MAKALAH PENDIDIKAN KARAKTER
(KECERDASAN EMOSIONAL SEBAGAI HASIL BELAJAR)
Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester Mata Kuliah
Psikologi Pendidikan
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
JURAI SIWO METRO
T.A 2015
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kepada Alloh SWT, Tuhan semesta alam karena berkat rahmat
dan ridhoa-Nya kami dapat menyelesaikan makalah mandiri mata kuliah psikologi
pendidikan dengan judul kecerdasan Emosional sebagai Hasil belajar.Sholawat
serta salam semoga tetap tercurahkan keharibaan Nabi Muhammad SAW juga kepada
keluarga, sahabat dan para pengikutnya sampai di hari kiyamat.
Makalah ini kami sajikan dengan
tujuan untuk memaparkan mengenai Kecerdasan Emosional sebagai Hasil Belajar. Makalah
ini kami sajikan secara singkat dan sederhana, sehingga nantinya dapat
memudahkan bagi para pembaca makalah ini untuk mengetahui dan memahami isi
kajiannya.
Terima kasih kami sampaikan kepada
Dosen Pengampu, atas bimbingannya serta arahannya dalam penyusunan makalah ini.
Juga kepada semua pihak yang telah ikut berperan serta dalam penyusunan makalah
ini. Mudah-mudahan dengan tersusunnya makalah ini dapat menambah
wawasan ilmu pengetahuan kita. Menyadari akan segala kekurangan yang melekat
pada diri penulis diharapkan untuk
kritik dan sarannya demi
perbaikan dan kesempunaan makalah ini. Akhir kata mudah-mudahan makalah ini
dapat bermanfaat, Amiin...
Metro,09-12-2015
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..................................................................................................
KATA PENGANTAR
.............................................................................................i
DAFTAR ISI
...........................................................................................................ii
BAB I
PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1.Latar Belakang
Masalah.........................................................................1
1.2.Rumusan
Masalah..................................................................................1
1.3.Tujuan
pembahasan................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................2
2.1.
Pengertian Kecerdasan
Emosional.......................................................2
2.2.Ciri-ciri
Kecerdasan Emosional........................................................4
2.3.Emosi
dan Kegunaan...........................................................7
2.4.Kecakapan-Kecakapan
Emosional................................................10
2.5.Penerapan Kecakapan
Emosional........................................................12
BAB III
PENUTUP................................................................................................13
3.1.
Kesimpulan.........................................................................................13
3.2.
Saran...................................................................................................13
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................14
DAFTAR
RIWAYAT HIDUP ..............................................................................
LAMPIRAN...........................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam perkembangan dasawarsa ini semakin
banyak tulisan dan kajian yang menyorot secara kritis peran pentingnya
kecerdasan emosional dalam mewujudkan keberhasilan seseorang. Pandangan
sebelumnya yang menempatkan kecerdasan akademik atau rasional atau IQ yang
sebagai satu-satunya indikator yang menentukan keberhasian seseorang mulai
bergeser pada pandangan yang melihat adanya kecerdasan-kecerdasan lain yang
juga tidak kalah penting. Oleh karena itu pada pembahasan pada kesempatan ini
kami akan mengajak anda mengenai pentingnya kecerdasan emosional dalam rangka proses
pendidikan.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Agar tidak terjadinya kesimpang siuran
dalam pembahasan materi dalam makalah ini,maka penulis memberikan
batasan-batasansebagai berikut:
·
Pengertian
kecerdasan emosional
·
Ciri-cirikecerdasan
emosional
·
Kecakapan-kecakapan
emosional
·
Penerapan
kecerdasan emosional
1.3.TUJUAN PEMBAHASAN
Selain guna untuk memenuhi tugas akhir
semester, pembahasan makalah ini juga bertujuan untuk mengetahui tentang
hal-hal sebagai berikut:
·
Pengertian
kecerdasan emosional
·
Ciri-cirikecerdasan
emosional
·
Kecakapan-kecakapan
emosional
·
Penerapan
kecerdasan emosional
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. PENGERTIAN KECERDASAN EMOSIONAL
Kecerdasan
Emosional merupakan kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri
dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak
melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, dan menjaganya agar beban
stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdo’a.[1]
Kecerdasan
emosional berakar dari konsep social intellegence, yaitu kemampuan memahami dan
mengatur untuk bertindak secara bijak dalam hubungan antar manusia. Sementara
Salovey dan Mayer, dalam Goleman, menggunakan istilah kecerdasan emosional
untuk menggambarkan sejumlah keterampilan yang berhubungan keakuratan penilaian
tentang emosi diri sendiri danorang lain, serta kemampuan mengelola perasaan
untuk memotivasi, merencanakan, danmeraih tujuan kehidupan. Selanjutnya Salovey
dan Mayer menempatkan kecerdasan emosional dalam yang disebut lima wilayah
utama, yaitu kemampuan untuk mengenali diri sendiri, kemampuan mengelola emosi
dan mengekspresi emosi diri sendiri dengan tepat,kemampuan memotivasi diri,
kemampuan memngenali emosi orang lain, dan kemapuan membina hubungan dengan
orang lain.[2]
Untuk memberikan
pemahaman dasar tentang kecerdasan emosional, Daniel Golemen mencoba
menjelaskan beberapa konsep keliru yang paling lazim terjadi dan harus
diluruskan .
Pertama,
kecerdasan emosi tidak hanya berarti bersikap ramah, melainkan sikap tegas yang
barang kali memang tidak menyenangkan, tetapi mengungkapkan kebenaran yang
selama ini dihindari.
Kedua, kecerdasan
emosi bukan berarti memberikan kebebasan kepada perasaan untuk berkuasa,”
memanjakan perasaan –perasaan, melainkan mengelola perasaan-perasaan sedemikian
rupa sehingga terekspresi secara tepat dan efektif, yang memungkinkan orang
bekerjasama dengan lancar menuju sasaran bersama. Tingkat kecerdasan emosi
tidak terikat degan faktor genetis, tidak juga hanya dapat berkembang pada masa
kanak-kanak.tidak seperti IQ yang berubah hanya sedikit setelah melewati usia
remaja. Kecerdasan emosi lebih banyak diperoleh melalui belajar melalui
pengalaman sendiri, sehingga kecakapan-kecakapan kita dalam hal ini dapat terus
tumbuh.
Hasil penelitian
menunjukan bahwa keterampilan EQ akan mampu membuat anak-anak bersemangat
tinggi dalam belajar,atau untuk disukai teman-temannya di tempat bermain, juga
akan membantunya kelak ketika si anak memasuki lingkungan kerja atau bahkan
setelah berkeluarga. Dalam sebuah survei nasional terhadap apa yang diinginkan
oleh para pemberi kerja, keterampilan-keterampilan tekhnik secara khusus tidak
begitu penting,dibanding dengan kemampuan dasar untuk belajar dalam pekerjaan bersangkutan. Selain itu
keterampilan-keterampilan lainnya sebagai berikut:
1.
Mendengarkan dan
komunikasi lisan
2.
Adaptabilitas
dan tanggapan kreatif terhadap kegagalan dan halangan
3.
Menejemen
pribadi, kepercayaan diri, memotivasi untuk bekrja meraih sasaran,
keinginanmengembangkan karierdan bangga dengan prestasi yang dicapai
4.
Efektivitas
kelompok dan antar pribadi, kerjasama dalam kelompok, keterampilan dalam
merundingkan berbagai pendapat
5.
Efektivitas
dalam perusahaan, keinginan memberi konstribusi, potensi-potensi kepemimpinan. [3]
Salovey dan Mayer mula-mula mendefinisikan
kecerdasan emosional sebagai himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang
melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun
pada orang lain, memilih-milih semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk
membimbing pikiran dan tindakan.
Pendapat keduanya memberikan isyarat
bahwa keterampilan EQ bukanlah lawan dari keterampilan IQ atau keterampilan
kognitif, namun keduanya berinteraki secara dinamis, baik pada tingkatan
konseptual maupun empirik. Idealnya apabila seseorang dapat menguasai
keterampilan kognitifsekaligus sosial emosioanlnya. Barangkali perbedaan paling
mendasar antara IQ dan EQ adalah, bahwa EQ tidak dipengaruhi oleh faktor
keturunan, sehingga membuka kesempatan
bagi orang tua dan pendidik untuk meanjutkan apa yang telah disediakan oleh alam
agaranak mempunyai kesempatan lebih besar untuk meraih kesuksesan. Dengan
demikian keserdasan emosional leih merupakan hasil dari kativitasindividudalam
melatih fungsi-fungsi emosional diri sendiri atau orang lain sehingga lebih
merupakan hasil belajar.
Steven J.Stein dan Howard E.Book,
menuliskan sebuah model kecerdasan emosional
dan disebutnya bar-on. Pada model Bar-On ini digunakan istilah ranah
yaitu:
·
Ranah
intrapribadi
·
Ranah
antarpribadi
·
Ranah
penyesuaian diri
·
Ranah
pengendalian stress
·
Ranah suasana
hati umum[4]
·
2.2. CIRI-CIRI KECERDASAN EMOSIONAL
Seperti yang telah dikemukakan
terdahulu bahwa kecerdasan akademik, nilai-nilai intelektual yang selama ini
dibanggakan yang menjadi indikator kesuksesan seseorang kini telah diragukan.
Para ahli psikologi sepakat kalau IQ hanya mendukung 20 persen faktor yang
menentukan keberhasilan, sedangkan 80 persen sisanya berasal dari faktor lain,
termasuk kecerdasan emosional.[5]
beberapa pihak mulai memahami bahwa
ada sisi yang lebih penting atau sekurang-kurangnya sama dengan kecerdasan
akademik yang bahkan lebih banyak mementukan sikap positif seseorang, kemampuan
melihat masalah dengan kelapangan jiwa, kemampuan mengatasi berbagai
konflikinternal maupun eksternal, kemampuan mengatasi kegagalandan
padaakhirnyamencapai kesuksesan,yaitu kecerdasan emosional.
Goleman menggambarkan beberapa
ciri-ciri kecerdasan emosional yang terdapat pada diri seseorang:
a.
Kemampuan
memotivasi diri sendiri
b.
Ketahanan
menghadapi frustasi
c.
Kemampuan
mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan
d.
Kemampuan
menjaga suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan
berfikir, berempati dan berdo’a.[6]
Kemampuan
tersebut ternyata mamapu memberikan konstribusi yang besar terhadap diri seseorang
untuk mengatasi berbagai masalah kehidupan.Kemampuan memotivasi diri sendiri
merupakan kemampuan internal pada diri seseorang berupa kekuatan menjadi suatu
energi yang mendorong seseorang untuk mampu menggerakan potensi-potensi fisik
dan psikologis atau mental dalam melakukan aktivitas tertentu sehingga mampu
mencapai keberhasilan yang diharapkan. Walaupun kemampuan memotivasi diri
menjadi suatu yang sangat penting sebagai wujud dari kemandirian anak, namun
dalam proses dalam perkembangannya anak masih memerlukanperan orang tua untuk
memfasilitasi peningkatan motivasi mereka. Untuk itu sebagai orang tua maupun
guru untuk dapat membantu mengembangkan kemampuan motivasi diri anak melalui:
a.
Mengajarkan
anak mengharapkan keberhasilan
b.
Menyediakan
kesempatan bagi anak untuk menguasai lingkungan
c.
Memberikan
pendidikan yang relevan dengan gaya belajar anak
d.
Mengajarkan
anak untuk menghargai sikap tidak mudah menyerah
e.
Mengajarkan
anak pentingnya menghadapi dan mengatasi kegagalan.[7]
Dalam melaksanakan kehidupan,bahkan
dalam melasanakan kehidupn tidak mungkin terlepas dari sebuah masalah. Dalam
hal ini kemampuan yang harus dikembangkan bukanlah bagaimana menghindari
masalah melainkan kemampuan melihat secara jernih setiap masalah yang dihadapi.
Dan selanjutnya mampu memobilasi kekuatan diridalam mengatasi
persoalan-persoalan yang dihadapi tersebut.
Kemampuan menghadapi masalah akan
mendorong anak untuk memiliki daya tahan yang lebih tinggi jika suatu saat
nanti ia dihadapkan pada suatu masalah yang lebih kompleks dan rumityang
mungkin menyeretnya kepada suatu frustasi. Bilamana keadaan buruk, anak
diharapkan dapat mengendalikan diri, menata emosi sehingga tidakmelakukan
hal-hal yang dapat merugikan dirnya sendiri.
Sejumlah pandangan memberukan saran
untuk dapat mengendalikan emosi agar tidak bekembang ke arah negatif, antara
lain pengenalan diri melaluipemikiran yang jernih untuk menyadari perasaan diri
sepenuhnya. Kesadaran diri adalah kecakapan yang di usahakan untuk diperkuat
oleh sebagian besar perangkat psikoterapi. Karena seperti yang diungkapkan
Freudbahwa sebagian besar kehidupan emosional berada dalam alam bawah sadar,
perasaan yang bergejolak dalam diri kita tidaklah senantiasa melintasi ambang
kesadaran.
Bilamana pengenalan diri dapat
dilakukan dengan baik, maka akan sangat membantu seseorang untuk dapat
menguasai diri, yakni kemampuan menghadapi badai emosi terutama berupa nafsu
seperti amarah, cemas, deprsi,dan gangguan emisonal yang berlebihan.
Upaya lain yang dapat menegndalikan
agar seseorang tidak terjebak dalam kecemasan, bersikap pasrah, atau depresi
adalah melawan dorongan hati. Tidak ada keterampilan pskologis yang lebih
penting selain melawan dorongan hati. Karena ia adalah akar dari segala kendali
emosi. Kemudian seseorang harus mempunyai harapan dan optimisme dalam kerangka
bagaimana seseorang memandang keberhasilan dan kegagalan.
Kemampuan mengendalikan dorongan
hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan menjadi ciridari kecerdasan
emosional. Kematangan berfikir anak tidak dapatsekedar ditunjukan oleh
kemampuan nalar, akan tetap justru lebih banyak ditunjukan melalui isyarat
emosional.
Dalam pembahasan emosi faktor empati
adalah hal penting yang harus dikembangkan, karena dengan berempati seseorang
akan dapat memahami bagaimana perasaan orang lain.martin Hoffman berpendapat
bahwa akar moralitas ada pada empati,semakin empatik seseorang, maka semakin
besar pula kecenderungan seseorang mendukung prinsipmoral.
Kemampuan mengadakan hubungan antar
pribadi dan keterampilan sosial perlu ditumbuhkembangkan pada setiap anak agar
mereka secara dini dapat diterima dan tidak dikucilkan oleh orang lain danmemiliki kepekaan sosial yang tinggi
kepada orang lain.
Kemampuan menjaga suasana hati dan
menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan berfikir yang terkait dengan
kemampuan mengarasi masalah, karena orang yang mampu mengatasi masalah yang di
hadapi akan lebih dewasadalammenghadapi masalah yang lebih berat.
Golman
memberikan perhatian yang besar terhadap kebutuhan seseorang untuk mengakui
adanya kekuatan yang lain yang lebih agung.itulah sebabnya kemampuan berdo’a
juga merupakan ciri yang ada dalam kecerdasan emosional. Seseorang yang
memiliki kecerdasan emosional dalam menghadapi masalah akan dapat melihat persoalan tersebut secara
jernih dan berupaya mengatasi persoalan tersebut dan berharap adanya kekuatan
penolong Yang Maha Esa.
2.3. EMOSI DAN KEGUNAAN
Kecerdasan emosi merupakan bagian
dari aspek kejiwaan seseorang yang paling mendalam, dan merupakan suatu
kekuatan, karena adanya emosi itu manusia dapat menunjukan keberadaannya dalam
masalah-masalah manusiawi. Emosi menyebabakan manusia memiliki rasa cinta
yang sangat dalam sehingga seseorang
bersedia melakukan apa saja, walaupun hal itu tidak memberikan keuntungan
secara lahiriah.kekuatan emosi terkadang mengalahkan kekuatan nalar, sehingga
ada suatu perbuatan yang mungkin secara nalar tidak mungkin dilakukan
seseorang, tetapi karena kekuatan emosi kegiatan itu dilakukan. [8]
Para ahli sosiobiologi menyatakan
keunggulan perasaan dibandingkan nalar, sehingga pada saat-saat tertentu emosi
ditempatkan sebagai titik pusat jiwa manusia. Menurut para ahli tersebut, emosi
menuntun kita menghadapi saat-saat kritis dan tugas-tugas yang riskan bila
hanya diserahkan pada otak. Oleh karena itu pandangan mengenai kodrat manusia
yang mengabaikan kekuatan emosi, jelas menrupakan pandangan yang amat picik.
Sebutan homosapiens merupakan hal yang sangat keliru dalam pola pemahaman serta
visi baru yang ditawarkan oleh sains saat ini tentang emosi dalam kehidupan
kita.
Mereka mengemukakan bahwa kita sudah
terlampau lama menekankan pentingnya nilai dan makna rasional murni yang
menjadi tolak ukur IQ dalam kehidupan mausia, padahal kecerdasan tidak akan
berarti jika tidak didukung oleh kekuatan emosi.
Karena emosi merupakan suatu
kekuatan yang dapat mengalahkan nalar, maka harus ada upaya
mengendalikan,mengatasi, dan mendisiplinkan kehidupan emosional, dengan
memberlakukan aturan-aturan guna mengurangi akses-akses gejolak emosi, terutama nafsu yang terlampau bebas dalam diri manusia
yang seringkali mengalahkan nalar.
Manusia secara universal memiliki
dua jenis tindakan pikiran, yaitu tindakan pikiran emosional dan tindakan
pikiran rasional[9] .Kedua
cara pemahaman yang secara fundamental berbeda ini saling mempengaruhi dalam
membentuk kehidupan mental manusiawi. Pertama pemikiran rasional, adalah model
pemahaman yang lazim kita sadari, lebih menonjol kesadarannya,
kebijaksanaannya, mampu bertindak hati-hati dan merefleksi. Tetapi bersamaan
dengan itu ada sistem pemahaman yang lain, yaitu implusif dan berpengaruh besar
bila kadang-kadang tidak logis, yati pikiran emosional. Dikotomi emosional/
rasional kurang lebih sama dengan hati dengan kepala, mengatakan sesuatu yang
benar dalam hatinya merupakan tingkat keyakinan yang berbeda yang cenderung
merupakan
kepastian lebih mendalam dari pada menganggapnya benar dengan menggunakan akal.
Kedua fikiran tersebut pada umumnya
bekerja sama dalam keselarasan yang erat, saling melengkapi dalam mencapai
pemahaman guna mengarahkan seseorang menjalani kehidupan duniawi. Biasanya ada
keseimbangan antara pikiran emosional dan pikiran rasional, dimana emosi
memberi masukan dan informasi kepada proses pikiran rasional, dan pikiran
rasional memperbaiki dan terkadang memvote masukan-masukan tersebut. Namun
pemikiran emosidan rasio merupakan kemampuan yang semi mandiri, masing-masing
mencerminkan kerja jaringan sirkuit yang berbeda, namun saling terkait dalam
otak.Perasaan sangat penting bagi pikiran,dan pikiran sangat penting bagi perasaan.
Ada beberapa manfaat dar keselarasan
IQ dan E, ayitu seseorang akan mampu bekerja lebih baik dari pekerja
lainnya,menjadi anggota kelompok yang lebih baik, merasa percaya diri dan
diberdayakan untuk mencapai tujuan, menangani masalah lebih efektif, memberikan
pelayanan lebih baik,berkomunikasi dengan lebih efektif, memimpindan mengolah
pekerjaan dengan falsafah hati dan kepala dan menciptakan perusahaan yang
memiliki integritas, nilai, dan standar perilaku yang tinggi.[10]
Platton berpendapat bahwa hubungan
antar keduanya adalah, IQ adalah faktor genetik yang tidak dapat berubah yang
dibawa sejak lahir. Sedangkan EQ tidak demikian, karena dapat disempurnnakan
dengan kesungguhan, pelatihan, pengetahuan, dan kemauan. Dasar yang memperkuat
EQ adalah dengan memahami kesadaran diri.
Penting untuk diketahui bahwa
kecerdasan emosi adalah dasar bagi lahirnya kecakapan emosional yang diperoleh
dari hasil belajar, dan dapat menghasilkan kinerja yang menonjol dalam
pekerjaan.inti dari kecakapan emosi ini adalah empatidan keteampilan sosial.
Kecerdasan emosional bukan muncul dari pemikiran intelek yang jernih, tetapi
dari pekerjaan hati manusia.
Jika dipahami dari struktur
biologis, masalah-masalah emosi bersumber dari amigdala yang merupakan bagian
penting dalam otak. Jika amigdala dipisahkan daribagian-bagian otak
lainnya,maka manusia tidak akan mapu menangkap makna emosi suatu peristiwa atau
yangs ering disebut kebutaan afektif. Kerana kehilangan bobot emosional, maka
peristiwa menjadi tidak memiliki makna. Amigdala menempati kedudukan strategis
dalam kehidupan mental,semacam penjaga psikologis, ia juga dapat menyimpan
ingatan reportoer respons, sehingga seseorang dapat bertndak tanpa betul-betul
ia menyadari mengapa dia melakukan sesuatu.
Uraian di atas menyiratkan betapa
pentingnya keseimbangan antara akal dan emosi, menyesuaikan kepala dan hati,dan
bilamana keseimbangan ini goyah akan terjadi perseteruan nalar dan perasaan.
Yang mendasari semua ini adalah bagaimana seseorang dapat memahami penggunaan emosi
secara cerdas sehingga dia akan dapat menjalankan aktivitas kehidupannya dengan
baik dalam suatu keseimbangan.
2.4. KECAKAPAN-KECAKAPAN EMOSIONAL.
Goleman menjelaskan bahwa orang yang
secara emosinal cakap yang mengetahui dan menangani perasaan mereka dengan
baik, yang mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif
memiliki keuntungan dalam segala bidang kehidupan. Orang dengan keterampilan
emosional yang berkembang baik berarti kemungkinan besar ia akan bahagia dan
berhasil dalam kehidupan. Kecakapan emosional yang paling sering mengantarkan
seseorang ke tingkat keberhasilan antara lain: inisiatif, pengaruh, dan mepati.
Sebaliknya, dua pembawaan yang lazim dijumpai pada mereka yang gagal adalah:
bersikap kaku, dan hubungan yang buruk.[11]
Kecemasan yang sangat mendalam pada
dewasa ini apabila anak mendapat nilai yang buruk dalam mata pelajaran, padahal
ada yang lebih penting dicemaskan yaitu, buta emosi. Buta emosi akan membuka
akses-akses negatif yang lebih besar dibandingkan rendahnya standar
akademisnya. Tanda-tanda kekurangan perhatian terhadap aspek emosi terlihat
dari bnyaknya peristiwa kekerasan di kalangan siswa. Penyebab yang paling
lazinnya aalah terutama pada anak-anak adalah penyakit mental, utamanya
gejala-gejala depresi. Berdasarkan penilaian orang tua dan guru tahun 1970
andengan keadaan pada kahit1980 anpada anak-anak Amerika usia 7 hingga 16
tahunan rata-rata anak semakin parah
dalam masalah spesifik berikut:
·
Menarik diri
dari pergaulan atau masalah sosial
·
Cemas dan depresi
·
Memiliki
masalah dalam hal perhatian dan berfikir
·
Nakal atau
agresif.[12]
Tinjauan baru tehadap penyebab
depresi pada kaum muda menunjukan dengan jelas adanya cacat dalam dua bidang
keterampilan emosional, yaitu keteampilan membina hubungan dan cara menafsirkan
kegagalan yang memicu timbulnya depresi. Hasil penelitian juga menunjukan
depresi dangat erat kaitanya dengan peritiwa politik seperti peningkatan yang
terjadi setelah perang saudara.namun apapun sebabnya, depresi pada orang muda
merupakan masalah yang mendesak, dan depresi pada anak-anak bukan sekedar perlu
diobati namun harus dicegah.
Beberapa
pendapat menunjukan menghilangkan atau paling kurang menurunkan depresi pada
anak, antara lain dapat dilakukan dengan mengajarkan cara melihat dan memahami
kesulitan itu sendiri. Melatih untuk terampil menjalin persahabatan, bergaul
lebih baik dengan orang tua, dan melinatkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial
yang diminati.dan yang lebih penting lagiadalah mengubah pikiran-pikiran yang
menekan, yang oleh pakar depresi disebut vaksinasi psikologi.
Cara yang paling baik dalam mencegah
terjadinya berbagai tindakan kekerasan, penyalah gunaan obat terlarang sebagai dampak depresi adalah dengan
menegmbangkan ketempilan emosionalnya melalui penemuan ketahanan diri pada
anak. Sebuah kemapuan yangpenting untuk mengendalikan dorongan hati adalah
dengan mengetahui perbedaan antara perasaan dengan tindakan, dan belajar
membuat keputusan emosional yang lebih baik dengan terlbih dahulu mengendalikan
dorongan dan mengidentifikasi konsekuensinya sebelum bertindak. Pada sisi yang
lain perlu penjelasan dan aturan-aturan yang tegas tentang hak, kewajiban serta
segala sesuatu yang dapat merugikan dan membahayakan dirinya.
2.5. PENERAPAN KECERDASAN EMOSIONAL
Daya-daya emosi yang dimiliki
seseorang pada dasarnya berakar dari masa kehidupan kanak-kanaknya. Carol
Gilligan mengungkapkan perbedaan kunci antara laki-laki dan perempuan, dimana
laki-laki bangga karena kemandirian dan kemerdekaannya yang berfikir ulet dan
mandiri, sedangkan perempuan melihat dirinya sebagai bagian dari jaringan
hubungan. Oleh karena itu laki-laki terancam bila ada apa-apa yang dapat
menentang kemandiriannya. Sementara perempuan lebih terancam oleh putusnya
hubungan yang mereka bina.[13]
Perbedaan dalam pendidikan emosi
menghasilkan keterampilan yang berbeda pula. Jika dilihat lebih jauh dalam
kehidupan rumah tangga , maka umumnya wanita memasuki jenjang perkawinan dengan
sikap siap untuk menjadi manager emosi, sedangkan pria datang dengan pemahaman
yang lebih sempit tentang pentingnya tugas untuk membantu mempertahankan
kelanggengan hubungan. Para suami umumnya kurang memahami apa yang dikehendaki
istrinya.mereka ingin memenuhi kebutuhanistri yang lebih besar padahal yang
dibutuhkan seorang istri hanya waktu untuk berbicara bersama, sehingga
menimbulakan keluhan dan ketidak cocokan dalam berkeluarga.
Dalam berbagai bentuk kegiatan baik
perkantoran,perusahaan, rumah sakit, penerapan kecerdasan emosional menjadi
bagian yang sangat penting . dalam proses pembelajaran,penerapan kecerdasan
emosional dapat dilakukan secara luas dalam segala sesi, aktivitas, dan
bentuk-entuk spesifik pembelajaran. Pemahaman guru terhadap kecerdasan emosi
serta pengetahuan tentang cara penerapannya kepada anak pada saat ini merupakan
bagian penting dalam rangka membantu mewujudkan perkembangan potensi anak
secara optimal.
Berikut
beberapa upaya konkrit mengembangkan kecerdasan emosional:
·
Mengembangkan
empati dan kepedulian
·
Mengajarkan
kejujuran dan integritas
·
Mengajarkan
memecahkan masalah
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Hasil belajar yang diharapkan
dicapaioleh anak adalah tercapainya perubahan perilaku secara holistik.
Pandangan yang menitikberatkan hasil belajar dalam bentuk pemahaman pengetahuan
saja merukan wujud dari pandangan yang sempit, karena pelajaran dan
pembelajaran harus dapat menyentuh semua dimensi individu anak. Termasuk
dimensi emosional. Hal ini dipandang penting karena dari berbagai hasil
penelitian menunjukan bahwa keberhasilan belajar ternyata lebih banyak
ditentukan oleh faktor emosi, antara lain daya tahan,keuletan, ketelitian,
disiplin, rasa tanggung jawab,kemampuan menjalin kerjasama, motivasi yang
tinggi serta dimensi emosional lainnya.
Sebagian besar ahli mengkaji
aspek-aspek emosi menyimpulkan bahwa kecerdasan emosi merupakan hasil dari
poses belajar,walaupun beberapa diantaranya ada yang berpendapat bahwa hal itu
dipengaruji oleh faktor bawaan. Penerapan kecerdasan emosional dapat dilakukan
secara luas dalam berbagai sesi, aktivitasdan bentuk-bentuk spesifik pembelajaran.untuk dapat
mengembangkan kecerdasan emosional perlu diawali dengan pemahaman guru tentang
kecerdasan emosional serta pengetahuan tentang cara penerapannya.
Oleh karena itu
penting bagi guru mengkaji aspek yang berkaitan dengan emosi, bagaimana melatih
dimensi-dimensi emosi melalui proses pembelajaran sehingga diharapkan semuanya dapat tercapai
secara optimal.
3.2. SARAN
Mengingat sangat terbatasnya
kemampuan Penulis dalam menelaah berbagai literature Psikologi Pendidikan,
sehingga muatan dan pembahasan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, penulis sangat mengharapkan kepada pihak pembaca untuk memberikan kritikan, serta masukan kepada
penulis, yang sifatnya membangun demi terciptanya makalah yang lebih baik di
masa mendatang.dan kami ucapkan terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Aunurrahman.2009,Belajar
dan Pembelajaran,Bandung,Alfabeta.
B.Uno,Hamzah,2005,Orientasi
Baru dalam Psikologi Pembelajaran,Jakarta,Bumi Aksara.
Atmaja Prawira,Purwa,2011,Psikologi
Pendidikan dalam Perspektif Baru, Jogjakarta, Ar-Ruzz Media.

No comments:
Post a Comment