Breaking News

Wednesday, 6 January 2016

Makalah Pendidikan Karakter

MAKALAH  PENDIDIKAN KARAKTER
(KECERDASAN EMOSIONAL SEBAGAI HASIL BELAJAR)
Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester Mata Kuliah
Psikologi Pendidikan






PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
JURAI SIWO METRO
T.A 2015



KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Alloh SWT, Tuhan semesta alam karena berkat rahmat dan ridhoa-Nya kami dapat menyelesaikan makalah mandiri mata kuliah psikologi pendidikan dengan judul kecerdasan Emosional sebagai Hasil belajar.Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan keharibaan Nabi Muhammad SAW juga kepada keluarga, sahabat dan para pengikutnya sampai di hari kiyamat.
          Makalah ini kami sajikan dengan tujuan untuk memaparkan mengenai Kecerdasan Emosional sebagai Hasil Belajar. Makalah ini kami sajikan secara singkat dan sederhana, sehingga nantinya dapat memudahkan bagi para pembaca makalah ini untuk mengetahui dan memahami isi kajiannya.
         Terima kasih kami sampaikan kepada Dosen Pengampu, atas bimbingannya serta arahannya dalam penyusunan makalah ini. Juga kepada semua pihak yang telah ikut berperan serta dalam penyusunan makalah ini.  Mudah-mudahan dengan  tersusunnya makalah ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan kita. Menyadari akan segala kekurangan yang melekat pada diri penulis diharapkan untuk  kritik dan sarannya  demi perbaikan dan kesempunaan makalah ini. Akhir kata mudah-mudahan makalah ini dapat  bermanfaat, Amiin...

            Metro,09-12-2015
                 Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................................
KATA PENGANTAR .............................................................................................i
DAFTAR ISI ...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1.Latar Belakang Masalah.........................................................................1
1.2.Rumusan Masalah..................................................................................1
1.3.Tujuan pembahasan................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................2
            2.1. Pengertian Kecerdasan Emosional.......................................................2
            2.2.Ciri-ciri Kecerdasan Emosional........................................................4
            2.3.Emosi dan Kegunaan...........................................................7
            2.4.Kecakapan-Kecakapan Emosional................................................10
            2.5.Penerapan Kecakapan Emosional........................................................12
BAB III PENUTUP................................................................................................13
3.1. Kesimpulan.........................................................................................13
3.2. Saran...................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................14
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ..............................................................................
LAMPIRAN...........................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG MASALAH
      Dalam perkembangan dasawarsa ini semakin banyak tulisan dan kajian yang menyorot secara kritis peran pentingnya kecerdasan emosional dalam mewujudkan keberhasilan seseorang. Pandangan sebelumnya yang menempatkan kecerdasan akademik atau rasional atau IQ yang sebagai satu-satunya indikator yang menentukan keberhasian seseorang mulai bergeser pada pandangan yang melihat adanya kecerdasan-kecerdasan lain yang juga tidak kalah penting. Oleh karena itu pada pembahasan pada kesempatan ini kami akan mengajak anda mengenai pentingnya kecerdasan emosional dalam rangka proses pendidikan.

1.2. RUMUSAN MASALAH
      Agar tidak terjadinya kesimpang siuran dalam pembahasan materi dalam makalah ini,maka penulis memberikan batasan-batasansebagai berikut:
·         Pengertian kecerdasan emosional
·         Ciri-cirikecerdasan emosional
·         Kecakapan-kecakapan emosional
·         Penerapan kecerdasan emosional

1.3.TUJUAN PEMBAHASAN
      Selain guna untuk memenuhi tugas akhir semester, pembahasan makalah ini juga bertujuan untuk mengetahui tentang hal-hal sebagai berikut:
·         Pengertian kecerdasan emosional
·         Ciri-cirikecerdasan emosional
·         Kecakapan-kecakapan emosional
·         Penerapan kecerdasan emosional

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. PENGERTIAN KECERDASAN EMOSIONAL
            Kecerdasan Emosional merupakan kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, dan menjaganya agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdo’a.[1]
            Kecerdasan emosional berakar dari konsep social intellegence, yaitu kemampuan memahami dan mengatur untuk bertindak secara bijak dalam hubungan antar manusia. Sementara Salovey dan Mayer, dalam Goleman, menggunakan istilah kecerdasan emosional untuk menggambarkan sejumlah keterampilan yang berhubungan keakuratan penilaian tentang emosi diri sendiri danorang lain, serta kemampuan mengelola perasaan untuk memotivasi, merencanakan, danmeraih tujuan kehidupan. Selanjutnya Salovey dan Mayer menempatkan kecerdasan emosional dalam yang disebut lima wilayah utama, yaitu kemampuan untuk mengenali diri sendiri, kemampuan mengelola emosi dan mengekspresi emosi diri sendiri dengan tepat,kemampuan memotivasi diri, kemampuan memngenali emosi orang lain, dan kemapuan membina hubungan dengan orang lain.[2]
            Untuk memberikan pemahaman dasar tentang kecerdasan emosional, Daniel Golemen mencoba menjelaskan beberapa konsep keliru yang paling lazim terjadi dan harus diluruskan .
            Pertama, kecerdasan emosi tidak hanya berarti bersikap ramah, melainkan sikap tegas yang barang kali memang tidak menyenangkan, tetapi mengungkapkan kebenaran yang selama ini dihindari.
            Kedua, kecerdasan emosi bukan berarti memberikan kebebasan kepada perasaan untuk berkuasa,” memanjakan perasaan –perasaan, melainkan mengelola perasaan-perasaan sedemikian rupa sehingga terekspresi secara tepat dan efektif, yang memungkinkan orang bekerjasama dengan lancar menuju sasaran bersama. Tingkat kecerdasan emosi tidak terikat degan faktor genetis, tidak juga hanya dapat berkembang pada masa kanak-kanak.tidak seperti IQ yang berubah hanya sedikit setelah melewati usia remaja. Kecerdasan emosi lebih banyak diperoleh melalui belajar melalui pengalaman sendiri, sehingga kecakapan-kecakapan kita dalam hal ini dapat terus tumbuh.
            Hasil penelitian menunjukan bahwa keterampilan EQ akan mampu membuat anak-anak bersemangat tinggi dalam belajar,atau untuk disukai teman-temannya di tempat bermain, juga akan membantunya kelak ketika si anak memasuki lingkungan kerja atau bahkan setelah berkeluarga. Dalam sebuah survei nasional terhadap apa yang diinginkan oleh para pemberi kerja, keterampilan-keterampilan tekhnik secara khusus tidak begitu penting,dibanding dengan kemampuan dasar untuk belajar dalam  pekerjaan bersangkutan. Selain itu keterampilan-keterampilan lainnya sebagai berikut:
1.      Mendengarkan dan komunikasi lisan
2.      Adaptabilitas dan tanggapan kreatif terhadap kegagalan dan halangan
3.      Menejemen pribadi, kepercayaan diri, memotivasi untuk bekrja meraih sasaran, keinginanmengembangkan karierdan bangga dengan prestasi yang dicapai
4.      Efektivitas kelompok dan antar pribadi, kerjasama dalam kelompok, keterampilan dalam merundingkan berbagai pendapat
5.      Efektivitas dalam perusahaan, keinginan memberi konstribusi, potensi-potensi kepemimpinan. [3]

            Salovey dan Mayer mula-mula mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilih-milih semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.
            Pendapat keduanya memberikan isyarat bahwa keterampilan EQ bukanlah lawan dari keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraki secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun empirik. Idealnya apabila seseorang dapat menguasai keterampilan kognitifsekaligus sosial emosioanlnya. Barangkali perbedaan paling mendasar antara IQ dan EQ adalah, bahwa EQ tidak dipengaruhi oleh faktor keturunan,  sehingga membuka kesempatan bagi orang tua dan pendidik untuk meanjutkan apa yang telah disediakan oleh alam agaranak mempunyai kesempatan lebih besar untuk meraih kesuksesan. Dengan demikian keserdasan emosional leih merupakan hasil dari kativitasindividudalam melatih fungsi-fungsi emosional diri sendiri atau orang lain sehingga lebih merupakan hasil belajar.
            Steven J.Stein dan Howard E.Book, menuliskan sebuah model kecerdasan emosional  dan disebutnya bar-on. Pada model Bar-On ini digunakan istilah ranah yaitu:
·         Ranah intrapribadi
·         Ranah antarpribadi
·         Ranah penyesuaian diri
·         Ranah pengendalian stress
·         Ranah suasana hati umum[4]
·          

2.2. CIRI-CIRI KECERDASAN EMOSIONAL
            Seperti yang telah dikemukakan terdahulu bahwa kecerdasan akademik, nilai-nilai intelektual yang selama ini dibanggakan yang menjadi indikator kesuksesan seseorang kini telah diragukan. Para ahli psikologi sepakat kalau IQ hanya mendukung 20 persen faktor yang menentukan keberhasilan, sedangkan 80 persen sisanya berasal dari faktor lain, termasuk kecerdasan emosional.[5]
            beberapa pihak mulai memahami bahwa ada sisi yang lebih penting atau sekurang-kurangnya sama dengan kecerdasan akademik yang bahkan lebih banyak mementukan sikap positif seseorang, kemampuan melihat masalah dengan kelapangan jiwa, kemampuan mengatasi berbagai konflikinternal maupun eksternal, kemampuan mengatasi kegagalandan padaakhirnyamencapai kesuksesan,yaitu kecerdasan emosional.
            Goleman menggambarkan beberapa ciri-ciri kecerdasan emosional yang terdapat pada diri seseorang:
a.       Kemampuan memotivasi diri sendiri
b.      Ketahanan menghadapi frustasi
c.       Kemampuan mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan
d.      Kemampuan menjaga suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdo’a.[6]

Kemampuan tersebut ternyata mamapu memberikan konstribusi yang besar terhadap diri seseorang untuk mengatasi berbagai masalah kehidupan.Kemampuan memotivasi diri sendiri merupakan kemampuan internal pada diri seseorang berupa kekuatan menjadi suatu energi yang mendorong seseorang untuk mampu menggerakan potensi-potensi fisik dan psikologis atau mental dalam melakukan aktivitas tertentu sehingga mampu mencapai keberhasilan yang diharapkan. Walaupun kemampuan memotivasi diri menjadi suatu yang sangat penting sebagai wujud dari kemandirian anak, namun dalam proses dalam perkembangannya anak masih memerlukanperan orang tua untuk memfasilitasi peningkatan motivasi mereka. Untuk itu sebagai orang tua maupun guru untuk dapat membantu mengembangkan kemampuan motivasi diri anak melalui:
a.       Mengajarkan anak mengharapkan keberhasilan
b.      Menyediakan kesempatan bagi anak untuk menguasai lingkungan
c.       Memberikan pendidikan yang relevan dengan gaya belajar anak
d.      Mengajarkan anak untuk menghargai sikap tidak mudah menyerah
e.       Mengajarkan anak pentingnya menghadapi dan mengatasi kegagalan.[7]
           
            Dalam melaksanakan kehidupan,bahkan dalam melasanakan kehidupn tidak mungkin terlepas dari sebuah masalah. Dalam hal ini kemampuan yang harus dikembangkan bukanlah bagaimana menghindari masalah melainkan kemampuan melihat secara jernih setiap masalah yang dihadapi. Dan selanjutnya mampu memobilasi kekuatan diridalam mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi tersebut.
            Kemampuan menghadapi masalah akan mendorong anak untuk memiliki daya tahan yang lebih tinggi jika suatu saat nanti ia dihadapkan pada suatu masalah yang lebih kompleks dan rumityang mungkin menyeretnya kepada suatu frustasi. Bilamana keadaan buruk, anak diharapkan dapat mengendalikan diri, menata emosi sehingga tidakmelakukan hal-hal yang dapat merugikan dirnya sendiri.
            Sejumlah pandangan memberukan saran untuk dapat mengendalikan emosi agar tidak bekembang ke arah negatif, antara lain pengenalan diri melaluipemikiran yang jernih untuk menyadari perasaan diri sepenuhnya. Kesadaran diri adalah kecakapan yang di usahakan untuk diperkuat oleh sebagian besar perangkat psikoterapi. Karena seperti yang diungkapkan Freudbahwa sebagian besar kehidupan emosional berada dalam alam bawah sadar, perasaan yang bergejolak dalam diri kita tidaklah senantiasa melintasi ambang kesadaran.
            Bilamana pengenalan diri dapat dilakukan dengan baik, maka akan sangat membantu seseorang untuk dapat menguasai diri, yakni kemampuan menghadapi badai emosi terutama berupa nafsu seperti amarah, cemas, deprsi,dan gangguan emisonal yang berlebihan.
            Upaya lain yang dapat menegndalikan agar seseorang tidak terjebak dalam kecemasan, bersikap pasrah, atau depresi adalah melawan dorongan hati. Tidak ada keterampilan pskologis yang lebih penting selain melawan dorongan hati. Karena ia adalah akar dari segala kendali emosi. Kemudian seseorang harus mempunyai harapan dan optimisme dalam kerangka bagaimana seseorang memandang keberhasilan dan kegagalan.

            Kemampuan mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan menjadi ciridari kecerdasan emosional. Kematangan berfikir anak tidak dapatsekedar ditunjukan oleh kemampuan nalar, akan tetap justru lebih banyak ditunjukan melalui isyarat emosional.
            Dalam pembahasan emosi faktor empati adalah hal penting yang harus dikembangkan, karena dengan berempati seseorang akan dapat memahami bagaimana perasaan orang lain.martin Hoffman berpendapat bahwa akar moralitas ada pada empati,semakin empatik seseorang, maka semakin besar pula kecenderungan seseorang mendukung prinsipmoral.
            Kemampuan mengadakan hubungan antar pribadi dan keterampilan sosial perlu ditumbuhkembangkan pada setiap anak agar mereka secara dini dapat diterima dan tidak dikucilkan oleh orang lain  danmemiliki kepekaan sosial yang tinggi kepada orang lain.
            Kemampuan menjaga suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan berfikir yang terkait dengan kemampuan mengarasi masalah, karena orang yang mampu mengatasi masalah yang di hadapi akan lebih dewasadalammenghadapi masalah yang lebih berat.
Golman memberikan perhatian yang besar terhadap kebutuhan seseorang untuk mengakui adanya kekuatan yang lain yang lebih agung.itulah sebabnya kemampuan berdo’a juga merupakan ciri yang ada dalam kecerdasan emosional. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional dalam menghadapi masalah  akan dapat melihat persoalan tersebut secara jernih dan berupaya mengatasi persoalan tersebut dan berharap adanya kekuatan penolong Yang Maha Esa.
           
2.3. EMOSI DAN KEGUNAAN
            Kecerdasan emosi merupakan bagian dari aspek kejiwaan seseorang yang paling mendalam, dan merupakan suatu kekuatan, karena adanya emosi itu manusia dapat menunjukan keberadaannya dalam masalah-masalah manusiawi. Emosi menyebabakan manusia memiliki rasa cinta yang  sangat dalam sehingga seseorang bersedia melakukan apa saja, walaupun hal itu tidak memberikan keuntungan secara lahiriah.kekuatan emosi terkadang mengalahkan kekuatan nalar, sehingga ada suatu perbuatan yang mungkin secara nalar tidak mungkin dilakukan seseorang, tetapi karena kekuatan emosi kegiatan itu dilakukan. [8]
            Para ahli sosiobiologi menyatakan keunggulan perasaan dibandingkan nalar, sehingga pada saat-saat tertentu emosi ditempatkan sebagai titik pusat jiwa manusia. Menurut para ahli tersebut, emosi menuntun kita menghadapi saat-saat kritis dan tugas-tugas yang riskan bila hanya diserahkan pada otak. Oleh karena itu pandangan mengenai kodrat manusia yang mengabaikan kekuatan emosi, jelas menrupakan pandangan yang amat picik. Sebutan homosapiens merupakan hal yang sangat keliru dalam pola pemahaman serta visi baru yang ditawarkan oleh sains saat ini tentang emosi dalam kehidupan kita.
            Mereka mengemukakan bahwa kita sudah terlampau lama menekankan pentingnya nilai dan makna rasional murni yang menjadi tolak ukur IQ dalam kehidupan mausia, padahal kecerdasan tidak akan berarti jika tidak didukung oleh kekuatan emosi.
            Karena emosi merupakan suatu kekuatan yang dapat mengalahkan nalar, maka harus ada upaya mengendalikan,mengatasi, dan mendisiplinkan kehidupan emosional, dengan memberlakukan aturan-aturan guna mengurangi akses-akses gejolak emosi, terutama  nafsu yang terlampau bebas dalam diri manusia yang seringkali mengalahkan nalar.
            Manusia secara universal memiliki dua jenis tindakan pikiran, yaitu tindakan pikiran emosional dan tindakan pikiran rasional[9] .Kedua cara pemahaman yang secara fundamental berbeda ini saling mempengaruhi dalam membentuk kehidupan mental manusiawi. Pertama pemikiran rasional, adalah model pemahaman yang lazim kita sadari, lebih menonjol kesadarannya, kebijaksanaannya, mampu bertindak hati-hati dan merefleksi. Tetapi bersamaan dengan itu ada sistem pemahaman yang lain, yaitu implusif dan berpengaruh besar bila kadang-kadang tidak logis, yati pikiran emosional. Dikotomi emosional/ rasional kurang lebih sama dengan hati dengan kepala, mengatakan sesuatu yang benar dalam hatinya merupakan tingkat keyakinan yang berbeda yang cenderung
merupakan kepastian lebih mendalam dari pada menganggapnya benar dengan menggunakan akal.
            Kedua fikiran tersebut pada umumnya bekerja sama dalam keselarasan yang erat, saling melengkapi dalam mencapai pemahaman guna mengarahkan seseorang menjalani kehidupan duniawi. Biasanya ada keseimbangan antara pikiran emosional dan pikiran rasional, dimana emosi memberi masukan dan informasi kepada proses pikiran rasional, dan pikiran rasional memperbaiki dan terkadang memvote masukan-masukan tersebut. Namun pemikiran emosidan rasio merupakan kemampuan yang semi mandiri, masing-masing mencerminkan kerja jaringan sirkuit yang berbeda, namun saling terkait dalam otak.Perasaan sangat penting bagi pikiran,dan pikiran sangat penting bagi perasaan.
            Ada beberapa manfaat dar keselarasan IQ dan E, ayitu seseorang akan mampu bekerja lebih baik dari pekerja lainnya,menjadi anggota kelompok yang lebih baik, merasa percaya diri dan diberdayakan untuk mencapai tujuan, menangani masalah lebih efektif, memberikan pelayanan lebih baik,berkomunikasi dengan lebih efektif, memimpindan mengolah pekerjaan dengan falsafah hati dan kepala dan menciptakan perusahaan yang memiliki integritas, nilai, dan standar perilaku yang tinggi.[10]
            Platton berpendapat bahwa hubungan antar keduanya adalah, IQ adalah faktor genetik yang tidak dapat berubah yang dibawa sejak lahir. Sedangkan EQ tidak demikian, karena dapat disempurnnakan dengan kesungguhan, pelatihan, pengetahuan, dan kemauan. Dasar yang memperkuat EQ adalah dengan memahami kesadaran diri.
            Penting untuk diketahui bahwa kecerdasan emosi adalah dasar bagi lahirnya kecakapan emosional yang diperoleh dari hasil belajar, dan dapat menghasilkan kinerja yang menonjol dalam pekerjaan.inti dari kecakapan emosi ini adalah empatidan keteampilan sosial. Kecerdasan emosional bukan muncul dari pemikiran intelek yang jernih, tetapi dari pekerjaan hati manusia.
            Jika dipahami dari struktur biologis, masalah-masalah emosi bersumber dari amigdala yang merupakan bagian penting dalam otak. Jika amigdala dipisahkan daribagian-bagian otak lainnya,maka manusia tidak akan mapu menangkap makna emosi suatu peristiwa atau yangs ering disebut kebutaan afektif. Kerana kehilangan bobot emosional, maka peristiwa menjadi tidak memiliki makna. Amigdala menempati kedudukan strategis dalam kehidupan mental,semacam penjaga psikologis, ia juga dapat menyimpan ingatan reportoer respons, sehingga seseorang dapat bertndak tanpa betul-betul ia menyadari mengapa dia melakukan sesuatu.
            Uraian di atas menyiratkan betapa pentingnya keseimbangan antara akal dan emosi, menyesuaikan kepala dan hati,dan bilamana keseimbangan ini goyah akan terjadi perseteruan nalar dan perasaan. Yang mendasari semua ini adalah bagaimana seseorang dapat memahami penggunaan emosi secara cerdas sehingga dia akan dapat menjalankan aktivitas kehidupannya dengan baik dalam suatu keseimbangan.

2.4. KECAKAPAN-KECAKAPAN EMOSIONAL.
            Goleman menjelaskan bahwa orang yang secara emosinal cakap yang mengetahui dan menangani perasaan mereka dengan baik, yang mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif memiliki keuntungan dalam segala bidang kehidupan. Orang dengan keterampilan emosional yang berkembang baik berarti kemungkinan besar ia akan bahagia dan berhasil dalam kehidupan. Kecakapan emosional yang paling sering mengantarkan seseorang ke tingkat keberhasilan antara lain: inisiatif, pengaruh, dan mepati. Sebaliknya, dua pembawaan yang lazim dijumpai pada mereka yang gagal adalah: bersikap kaku, dan hubungan yang buruk.[11]
            Kecemasan yang sangat mendalam pada dewasa ini apabila anak mendapat nilai yang buruk dalam mata pelajaran, padahal ada yang lebih penting dicemaskan yaitu, buta emosi. Buta emosi akan membuka akses-akses negatif yang lebih besar dibandingkan rendahnya standar akademisnya. Tanda-tanda kekurangan perhatian terhadap aspek emosi terlihat dari bnyaknya peristiwa kekerasan di kalangan siswa. Penyebab yang paling lazinnya aalah terutama pada anak-anak adalah penyakit mental, utamanya gejala-gejala depresi. Berdasarkan penilaian orang tua dan guru tahun 1970 andengan keadaan pada kahit1980 anpada anak-anak Amerika usia 7 hingga 16 tahunan rata-rata anak  semakin parah dalam masalah spesifik berikut:
·         Menarik diri dari pergaulan atau masalah sosial
·         Cemas dan depresi
·         Memiliki masalah dalam hal perhatian dan berfikir
·         Nakal atau agresif.[12]

            Tinjauan baru tehadap penyebab depresi pada kaum muda menunjukan dengan jelas adanya cacat dalam dua bidang keterampilan emosional, yaitu keteampilan membina hubungan dan cara menafsirkan kegagalan yang memicu timbulnya depresi. Hasil penelitian juga menunjukan depresi dangat erat kaitanya dengan peritiwa politik seperti peningkatan yang terjadi setelah perang saudara.namun apapun sebabnya, depresi pada orang muda merupakan masalah yang mendesak, dan depresi pada anak-anak bukan sekedar perlu diobati namun harus dicegah.
            Beberapa pendapat menunjukan menghilangkan atau paling kurang menurunkan depresi pada anak, antara lain dapat dilakukan dengan mengajarkan cara melihat dan memahami kesulitan itu sendiri. Melatih untuk terampil menjalin persahabatan, bergaul lebih baik dengan orang tua, dan melinatkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial yang diminati.dan yang lebih penting lagiadalah mengubah pikiran-pikiran yang menekan, yang oleh pakar depresi disebut vaksinasi psikologi.
            Cara yang paling baik dalam mencegah terjadinya berbagai tindakan kekerasan, penyalah gunaan obat terlarang  sebagai dampak depresi adalah dengan menegmbangkan ketempilan emosionalnya melalui penemuan ketahanan diri pada anak. Sebuah kemapuan yangpenting untuk mengendalikan dorongan hati adalah dengan mengetahui perbedaan antara perasaan dengan tindakan, dan belajar membuat keputusan emosional yang lebih baik dengan terlbih dahulu mengendalikan dorongan dan mengidentifikasi konsekuensinya sebelum bertindak. Pada sisi yang lain perlu penjelasan dan aturan-aturan yang tegas tentang hak, kewajiban serta segala sesuatu yang dapat merugikan dan membahayakan dirinya.
2.5. PENERAPAN KECERDASAN EMOSIONAL
            Daya-daya emosi yang dimiliki seseorang pada dasarnya berakar dari masa kehidupan kanak-kanaknya. Carol Gilligan mengungkapkan perbedaan kunci antara laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki bangga karena kemandirian dan kemerdekaannya yang berfikir ulet dan mandiri, sedangkan perempuan melihat dirinya sebagai bagian dari jaringan hubungan. Oleh karena itu laki-laki terancam bila ada apa-apa yang dapat menentang kemandiriannya. Sementara perempuan lebih terancam oleh putusnya hubungan yang mereka bina.[13]
            Perbedaan dalam pendidikan emosi menghasilkan keterampilan yang berbeda pula. Jika dilihat lebih jauh dalam kehidupan rumah tangga , maka umumnya wanita memasuki jenjang perkawinan dengan sikap siap untuk menjadi manager emosi, sedangkan pria datang dengan pemahaman yang lebih sempit tentang pentingnya tugas untuk membantu mempertahankan kelanggengan hubungan. Para suami umumnya kurang memahami apa yang dikehendaki istrinya.mereka ingin memenuhi kebutuhanistri yang lebih besar padahal yang dibutuhkan seorang istri hanya waktu untuk berbicara bersama, sehingga menimbulakan keluhan dan ketidak cocokan dalam berkeluarga.
            Dalam berbagai bentuk kegiatan baik perkantoran,perusahaan, rumah sakit, penerapan kecerdasan emosional menjadi bagian yang sangat penting . dalam proses pembelajaran,penerapan kecerdasan emosional dapat dilakukan secara luas dalam segala sesi, aktivitas, dan bentuk-entuk spesifik pembelajaran. Pemahaman guru terhadap kecerdasan emosi serta pengetahuan tentang cara penerapannya kepada anak pada saat ini merupakan bagian penting dalam rangka membantu mewujudkan perkembangan potensi anak secara optimal.
Berikut beberapa upaya konkrit mengembangkan kecerdasan emosional:
·         Mengembangkan empati dan kepedulian
·         Mengajarkan kejujuran dan integritas
·         Mengajarkan memecahkan masalah















BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
            Hasil belajar yang diharapkan dicapaioleh anak adalah tercapainya perubahan perilaku secara holistik. Pandangan yang menitikberatkan hasil belajar dalam bentuk pemahaman pengetahuan saja merukan wujud dari pandangan yang sempit, karena pelajaran dan pembelajaran harus dapat menyentuh semua dimensi individu anak. Termasuk dimensi emosional. Hal ini dipandang penting karena dari berbagai hasil penelitian menunjukan bahwa keberhasilan belajar ternyata lebih banyak ditentukan oleh faktor emosi, antara lain daya tahan,keuletan, ketelitian, disiplin, rasa tanggung jawab,kemampuan menjalin kerjasama, motivasi yang tinggi serta dimensi  emosional lainnya.
            Sebagian besar ahli mengkaji aspek-aspek emosi menyimpulkan bahwa kecerdasan emosi merupakan hasil dari poses belajar,walaupun beberapa diantaranya ada yang berpendapat bahwa hal itu dipengaruji oleh faktor bawaan. Penerapan kecerdasan emosional dapat dilakukan secara luas dalam berbagai sesi, aktivitasdan bentuk-bentuk  spesifik pembelajaran.untuk dapat mengembangkan kecerdasan emosional perlu diawali dengan pemahaman guru tentang kecerdasan emosional serta pengetahuan tentang cara penerapannya.
Oleh karena itu penting bagi guru mengkaji aspek yang berkaitan dengan emosi, bagaimana melatih dimensi-dimensi emosi melalui proses pembelajaran  sehingga diharapkan semuanya dapat tercapai secara optimal.

3.2. SARAN
Mengingat sangat terbatasnya kemampuan Penulis dalam menelaah berbagai literature Psikologi Pendidikan, sehingga muatan dan pembahasan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kepada pihak pembaca untuk  memberikan kritikan, serta masukan kepada penulis, yang sifatnya membangun demi terciptanya makalah yang lebih baik di masa mendatang.dan kami ucapkan terima kasih.





















DAFTAR PUSTAKA


Aunurrahman.2009,Belajar dan Pembelajaran,Bandung,Alfabeta.
B.Uno,Hamzah,2005,Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran,Jakarta,Bumi             Aksara.
Atmaja Prawira,Purwa,2011,Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru, Jogjakarta, Ar-Ruzz Media.
























                [1].Hamzah B.Uno,Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran,Bumi  Aksara, Jakarta, 2005. Hlm.68.
                [2] .Purwa Atmaja Prawira,Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru, Ar-Ruzz Media, Jogjakarta,2011.hlm.159.
                [3] Aunurrahman,Belajar dan Pembelajaran, Bandung,Alfabeta,2009.hlm. 86.
                [4].Op-Cit,Purwa Atmaja Prawira.hlm.164
                [5].Op-Cit,Hamzah B.Uno.hlm.70.
                [6] .Ibid.hlm.89.
                [7].Ibid.hlm.90.
                [8] Ibid.hlm.95.
                [9] Ibid.hlm.96.
                [10] .Op-Cit,Hamzah B.Uno.hlm.70.
                [11]Op-Cit,Hamzah B.Uno.hlm.73.
                [12] Ibid.hlm.99.
                [13] Ibid.hlm.101.

No comments:

Post a Comment

Designed By VungTauZ.Com