritik Kinerja Ekonomi Presiden Jokowi
pelemahan
nilai tukar rupiah terhadap dollar
Amerika Serikat terus belangsung. Laporan terakhir menyebut, Rabu kemarin, 23
September 2015, rupiah dibuka melemah di posisi Rp14.597 per USD untuk kemudian
semakin melemah sebesar 88 poin atau setara 0,60 persen ke posisi Rp14.640 per
USD.
Pelaku bisnis mengkhawatirkan dampak pelemahan rupiah ini terhadap naiknya
harga bahan baku, khususnya yang diimpor dari luar negeri. Sementara itu,
publik mencemaskan anjloknya rupiah membuat harga barang kebutuhan semakin melonjak
dan ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) semakin marak.
Tim ekonomi pemerintahan Presiden Joko Widodo nampaknya juga tidak begitu
berdaya menghadapi kondisi perekonomian Indonesia yang semakin terpuruk ini.
Pergantian beberapa jajaran menteri Kabinet Kerja, khususnya di bidang ekonomi
juga belum secara signifikan mendongkrak nilai tukar rupiah terhadap mata uang
asing. Sementara itu, mereka yang tidak puas dengan kinerja tim ekonomi
Presiden Jokowi menyarakan kritik keras.[2]
2.
Rupiah Anjlok Hingga Rp 13.400/USD
Senin, 8 Juni 2015 kemarin nilai tukar Rupiah Rp13.400 dalam pedagangan di
pasar ada dua faktor yang menjadi penyebab utama anjloknya Rupiah. Impor
bahan baku menjelang bulan puasa dan repatriasi dividen yang dilakukan investor
asing.
Faktor yang tak kalah mempengaruhi jatuhnya nilai tukar rupiah adalah data
tenaga kerja AS yang membaik. Ternyata tidak hanya rupiah yang anjlok. Beberapa
mata uang negara asia lainnya mengalami hal serupa, antara lain Korean Won dan
Ringgit Malaysia.
Diperkirakan, sampai akhir Juni tekanan atas nilai tukar rupiah masih akan
kuat. Namun, di saat puasa dan Lebaran diperkirakan jauh lebih baik. Hal itu
dikarenakan biasanya investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment
(FDI) mulai masuk.
Bank Indonesia berupaya menstabilkan nilai tukar rupiah yang anjlok
tersebut. Berbagai langkah antisipasi juga dilakukan BI untuk mencegah hal
serupa kembali terjadi di masa mendatang. Sementara itu, sebab-sebab jebloknya
nilai tukar rupiah terhadap dollar, himbauan terhadap pemerintah Jokowi
memperbaiki kinerja tim ekonominya sehingga bisa mengatasi hal ini.[3]
B.
Nilai Tukar Rupiah Sentuh Titik Terendah Sejak 1998
Kondisi perekonomian Indonesia sepertinya belum benar-benar stabil. Hal ini
terlihat dari fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya
dollar. Pada Jumat 24 Juli 2015 kemarin, rupiah mengalami titik terendah dalam
nilai tukar terhadap dollar. Mata uang Indonesia ini mendekati level 13.500 per
dollar Amerika Serikat. Hal ini merupakan rekor tertendah rupiah sejak krisis
ekonomi menghantam Indonesia pada 1998.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank
Indonesia (BI) menunjukkan rupiah berada di posisi 13.448 per dollar AS. terpuruknya
rupiah disebabkan oleh membaiknya data ekonomi Amerika Serikat. Hal ini membuat
pasar wait and see terhadap pernyataan Gubernur The Fed Janet Yellen
yang akan disampaikan pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan
depan.
Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro membantah sinyalemen terpuruknya
nilai tukar mata uang Rupiah disebabkan oleh kondisi di Yunani. “Rupiah itu
terkena pressure semua mata uang karena ada sinyal bahwa Fed akan
menaikkan rate-nya sebelum akhir tahun. Itu yang dijadikan spekulasi
oleh investor mata uang saat ini,” kata Bambang
Meski demikian,
pemerintah, sebut Bambang, tetap mengupayakan agar terpuruknya nilai tukar
rupiah terhadap dollar AS tidak memberatkan dunia usaha. “Kalau dilihat menguat
terhadap mata uang lain, barangkali kita harus memikirkan untuk mengurangi
ketergantungan terhadap dollar AS,” ucap Bambang. nilai tukar rupiah hampir
menyetuh titik 13.500 per dollar Amerika Serikat. Utamanya terkait dengan
kondisi perekonomian Indonesia dan nasib rakyat ke depannya.
Jatuhnya nilai tukar rupiah yang merupakan rekor terendah sejak krisis
ekonomi menghantam Indonesia pada tahun 1998. Meski demikian, anjloknya nilai
tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat ini bukan semata-mata salah para
menteri bidang keuangan.[4]
C.
Pertanggungjawaban Pemerintah Terkait Pelemahan Rupiah
Nilai tukar rupiah bervariasi dengan kecenderungan menguat di awal Agustus
2015. Sentimen global dinilai masih jadi faktor utama mempengaruhi nilai tukar
rupiah. Mengutip data valuta asing Bloomberg, Senin (3/8), rupiah pada
pukul 11.01 waktu Jakarta menguat ke level 13.487 per dolar Amerika Serikat
(AS). Nilai tukar rupiah sempat menguat ke level 13.465 per dolar
AS. Gerak nilai tukar rupiah berada di kisaran 13.464-13.516 pada Senin
siang.
Sentimen global terutama rencana bank sentral Amerika Serikat (AS)/The
Federal Reserve menaikkan suku bunga pada September masih menekan nilai tukar
rupiah. Sentimen negatif lainnya ditambah dari kekhawatiran
ekonomi Tiongkok melambat.
Selain itu, pelaku pasar juga menantikan rilis data pertumbuhan ekonomi
kuartal II 2015 pada Selasa 4 Agustus 2015. Bila pertumbuhan ekonomi kuartal II
2015 lebih lemah dari kuartal I 2015 di kisaran 4,7% maka berdampak negatif
terhadap niai tukar rupiah.
Terkaparnya rupiah atas dolar Amerika Serikat menggoyang stabilitas
perekonomian Indonesia. Sejumlah sektor ekonomi Indonesia pun terpukul.
Terutama sektor yang berbasis impor, seperti sektor farmasi, kimia dan
automotif. Namun, ada pula yang diuntungkan dengan melemahnya rupiah, seperti
sektor yang berbasis ekspor karena adanya keuntungan selisih kurs. Industri
perkebunan dan perdagangan, misalnya, diuntungkan dengan kondisi melemahnya
rupiah terhadap dolar Amerika.
Sementara itu, sebanyak 2.376 kicauan mengomentari aksi yang dilakukan Bank
Indonesia untuk menahan pelemahan rupiah. Bank Indonesia (BI) mengaku tak
akan segan-segan melakukan intervensi pasar untuk melakukan stabilisasi nilai
tukar rupiah. Pelemahan rupiah saat ini disebabkan adanya tekanan ekonomi global,
terutama karena adanya kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat
serta dampak krisis Yunani dan perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok
menjadi faktor lain yang menyebabkan mata uang rupiah goyah.
Menanggapi jatuhnya keterpurukan nilai tukar rupiah yang makin dalam,
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menjelaskan bukanlah tugas Pemerintah
untuk mengeluarkan rangkaian kebijakan untuk mengamankan level rupiah. Bambang
mengatakan, kebijakannya ada di Bank Indonesia, menurutnya nilai tukar bukan tanggung
jawab kita, utamanya adalah tanggung jawab Bank Indonesia.
Namun menurut Wakil ketua DPR RI Fadli Zon, pemerintah harus bertanggung
jawab terkait pelemahan rupiah, bukannya melempar tanggung jawab ini kepada
Bank Indonesia. Fadli pun menambahkan bahwa hal ini merupakan cerminan dari
buruknya koordinasi pemerintah dengan Bank Indonesia.
Selain itu, Presiden Republik Indonesia saat ini Joko Widodo atau biasa
disebut Jokowi dibuat pusing atas kejadian ini. Melemahnya nilai tukar rupiah
membuat pemerintah mesti bekerja ekstra keras untuk menjaga kestabilan
ekonomi. menurut Jokowi kondisi saat ini justru membuat sejumlah
eksportir untung. “Saya tetap optimis bahwa kondisi perlemahan rupiah bisa
mendapatkan keuntungan terutama buat para eksportir”.[5]
D.
Faktor penyebab melemahnya Rupiah
Penentuan
nilai mata uang suatu negara dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor
domestik.
1.
Perbaikan Ekonomi AS (Eksternal)
Pada
tahun 2008, The Fed, Amerika Serikat menerapkan kebijakan Quantitative
Easing (QE) yaitu menyuntikan dana ke seluruh dunia dengan cara
pembelian obligasi jangka panjang dikarenakan terjadinya krisis ekonomi dari
pasar finansial. Sejak ekonomi negeri paman Sam membaik, The Fed memberhentikan
stimulus (tapering
off) pada awal 2014. Lebih dari itu, tersebar pula rencana bahwa
The Fed akan menaikkan suku bunga pada tahun 2015.
Akibatnya, dana segar dari negara yang semula
disimpan di luar Amerika Serikat kembali lagi ke asalnya karena kebijakan
pemotongan dana stimulus dan rencana kenaikan suku bunga The Fed. Tak ayal,
negara-negara berkembang seperti Indonesia yang mendapat dana investasi dari
Amerika Serikat harus kehilangan dana tersebut karena penarikan modal oleh
investor secara besar-besara. Oleh karenanya, jumlah dolar di Indonesia semakin
menipis yang menyebabkan rupiah terus terkoreksi dari nilai fundamentalnya.
Capital
Flight
Dikeluarkannya
kebijakan tapering
off oleh The Fed yang menghentikan stimulus dana untuk negara
berkembang membuat modal yang ada di Indonesia akhirnya ditarik kembali ke
Amerika Serikat atau disebut dengan capital flight. Dampaknya, arus
modal yang keluar tinggi menyebabkan permintaan modal di pasar uang meningkat.
Pemerintah Jokowi melakukan hal tersebut dengan cara mendapatkan tambahan
dana untuk pembangunan di pasar uang. Tak ayal, utang luar negeri Indonesia
naik dari 129.736 juta USD pada Desember 2014 ke angka 135.724 juta USD di
Januari 2015.
Naiknya
utang pemerintah karena kekurangan dana untuk investasi menyebabkan tingkat
suku bunga riil pun naik. Pada bulan Januari 2015, tingkat suku bunga Bank
Indonesia naik dari 7,50% ke 7,75%. Keluarnya arus kas modal yang begitu deras
menyebabkan terdepresiasinya nilai riil mata uang rupiah dan menambah jumlah
uang rupiah yang beredar. Oleh sebab itu, rupiah akan terus terkoreksi ketika
terjadi capital
flight.
Devaluasi
Yuan oleh Pemerintah Tiongkok (Eksternal)
Keputusan
pemerintah Tiongkok untuk mendevaluasi atau menurunkan nilai mata uang
regionalnya sebesar 3% pada bulan ini berdampak pada nilai mata uang negara
lain di dunia. Salah satu yang terkena imbasnya adalah rupiah yang terkoreksi
turun sekitar 1,4%. Negara di kawasan Asia Pasifik dan Afrika juga mengalami
hal yang sama. Turki mengalami pelemahan paling tinggi, yaitu sekitar 3,9%
sementara Singapura hanya melemah sebesar 0,2% saja. Devaluasi ini bukan tanpa
sebab, melainkan karena maksud pemerintah Tiongkok untuk memacu pertumbuhan
ekonomi domestik yang melamban.
Demi peningkatan ekspor, pemerintah Tiongkok
menurunkan nilai mata uangnya agar dapat bersaing di pasar global. Namun, hal
itu malah memicu terjadinya currency war atau perang kurs antar
negara. Rupiah pun kian terpuruk karena kebijakan devaluasi yuan oleh negeri
tirai bambu tersebut.
2.
Kondisi Neraca Perdagangan Indonesia
(Internal)
Neraca perdagangan
Indonesia juga memberikan pengaruh terhadap nilai tukar mata uang rupiah.
Kegiatan ekspor dan impor berperan dalam penentuan nilai mata uang. Seperti
diketahui, neraca perdagangan Indonesia sedang mengalami surplus. Saat ini,
kegiatan ekspor sebesar 11.408 juta USD lebih tinggi dari impor yang turun ke
angka 10.076 juta USD. Walaupun kondisi neraca perdagangan Indonesia sedang
surplus, hal ini terjadi karena penurunan ekspor yang lebih rendah dari
penurunan impor. Penurunan ekspor ini menjadi salah satu faktor rupiah
terdepresiasi.
E.
Efek yang Ditimbulkan dari Terdepresiasinya
Rupiah
Melemahnya
nilai mata uang rupiah jelas memperlambat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pelemahan rupiah menimbulkan dampak negatif di berbagai sektor. Salah satunya,
penurunan daya beli masyarakat terhadap barang yang diimpor dari luar negeri
sehingga harga barang relatif meningkat. Sebagai contohnya, harga tempe dan
tahu yang meningkat akibat harga kedelai yang diimpor dari luar negeri
meningkat dalam rupiah. Hal serupa juga terjadi di sektor industri lain seperti
sektor manufaktur dan tekstil.
Namun,
beberapa sektor tidak terlalu berpengaruh atas pelemahan rupiah: sektor
perkebunan dan pertambangan. Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM
juga terkena dampak pelemahan rupiah. Sektor ini penting untuk
diperhatikan karena UMKM merupakan sektor penggerak ekonomi terbesar di
Indonesia, sebanyak lebih dari 95% usaha di Indonesia merupakan UMKM.
Melemahnya
nilai rupiah seharusnya menjadi kesempatan untuk meningkatkan ekspor. Secara
teori, dengan melemahnya rupiah maka komoditas ekspor dari Indonesia dapat
bersaing karena harga yang murah. Neraca perdagangan pada Juli 2015 pun
seakan-akan mendukung teori tersebut karena mengalami surplus sebesar 1,33
milliar dolar AS, tertinggi sejak Januari 2014. Namun faktanya, neraca
perdagangan yang surplus bukan berasal dari ekspor yang meningkat, melainkan
penurunan impor yang jauh lebih banyak dibandingkan penurunan ekspor.
Ekspor bulan Juli 2015 menurun sebesar
15,53% sedangkan impor bulan Juli 2015 menurun sebesar 22,36%. Selain
disebabkan oleh infrastruktur dan teknologi yang masih tertinggal, penurunan
ekspor Indonesia juga disebabkan oleh belum mampunya Indonesia bersaing dengan
Cina dan Vietnam yang melakukan devaluasi mata uang sehingga produk-produk
yang berasal dari Cina dan Vietnam lebih murah dibandingkan dengan
produk-produk Indonesia.
F.
Rekomendasi Solusi terhadap Depresiasi Rupiah
Hal yang
pemerintah dapat lakukan pada kondisi ini yaitu memperbaiki sektor ekspor. Dimulai
dengan program pembangunan infrastruktur dan teknologi sebagai faktor utama
yang mendukung kegiatan ekonomi di Indonesia. Pemerintah dapat meningkatkan government
spending untuk memicu investasi dan kegiatan ekonomi lainnya di
Indonesia, seperti mengurangi biaya produksi melalui penurunan harga listrik, tax
holiday, penurunan suku bunga, atau melakukan deregulasi peraturan
yang menghambat usaha-usaha di Indonesia karena adanya birokrasi yang rumit.
Selama
infrastruktur belum mencukupi dalam kegiatan ekspor, devaluasi mata uang
bukanlah solusi yang tepat untuk saat ini. Pemerintah juga seharusnya
mengeluarkan kebijakan untuk mempercepat realisasi belanja dan penyerapan APBN
dan APBD yang saat ini masih lambat untuk mempercepat proses pembangunan infrastruktur
dan teknologi.
Aksi buyback
atau pembelian kembali saham yang dilakukan oleh beberapa BUMN juga dapat
mengatasi bursa saham yang menurun drastis. Didukung dengan keluarnya kebijakan
baru oleh OJK melalui Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 22/SEOJK.04/2015
yang secara garis besar memperbolehkan emiten untuk membeli kembali (buyback)
tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), seharusnya aksi buyback
dapat mengatasi pasar saham yang lesu dengan efektif.
Pemerintah
juga harus melakukan langkah untuk membuat para pengusaha-pengusaha yang
menyimpan dolar di luar negeri dari hasil ekspor untuk melepas valuta asing
untuk menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Bank Indonesia (BI) sudah
menyiapkan beberapa kebijakan untuk mengatasi pelemahan rupiah. BI menyiapkan
kebijakan Bilateral
Swap Agreement (BSA) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar
AS. Lalu BI akan melakukan intervensi di pasar valas untuk mengendalikan
volatilitas nilai tukar rupiah dengan menggunakan cadangan devisa. Kebijakan
selanjutnya adalah melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar
sekunder namun tetap memperhatikan dampak ketersediaan SBN untuk masuknya dana
asing, dan likuiditas pasar. BI juga mengambil setidaknya tiga langkah dalam
Operasi Pasar Terbuka.
- Mengubah mekanisme lelang Reverse
Repo (RR) SBN dari variable rate tender menjadi
fixed rate tender
- Menyesuaikan pricing
RR SBN dan memperpanjang tenor dengan menerbitkan RR SBN 3 bulan.
- Mengubah skema lelang
Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI) dari variable rate tender
menjadi fixed rate tender dan
menyesuaikan pricing serta menerbitkan SDBI
tenor 6 bulan. Term Deposit Valas juga diubah
dari variable rate tender menjadi fixed
rate tender dengan menyesuaikan pricing dan
memperpanjang tenor sampai 3 bulan. Selain itu BI juga menyesuaikan
frekuensi lelang Foreign Exchange Swap dari 2
kali seminggu menjadi 1 kali seminggu, dan menurunkan batas pembelian
valas tanpa pembuktian dokumen underlying transaction,
dari yang berlaku saat ini US$ 100.000 menjadi US$ 25.000 per nasabah per
bulan.
Satu hal
yang dapat ditarik dari keseluruhan adalah adanya urgensi untuk menenangkan
rakyat untuk mengembalikan kepercayaan pasar. Dengan kembalinya kepercayaan
pasar, investor dapat kembali menanamkan modalnya di Indonesia dan perekonomian
Indonesia dapat kembali stabil.
Tentunya solusi-solusi tersebut harus
diseimbangkan antara kebijakan jangka pendek dengan jangka panjang sehingga
tidak terjadi perumpamaan ‘gali lubang, tutup lubang’. Pemerintah, BI, dan OJK
sebagai pengatur sektor fiskal, moneter, dan perbankan seharusnya melakukan
koordinasi secara intensif untuk membuat kebijakan yang tersinkronasi dengan
baik antara fiskal, moneter, dan perbankan.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Melemahnya nilai tukar rupiah dikarenakan para investor menunggu pertemuan
Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) yang dipantau hingga pekan
ini. Para investor secara luas memperkirakan bahwa The Fed akan menaikkan
suku bunganya di pertemuan kebijakan moneter pada 15 dan 16 Desember untuk
pertama kalinya dalam hampir satu dekade. The Fed telah menahan suku bunga
selama hampir 7 tahun. Langkah The Fed menahan suku bunga di level rendah
tersebut untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Amerika yang terpuruk akibat
kasus subprime mortgage. Rencana kenaikan suku bunga ini
meningkatkan kehawatiran dari pelaku pasar akan adanya pelarian dana-dana
asing.
Satu hal
yang dapat ditarik dari keseluruhan adalah adanya urgensi untuk menenangkan
rakyat untuk mengembalikan kepercayaan pasar. Dengan kembalinya kepercayaan
pasar, investor dapat kembali menanamkan modalnya di Indonesia dan perekonomian
Indonesia dapat kembali stabil.
DAFTAR
PUSTAKA

No comments:
Post a Comment