MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mandiri
Mata Kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen Pengampu Hermanita, SE. MM
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARI’AH
JURUSAN SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)
JURAI SIWO METRO
2015/2016
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT. yang maha pengasih dan maha penyayang,
alhamdulillah puji syukur kepada Allah swt. yang selalu melimpahkan nikmat-Nya
kepada kita semua. Sholawat teriring salam semoga Allah swt. selalu mencurahkan
kepa Nabi Muhammad saw. keluarga, para sahabat dan para pengikutnya yang senantiasa
mengikuti sunah-sunah Beliau hingga akhir zaman.
Dalam penulisan
makalah ini kami mengucapkan terimakasih kepada Ibu Hermanita,SE.MM selaku
dosen mata kuliah Perekonomian Indonesia yang telah memberikan kesempatan
kepada saya untuk menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari
bahwa penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan yang timbul dari
keterbatasan kemampuan saya dalam menulis. Oleh karena itu, saya berharap dari
berbagai pihak kritik dan saran yang bersifat membangun agar penulisan makalah
ini lebih sempurna lagi dikemudian hari. Saya juga berharap semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat khususnya kepada saya selaku penulis kepada pembaca
pada umumnya. Amin
Metro, 16
Desember 2015
Penulis
MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
A.
Pengertian
Masyarakat Ekonomi ASEAN
Masyarakat Ekonomi ASEAN merupakan sebuah istilah yang sering kita
dengar akhir-akhir ini, istilah ini sering kali muncul diberbagai macam media
baik media cetak maupun media elektronik. Masyarakat Ekonomi ASEAN atau yang
biasa disingkat menjadi MEA secara singkatnya bisa diartikan sebagai bentuk
integrasi ekonomi ASEAN yang artinya semua negara yang berada dikawasan Asia
Tenggara (ASEAN) merupakan sistem perdaganga bebas . Indonesia dan seluruh
negara-negara ASEAN lainnya telah
menyepakati perjanjian MEA tersebut atau yang dalam bahasa Inggrisnya adalah ASEAN
Economy Comunity atau AEC.
Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada bulan Oktober 2003 ketika
KTT ASEAN di Bali, Indonesia menyatakan bahwa Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
menjadi tujuan dari integrasi ekonomi
regional kawasan Asia Tenggara yang akan
diberlakukan pada tahun 2020. Namun demikian nyatanya kita mengetahui
bahwa tahun 2015 ini merupakan awal tahun diberlakukan MEA Hal tersebut sesuai
dengan Deklarasi Cebu yang merupakan salah satu hasil dari KTT ASEAN yang ke-12
pada Januari 2007. Pada KTT tersebut para pemimpin ASEAN bersepakat untuk
mengubah ASEAN menjadi daerah dengan perdagangan bebas baik perdagangan barang
maupun perdagangan dalam bidang jasa,
investasi, tenaga kerja profesional, dan juga aliran modal.[1]
B.
Resiko yang Di
Hadapi Indonesia saat MEA
Pemberlakuan
pasar bebas ASEAN sudah di depan mata. Berikut ini adalah beberapa resiko yang
dihadapi Indonesia saat MEA :
1.
Competition
Risk
Akan muncul dengan banyaknya barang impor
yang akan mengalir dalam jumlah banyak ke Indonesia yang aka mengancam industri
lokal dalam bersaing dengan produk-produk luar negeri yang jauh lebih
berkualitas. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan defisit neraca perdagangan
bagi Negeri Indonesia Sendiri.
2.
Exploitation
Risk
Dengan skala besar terhadap
ketersediaan sumber daya alam oleh perusahaan asing yang masuk ke Indonesia
sebagai negara yang memiliki jumlah sumber daya alam melimpah dibandingkan
dengan negara-negara lainnya. Tidak tertutup kemungkinan juga eksploitasi yang
dilakukan perusahaan asing dapat merusak ekosistem di Indonesia belum cukup
kuat untuk menjaga kondisi alam termasuk ketersediaan sumber daya alam yang
terkandung.
3.
Resiko
Ketenagakerjaan
Dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas
Indonesia masih kalah bersaing dengan tenaga kerja yang berasal dari Singapura,
Malaysia dan Thailand, serta fondasi industri yang bagi indonesia sendiri
membuat indonesia berada pada peringkat keempat di ASEAN.[2]
C.
Kunci Agar
Indonesia Dapat Bersaing Saat Pasar Bebas ASEAN
1.
Kepala Badan
Penelitian dan Pengembangan Industri
(BPPI) Kemenperin Harris Munandar mengatakan, agar bisa bersaing dengan
negara lain, ada lima kunci utama yang harus dipenuhi di dalam negeri agar bisa
bersaing dengan negara lain.
Pertama, Indonesia harus mampu melakukan subtitusi bahan baku,
barang dan jasa impor. Kedua, Indonesia harus mampu meningkatkan kemampuan
logistik yang diiringi dengan penurunan ongkos distribusi. Ketiga, adanya bunga
kredit perbankan yang rendah sehingga industri di dalam negeri bisa
mengembangkan kegiatan bisnisnya. Keempat, pekerja lokal tidak lagi melakukan
aksi-aksi tuntutan kenaikan upah. Kelima, pekerja lokal meningkatkan
produktivitas sehingga tidak kalah dibandingkan pekerja asing.
“Buruh jangan lagi kontraproduktiv, karena kalau satu hari saja
pabrik berhenti daya saingnya menurun, pengiriman barang akan terganggu,
otomatis menurunkan daya saing kita.” ucap Harris.
Saat berlangsungnya MEA nanti pemerintah tidak lagi bisa berbuat
banyak untuk melindungi produk lokal dengan insentif dan sebagainya. Itu karena
adanya aturan-aturan regional yang mengatur hal tersebut dan harus diikuti
seluruh anggota ASEAN.
“Kalau nanti MEA sudah berlaku ada aturan mainnya, kita tidak boleh
lagi berikan subsidi. Sepanjang masih dalam koridor mungkin masih bisa. Nanti
kita lihat lagi, tidak bisa berikan sembarang insentif.” katanya. Sebelumnya,
Harris telah memastikan tidak akan tinggal diam untuk mendukung daya saing
produk dan industri di dalam negeri.
Salah satunya dengan mendorong pengembangan industri hijau yang
menerapkan upaya efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya yang
berkelanjutan. Pengembangan industri hijau ini dapat dilakukan dengan berbagai
macam strategi, seperti penerapan produksi bersih, konservasi energi, efisiensi
sumber daya, eco-design, proses daur ulang dan low carbon technology.
“Melalui penerapan industri hijau, maka akan terjadi efisiensi
pemakaian bahan baku energi dan air, sehingga limbah maupun emisi yang
dihasilkan menjadi minimal. Dengan demikian, proses produksi akan menjadi lebih
efisien dan meningkatkan daya saing produk industri.” ungkapnya.
Harris menjelaskan, pengembangan industri hijau merupakan salah
satu usaha untuk mendukung komitmen pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah
kaca sebesar 26% pada 2020. Diharapkan angka ini mampu mencapai 41% dengan
bantuan internasional.
“Komitmen ini membutuhkan usaha dan tindakan nyata yang menyeluruh,
mencangkup seluruh sektor pengemisi gas rumah kaca pada sektor-sektor produksi
dan konsumsi. Prioritas untuk tindakan mitigasi dan adaptasi termasuk sektor
industri.” jelasnya.
Menurut Harris, Kemenperin juga telah memberikan beragam insentif
kepada pelaku industri untuk penunjang pengembangan program ini seperti
memberikan keringanan berupa potongan harga untuk pembelian mesin baru pada industri tekstil dan produk tekstil
(TPT), alas kaki dan gula.
“Program ini dilaksanakan sejak 2007 ini telah memberikan dampak
yang signifikan berupa penghematan penggunaan energi sampai 25%, peningkatan
produktivitas sampai 17%, peningkatan penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan
efektivitas giling pada industri gula,” ucap Harris.[3]
2.
Menurut ekonom
dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Edy Suandy Hamid, pemerintah
dan pelaku ekonomi harus lebih ofensih menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean dengan
memperluas barang, jasa, modal, investasi dan pasar tenaga kerja. “Adanya MEA
harus dipandang sebagai bertambahnya pasar di Indonesia menjadi lebih dari dua
kali lipat, yakni dari 250 juta menjadi 600 juta,” katanya.
Dengan pola pikir dan semangat
seperti itu, dia berharap Indonesia dapat memetik manfaat optimal dari MEA. Perekonomian
harus didorong lebih cepat tumbuh, ekspansif dan berdaya saing, bukan
sebaliknya.[4]
3.
Menteri
Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution menegaskan, agar
Indonesia dapat bersaing dalam pasar bebas ASEAN pemerintah harus memperbaiki
sumber daya manusia (SDM). Pasalnya tanpa kompetensi yang bagus para tenaga
kerja di Indonesia tidak akan mampu bersaing dengan tenaga kerja dari
negara-negara di lingkungan ASEAN.
Menurutnya, persoalan
ketenagakerjaan tidak hanya bisa diserahkan kepada perusahaan saja, pemerintah
perlu turun tangan mengembangkan mekanisme untuk memperbaiki kualitas SDM di
dalam negeri. Salah satunya dengan melaksanakan pelatihan guna memenuhi standar
kompetensi yang diperlukan.[5]
4.
Direktur
Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Nilanta
Prabowo mengatakan guna menghadapi persaingan produk perikanan saat
berlangsungnya MEA, kebijakan pembangunan perikanan saat ini diarahkan kepada
komoditas hasil perikanan yang dapat diolah untuk diperoleh nilai tambah (value
added).
“Nilai tambah yang diperoleh dari pengembangan produk jauh lebih
tinggi dibandingkan dengan hasil perikanan dalam bentuk segar atau utuh, karena
pendekatan pembangunan perikanan ke depan diarahkan pada pengembangan produk.
Ini demi kesejahteraan rakyat,” ujarnya.
Nilanta menjelaskan pengembangan produk nilai tambah dilakukan
melalui pengembangan industri pengelolaan hasil perikanan yang menghasilkan
baik produk antara (intermediate product), produk semi akhir (semi
finished product) dan yang utama yaitu produk akhir (end product)
yang berdaya saing demi terwujudnya
kemandirian pangan nasional.[6]
D.
Dampak Positif
Masyarakat Ekonomi ASEAN
Pentingnya
Masyarakat Ekonomi ASEAN tidak terlepas dari dampak positif dan manfaat dari
diberlakukannya perdagangan bebas di wilayah regional Asia Tenggara tersebut.
Mungkin saat ini dampak positifnya belum begitu terasa karena MEA baru saja
diberlakukan pada tahun 2015. Namun
diharapkan manfaat besarnya akan terasa pada tahun-tahun selanjutnya.
1.
Masyarakat
Ekonomi ASEAN akan mendorong arus investasi dari luar negeri yang akan
menciptakan multipler effect dalam berbagai sektor, khusunya dalam
bidang pembanguan ekonomi.
2.
Kondisi pasar
yang satu (pasar tunggal) membuat kemudahan dalam hal pembentukan joint
venture (kerjasama) antara perusahaan-perusahaan di wilayah ASEAN sehingga
akses terhadap bahan produksi semakin mudah.
3.
Pasar Asia
Tenggara merupakan pasar bsar yang begitu potensial dan juga menjanjikan dengan
luas wilayah sekitar 4,5 juta kilometer persegi dan jumlah penduduk yang
mencapai 600 juta jiwa.
4.
MEA memberikan
peluang kepada negara-negara anggota ASEAN dalam hal meningkatkan kecepatan
perpindahan sumber daya manusia dan modal yang merupakan dua faktor produksi yang
sangat penting.
5.
Khusus untuk
bidang teknologi, diberlakukannya MEA
ini menciptakan transfer teknologi dari negara-negara maju ke
negara-negara berkembang yang ada di wilayah Asia Tenggara.[7]
KESIMPULAN
Masyarakat
Ekonomi ASEAN atau yang biasa disingkat menjadi MEA secara singkatnya bisa
diartikan sebagai bentuk integrasi ekonomi ASEAN yang artinya semua negara yang
berada dikawasan Asia Tenggara (ASEAN) merupakan sistem perdaganga bebas .
Dampak yang di timbulkan dari pasar bebas ASEAN yaitu Competition Risk,
Exploitation Risk, Resiko Ketenagakerjaan. Sedangkan cara untuk menghadapi
pasar bebas ASEAN yaitu Pertama, Indonesia harus mampu melakukan subtitusi
bahan baku, barang dan jasa impor. Kedua, Indonesia harus mampu meningkatkan
kemampuan logistik yang diiringi dengan penurunan ongkos distribusi. Ketiga,
adanya bunga kredit perbankan yang rendah sehingga industri di dalam negeri
bisa mengembangkan kegiatan bisnisnya. Keempat, pekerja lokal tidak lagi
melakukan aksi-aksi tuntutan kenaikan upah. Kelima, pekerja lokal meningkatkan
produktivitas sehingga tidak kalah dibandingkan pekerja asing.
DAFTAR PUSTAKA
[1] www.sukasosial.blogspot.com/2015/08/masyarakat-ekonomi-asean. Diunduh pada
tanggal 16 Desember 2015.
[2] www.yosiharaelmasnun.blogspot.com/2015/04/masyarakat-ekonomi-asean-mea. Diunduh pada
tanggal 16 Desember 2015
[3] www.liputan6.com/bisnis/read/2390399/5-kunci-indonesia-untuk-bersaing-saat-pasar-bebas-asean. diunduh pada
16 Desember 2015
[4] www.yosiharaelmasnun.blogspot.com/2015/04/masyarakat-ekonomi-asean-mea. Diunduh pada
tanggal 16 Desember 2015
[5] www.ekbis.sindonews.com/read/1058739/34/ini-yang-harus-dilakukan-pemerintah-hadapi-mea-1446612476. Diunduh pad
17 Desember 2015
[6] www.liputan6.com/bisnis/read/2355371/ini-jurus-kkp-hadapi-pasar-bebas-asean-2015 Diunduh pada
17 Desember 2015
[7] www.sukasosial.blogspot.com/2015/08/masyarakat-ekonomi-asean. Diunduh pada
tanggal 16 Desember 2015.

No comments:
Post a Comment