KENAIKAN SUKU BUNGA (FED RATE)
Makalah
Ini disusun guna Memenuhi Tugas Mandiri
Mata
Kuliah: Perekonomian Indonesia
Dosen
Pengampu: Hermanita, SE. MM
PROGRAM STUDI
EKONOMI SYARIAH
JURUSAN
SYARIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
NEGERI
(STAIN) JURAI SIWO METRO
2015/2016
(STAIN) JURAI SIWO METRO
2015/2016
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum, wr.wb
Puji syukur atas kehadirat Allah
Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat, inayah, taufik dan hidayahnya
sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun
isinya yang sangat sederhana.
Tidak lupa teman-teman yang telah
membantu baik pikiran maupun materi, saya berharap makalah ini dapat berguna
bagi saya sendiri maupun teman-teman yang membaca.
Makalah ini saya akui masih banyak
kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh karena itu
saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Wassalamu’alaikum wr.wb
Metro, 22 Desember 2015
Penulis
PEMBAHASAN
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI)
Ronald Waas menyatakan, kenaikan Fed Fund Rate menjadi 0,25% - 0,5%
memiliki reaksi pasar yang berbeda-beda atau mixed (variatif), karena ada yang
positif dan ada pula yang tertekan.
"Ada analis yang bilang positif
(pasar Indonesia). Jadi mix ya reaksi pasarnya. Ada negara-negara yang
memandang positif terhadap perekonomian mereka, tapi ada yang mengalami
tekanan. Tapi ini baru beberapa jam ya," kata Ronald di Jakarta, Kamis
(17/12/2015).
Dia mengatakan, efek dari kenaikan
ini tidak semenakutkan yang diperkirakan sebelumnya, lantaran pelaku pasar
sudah mempersiapkan, otoritas juga sudah menyiapkan segala kemungkinan yang
terjadi. Sehingga tidak terlalu kaget.
"Seperti yang saya sampaikan,
semuanya sudah dipersiapkan, sehingga reaksinya tidak seburuk kalau terjadi
tiba-tiba. Dunia seolah sudah menyiapkan segala kemungkinan, jadi ya seolah
tidak terjadi apa-apa," ujarnya.
Ronald mengatakan, setidaknya
kecemasan dan kekhawatiran pasar terhadap Fed Rate sudah reda dengan adanya
keputusan tersebut lantaran mereka telah digantung selama dua tahun lamanya.
"Saya rasa ya, setidaknya kalau ada keputusan kan mengurangi
ketidakpastian ya," pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya,
dilansir dari Reuters, Komite Pengatur Kebijakan The Fed menaikkan suku bunga acuannya
sebesar seperempat poin menjadi 0,25% - 0,5%.
"Saya merasa yakin dengan hal
yang mendasari. Kami khawatir dengan risiko dari ekonomi global. Risiko
tersebut bertahan, tetapi ekonomi AS telah menunjukkan kekuatan besar,"
ujar Yellen seperti dikutip dari Washington Post, Kamis (17/12/2015).
Namun, langkah itu akan mendorong
ledakan refinancing dan mendorong harga rumah lebih tinggi. Biaya kredit mobil
juga diperkirakan akan meningkat, peredupan salah satu tempat paling terang
dalam perekonomian. Salah satu analisis baru-baru ini memperkirakan kenaikan 1%
suku bunga bisa memperlambat penjualan mobil sekitar 3%.
Fed mencatat ada peningkatan cukup
di pasar tenaga kerja AS, di mana tingkat pengangguran jatuh ke level 5% dan
cukup yakin inflasi akan meningkat dalam jangka menengah ke arah 2%.
Bank sentral menjelaskan kenaikan
suku bunga adalah awal dari siklus pengetatan likuiditas dan dalam memutuskan
langkah berikutnya yang menempatkan pada pemantauan inflasi, yang masih
terperosok di bawah target. "Proses ini akan berlanjut secara
bertahap," ucap Yellen.[1]
Bank Sentral Amerika Serikat atau
Federal Reserve (The Fed) akhirnya menaikkan suku
bunga acuan (Fed rate) untuk pertama kalinya dalam hampir satu
dekade. Hal ini disampaikan Ketua The Fed Janet Yellen setelah ekonomi AS
tumbuh pada kecepatan yang moderat.
Dilansir dari Reuters,
Komite Pengatur Kebijakan The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar
seperempat persentase poin menjadi 0,25 - 0,5%.
"Saya merasa yakin dengan hal
yang mendasari. Kami telah khawatir dengan risiko dari ekonomi global. Risiko
tersebut bertahan, tetapi ekonomi AS telah menunjukkan kekuatan besar,"
ujar Janet Yellen, seperti dikutip dari Washington Post, Kamis
(17/12/2015).
Namun, langkah itu akan mendorong
ledakan refinancing dan mendorong harga rumah lebih tinggi. Biaya kredit mobil
juga diperkirakan akan meningkat, peredupan salah satu tempat paling terang
dalam perekonomian.
Salah satu analisis baru-baru ini
memperkirakan kenaikan 1% suku bunga bisa memperlambat penjualan mobil sekitar
3%. Fed mencatat ada peningkatan yang cukup di pasar tenaga kerja AS, di mana
tingkat pengangguran telah jatuh ke level 5% dan cukup yakin inflasi akan
meningkat dalam jangka menengah ke arah 2%.
Bank sentral menjelaskan kenaikan
suku bunga adalah awal dari siklus pengetatan likuiditas dan dalam memutuskan
langkah berikutnya yang menempatkan pada pemantauan inflasi, yang masih
terperosok di bawah target. "Proses ini akan berlanjut secara
bertahap," ucap Yellen.
Adapun proyeksi ekonomi baru dari
pembuat kebijakan Fed yang sebagian besar tidak berubah dari bulan September,
dengan pengangguran diperkirakan jatuh ke 4,7% tahun depan dan pertumbuhan
ekonomi 2,4%.
Di sisi lain, pasar naik setelah
pengumuman kenaikan suku bunga. Dow Jones Industrial Average dan indeks
Standard & Poor 500 naik sekitar 1,5% pada akhir konferensi pers Yellen.
Hasil pada 10-tahun catatan Treasury naik empat basis poin menjadi 2,30%.
Seperti diketahui, The Fed memangkas
suku bunga acuan sampai ke nol pada akhir 2008, sebuah langkah bersejarah yang
bertujuan menangkap kemerosotan ekonomi setelah ledakan pasar subprime
perumahan yang menggulingkan raksasa Wall Street dan mengguncang sistem
keuangan Amerika.
Tingkat pengangguran naik hingga 10%
karena ratusan ribu pekerja kehilangan pekerjaan setiap bulan.
Sekarang, tingkat pengangguran telah
menurun setengah, dan perkiraan resmi Fed yang dirilis Rabu waktu setempat,
menunjukkan pengangguraan di angka 4,7% dekat dengan tahun sebelumnya.
"Tindakan ini menandai akhir dari
periode tujuh tahun yang luar biasa. Pemulihan ekonomi jelas telah jauh datang,
meskipun belum lengkap," jelas Yellen.
Diproyeksikan suku bunga acuan Fed
akan naik ke median 1,4% pada akhir 2016, menunjukkan kenaikan di setiap
pertemuan lainnya tahun depan. Perkiraan tingkat target turun 2,6-2,4% pada
tahun 2017 dan 3,4-3,3% pada 2018.
Ekonom, termasuk di dalam bank
sentral, berdebat apakah suku bunga akan kembali ke tingkat pra-krisis.
Perkiraan Fed menunjukkan pejabat percaya suku bunga akan naik menjadi 3,5%, di
bawah 4%.
"Ini benar-benar belum
berakhir. Ini adalah awal. Kami masuk ke sini. Sekarang bagaimana kita akan
keluar?" tandas Tim Duy, mantan pejabat Treasury dan profesor ekonomi dari
Universitas Oregon.[2]
Presiden Joko Widodo (Jokowi)
merespons positif atas kenaikan tingkat suku bunga acuan Paman Sam tersebut.
Dengan kenaikan itu, berarti telah ada kepastian bagi perekonomian dunia
khususnya untuk perekonomian di Tanah Air.
"Bagus (The Fed putuskan
kenaikan Fed Rate). Sekarang sudah ada kepastian," katanya di Hotel
Pullman, Jakarta, Kamis (17/12/2015).
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini
mengklaim, kenaikan Fed Rate ini juga akan berefek positif bagi perekonomian
Indonesia. Hal ini dicermatinya dari menghijaunya Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) serta menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat
(USD).
"Ini efek positif buat kita.
Saya ikuti, Indeks Harga Saham naik, rupiah menguat. Artinya ditanggapi pelaku
keuangan ekonomi baik. Sudah pasti ada kepastian," tandasnya.[3]
KESIMPULAN
Kenaikan
suku bunga “fed rate” memiliki
reaksi pasar yang berbeda-beda atau mixed (variatif). Efek dari
kenaikan ini tidak semenakutkan yang diperkirakan sebelumnya, lantaran pelaku
pasar sudah mempersiapkan, otoritas juga sudah menyiapkan segala kemungkinan
yang terjadi.
Menaikkan suku bunga acuannya
sebesar seperempat persentase poin menjadi 0,25-0,5%. Sebagai langkah yang akan
mendorong ledakan refinancing dan mendorong harga rumah lebih tinggi. Biaya
kredit mobil juga diperkirakan akan meningkat, peredupan salah satu tempat
paling terang dalam perekonomian.
Kenaikan Fed Rate ini juga akan
berefek positif bagi perekonomian Indonesia. Hal ini dicermatinya dari
menghijaunya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta menguatnya nilai tukar
rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). "Ini efek positif buat kita.
Saya ikuti, Indeks Harga Saham naik, rupiah menguat. Artinya ditanggapi pelaku
keuangan ekonomi baik. Sudah pasti ada kepastian,"
DAFTAR PUSTAKA
http://ekbis.sindonews.com/read/1070102/33/ini-tanggapan-jokowi-atas-kenaikan-fed-rate-1450331835
[1] http://ekbis.sindonews.com/read/1070104/33/bi-kenaikan-fed-rate-beri-efek-mixed-di-pasar-1450332781
[3] http://ekbis.sindonews.com/read/1070102/33/ini-tanggapan-jokowi-atas-kenaikan-fed-rate-1450331835

No comments:
Post a Comment