Breaking News

Sunday, 17 January 2016

Klasifikasi dalam pelaksanaan Shalat Malam (Tahajjud)

   
 Klasifikasi shalat malam


             Klasifikasi Pelaksanaan Shalat Malam

Ketahuilah, menghidupkan malam itu merupakan salah satu   keindahan shalat malam, dan jika ditinjau dari kadarnya, ada tujuh tingkatan yaitu diantaranya adalah:

1.     Pertama, menghidupkan seluruh malam. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang kuat, yang seluruh hidupnya hanya dipersembahkan unntuk beribadah kepada Allah dan Menikmati munajat kepada-Nya, sehingga shalat itulah yang menjadi santapan bagi merekan dan kehidupan bagi hati mereka. Mereka tidak merasakan letih dengan mengerjakan shalat sepanjang malam. Mereka menggantikan tidur disiang hari ketika semua manusia sibuk mencari rezeki. Hal ini di lakukan oleh sejumlah kalangan salaf. Mereka terbiasa mengerjakan shalat Shubuh dengan menggunakan wudhu shalat isya’. (Maksudnya, mengerjakan shalat isya’ dan shubuh hanya dengan satu wudhu, karena sejak Isya’ hingga shubuh, wudhunya belum batal).

Abu Thalib Al-Makki membawakan riwayat mengenai hal itu secara bersambung dan dengan sangat populer. Di antara mereka ada yang mengerjakan hal itu secara terus – menerus selama empat puluh tahun. Di antara mereka adalah Sa’id bin Musayyab dan Shafwan bin Salim dari Madinah; Fudhail bin ‘Iyadh dan Wahib bin Al-Ward dari makah; Thawus dan Wahb bin Munabbih dari Yaman; Rub’i bin Khairsam dan Al-Hakam dan sebagainya.

2.     Kedua, mengerjakan shalat malam selama separuh malam. Yang mampu mengerjakan shalat seperti ini dari kalangan salaf tidak terhitung jumlahnya. Cara terbaik untuk mengerjakannya adalah dengan tidur di sepertiga awal malam dan seperenam waktu malam. Dengan demikian, ia dapat untuk mengerjakan shalat malam tepat ditengah-tengah waktu  malam. Ini merupakan salah satu waktu yang begitu penting dan paling utama.

3.     Ketiga, mengerjakan shalat selama sepertiga waktu malam. Dalam hal ini, sebaiknya seseorang tidur pada separuh awal dari waktu malam dan seperenam akhir. Sebab, secara umum, tidur di akhir waktu malam itu dianjurkan (sunnah). Sebab, ia akan menghilangkanrasa kantuk ketika melaksanakan shalat shubuh, di mana mereka jelas tidak menginginkan hal itu.


Aisyah r.a. berkata, “rasulullah mengerjakan shalat witir di waktu malam. Jika kemudian beliau ada keperluan kepadaistrinya beliau, maka beliau mendekat kepadanya (menemuinya). Jika tidak, maka beliau berbaring di tempat shalat beliau, sehingga Bilal datang untuk mengumandangkan adzan.” Aisyah juga mengatakan bahwa, “aku tidaklah menemui beliau setelah waktu sahur melainkan beliau dalam keadaan tidur.”

Sebagian kaum salaf mengatakan bahwa tidur sebelum shubuh adalah sunnah di angara yang menyatakan demikian adalah sahabat Abu Hurairah r.a. tidur pada waktu ini merupakan bentuk rehat yang akan membantu pelaksanaan ibadah lainnya di waktu berikutnya, mengerjakan shalat pada sepertiga waktu malam di bagian separuh terakhir waktu malam dan tidur  pada sisa seperenam akhir malam merupakan cara shalat malam yang dilakukan oleh       Nabi Dawud.

4.     Keempat, mengerjakan shalat malam selama seperenam atau seperlima waktu malam. Yang libih utama adalah jika dilakukan pada separuh terakhir, sebelum datang waktu seperenam terakhir di waktu akhir waktu malam.

5.     Kelima, mengerjakan shalat malam tanpa mempersoalkan  estimasi waktu tertentu, caranyya adlah dengan mengerjakan shalat dari awal malam. Jika sudah mengantuk, maka ia tidur. Jika kemudian terbangun lagi meka ia mengerjakan shalat lagi; dan jika terkuasai oleh kantuk , maka ia kembali lagi tidur. Dengan demikian, di waktu malam itu ada dua kali waktu tidur dan ada dua kali waktu untuk shalat malam. Demikian ini adalah cara mengatasi waktu malam dan merupakan amalan yang paling berat dan paling utama. Ini merupakan bagian dari Akhlah Rasulullah SAW dan juga cara yang ditempuh oleh Ibnu ‘Umar serta mereka yang memiliki tingkat ketegaran yang tinggi dari kalangan sahabat dan  tabi’in –semoga Allah meridoi mereka semua amin-. Sebbagian dari kalangan  salaf mengatakan, “Ia merupakan tidur pertama, jika saya terbangun, kemudian aku kembali tidru maka semoga allha menidurkan mataku.

Shalat malam yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW, tidaklah mengikuti istimasi waktu tertentu. Akan tetapi, terkadan beliau mengerjakan shalat malam selama separuh malam, tau dua periganya, atau sepertiganya, atau seperempatnya. Hal itu berbeda-beda dari waktu malam dengan malam yang lainnya. Hal ini  dibutuhkan oleh firman Allah yang terdapat di dua tempat dalam surat AL-Muzzammil, Allah berfirman yang artinya:

“sesungguhnya Rabbmmu mengetahui bahwasanya kami berdiri (shalat) kurang dair dua pertiaga malam atau seperdua malam atau sepertiga malam.


6.     Keenam, estimasi paling minim dalam melaksanakan shalat malam, yaitu cukup mengerjakn hanya dalam empat atau dua raka’at. Atau bahkan barangkali kesulitan untuk bersuci, sehingga ia mecukupkan dirimya dengan duduk menghadap kiblat beberapa saat dengan membaca dzikir dan doa, sehingga ia tetap tercata sebagai bagian dari orang yang bangun malam, dengan rahmat Allah dan Karunia-Nya. Dalam atsar disebutkan, “Kerjakanlah shalat malam sekalipun hanya sesaat, seperti sebentarnya memerah susu kambing.”

Oleh karena itu, silahkan memilih estimasi waktu untuk mengerjakan shalat mlm sesuai dengn kemampuan. Jika keberatn untuk mengerjakan shalat malam di tengah malam, maka sebaiknya tidak mengabaikan untuk baca wirid setelah shalat isya’. Kemudian, hendaklah ia mengerjakan shalat sebelum shubuh, yaitu pada waktu sahur, sehingga ketika waktu shubuh tiba, ia tidak dalam keadaan tidur, lalu mengerjakan shalat di ujung malam. Ini adalah tingkatan ketujuh. Jika seseorang itu bisa mengerjakn shalat malam secara rutin, maka hal itu merupakn karunia dari Allah SWT dan bimbingan dari-Nya.



Terimakasih telah membaca artikel ini tentang Klasifikasi PelaksanaanShalat Malam, semoga bisa bermanfaat.

No comments:

Post a Comment

Designed By VungTauZ.Com