Breaking News

Monday, 11 January 2016

MAKALAH KENAIKAN SUKU BUNGA (FED RATE)

KENAIKAN SUKU BUNGA (FED RATE)
Makalah Ini disusun guna Memenuhi Tugas Mandiri
Mata Kuliah: Perekonomian Indonesia
Dosen Pengampu: Hermanita, SE. MM



                         PROGRAM STUDI  EKONOMI SYARIAH
      JURUSAN SYARIAH
                    SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
                                   (STAIN) JURAI SIWO METRO
                                                      2015/2016

KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum, wr.wb                                  
Puji syukur atas kehadirat Allah Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat, inayah, taufik dan hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Tidak lupa teman-teman yang telah membantu baik pikiran maupun materi, saya berharap makalah ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun teman-teman yang membaca.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh karena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Wassalamu’alaikum wr.wb


Metro, 22 Desember 2015

Penulis


PEMBAHASAN

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Ronald Waas menyatakan, kenaikan Fed Fund Rate menjadi 0,25% - 0,5% memiliki reaksi pasar yang berbeda-beda atau mixed (variatif), karena ada yang positif dan ada pula yang tertekan.
"Ada analis yang bilang positif (pasar Indonesia). Jadi mix ya reaksi pasarnya. Ada negara-negara yang memandang positif terhadap perekonomian mereka, tapi ada yang mengalami tekanan. Tapi ini baru beberapa jam ya," kata Ronald di Jakarta, Kamis (17/12/2015).
Dia mengatakan, efek dari kenaikan ini tidak semenakutkan yang diperkirakan sebelumnya, lantaran pelaku pasar sudah mempersiapkan, otoritas juga sudah menyiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Sehingga tidak terlalu kaget.
"Seperti yang saya sampaikan, semuanya sudah dipersiapkan, sehingga reaksinya tidak seburuk kalau terjadi tiba-tiba. Dunia seolah sudah menyiapkan segala kemungkinan, jadi ya seolah tidak terjadi apa-apa," ujarnya.
Ronald mengatakan, setidaknya kecemasan dan kekhawatiran pasar terhadap Fed Rate sudah reda dengan adanya keputusan tersebut lantaran mereka telah digantung selama dua tahun lamanya. "Saya rasa ya, setidaknya kalau ada keputusan kan mengurangi ketidakpastian ya," pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, dilansir dari Reuters, Komite Pengatur Kebijakan The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar seperempat poin menjadi 0,25% - 0,5%.



"Saya merasa yakin dengan hal yang mendasari. Kami khawatir dengan risiko dari ekonomi global. Risiko tersebut bertahan, tetapi ekonomi AS telah menunjukkan kekuatan besar," ujar Yellen seperti dikutip dari Washington Post, Kamis (17/12/2015).
Namun, langkah itu akan mendorong ledakan refinancing dan mendorong harga rumah lebih tinggi. Biaya kredit mobil juga diperkirakan akan meningkat, peredupan salah satu tempat paling terang dalam perekonomian. Salah satu analisis baru-baru ini memperkirakan kenaikan 1% suku bunga bisa memperlambat penjualan mobil sekitar 3%.
Fed mencatat ada peningkatan cukup di pasar tenaga kerja AS, di mana tingkat pengangguran jatuh ke level 5% dan cukup yakin inflasi akan meningkat dalam jangka menengah ke arah 2%.
Bank sentral menjelaskan kenaikan suku bunga adalah awal dari siklus pengetatan likuiditas dan dalam memutuskan langkah berikutnya yang menempatkan pada pemantauan inflasi, yang masih terperosok di bawah target. "Proses ini akan berlanjut secara bertahap," ucap Yellen.[1]
Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) akhirnya menaikkan suku bunga acuan (Fed rate) untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade. Hal ini disampaikan Ketua The Fed Janet Yellen setelah ekonomi AS tumbuh pada kecepatan yang moderat.


Dilansir dari Reuters, Komite Pengatur Kebijakan The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar seperempat persentase poin menjadi 0,25 - 0,5%.
"Saya merasa yakin dengan hal yang mendasari. Kami telah khawatir dengan risiko dari ekonomi global. Risiko tersebut bertahan, tetapi ekonomi AS telah menunjukkan kekuatan besar," ujar Janet Yellen, seperti dikutip dari Washington Post, Kamis (17/12/2015).
Namun, langkah itu akan mendorong ledakan refinancing dan mendorong harga rumah lebih tinggi. Biaya kredit mobil juga diperkirakan akan meningkat, peredupan salah satu tempat paling terang dalam perekonomian.
Salah satu analisis baru-baru ini memperkirakan kenaikan 1% suku bunga bisa memperlambat penjualan mobil sekitar 3%. Fed mencatat ada peningkatan yang cukup di pasar tenaga kerja AS, di mana tingkat pengangguran telah jatuh ke level 5% dan cukup yakin inflasi akan meningkat dalam jangka menengah ke arah 2%.
Bank sentral menjelaskan kenaikan suku bunga adalah awal dari siklus pengetatan likuiditas dan dalam memutuskan langkah berikutnya yang menempatkan pada pemantauan inflasi, yang masih terperosok di bawah target. "Proses ini akan berlanjut secara bertahap," ucap Yellen.
Adapun proyeksi ekonomi baru dari pembuat kebijakan Fed yang sebagian besar tidak berubah dari bulan September, dengan pengangguran diperkirakan jatuh ke 4,7% tahun depan dan pertumbuhan ekonomi 2,4%.




Di sisi lain, pasar naik setelah pengumuman kenaikan suku bunga. Dow Jones Industrial Average dan indeks Standard & Poor 500 naik sekitar 1,5% pada akhir konferensi pers Yellen. Hasil pada 10-tahun catatan Treasury naik empat basis poin menjadi 2,30%.
Seperti diketahui, The Fed memangkas suku bunga acuan sampai ke nol pada akhir 2008, sebuah langkah bersejarah yang bertujuan menangkap kemerosotan ekonomi setelah ledakan pasar subprime perumahan yang menggulingkan raksasa Wall Street dan mengguncang sistem keuangan Amerika.
Tingkat pengangguran naik hingga 10% karena ratusan ribu pekerja kehilangan pekerjaan setiap bulan.
Sekarang, tingkat pengangguran telah menurun setengah, dan perkiraan resmi Fed yang dirilis Rabu waktu setempat, menunjukkan pengangguraan di angka 4,7% dekat dengan tahun sebelumnya.
"Tindakan ini menandai akhir dari periode tujuh tahun yang luar biasa. Pemulihan ekonomi jelas telah jauh datang, meskipun belum lengkap," jelas Yellen.
Diproyeksikan suku bunga acuan Fed akan naik ke median 1,4% pada akhir 2016, menunjukkan kenaikan di setiap pertemuan lainnya tahun depan. Perkiraan tingkat target turun 2,6-2,4% pada tahun 2017 dan 3,4-3,3% pada 2018.
Ekonom, termasuk di dalam bank sentral, berdebat apakah suku bunga akan kembali ke tingkat pra-krisis. Perkiraan Fed menunjukkan pejabat percaya suku bunga akan naik menjadi 3,5%, di bawah 4%.



"Ini benar-benar belum berakhir. Ini adalah awal. Kami masuk ke sini. Sekarang bagaimana kita akan keluar?" tandas Tim Duy, mantan pejabat Treasury dan profesor ekonomi dari Universitas Oregon.[2]
Presiden Joko Widodo (Jokowi) merespons positif atas kenaikan tingkat suku bunga acuan Paman Sam tersebut. Dengan kenaikan itu, berarti telah ada kepastian bagi perekonomian dunia khususnya untuk perekonomian di Tanah Air.
"Bagus (The Fed putuskan kenaikan Fed Rate). Sekarang sudah ada kepastian," katanya di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (17/12/2015).
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengklaim, kenaikan Fed Rate ini juga akan berefek positif bagi perekonomian Indonesia. Hal ini dicermatinya dari menghijaunya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
"Ini efek positif buat kita. Saya ikuti, Indeks Harga Saham naik, rupiah menguat. Artinya ditanggapi pelaku keuangan ekonomi baik. Sudah pasti ada kepastian," tandasnya.[3]



KESIMPULAN

Kenaikan suku bunga “fed rate” memiliki reaksi pasar yang berbeda-beda atau mixed (variatif). Efek dari kenaikan ini tidak semenakutkan yang diperkirakan sebelumnya, lantaran pelaku pasar sudah mempersiapkan, otoritas juga sudah menyiapkan segala kemungkinan yang terjadi.
Menaikkan suku bunga acuannya sebesar seperempat persentase poin menjadi 0,25-0,5%. Sebagai langkah yang akan mendorong ledakan refinancing dan mendorong harga rumah lebih tinggi. Biaya kredit mobil juga diperkirakan akan meningkat, peredupan salah satu tempat paling terang dalam perekonomian.
Kenaikan Fed Rate ini juga akan berefek positif bagi perekonomian Indonesia. Hal ini dicermatinya dari menghijaunya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). "Ini efek positif buat kita. Saya ikuti, Indeks Harga Saham naik, rupiah menguat. Artinya ditanggapi pelaku keuangan ekonomi baik. Sudah pasti ada kepastian,"








DAFTAR PUSTAKA

http://ekbis.sindonews.com/read/1070102/33/ini-tanggapan-jokowi-atas-kenaikan-fed-rate-1450331835



No comments:

Post a Comment

Designed By VungTauZ.Com