PASAR ASEAN
Disusun Guna
Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perekonomian di indonesia
Dosen Pengampu :
HERMANITA M. M
Disusun
oleh:
Febri dian
anggraini : 14118224
KELAS : D
PRODI :
EKONOMI SYARIAH ( ESy )
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) JURAI SIWO METRO
(STAIN) JURAI SIWO METRO
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Permasalahan
Siapkah anda menghadapi persaingan
di tahun 2015? Sudah seharusnya kita bersiap menghadapi ketatnya persaingan di
tahun 2015 mendatang. Indonesia dan ndust-negara di wilayah Asia Tenggara akan
membentuk sebuah kawasan yang terintegrasi yang dikenal sebagai Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA). MEA merupakan bentuk realisasi dari tujuan akhir
ndustry ekonomi di kawasan Asia Tenggara.
Terdapat empat hal yang akan menjadi
ndus MEA pada tahun 2015 yang dapat dijadikan suatu momentum yang baik untuk
Indonesia, yakni:
Pertama, ndust-negara di kawasan
Asia Tenggara ini akan dijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dan basis
produksi. Dengan terciptanya kesatuan pasar dan basis produksi maka akan
membuat arus barang, jasa, investasi, modal dalam jumlah yang besar, dan
skilled labour menjadi tidak ada hambatan dari satu ndust ke ndust lainnya di
kawasan Asia Tenggara.
Kedua, MEA akan dibentuk sebagai
kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi yang tinggi, yang memerlukan suatu
kebijakan yang meliputi competition policy, consumer protection,
Intellectual Property Rights (IPR), taxation, dan E-Commerce.
Dengan demikian, dapat tercipta iklim persaingan yang adil; terdapat
perlindungan berupa ndust jaringan dari agen-agen perlindungan konsumen;
mencegah terjadinya pelanggaran hak cipta; menciptakan jaringan transportasi
yang efisien, aman, dan terintegrasi; menghilangkan ndust Double Taxation,
dan; meningkatkan perdagangan dengan media elektronik berbasis online.
Ketiga, MEA pun akan dijadikan
sebagai kawasan yang memiliki perkembangan ekonomi yang merata, dengan
memprioritaskan pada Usaha Kecil Menengah (UKM). Kemampuan daya saing dan
dinamisme UKM akan ditingkatkan dengan memfasilitasi akses mereka terhadap
informasi terkini, kondisi pasar, pengembangan sumber daya manusia dalam hal
peningkatan kemampuan, keuangan, serta teknologi.
Keempat, MEA akan diintegrasikan
secara penuh terhadap perekonomian global. Dengan dengan membangun sebuah
industri untuk meningkatkan koordinasi terhadap negara anggota. Selain itu,
akan ditingkatkan partisipasi negara di
kawasan Asia Tenggara pada jaringan pasokan global melalui pengembangkan paket
bantuan teknis kepada negara Anggota ASEAN yang kurang berkembang.
BAB II
PEMBAHASAN
A. LANDASAN TEORI
Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan industri dan produktivitas sehingga tidak hanya
terjadi peningkatkan partisipasi mereka pada skala regional namun juga
memunculkan inisiatif untuk terintegrasi secara global.
Dari
latar belakang diatas, maka dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai
“Peluang, tantangan, dan Resiko bagi Indonesia dengan adanya Masyarakat Ekonomi
Asean”.
Masyarakat Ekonomi Asean adalah
integrasi kawasan ASEAN dalam bidang perekonomian. Pembentukan MEA dilandaskan
pada empat pilar. Pertama, menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal dan pusat
produksi. Kedua, menjadi kawasan ekonomi yang kompetitif. Ketiga, menciptakan
pertumbuhan ekonomi yang seimbang, dan pilar terakhir adalah integrasi ke
ekonomi global.
Penyatuan ini ditujukan untuk
meningkatkan daya saing kawasan, mendorong pertumbuhan ekonomi, menekan angka
kemiskinan dan untuk meningkatkan standar hidup masyarakat ASEAN. Integrasi ini
diharapkan akan membangun perekonomian ASEAN serta mengarahkan ASEAN sebagai
tulang punggung perekonomian Asia.
Dengan dimulainya MEA maka setiap
negara anggota ASEAN harus meleburkan batas teritori dalam sebuah pasar bebas.
MEA akan menyatukan pasar setiap negara dalam kawasan menjadi pasar tunggal.
Sebagai pasar tunggal, arus barang dan jasa yang bebas merupakan sebuah
kemestian. Selain itu negara dalam kawasan juga diharuskan membebaskan arus
investasi, modal dan tenaga terampil.
MEA memang sebuah kesepakatan yang
mempunyai tujuan yang luar biasa namun beberapa pihak juga mengkhawatirkan
kesepakatan ini. Arus bebas barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja
tersebut tak pelak menghadirkan kekhawatiran tersendiri bagi beberapa pihak.
Dalam hal ini pasar potensial domestik dan lapangan pekerjaan menjadi taruhan.
Sekedar bahan renungan, indek daya saing global Indonesia tahun 2013-2014
(rangking 38) yang jauh di bawah Singapura (2), Malaysia (24), Brunai
Darussalam (26) dan satu peringkat di bawah Thailand (37). Di sisi lain coba
kita lihat populasi Indonesia yang hampir mencapai 40% populasi ASEAN. Sebuah
pasar yang besar tapi tak didukung daya saing yang maksimal. Jangan sampai
Indonesia mengulang dampak perdagangan bebas ASEAN China. Berharap peningkatan
perekonomian malah kebanjiran produk China.
B. Peluang dan tantangan Indonesia
dalam kegiatan Masyarakat Ekonomi ASEAN
1. Pada Sisi Perdagangan
Menurut Santoso pada tahun 2008 Bagi
Indonesia sendiri, MEA akan menjadi kesempatan yang baik karena hambatan
perdagangan akan cenderung berkurang bahkan menjadi tidak ada. Hal tersebut
akan berdampak pada peningkatan eskpor yang pada akhirnya akan meningkatkan GDP
Indonesia. Di sisi lain, muncul tantangan baru bagi Indonesia berupa
permasalahan homogenitas komoditas yang diperjual-belikan, contohnya untuk
komoditas pertanian, karet, produk kayu, tekstil, dan barang elektronik.
2.
Pada Sisi Investasi
kondisi ini dapat menciptakan iklim
yang mendukung masuknya Foreign Direct Investment (FDI) yang dapat
menstimulus pertumbuhan ekonomi melalui perkembangan teknologi, penciptaan
lapangan kerja, pengembangan sumber daya manusia (human capital) dan
akses yang lebih mudah kepada pasar dunia.
3. Aspek Ketenagakerjaan
Terdapat kesempatan yang sangat
besar bagi para pencari kerja karena dapat banyak tersedia lapangan kerja
dengan berbagai kebutuhan akan keahlian yang beraneka ragam. Selain itu, akses
untuk pergi keluar negeri dalam rangka mencari pekerjaan menjadi lebih
mudah bahkan bisa jadi tanpa ada hambatan tertentu. MEA juga menjadi kesempatan
yang bagus bagi para wirausahawan untuk mencari pekerja terbaik sesuai dengan
kriteria yang diinginkan.
Riset terbaru dari Organisasi
Perburuhan Dunia atau ILO menyebutkan pembukaan pasar tenaga kerja mendatangkan
manfaat yang besar. Selain dapat menciptakan jutaan lapangan kerja baru, skema
ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan 600 juta orang yang hidup di Asia
Tenggara. Pada 2015 mendatang, ILO merinci bahwa permintaan tenaga kerja
profesional akan naik 41% atau sekitar 14 juta. Sementara permintaan akan
tenaga kerja kelas menengah akan naik 22% atau 38 juta, sementara tenaga kerja
level rendah meningkat 24% atau 12 juta.
Namun laporan ini memprediksi bahwa
banyak perusahaan yang akan menemukan pegawainya kurang terampil atau bahkan
salah penempatan kerja karena kurangnya pelatihan dan pendidikan profesi.
Jadi, penulis menyimpulkan bahwa
peluang dan tantangan Indonesia dalam Mayarakat Ekonomi ASEAN sangatlah besar.
Indonesia dapat memperoleh beberapa keuntungan diantaranya meningkatkan
pertumbuhan ekonomi. Namun hal itu juga harus diikuti oleh perbaikan kualitas
sumber daya manusia, dan pemanfaatan sumber daya alam semaksimal mungkin.
C.
Resiko yang dihadapi Indonesia saat
MEA
1. competition risk akan muncul dengan banyaknya barang
impor yang akan mengalir dalam jumlah banyak ke Indonesia yang akan mengancam
industri lokal dalam bersaing dengan produk-produk luar negri yang jauh lebih
berkualitas. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan defisit neraca perdagangan
bagi Negara Indonesia sendiri.
2. exploitation risk dengan skala besar terhadap
ketersediaan sumber daya alam oleh perusahaan asing yang masuk ke Indonesia
sebagai negara yang memiliki jumlah sumber daya alam melimpah dibandingkan negara-negara
lainnya. Tidak tertutup kemungkinan juga eksploitasi yang dilakukan perusahaan
asing dapat merusak ekosistem di Indonesia, sedangkan regulasi investasi yang
ada di Indonesia belum cukup kuat untuk menjaga kondisi alam termasuk
ketersediaan sumber daya alam yang terkandung.
3. risiko ketenagakarejaan dilihat dari sisi pendidikan dan
produktivitas Indonesia masih kalah bersaing dengan tenaga kerja yang berasal
dari Malaysia, Singapura, dan Thailand serta fondasi industri yang bagi
Indonesia sendiri membuat Indonesia berada pada peringkat keempat di ASEAN.
Menurut Media Indonesia, Kamis 27
Maret 2014, dengan adanya pasar barang dan jasa secara bebas tersebut akan
mengakibatkan tenaga kerja asing dengan mudah masuk dan bekerja di Indonesia
sehingga mengakibatkan persaingan tenaga kerja yang semakin ketat di bidang
ketenagakerjaan.
Saat MEA berlaku, di bidang
ketenagakerjaan ada 8 (delapan) profesi yang telah disepakati untuk dibuka,
yaitu insinyur, arsitek, perawat, tenaga survei, tenaga pariwisata, praktisi
medis, dokter gigi, dan akuntan Hal inilah yang akan menjadi ujian baru bagi
masalah dunia ketenagakerjaan di Indonesia karena setiap negara pasti telah
bersiap diri di bidang ketanagakerjaannya dalam menghadapi MEA. Bagaimana
dengan Indonesia? Dalam rangka ketahanan nasional dengan tetap melihat peluang
dan menghadapi tantangan bangsa Indonesia di era MEA nantinya, khususnya
terhadap kesiapan tenaga kerja Indonesia sangat diperlukan langkah-langkah
konkrit agar bisa bersaing menghadapi tenaga kerja asing tersebut.
Namun disisi lain, dengan adanya
MEA, tentu akan memacu pertumbuhan investasi baik dari luar maupun dalam negeri
sehingga akan membuka lapangan pekerjaan baru. Selain itu, penduduk Indonesia akan
dapat mencari pekerjaan di negara ASEAN lainnya dengan aturan yang
relatif akan lebih mudah dengan adanya MEA ini karena dengan
terlambatnya perekonomian nasional saat ini dan didasarkan pada data Badan
Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran per februari 2014 dibandingkan
Februari 2013 hanya berkurang 50.000 orang. Padahal bila melihat jumlah pengguran
tiga tahun terakhir, per Februari 2013 pengangguran berkurang 440.000 orang,
sementara pada Februari 2012 berkurang 510.000 orang, dan per Februari 2011
berkurang sebanyak 410.000 orang (Koran Sindo, Selasa, 6 Mei 2014). Dengan
demikian, hadirnya MEA diharapkan akan mengurangi pengangguran karena akan
membuka lapangan kerja baru dan menyerap angkatan kerja yang ada saat ini untuk
masuk ke dalam pasar kerja.
Untuk itu, penulis menyimpulkan
bahwa resiko yang akan muncul dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah persaingan
industri lokal dengan industri asing, pengeksploitasian sumber daya alam oleh
Negara asing, serta persaingan tenaga kerja lokal dengan tenaga kerja asing
yang lebih berkualitas.
D. Cara menghadapi Masyarakat Ekonomi
ASEAN
Banyak cara sekaligus persiapan
untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015. Hal ini juga
merupakan tantangan karena sejatinya pola pikir dan semangat pemerintah serta
para pelaku ekonomi Indonesia masih seperti biasanya.
1. Menurut ekonom dari Universitas
Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Edy Suandi Hamid, pemerintah dan pelaku
ekonomi harus lebih ofensif menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 dengan
memperluas pasar barang, jasa, modal, investasi, dan pasar tenaga kerja. Adanya
MEA harus dipandang sebagai bertambahnya pasar Indonesia menjadi lebih dari dua
kali lipat, yakni dari 250 juta menjadi 600 juta," katanya. Dengan pola
pikir dan semangat seperti itu, dia berharap Indonesia dapat memetik manfaat
optimal dari MEA. Perekonomian harus didorong lebih cepat tumbuh, ekspansif,
dan berdaya saing, bukan sebaliknya.
2. Menurut diplomat senior Makarin
Wibisono juga mengingatkan bahwa dalam menghadapi MEA 2015, Indonesia perlu
memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan sektor jasa. "Liberalisasi
pasar jasa akan menguntungkan bagi Indonesia dalam dinamika MEA," kata
Makarim dalam seminar Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok di Jakarta,
beberapa waktu lalu. Menurut dia, liberalisasi pasar jasa menguntungkan karena
meningkatkan kualitas serta menentukan biaya kewajaran bagi tenaga kerja
sehingga kemudian meningkatkan daya saing di sektor industri. Pasar jasa yang
efisien, menurut Makarim, akan meningkatkan pilihan konsumen, produktivitas,
kompetisi, dan kesempatan untuk pembangunan sektor jasa baru. "Jika
terjadi inefisiensi, dampak negatifnya pada produktivitas, inovasi, distribusi
teknologi, dan menghalangi tercapainya pertumbuhan optimal," kata Duta
Besar Indonesia untuk PBB (2004--2007) ini.
3. Menurut rektor Universitas Sebelas
Maret (Solo) Ravik Karsidi salah satu persiapan UNS adalah dengan mempersiapkan
sumber daya manusia (SDM) dengan hard skill dan soft skill. Dari
segi hard skill, UNS mempersiapkan kurikulum agar mahasiswanya mampu
bersaing dengan lulusan perguruan tinggi luar negeri. Sementara itu, dari segi soft
skill, UNS membekali mahasiswanya dengan persiapan spiritual dan mental
melalui pelatihan spiritual quotient (SQ). Program ini ditindaklanjuti
dengan pelatihan soft skill di tingkat fakultas. Di antara pelatihan itu
adalah tentang kepemimpinan, komunikasi dan kemampuan bahasa.
Jadi dapat penulis simpulkan, untuk
mengatasi tantangan serta resiko yang mungkin akan muncul dalam Masyarakat
Ekonomi ASEAN dapat dilakukan dengan membekali diri dengan ilmu pengetahuan,
menanamkan rasa cinta terhadap produk dalam negeri, serta mempertajam soft
skill dan hard skill masyarakat.
Dengan hadirnya ajang MEA ini,
Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan keunggulan skala ekonomi dalam
negeri sebagai basis memperoleh keuntungan. Namun demikian, Indonesia masih
memiliki banyak tantangan dan risiko-risiko yang akan muncul bila MEA telah
diimplementasikan. Oleh karena itu, para risk professional diharapkan
dapat lebih peka terhadap fluktuasi yang akan terjadi agar dapat mengantisipasi
risiko-risiko yang muncul dengan tepat. Selain itu, kolaborasi yang tepat
antara otoritas negara dan para pelaku usaha diperlukan, infrastrukur baik
secara fisik dan social (hukum dan kebijakan) perlu dibenahi, serta perlu
adanya peningkatan kemampuan serta daya saing tenaga kerja dan perusahaan di
Indonesia. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi penonton di negara sendiri di
tahun 2015 mendatang.
DAFTAR
PUSTAKA
2. http://ekonomi.kabo.biz/2014/08/masyarakat-ekonomi-asean-mea.html diunduh pada tanggal 14 desember
2014
4. http://news.okezone.com/read/2014/09/26/373/1044892/cara-uns-bersiap-hadapi-mea-2015 diunduh pada tanggal 14 desember
2014
5. Putong, Iskandar. 2003. Pengantar
Ekonomi Mikro dan Makro. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.

No comments:
Post a Comment