NILAI RUPIAH TURUN TERHADAP DOLLAR AS
Makalah ini Disusun Guna Memenuhi
Salah Satu Tugas Mandiri
Mata Kuliah Perekonomian di
Indonesia
Dosen
Pengampu : Hermanita, MM
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH
JURUSAN SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) JURAI SIWO METRO
TA. 2015/2016
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb
Puji syukur
kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan
Hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca
dalam pendidikan perkuliahan.
saya
ucapkan terimakasih kepada para dosen pembimbing yang telah memberikan
pengarahan, bimbingan serta motivasi di dalam pembuatan makalah ini, walaupun
nantinya belum begitu sempurna.
Harapan saya
semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini
saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat
kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Wassalamu’alaikum wr. Wb
DAFTAR ISI
Kata pengantar
......................................................................... ........... i
Daftar isi
....................................................................................... ........... ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang..................................................................... ........... 1
B.
Rumusan Masalah........................................................................ 1
BAB II
PEMBAHSAN
A.
Nilai Rupiah
Turun terhadap Dollar AS....................................... 2
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN...................................................................... ........... 7
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
The Fed telah menahan suku bunga selama hampir 7 tahun. Langkah The
Fed menahan suku bunga di level rendah tersebut untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi Amerika yang terpuruk akibat kasus subprime mortgage.
Berdasarkan data Bloomberg, Senin (14/12/2015), pukul 03.55 WIB,
rupiah berada di level 14.123 per dolar AS. Level tersebut melemah jika
dibandingkan dengan awal pembukaan yang ada di angka 14.019 per dolar AS dan
juga jika dibanding dengan penutupan pada pekan lalu yang ada di level 13.992
per dolar AS.
Penyebab turunnya nilai rupiah
terhadap dollar karena menguatnya dollar sampai spekulasi perusahaan yang melakukan aksi
beli dollar sebelum akhir tahun 2014. Beberapa investor asing juga tercatat
menarik dana sampai lebih dari 10 triliun rupiah dari obligasi berdenominasi
rupiah pada bulan ini sejak tanggal 11 Desember. Semakin hari dolar semakin
naik nilainya terhadap rupiah. Seakan-akan rupiah tak ada nilainya, ditambah
lagi susahnya mengais rezeki demi sesuap nasi. Sudah begitu bahan kebutuhan
pokok seperti, beras, cabai, ayam, dan daging harganya juga ikut naik.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Mengapa Nilai
Rupiah Turun terhadap Dollar AS?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Nilai Rupiah
Turun terhadap Dollar AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan
akan terus melemah hingga mencapai level 14.150 per dolar AS dalam beberapa
hari ke depan. Ada dua sentimen dari luar yang diperkirakan akan menekan rupiah
ke level yang lebih dalam.
Analis LBP (Low Back Pain) Enterprises, Lucky Bayu Purnomo
menjelaskan, kedua sentimen tersebut adalah rencana kenaikan suku bunga acuan
oleh Bank Sentral AS (The Fed) dan juga pelemahan harga minyak
dunia. "Ada sentimen negatif yaitu potensi melemahnya harga minyak
dunia yang saat ini di kisaran US$ 35 per barel dan juga antisipasi kenaikan
suku bunga The Fed," kata dia kepada Liputan6.com, Jakarta, Senin
(14/12/2015).
The Fed telah menahan suku bunga selama hampir 7 tahun. Langkah The
Fed menahan suku bunga di level rendah tersebut untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi Amerika yang terpuruk akibat kasus subprime mortgage. Rencana kenaikan
suku bunga ini meningkatkan kehawatiran dari pelaku pasar akan adanya pelarian
dana-dana asing.
Lucky melanjutkan, pelemahan harga minyak juga membuat rupiah
melemah. "Pelemahan minyak menjadi potret kepanikan terhadap kinerja
rupiah. Dengan melemahnya minyak dunia perilaku pasar tidak punya keberanian
melakukan transaksi, karena transaksi terbesar di pasar uang kemudian pasar
komoditas," jelasnya.
Dia memperkirakan, pelemahan nilai tukar rupiah tersebut hanya akan
terjadi sampai ada kepastian rencana kenaikan suku bunga The Fed. Bank Sentral
AS sendiri akan melaksanakan rapat pada 15 dan 16 Desember
2015. "Kalau tidak jadi naik ada window dressing, pasar akan reli dan
rupiah kembali menguat namun tidak signifikan karena masih ada sentimen lain
yaitu pelemahan harga minyak dunia," tandas dia.
Berdasarkan data Bloomberg, Senin (14/12/2015), pukul 03.55 WIB,
rupiah berada di level 14.123 per dolar AS. Level tersebut melemah jika
dibandingkan dengan awal pembukaan yang ada di angka 14.019 per dolar AS dan
juga jika dibanding dengan penutupan pada pekan lalu yang ada di level 13.992
per dolar AS.
Sejak awal perdagangan hingga penutupan, rupiah diperdagangkan di
kisaran 14.005 per dolar AS hingga 14.125 per dolar AS. Jika dihitung sejak
awal tahun, rupiah telah melemah 14 persen. Sedangkan berdasarkan Kurs
Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI),
rupiah berada di level 14.076 per dolar pada 14 Desember ini, melemah cukup
tajam jika dibandingkan dengan 11 Desember 2015 yang ada di level 13.937 per
dolar AS.[1]
Nilai tukar rupiah terus tertekan dan menembus level 14.000 per
dolar AS pada perdagangan Senin (14/12/2015). Pelemahan rupiah lebih disebabkan
oleh sentimen dari luar negeri.
Berdasarkan Bloomberg, rupiah berada di level 14.068 per dolar AS.
Level tersebut melemah jika dibandingkan dengan awal pembukaan yang ada di
angka 14.019 per dolar AS dan juga jika dibanding dengan penutupan pada pekan
lalu yang ada di level 13.992 per dolar AS.
Sejak awal perdagangan rupiah diperdagangkan di kisaran 14.019 per
dolar AS hingga 14.110 per dolar AS. Jika dihitung sejak awal tahun, rupiah
telah melemah 13,54 persen.
Pelemahan rupiah ini lebih disebabkan karena kekhawatiran pelaku
pasar akan rencana kenaikan suku bunga The Fed."Rencana kenaikan suku
bunga membuat nilai tukar dolar AS menguat dan menekan mata uang di negara
berkembang. Rupiah pun juga terkena dampaknya," jelas Ekonom United
Overseas Bank Ltd, Singapura, Ho Woei Chen, seperti dikutip dari Bloomberg.
PT Bank Mandiri Tbk mematok kurs beli pada angka Rp 14.047 per
dolar AS, sedangkan untuk jual di angka Rp 14.062 per dolar AS. PT Bank Negara
Indonesia Tbk (BNI) mematok kurs beli di angka Rp 13.980 per dolar AS,
sedangkan untuk kurs jual di angka Rp 14.180 per dolar AS.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mematok kurs yang berbeda-beda.
Untuk transaksi di e-rate atau transaksi melalui e-channel memasang kurs jual
di Rp 14.075 per dolar AS dan kurs beli di Rp 14.055 per dolar AS.
Untuk transaksi di konter atau kantor cabang dipatok Rp 14.105 per
dolar AS untuk jual dan beli Rp 14.005 per dolar AS. Adapun untuk transaksi
bank note, BCA mematok Rp 14.076 per dolar AS untuk jual dan Rp 14.051 per
dolar untuk beli. Sementara itu, PT Bank Danamon Indonesia, Tbk mematok jual di
level Rp 14.260 per dolar AS dan Rp 13.960 per dolar AS untuk kurs beli. Kurs
jual adalah harga yang dipatok oleh bank jika nasabah ingin menukar rupiah ke
dolar AS. Kurs beli adalah jika nasabah ingin menukar dolar AS ke rupiah.[2]
Nilai
tukar rupiah terus tertekan
menyambut akhir pekan ini. Hal itu didorong dari sentimen eksternal terutama
harga minyak tertekan dan menanti keputusan bank sentral AS soal kenaikan suku
bunga.
Mengutip data Bloomberg, rupiah berada di kisaran 13.992,50 per
dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat sore (11/12/2015). Nilai tukar rupiah
terhadap dolar AS tersebut melemah 0,27 persen dari penutupan perdagangan
kemarin di kisaran 13.953 per dolar AS. Rupiah bergerak di posisi 13.921-14.035
per dolar AS.
Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar
Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level 13.937 per dolar AS,
menguat jika dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya yang ada di level
13.954 per dolar AS.
Ekonom BCA, David Sumual menuturkan perkembangan harga komoditas
terutama minyak mempengaruhi laju nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Data
ekonomi China kurang baik seperti surplus perdagangan melemah dan inflasi
rendah memberikan kekhawatiran kepada pelaku pasar.
Dalam waktu sepekan terakhir ini, nilai kurs Rupiah tercatat terus
jeblok. Bahkan sampai awal pekan ini, kurs rupiah terhadap dollar Amerika
Serikat menyentuh level terendah sejak November 2008 silam dalam kisaran nilai
12.600 rupiah per USD. Dikutip dari Bloomberg, (15/11) nilai tukar rupiah
melemah 1,04 % ke level 12.597 pada perdagangan jam 09.05 WIB. Sebelumnya, kurs
rupiah turun drastis sampai ke level Rp. 12.610 per USD.
Ada beberapa faktor yang menjadi pemicu mengapa nilai tukar rupiah
terhadap dollar Amerika ini terus menyusut. Salah satunya adalah karena menguatnya
dollar sampai spekulasi perusahaan yang melakukan aksi beli dollar sebelum
akhir tahun 2014. Beberapa investor asing juga tercatat menarik dana sampai
lebih dari 10 triliun rupiah dari obligasi berdenominasi rupiah pada bulan ini
sejak tanggal 11 Desember.
Eric Alexander Sugandi, selaku Ekonom Standard Chartered
mengutarakan bahwa adanya kombinasi faktor yang memicu kurs rupiah terus
menyusut.
“Yang pertama adalah data ekonomi Amerika Serikat yang makin
membaik dan menyebabkan khawatirkan jika The Fed akan menaikkan suku bunga
lebih cepat daripada perkiraan” jelas Eric, seperti yang dikutip dari Liputan
6.
Kekhawatiran yang muncul akibat penguatan dollar Amerika Serikat
karena meningkatnya data ekonomis Faktor lain, yakni Great Rotation atau
perputaran uang dimana dana asing yang beredar kembali masuk ke AS menjelang
akhir 2014.
Dua hal itu adalah faktor yang menjadi sangat berpengaruh pada kurs
rupiah akhir-akhir ini. Kemudian faktor berikutnya ialah kebutuhan dollar yang
semakin meningkat pada akhir 2014.
“Kebutuhan dollar pada akhir tahun dari korporasi lokal juga aliran
dana yang berhubungan dengan penjualan obligasi akhir-akhir ini terlihat
memberatkan nilai rupiah,” kata Shigehisa Shiroki selaku Chief Trader Asian and
Emerging Markets di Mizuho Bank Ltd.
Menurut dia, kurs rupiah saat ini sedang berada di bawah tekanan.
Kemudian Eric juga menambahkan, bahwa faktor keempat ialah karena
persepsi pasar ketika rupiah menembus level tertentu dengan cepat bisa memicu
aksi beli dolar.
“Tapi mendekati hari natal dan akhir tahun, sepertinya transaksi
dollar akan berkurang karena sudah banyak pelaku pasar yang tengah berlibur,”
ungkapnya. Faktor selanjutnya adalah defisit transaksi berjalan yang masih
cukup besar. Indonesia sendiri mencatat bahwa defisit transaksi berjalan
senilai USD 6,8 Miliar pada kuartal ketiga dan BI berharap supaya adanya
penurunan defisit senilai USD 24 Miliar pada sepanjang tahun ini.
“Bila dilihat dari nilai fundamentalnya, harusnya rupiah masih
sekitar 12.000-12.200 per dolar Amerika,” tambah Eric. Dalam kondisi yang
seperti ini, Bank Indonesia diperkirakan akan melakukan intervensi dan
bertindak supaya rupiah tak lebih anjlok. Apalagi sekarang kurs rupiah terhadap
dollar AS sudah melebihi nilai fundamental.
Hal tersebut menyebabkan market panic tapi tidak akan lama,
kemudian rupiah bisa kembali membaik. Eric sebelumnya memperkirakan bila kurs
rupiah masih bisa bertahan pada kisaran nilai Rp. 12.2000 per USD di akhir
2014. Namun, karena beberapa faktor tersebut, nilai kurs rupiah bisa jadi akan
terperosok lagi lebih jauh hingga kisaran Rp. 12.500 sampai Rp. 12.700 per USD
pada pekan depan.[3]
BAB II
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Alasan yang Menyebabkan Kurs
Dollar Terhadap Rupiah Semakin Naik antara lain :
1.
Meningkatnya
perekonomian di Amerika Serikat
2.
Terus tertekan
karena signal buruk dari The Fed
3.
Lemahnya nilai
mata uang melanda dunia.
4.
Harga komoditas
ekspor Indonesia harganya anjlok.
5.
Kinerja ekspor
semakin merosot.
6.
Impor barang
tinggi.
7.
3 tahun
terakhir neraca perdagangan terus merosot.
8.
Bom waktu
peninggalan dari pemimpin lama.
9.
Sama dengan
Turki dan Brazil, yang juga rawan defisit.
10.
Bank Indonesia
lebih hati-hati, meskipun Malasya dan Rusia menguras devisa negaranya.
DAFTAR PUSTAKA
Dwi Afriyadi Achmad. on 14 Des 2015 at 20:10 WIB. http://bisnis.liputan6.com/read/2389674/rupiah-diproyeksi-bisa-tembus-14150-per-dolar-as. Jakarta: Liputan6.com. diunduh hari Rabu 16
Dessember 2015 pukul 10.00 WIB.
Gideon Arthur. on 14 Des 2015 at 12:30 WIB. http://bisnis.liputan6.com/read/2389270/simak-nilai-tukar-rupiah-di-4-bankbesar-pada-14-desember-ini, Jakarta: Liputan6.com. di unduh hari Rabu 16 Desember 2015 pukul 10.00 WIB
MawaBeja.com, http://mawabeja.com/1341/inilah-penyebab-nilai-tukar-rupiah terus-anjlok/ , di unduh hari Rabu 16 Desember 2015 pukul 10.00 WIB.
[1] Achmad Dwi
Afriyadi, http://bisnis.liputan6.com/read/2389674/rupiah-diproyeksi-bisa-tembus-14150-per-dolar-as, (Jakarta: Liputan6.com, on 14 Des 2015 at 20:10
WIB), diunduh hari Rabu 16 Dessember 2015 pukul 10.00 WIB.
[2] Arthur Gideon, http://bisnis.liputan6.com/read/2389270/simak-nilai-tukar-rupiah-di-4-bank-besar-pada-14-desember-ini, (Jakarta:
Liputan6.com, on 14 Des 2015 at 12:30 WIB), di unduh hari Rabu 16 Desember 2015 pukul
10.00 WIB.
[3] MawaBeja.com, http://mawabeja.com/1341/inilah-penyebab-nilai-tukar-rupiah-terus-anjlok/ , di unduh hari Rabu 16
Desember 2015 pukul 10.00 WIB.

No comments:
Post a Comment