Breaking News

Sunday, 17 January 2016

Jenis Sifat dalam Shalat Malam

Sifat Shalat Malam
Berbicar mengenai shalat malam, shalat malam sendiri merupakan shalat sunnah yang begitu banyak sekali keindahan di dalamnya, dimana keindahan tersebut yang akan bisa kita rasakan baik di dunia maupun di akhirat nanti. Ketika di akhirat berguna sebagai sebuah tabungan bagi kita nanti untuk menjalani kehidupan berikutnya. Dimana shalat malam termasuk shalat Tahajjud, adalah shalat malam yang sangat banyak sekali manfaatnya. Karena ketika kita akan mengerjakannya, di dalamnya terdapat kesulitan yang begitu amat berat. Seperti, susahnya untuk mencoba bisa bangun di jam segitu dan melaksanakan shalat Tahajjud. Maka oleh sebab itulah shalat malam terdapat begitu banyak manfaatnya bagi kehidupan ini.

Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata, “Pendapat yang kami pilih bagi orang yang mengerjakan shalat malam adalah hendaklah ia mengerjakan shalat malam dua rakaat-dua rakaat. Lalu salam pada setiap dua rakaat, kemudian menjadikan shalat yang terakhir adalah satu rakaat.

 Sifat Shalat malam
Diriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah mengerjakan shalat malam hingga lima rakaat langsung. Beliau baru mengucapkan salam pada akhri rakaat yang kelima. Dengan demikian, sabda Nabi SAW yang menyebutkan bahwa shalat malam itu duar rakaat salam dua rakaat salam adalah bersifat pilihan. Orang yang henda mengerjakan shalat malam tiga rakaat langsung, atau lima, atau tujuh, atau sembilan tanpa salam, kecuali pada akhir rakaat tersebut, maka hukumnya mubah. Hanya saja, yang menjadi pilihan (lebih baik) adalah setiap dua rakaat salam, kemudian mengerjakan shalat witir satu rakaat.


v  Panjang Rakaat Shalat Malam
Di antara penduduk Nabi SAW dalam melaksanakan shalat malam adalah memanjangkan waktu berdiri. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa ia berkata, “aku pernah mengerjakan shalat bersama Rasulullah SAW, lalu beliau memanjangkan watu berdiri sehingga akau berniat melakukan hal yang buruk,” ditanyakan kepadanya, “Keinginan buruk macam apa yang terlintas di dalam benakmu?” Ia menjawab, “Aku ingin duduk (Tahiyyat, lalu salam), kemudian meninggalkan beliau.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, “Hadits ini menjadi dalil dari pemilihan Nabi SAW untuk meanjangkan rakaat shalat malam. Ibnu Mas’ud adalah salah seseorang sahabat yang sangat kuat dalam beribadah dan selalu meneladani Nabi SAW. Tidaklah ia mimiliki keinginan untuk segera duduk kecuali setelah sekian lam berdiri melebihi kebiasan yang telah dilakukannya.”


v  Berdiri dan duduk dalam shalat
Ibnul Qayyim menejaskan bahwa shalat malam Nabi SAW, itu terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, dan yang sering dilakukan oleh beliau, adalah shalat malam dengan berdiri. Kedua, mengerjakan shalat dan rukuk dalam keadaan duduk. Ketiga, membaca Al-Qur’an dalam keadaan duduk, namun jika tinggal tersisa beberapa ayat, maka beliau berdiri dan rukuk dalam  keadaan berdiri. Ibnul Qayyim menambahkan, “ketiga jenis shalat itu sama – sama sah dari beliau.”



Terimakasih telah membaca artikel mengenai sifat seputar shalat malam, semoga bisa bermanfaat.

No comments:

Post a Comment

Designed By VungTauZ.Com