ANALISIS KENAIKAN HARGA BBM DAN PENGARUHNYA TERHADAP
PERKONOMIAN DI INDONESIA
Disusun
Guna Memenuhi Tugas Mandiri Mata Kuliah Perekonomian di Indonesia
Dosen Pengampu : Hermanita, MM.
Dosen Pengampu : Hermanita, MM.
PRODI EKONOMI ISLAM
JURUSAN SYA’RIAH dan EKONOMI ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN JURAI SIWO METRO)
2014/2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejak awal pemerintahan orde baru hingga di era
reformasi sekarang ini, perkembangan perekonomian Indonesia tampaknya selalu
dipengaruhi oleh gejolak harga bahan bakar minyak dunia. Selama periode pertama
fluktuasi harga minyak dunia berpengaruh terhadap perkembangan perekonomian.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah dicapai
selama dua puluh lima tahun pembangunan Indonesia sejak tahun 1969,
antara lain telah dipacu oleh melimpahnya penerimaan devisa dari ekspor minyak
bumi akibat naiknya harga ekspor minyak dunia. Hal itu dimungkinkan karena
pangsa ekspor minya bumi saat itu merupakan sebagian besar dari total ekspor
Indonesia. Pada tahun 1970 pangsa ekspor minyak bumi masih 40,3%, terus
meningkat mencapai tertinggi pada tahun 1982, sebesar 82,4 %. Menjelang
reformasi, tahun 1997, pangsa ekspor minyak bumi tinggal sekitar 22% dari total
ekspor Indonesia. (Dumairy, 1997, hal. 183)
Penurunan harga minyak mentah dunia saat ini
seharusnya memberikan kesempatan untuk pertumbuhan perekoinomian Indonesia yang
lebih baik dibandingkan ketika harga minyak dunia yang tinggi. Akan tetapi
kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia justru menaikkan harga
BBM. Hal ini pasti menimbulkan dampak yang sangat signifikan bagi rakyat
Indonesia. Seperti yang kita kethaui semua harga barang-barang kebutuhan di
pengaruhi oleh harga minyak. Apabila dinaikkan maka rakyat kecil yang akan
menderita. Ini merupakan suatu polemic dan juga tantangan bagi pemerintahan
presiden Jokowi dan JK untuk mengatsi segala dampak yang timbul akaibat
kenaikan BBM di saat harga minyak mentah dunia turun.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Penetapan Harga
Minyak
Menurut mazhab ekonomi
klasik, mekanisme pasar akan membentuk suatu keseimbangan (ekuilibrium). Harga
terbentuk atas dasar permintaan konsumen dan penawaran penjual. Permintaan dan
penawaran tersebut akan bertemu pada suatu titik keseimbangan pada suatu
tingkat harga tertentu. Menurut OPEC, harga minyak mentah bereaksi terhadap
permintaan dan penawaran untuk jangka pendek dan tingkat investasi untuk jangka
yang lebih panjang.
Permintaan akan minyak, sama
seperti permintaan akan energi pada umumnya, berhubungan erat dengan tingkat
pertumbuhan ekonomi. Pada saat ekonomi tumbuh, maka lebih banyak energi yang
dikonsumsi, baik untuk proses produksi dan distribusi hasil produksi kepada
konsumen, maupun meningkatnya konsumsi oleh sektor rumah tangga seiring dengan
meningkatnya jumlah kepemilikan kendaraan bermotor. Meningkatnya permintaan
akan mengakibatkan naiknya harga minyak. Sebaliknya, saat ekonomi mengalami
kontraksi permintaan akan minyak dan energi lainnya cenderung menurun, sehingga
harga minyak pun ikut turun.
Ada beberapa hal
yang dapat mempengaruhi penawaran akan minyak:
·
Kebijakan kuota
produksi OPEC yang ditetapkan untuk anggotanya.
·
Strategi negara-negara
non-OPEC mengurangi produksi untuk menaikkan harga minyak.
·
Keadaan politis yang
tidak stabil pada negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah seperti Irak
dan Iran yang menghambat produksi minyak.
Terkait dengan investasi,
jika investasi tidak dilakukan jauh sebelumnya, persediaan minyak menjadi
terbatas untuk jangka waktu yang lebih panjang, sehingga akan menaikkan harga.
Sentimen juga merupakan faktor penting: jika para pelaku pasar minyak percaya
bahwa akan ada penurunan penawaran minyak maka mereka akan menaikkan harga
bahkan sebelum hal tersebut benar-benar terjadi.
Faktor lainnya yang
mempengaruhi harga minyak menurut OPEC adalah kecelakaan, cuaca yang buruk,
menaiknya permintaan, transportasi minyak yang diragukan dari produsen,
pemogokan karyawan, serta gangguan terhadap produksi lainnya, termasuk perang
dan bencana alam.
Ada beberapa elemen yang
terkandung dalam harga suatu komoditas. Elemen-elemen yang terkandung dalam
harga minyak menurut US Department of Energy’s Energy Information
Administration (EIA) antara lain:
·
Harga minyak mentah
·
Pajak
·
Penyulingan
·
Distribusi
2. Subsidi Bahan Bakar
Minyak
Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) menunjukkan
tingkat harga produk BBM dari perusahaan dalam negeri masih di bawah
tingkat harga di pasar dunia. Selain itu, subsidi silang juga sering diterapkan
melalui pemindahan beban dari suatu produk BBM seperti minyak tanah ke produk
BBM lainnya. Pemberian subsidi BBM dimaksudkan untuk menjaga kestabilan harga
BBM di dalam negeri dari fluktuasi harga minyak di pasar dunia.
Formula perhitungan subsidi BBM sesuai dengan
Peraturan Presiden No. 71 tahun 2005 tentang Penyediaan dan Pendistribusian
Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu adalah:
Subsidi BBM = Q BBM
x (Harga Patokan BBM – Harga Jual BBM Setelah Pajak)
Harga patokan menurut Perpres No. 71 tahun 2005
adalah harga yang dihitung setiap bulan berdasarkan MOPS rata-rata pada periode
1 bulan sebelumnya ditambah biaya distribusi dan margin.
Subsidi diberikan kepada jenis BBM tertentu, yaitu
premium (P), kerosene (K), dan solar (S), serta golongan konsumen tertentu,
yaitu rumah tangga, usaha kecil, usaha perikanan, transportasi, dan pelayanan
umum.
Beberapa variabel yang
mempengaruhi perhitungan subsidi BBM antara lain:
·
Harga minyak mentah
Subsidi BBM dipengaruhi
fluktuasi harga minyak mentah Indonesia, mengingat sebagian besar biaya
produksi BBM dari operator subsidi BBM merupakan biaya untuk pengadaan minyak
mentah, yang harganya mengikuti tingkat harga di pasar internasional. Dengan
demikian, apabila harga BBM bersubsidi tidak disesuaikan dengan perkembangan
harga pasar, maka dengan penerapan pola public service obligation (PSO), dimana
subsidi BBM merupakan selisih antara harga patokan (harga MOPS + alpha),
sebagai harga jual operator BBM (PT Pertamina), dengan harga jual BBM
bersubsidi yang telah ditetapkan pemerintah, setiap terjadi perubahan ICP akan
menyebabkan beban subsidi BBM berubah dengan arah yang sama dengan perubahan
selisih harga tersebut.
·
Nilai tukar rupiah
terhadap dolar AS
Dewasa ini Indonesia termasuk
net importir minyak, sehingga makin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap
dolar AS, maka akan semakin memperbesar harga beli minyak yang pada akhirnya
akan mempengaruhi besaran subsidi BBM yang akan membebani APBN.
·
Konsumsi BBM di dalam
negeri
Subsidi BBM akan meningkat
apabila terjadi kenaikan ICP melalui kenaikan konsumsi BBM bersubsidi. Kenaikan
harga minyak dunia akan meningkatkan disparitas harga domestik dengan harga
internasional. Disparitas harga BBM yang terlalu besar dapat memicu kenaikan
konsumsi BBM bersubsidi melalui, potensi penyelundupan BBM, pencampuran BBM
bersubsidi dengan non subsidi dan beralihnya masyarakat pengguna BBM non
subsidi ke BBM bersubsidi.
·
Harga BBM di dalam
negeri
Penentuan harga jual BBM bersubsidi dipatok
pada suatu tingkat harga tertentu. Dengan kondisi demikian maka akan
menimbulkan konsekuensi jika harga minyak mentah dunia naik, maka beban subsidi
BBM juga akan semakin meningkat.
Beban subsidi BBM yang
terus meningkat akan menganggu keberkelanjutan (sustainability) anggaran
pemerintah, yang pada gilirannya dapat mengancam stabilitas perekonomian dan
mengurangi kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia. Erosi kepercayaan berisiko
mendorong arus modal keluar, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan
melemahnya nilai tukar rupiah. Jika nilai tukar rupiah melemah, harga-harga
domestik akan ikut melonjak karena imported inflation. Jika harga-harga naik,
maka beban perekonomian rakyat akan semakin berat. Situasi tersebut akan
mengakibatkan pertumbuhan ekonomi melemah, pengangguran meningkat dan
kemiskinan semakin tinggi. Selain itu, peningkatan beban subsidi BBM dan
listrik akan membawa akibat kepada pengurangan anggaran pemerintah untuk berbagai
program penting untuk kesejahteraan rakyat, seperti alokasi untuk kemiskinan
dan infrastruktur.
3. Alasan Bahan Bakar
Minyak Harus Naik
Presiden Joko Widodo akhirnya
mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada Senin malam,
17 November 2014. Dalam pengumuman tersebut, harga BBM bersubsidi jenis solar dan premium naik
masing-masing Rp 2.000 per liter.
Jika dirunut, ada beberapa
alasan yang memancing Jokowi menaikkan harga BBM pada pertengahan November.
Salah satu yang mengemuka adalah rekomendasi Faisal Basri, Ketua Tim Reformasi
Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi. Faisal menganjurkan pemerintah menaikkan harga
BBM pada November, saat harga barang-barang konsumsi menurun. "Dampak
inflasinya tidak akan terlalu besar," kata Faisal
Hal serupa diutarakan Badan
Pusat Statistik (BPS). BPS menyarankan agar harga BBM bersubsidi naik pada
November karena secara historis nilai inflasinya rendah. BPS menyatakan,
inflasi Januari-Oktober 2014 mencapai 4,19 persen. Jika harga BBM naik Rp 3.000
per liter, ada tambahan inflasi 1,7 persen pada November 2014. Masih memenuhi
asumsi Anggaran pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2014.
Menurut perhitungan Danamon, penurunan harga
minyak dunia dan kenaikan harga BBM sebesar Rp 2.000 bisa menghemat anggaran
pemerintah sekitar RP 14,3 triliun dahun ini (dampak hanya bisa dirasakan dua
bulan terakhir yaitu November dan Desember). Namun untuk tahun depan, APBN 2015
yang masih bisa direvisi, bisa menghasilkan penghematan sebesar Rp 92 triliun
yang dapat dialihkan untuk pos yang lain. Dengan kenaikan Rp 2.000, inflasi
diperkirakan mencapai 7-7,5 persen akhir tahun.
Faktor eksternal yang
memperkuat alasan kenaikan harga BBM di bulan November adalah turunnya harga
minyak mentah dunia, sehingga harga minyak Indonesia (ICP) ikut turun. Pada
Oktober, ICP hanya US$ 83,72 per barel, jauh di bawah ICP Juli yang sebesar US$
104,3 per barel. Begitu pula Mean of Platts Singapore (MOPS), turun ke bawah
US$ 100 per barel. Dengan demikian, subsidi yang dihemat pemerintah bisa jauh
lebh besar ketimbang saat ICP tinggi.
4. Pengaruh Kenaikan
Harga BBM Terhadap Perekonomian Indonesia
Perkembangan harga minyak yang terus melonjak akhir-akhir ini akan membawa
pengaruh terhadap kehidupan iklim berinvestasi.Yang paling utama apakah
pemerintah akan turut menyesuaikan harga minyak/BBM di dalam negeri atau tidak.
Jika ya ,tentu saja tentu saja kondisi perekonomian bisa sangat berbeda.
Biasanya kenaikan BBM, akan mengakibatkan naiknya biaya produksi,naiknya biaya
distribusi dan menaikan juga inflasi.
Harga barang-barang menjadi lebih mahal, daya beli merosot,kerena
penghasilan tetap. Ujungnya perekonomian akan stagnan dan tingkat
kesejahteraan terganggu. Di sisi lain, kredit macet semakin kembali meningkat,
yang paling parah adalah semakin sempitnya lapangan kerja karena dunia usaha
menyesuaikan produksinya sesuai dengan kenaikan harga serta penurunan
permintaan barang.
Hal-hal di atas terjadi jika harga BBM dinaikkan, Bagaimana jika tidak?
Subsidi pemerintah terhadap BBM akan semakin meningkat juga,mengapa? Meskipun
negara kita merupakan penghasil minyak, dalam kenyataannya untuk memproduksi
BBM kita masih membutuhkan impor bahan baku minyak juga.
Dengan tidak adanya kenaikan BBM, subsidi yang harus disediakan pemerintah
juga semakin besar. Dari mana menutupi sumber subsidi tersebut? Salah
satunya adalah kenaikan pendapatan ekspor. Mengapa dapat seperti itu?Karena
kenaikan harga minyak dunia juga mendorong naiknya harga ekspor komoditas
tertentu, seperti kelapa sawit karena minyak sawit mentah (CPO) merupakan
subsidi minyak bumi. Income dari naiknya harga CPO tidak akan sebanding dengan
besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk subsidi minyak.
Jika harga BBM dinaikkan, citra pemerintah secara politik akan terganggu,
rakyat tentu tidak setuju jika harga-harga menjadi mahal, jika pemerintah
terganggu dampaknya menjadi sangat luas,jadi, jika mengacu pada hal tersebut
kemungkinan harga BBM tidak akan dinaikkan.
Tetapi masalah belum selesai sampai di sini, walaupun harga BBM tidak
dinaikkan, tetap saja dampak kenaikan harga minyak dunia berpengaruh terhadap
ekonomi Indonesia termasuk didalamnya iklim investasi.
Kenaikan harga minyak dunia membuat biaya produksi meningkat. Itu berarti
harga jual barang-barang impor impor juga akan mahal yang akan berdampak pada
inflasi karena kenaikan harga impor barang.
Dampak dari hal ini pertama,tingkat bunga dana dan kredit belum akan turun
dalam waktu dekat, kedua tingkat bunga yang bertendensi meningkat atau minimal
tetap akan berbanding terbalik terbalik dengan harga obligasi. Artinya jika
tingkat bunga meningkat, harga obligasi berkemungkinan akan turun. Ketiga,t
ingkat bunga yang tidak berubah juga memberikan perbedaan tingkat bunga di
dalam negeri dengan luar negeri yang relatif tetap atau ikut mengalami
perubahan.
Baik langsung maupun tidak langsung kenaikan harga Bahan Bakar Minyak
bersubsidi akan berdampak pada angka inflasi sehingga dapat mengoreksi
pertumbuhan ekonomi yang nantinya juga akan berpengaruh pada kinerja
perekonomian secara agreagat. Menaikan harga BBM adalah sesuatu yang kebijakan
yang dilematis, namun hal ini menjadi pil pahit bagi pemerintah untuk
menyehatkan anggaran negara.
Selama ini kita dapat menikmati harga BBM dengan murah karena adanya
subsidi BBM oleh Pemerintah. Namun dengan menaikknya harga minyak dunia,
pemerintah tidak bisa menjual BBM dengan harga yang sama dengan harga minyak
dunia. Oleh karena itu pengeluaran APBN untuk subsidi semakin tinggi.
Namun resiko yang mau tidak mau dialami oleh bangsa Indoensia yaitu dengan
kenaikan harga BBM ini akan berpengaruh pada berbagai sektor baik rumah tangga
sampai sektor industri. Semua sektor yang kena dampak kenaikkan harga BBM
tersebut karena mempunyai ketergantuangan pada konsumsi BBM. Misalnya ongkos
angkutan umum, barang-barang kebutuhan pokok, harga bahan-bahan bangunan dan
masih banyak lagi. Hampir semua sektor akan terkoreksi dengan kenaikan harga
BBM ini.
Banyak kalangan termasuk para ahli eknomi menilai jika subsidi BBM
merupakan sesuatu yang memberatkan anggaran negara. Untuk itu kenaikan BBM
dipandang sebagai sesuatu hal untuk menyehatkan kembali anggaran negara.
Memang hal ini menjadi dilema bagi pemerintah, karena disisi lain, kenaikan
yang mencapai Rp. 2.000 bisa berdampak pada berbagai sektor, termasuk inflasi
harga maupun pada bidang sosial. Oleh karena itu pemerintah selalu tak mau
buru-buru untuk mengambil kebijakan yang dilematis ini.
Untuk mengendalikan laju inflasi sebagai dampak kenaikan BBM sudah
seyogyanya pemerintah harus bisa memastikan kecukupan stok pangan, serta
program sosial yang bisa mempertahankan daya beli masyarakat. Tanpa itu daya
beli masyarakat akan semakin menurun dan dipastikan pertumbuhan ekonomi akan
semakin melemah. Tanpa kenaikan BBM pun saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia
hanya 5,1 % jauh dari target 5,5 %
Beberapa ekonom sependapat dengan kebijakan pemerintah ini, meskipun awalnya
pahit namun dampak positif kedepan akan bisa dirasakan. Diantaranya anggaran
lebih hemat, sehingga bisa dialokasikan untuk pembangunan dibidang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Faisal Basri Harga Minyak Mentah Turun, Kenaikan
BBM Maksimal Rp 2.500 Katadata News.htm
Risiko Makro Kenaikan_Penurunan Harga Minyak
Mentah _ Just Ordinary.htm
laporan_Penelitian__BBM.pdf

No comments:
Post a Comment