Breaking News

Thursday, 7 January 2016

Makalah Analisis Kenaikan Harga BBM dan Pengaruh Terhadap Perekonomian di Indonesia

ANALISIS KENAIKAN HARGA BBM DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERKONOMIAN DI INDONESIA
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mandiri Mata Kuliah Perekonomian di Indonesia
Dosen Pengampu : Hermanita, MM.




PRODI EKONOMI ISLAM
 JURUSAN SYA’RIAH dan EKONOMI ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN JURAI SIWO METRO)
2014/2015


BAB I
PENDAHULUAN

    A.     Latar Belakang

     Sejak awal pemerintahan orde baru hingga di era reformasi sekarang ini, perkembangan perekonomian Indonesia tampaknya selalu dipengaruhi oleh gejolak harga bahan bakar minyak dunia. Selama periode pertama fluktuasi harga minyak dunia berpengaruh terhadap perkembangan perekonomian.
     Pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah dicapai selama dua puluh lima tahun  pembangunan Indonesia sejak tahun 1969, antara lain telah dipacu oleh melimpahnya penerimaan devisa dari ekspor minyak bumi akibat naiknya harga ekspor minyak dunia. Hal itu dimungkinkan karena pangsa ekspor minya bumi saat itu merupakan sebagian besar dari total ekspor Indonesia. Pada tahun 1970 pangsa ekspor minyak bumi masih 40,3%, terus meningkat mencapai tertinggi pada tahun 1982, sebesar 82,4 %. Menjelang reformasi, tahun 1997, pangsa ekspor minyak bumi tinggal sekitar 22% dari total ekspor Indonesia. (Dumairy, 1997, hal. 183)
     Penurunan harga minyak mentah dunia saat ini seharusnya memberikan kesempatan untuk pertumbuhan perekoinomian Indonesia yang lebih baik dibandingkan ketika harga minyak dunia yang tinggi. Akan tetapi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia justru menaikkan harga BBM. Hal ini pasti menimbulkan dampak yang sangat signifikan bagi rakyat Indonesia. Seperti yang kita kethaui semua harga barang-barang kebutuhan di pengaruhi oleh harga minyak. Apabila dinaikkan maka rakyat kecil yang akan menderita. Ini merupakan suatu polemic dan juga tantangan bagi pemerintahan presiden Jokowi dan JK untuk mengatsi segala dampak yang timbul akaibat kenaikan BBM di saat harga minyak mentah dunia turun.






BAB II

PEMBAHASAN

1. Penetapan Harga Minyak
     Menurut mazhab ekonomi klasik, mekanisme pasar akan membentuk suatu keseimbangan (ekuilibrium). Harga terbentuk atas dasar permintaan konsumen dan penawaran penjual. Permintaan dan penawaran tersebut akan bertemu pada suatu titik keseimbangan pada suatu tingkat harga tertentu. Menurut OPEC, harga minyak mentah bereaksi terhadap permintaan dan penawaran untuk jangka pendek dan tingkat investasi untuk jangka yang lebih panjang.
     Permintaan akan minyak, sama seperti permintaan akan energi pada umumnya, berhubungan erat dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Pada saat ekonomi tumbuh, maka lebih banyak energi yang dikonsumsi, baik untuk proses produksi dan distribusi hasil produksi kepada konsumen, maupun meningkatnya konsumsi oleh sektor rumah tangga seiring dengan meningkatnya jumlah kepemilikan kendaraan bermotor. Meningkatnya permintaan akan mengakibatkan naiknya harga minyak. Sebaliknya, saat ekonomi mengalami kontraksi permintaan akan minyak dan energi lainnya cenderung menurun, sehingga harga minyak pun ikut turun.
          Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi penawaran akan minyak:
·         Kebijakan kuota produksi OPEC yang ditetapkan untuk anggotanya.
·         Strategi negara-negara non-OPEC mengurangi produksi untuk menaikkan harga minyak.
·         Keadaan politis yang tidak stabil pada negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah seperti Irak dan Iran yang menghambat produksi minyak.
     Terkait dengan investasi, jika investasi tidak dilakukan jauh sebelumnya, persediaan minyak menjadi terbatas untuk jangka waktu yang lebih panjang, sehingga akan menaikkan harga. Sentimen juga merupakan faktor penting: jika para pelaku pasar minyak percaya bahwa akan ada penurunan penawaran minyak maka mereka akan menaikkan harga bahkan sebelum hal tersebut benar-benar terjadi.
     Faktor lainnya yang mempengaruhi harga minyak menurut OPEC adalah kecelakaan, cuaca yang buruk, menaiknya permintaan, transportasi minyak yang diragukan dari produsen, pemogokan karyawan, serta gangguan terhadap produksi lainnya, termasuk perang dan bencana alam.
     Ada beberapa elemen yang terkandung dalam harga suatu komoditas. Elemen-elemen yang terkandung dalam harga minyak menurut US Department of Energy’s Energy Information Administration (EIA) antara lain:
·         Harga minyak mentah
·         Pajak
·         Penyulingan
·         Distribusi

2. Subsidi Bahan Bakar Minyak
     Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) menunjukkan tingkat harga produk BBM dari perusahaan  dalam negeri masih di bawah tingkat harga di pasar dunia. Selain itu, subsidi silang juga sering diterapkan melalui pemindahan beban dari suatu produk BBM seperti minyak tanah ke produk BBM lainnya. Pemberian subsidi BBM dimaksudkan untuk menjaga kestabilan harga BBM di dalam negeri dari fluktuasi harga minyak di pasar dunia.
     Formula perhitungan subsidi BBM sesuai dengan Peraturan Presiden No. 71 tahun 2005 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu adalah:
Subsidi BBM = Q BBM x (Harga Patokan BBM – Harga Jual BBM Setelah Pajak)
     Harga patokan menurut Perpres No. 71 tahun 2005 adalah harga yang dihitung setiap bulan berdasarkan MOPS rata-rata pada periode 1 bulan sebelumnya ditambah biaya distribusi dan margin.
     Subsidi diberikan kepada jenis BBM tertentu, yaitu premium (P), kerosene (K), dan solar (S), serta golongan konsumen tertentu, yaitu rumah tangga, usaha kecil, usaha perikanan, transportasi, dan pelayanan umum.
Beberapa variabel yang mempengaruhi perhitungan subsidi BBM antara lain:
·         Harga minyak mentah
Subsidi BBM dipengaruhi fluktuasi harga minyak mentah Indonesia, mengingat sebagian besar biaya produksi BBM dari operator subsidi BBM merupakan biaya untuk pengadaan minyak mentah, yang harganya mengikuti tingkat harga di pasar internasional. Dengan demikian, apabila harga BBM bersubsidi tidak disesuaikan dengan perkembangan harga pasar, maka dengan penerapan pola public service obligation (PSO), dimana subsidi BBM merupakan selisih antara harga patokan (harga MOPS + alpha), sebagai harga jual operator BBM (PT Pertamina), dengan harga jual BBM bersubsidi yang telah ditetapkan pemerintah, setiap terjadi perubahan ICP akan menyebabkan beban subsidi BBM berubah dengan arah yang sama dengan perubahan selisih harga tersebut.
·         Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
        Dewasa ini Indonesia termasuk net importir minyak, sehingga makin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, maka akan semakin memperbesar harga beli minyak yang pada akhirnya akan mempengaruhi besaran subsidi BBM yang akan membebani APBN.
·         Konsumsi BBM di dalam negeri
        Subsidi BBM akan meningkat apabila terjadi kenaikan ICP melalui kenaikan konsumsi BBM bersubsidi. Kenaikan harga minyak dunia akan meningkatkan disparitas harga domestik dengan harga internasional. Disparitas harga BBM yang terlalu besar dapat memicu kenaikan konsumsi BBM bersubsidi melalui, potensi penyelundupan BBM, pencampuran BBM bersubsidi dengan non subsidi dan beralihnya masyarakat pengguna BBM non subsidi ke BBM bersubsidi.
·         Harga BBM di dalam negeri
 Penentuan harga jual BBM bersubsidi dipatok pada suatu tingkat harga tertentu. Dengan kondisi demikian maka akan menimbulkan konsekuensi jika harga minyak mentah dunia naik, maka beban subsidi BBM juga akan semakin meningkat.
Beban subsidi BBM yang terus meningkat akan menganggu keberkelanjutan (sustainability) anggaran pemerintah, yang pada gilirannya dapat mengancam stabilitas perekonomian dan mengurangi kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia. Erosi kepercayaan berisiko mendorong arus modal keluar, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan melemahnya nilai tukar rupiah. Jika nilai tukar rupiah melemah, harga-harga domestik akan ikut melonjak karena imported inflation. Jika harga-harga naik, maka beban perekonomian rakyat akan semakin berat. Situasi tersebut akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi melemah, pengangguran meningkat dan kemiskinan semakin tinggi. Selain itu, peningkatan beban subsidi BBM dan listrik akan membawa akibat kepada pengurangan anggaran pemerintah untuk berbagai program penting untuk kesejahteraan rakyat, seperti alokasi untuk kemiskinan dan infrastruktur.

3. Alasan Bahan Bakar Minyak Harus Naik
     Presiden Joko Widodo akhirnya mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada Senin malam, 17 November 2014. Dalam pengumuman tersebutharga BBM bersubsidi jenis solar dan premium naik masing-masing Rp 2.000 per liter.
     Jika dirunut, ada beberapa alasan yang memancing Jokowi menaikkan harga BBM pada pertengahan November. Salah satu yang mengemuka adalah rekomendasi Faisal Basri, Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi. Faisal menganjurkan pemerintah menaikkan harga BBM pada November, saat harga barang-barang konsumsi menurun. "Dampak inflasinya tidak akan terlalu besar," kata Faisal
     Hal serupa diutarakan Badan Pusat Statistik (BPS). BPS menyarankan agar harga BBM bersubsidi naik pada November karena secara historis nilai inflasinya rendah. BPS menyatakan, inflasi Januari-Oktober 2014 mencapai 4,19 persen. Jika harga BBM naik Rp 3.000 per liter, ada tambahan inflasi 1,7 persen pada November 2014. Masih memenuhi asumsi Anggaran pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2014.
     Menurut perhitungan Danamon, penurunan harga minyak dunia dan kenaikan harga BBM sebesar Rp 2.000 bisa menghemat anggaran pemerintah sekitar RP 14,3 triliun dahun ini (dampak hanya bisa dirasakan dua bulan terakhir yaitu November dan Desember). Namun untuk tahun depan, APBN 2015 yang masih bisa direvisi, bisa menghasilkan penghematan sebesar Rp 92 triliun yang dapat dialihkan untuk pos yang lain. Dengan kenaikan Rp 2.000, inflasi diperkirakan mencapai 7-7,5 persen akhir tahun. 
     Faktor eksternal yang memperkuat alasan kenaikan harga BBM di bulan November adalah turunnya harga minyak mentah dunia, sehingga harga minyak Indonesia (ICP) ikut turun. Pada Oktober, ICP hanya US$ 83,72 per barel, jauh di bawah ICP Juli yang sebesar US$ 104,3 per barel. Begitu pula Mean of Platts Singapore (MOPS), turun ke bawah US$ 100 per barel. Dengan demikian, subsidi yang dihemat pemerintah bisa jauh lebh besar ketimbang saat ICP tinggi.
4. Pengaruh Kenaikan Harga BBM Terhadap Perekonomian Indonesia
Perkembangan harga minyak yang terus melonjak akhir-akhir ini akan membawa pengaruh terhadap kehidupan iklim berinvestasi.Yang paling utama apakah pemerintah akan turut menyesuaikan harga minyak/BBM di dalam negeri atau tidak. Jika ya ,tentu saja tentu saja kondisi perekonomian bisa sangat berbeda. Biasanya kenaikan BBM, akan mengakibatkan naiknya biaya produksi,naiknya biaya distribusi dan menaikan juga inflasi.
Harga barang-barang menjadi lebih mahal, daya beli merosot,kerena penghasilan tetap.  Ujungnya perekonomian akan stagnan dan tingkat kesejahteraan terganggu. Di sisi lain, kredit macet semakin kembali meningkat, yang paling parah adalah semakin sempitnya lapangan kerja karena dunia usaha menyesuaikan produksinya sesuai dengan kenaikan harga serta penurunan permintaan barang.
Hal-hal di atas terjadi jika harga BBM dinaikkan, Bagaimana jika tidak? Subsidi pemerintah terhadap BBM akan semakin meningkat juga,mengapa? Meskipun negara kita merupakan penghasil minyak, dalam kenyataannya untuk memproduksi BBM kita masih membutuhkan impor bahan baku minyak juga.
Dengan tidak adanya kenaikan BBM, subsidi yang harus disediakan pemerintah juga semakin besar. Dari mana menutupi sumber subsidi  tersebut? Salah satunya adalah kenaikan pendapatan ekspor. Mengapa dapat seperti itu?Karena kenaikan harga minyak dunia juga mendorong naiknya harga ekspor komoditas tertentu, seperti kelapa sawit karena minyak sawit mentah (CPO) merupakan subsidi minyak bumi. Income dari naiknya harga CPO tidak akan sebanding dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk subsidi minyak.
Jika harga BBM dinaikkan, citra pemerintah secara politik akan terganggu, rakyat tentu tidak setuju jika harga-harga menjadi mahal, jika pemerintah terganggu dampaknya menjadi sangat luas,jadi, jika mengacu pada hal tersebut kemungkinan harga BBM tidak akan dinaikkan.
Tetapi masalah belum selesai sampai di sini, walaupun harga BBM tidak dinaikkan, tetap saja dampak kenaikan harga minyak dunia berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia termasuk didalamnya iklim investasi.
Kenaikan harga minyak dunia membuat biaya produksi meningkat. Itu berarti harga jual barang-barang impor impor juga akan mahal yang akan berdampak pada inflasi karena kenaikan harga impor barang.
Dampak dari hal ini pertama,tingkat bunga dana dan kredit belum akan turun dalam waktu dekat, kedua tingkat bunga yang bertendensi meningkat atau minimal tetap akan berbanding terbalik terbalik dengan harga obligasi. Artinya jika tingkat bunga meningkat, harga obligasi berkemungkinan akan turun. Ketiga,t ingkat bunga yang tidak berubah juga memberikan perbedaan tingkat bunga di dalam negeri dengan luar negeri yang relatif tetap atau ikut mengalami perubahan.
Baik langsung maupun tidak langsung kenaikan harga Bahan Bakar Minyak bersubsidi akan berdampak pada angka inflasi sehingga dapat mengoreksi pertumbuhan ekonomi yang nantinya juga akan berpengaruh pada kinerja perekonomian secara agreagat. Menaikan harga BBM adalah sesuatu yang kebijakan yang dilematis, namun hal ini menjadi pil pahit bagi pemerintah untuk menyehatkan anggaran negara.
Selama ini kita dapat menikmati harga BBM dengan murah karena adanya subsidi BBM oleh Pemerintah. Namun dengan menaikknya harga minyak dunia, pemerintah tidak bisa menjual BBM dengan harga yang sama dengan harga minyak dunia. Oleh karena itu pengeluaran APBN untuk subsidi semakin tinggi.
     Namun resiko yang mau tidak mau dialami oleh bangsa Indoensia yaitu dengan kenaikan harga BBM ini akan berpengaruh pada berbagai sektor baik rumah tangga sampai sektor industri. Semua sektor yang kena dampak kenaikkan harga BBM tersebut karena mempunyai ketergantuangan pada konsumsi BBM. Misalnya ongkos angkutan umum, barang-barang kebutuhan pokok, harga bahan-bahan bangunan dan masih banyak lagi. Hampir semua sektor akan terkoreksi dengan kenaikan harga BBM ini.
Banyak kalangan termasuk para ahli eknomi menilai jika subsidi BBM merupakan sesuatu yang memberatkan anggaran negara. Untuk itu kenaikan BBM dipandang sebagai sesuatu hal untuk menyehatkan kembali anggaran negara.
     Memang hal ini menjadi dilema bagi pemerintah, karena disisi lain, kenaikan yang mencapai Rp. 2.000 bisa berdampak pada berbagai sektor, termasuk inflasi harga maupun pada bidang sosial. Oleh karena itu pemerintah selalu tak mau buru-buru untuk mengambil kebijakan yang dilematis ini.
Untuk mengendalikan laju inflasi sebagai dampak kenaikan BBM sudah seyogyanya pemerintah harus bisa memastikan kecukupan stok pangan, serta program sosial yang bisa mempertahankan daya beli masyarakat. Tanpa itu daya beli masyarakat akan semakin menurun dan dipastikan pertumbuhan ekonomi akan semakin melemah. Tanpa kenaikan BBM pun saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,1 % jauh dari target 5,5 %
     Beberapa ekonom sependapat dengan kebijakan pemerintah ini, meskipun awalnya pahit namun dampak positif kedepan akan bisa dirasakan. Diantaranya anggaran lebih hemat, sehingga bisa dialokasikan untuk pembangunan dibidang lainnya.























DAFTAR PUSTAKA

Faisal Basri  Harga Minyak Mentah Turun, Kenaikan BBM Maksimal Rp 2.500 Katadata News.htm
Risiko Makro Kenaikan_Penurunan Harga Minyak Mentah _ Just Ordinary.htm
laporan_Penelitian__BBM.pdf


No comments:

Post a Comment

Designed By VungTauZ.Com