Dampak dan Pengaruh
Hutang Luar Negeri Terhadap Perekonomian Indonesia
Hutang Luar Negeri Terhadap Perekonomian Indonesia
Makalah ini di susun Guna Memenuhi
Tugas Mandiri
Mata Kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen pengampu: Hermanita M.M
PROGRAM
STUDI EKONOMI SYARIAH
JURUSAN
SYARIAH DAN EKONOMI
ISLAM
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
JURAI
SIWO METRO
2015/2016
KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum
wr.wb ........
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat, inayah,
taufik, dan ilham-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini
dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia , saya telah berusaha sesuai kemampuan kami demi
menyusun makalah ini agar makalah ini tersusun sesuai harapan.
Saya
ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam proses
punyusunan dan penyelesaian makalah ini, khususnya kepada ibu Hermanita, M.M
.Yang telah memberikan tugas ini, dan umumnya kepada rekan-rekan yang telah
memberikan motivasi baik dalam bentuk moril maupun materil.
Makalah
ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat
kurang. Oleh karena itu diharapkan kepada para pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah selanjutnya.
Mudah-mudahan
makalah ini dapat memberikan manfaat, dan semoga amal ibadah serta kerja keras
kita, senantiasa mendapat ridho dan ampunan dari-Nya. Amin.
Walaikumsalam
wr. wb,............
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Indonesia belum bisa
lepas dari jerat utang. Data terbaru Bank Indonesia (BI) menunjukkan,
pertumbuhan utang luar negeri Indonesia pada Juli 2013 mencapai 7,3 persen (yoy).
Pertumbuhan utang luar negeri ini sedikit mengalami perlambatan dibandingkan
pertumbuhan pada Juni 2013 sebesar 8 persen (yoy). Data yang dilansir BI
menunjukkan posisi utang luar negeri Indonesia pada akhir Juli 2013 tercatat
sebesar USD 259,54 miliar atau setara Rp 2.983 triliun. Utang luar negeri
Indonesia banyak didominasi utang jangka panjang yaitu sebanyak 82,3 persen.
Sedangkan sisanya merupakan utang jangka pendek.
Utang
luar negeri merupakan suatu masalah serius pemerintah. Jika suatu negara memiliki
utang luar negeri masalah yang muncul adalah menyangkut beban utang yaitu pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri. Semestinya
pemerintah berupaya meningkatkan pertumbuhan ekspor supaya cadangan devisa
(pendapatan negara) menjadi bertambah serta mengurangi kebiasaan utang. Lebih
baik memanfaatkan sumber daya yang ada secara kreatif tidak tergantung pada
bantuan dari pihak luar.
Utang telah menempati
peran penting melalui mekanisme ekonomi kapitalis. Dalam konsep kapitalisme
diarahkan dan dibenamkan pemikiran kita bahwa utang mengambil peranan yang
penting dari penempatan modal awal yang akan digunakan untuk memulai suatu
usaha sampai dengan ekspansi bisnis yang dilakukan oleh individu maupun
perusahaan serta pemerintah.
Konsep tersebut
diterapkan dengan asumsi bahwa baik individu mau pun perusahaan tidak akan
memiliki cukup uang untuk melakukan rencana ekspansi/perluasan usaha, sehingga
sudah menjadi hal yang lumrah untuk mencari pinjaman. Bukannya menunggu dari
akumulasi keuntungan. Hutang dapat menjadi alat untuk mengumpulkan dana kemudian diberdayagunakan dalam proses kegiatan
suatu perekonomian.
Peningkatan utang
pemerintah yang mengarah pada jebakan utang tentunya memberikan beberapa dampak
negatif yang akan menimpa bangsa Indonesia.Lalu kenapa jalan ini yang
dipilih untuk pembangunan? Padahal ini adalah Jerat dalam konsep utang yang
dapat menghancurkan sistem maupun struktur perekonomian Indonesia.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dalam pembahasan makalah ini akan
membahas permasalahan antara lain:
1.
Apa pengertian hutang luar negeri?
2.
Mengapa perlunya melakukan hutang Luar Negeri?
3.
Bagaimana klasifikasi hutang Luar
Negeri?
4.
Bagaimana perencanaan hutang Luar Negeri?
5.
Bagaimana pelaksanaan hutang Luar Negeri?
6.
Bagaimana pembayaran hutang Luar
Negeri?
7.
Untuk mengetahui dampak utang luar negeri Indonesia?
8.
Untuk mengetahui faktor penyebab utang luar negeri
Indonesia?
9. Untuk mengetahui solusi terhadap utang luar negeri
Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
Setelah pembahasan
makalah ini, maka akan diketahui tujuan dari penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui pengertian hutang luar negeri.
2.
Untuk mengetahui perlunya melakukan hutang Luar
Negeri.
3.
Untuk mengetahui klasifikasi hutang Luar Negeri.
4.
Untuk mengetahui perencanaan hutang Luar Negeri.
5.
Untuk mengetahui pelaksanaan hutang Luar Negeri.
6.
Untuk mengetahui pembayaran hutang Luar Negeri.
7.
Untuk mengetahui dampak utang luar negeri Indonesia.
8.
Untuk mengetahui faktor penyebab utang luar negeri
Indonesia.
9. Untuk mengetahui solusi terhadap utang luar negeri
Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Hutang luar negeri diartikan sebagai
penerimaan negara dalam bentuk devisa ataupun dalam bentuk devisa yang
dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan atau jasa yang diterima dari Pemberi
Pinjaman/Hibah Luar Negeri (PPHLN) yang harus dibayar kembali dengan persyaratan
tetentu atau hutang luar negeri adalah sumber pembiayaan negara yang
berasal dari negara asing, badan/lembaga keuangan internasional atau dari pasar
uang internasional yang berbentuk devisa, barang, dan atau jasa termasuk
penjaminan yang mengakibatkan pembayaran di masa yang akan datang yang harus
dibayar kembali sesuai kesepakatan bersama.
2.2 Perlunya
Pinjaman Luar Negeri
Dalam rangka pencapaian tujuan suatu negara maka diperlu adanya
program-program pembangunan yang berkesinambungan dengan dana yang tidak
sedikit jumlahnya. Salah satu syarat utama untuk mencapai tujuan pembangunan
adalah cukup tersedianya dana investasi. Kebutuhan dana investasi tersebut
secara ideal seharusnya dapat dibiayai dari dana (tabungan) dalam negeri.
Tetapi dalam kenyataannya seperti negara berkembang lainnya, Indonesia masih
menghadapi masalah keterbatasan modal dalam negeri yang dibutuhkan untuk
pembiayaan pembangunan. Hal tersebut tercermin dengan adanya kesenjangan
antara tabungan dalam negeri dengan dana investasi yang diperlukan. Untuk
menutup investasi yang diperlukan ini, pinjaman luar negeri merupakan
salah satu sumber pembiayaan pembangunan ekonomi Indonesia. Di samping itu,
pinjaman luar negeri diperlukan dalam upaya menutup kesenjangan antara kebutuhan
valuta asing yang telah ditargetkan dengan devisa yang diperoleh dari
penerimaan hasil kegiatan ekspor.
Pinjaman luar negeri juga memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan
sumber pembiayaan lainnya. Pembiayaan dengan penerbitan Surat Utang Negara
(SUN) secara berlebihan akan banyak menyerap uang dari sektor swasta yang dapat
menimbulkan perkembangan sektor swasta terhambat.
Demikian juga bila sumber pembiayaannya dari penjualan aset, cara ini
cenderung akan meningkatkan uang yang beredar dalam masyarakat sehingga dapat
menimbulkan inflasi. Sumber pembiayaan dari pinjaman luar negeri merupakan
alternatif yang dapat menghindari terjadinya kelemahan-kelemahan tersebut.
Disamping itu pinjaman luar negeri memiliki kelebihan lain yaitu dapat
memasukkan teknologi maju/tenaga ahli.
2.3 Klasifikasi
Pinjaman Luar Negeri
Secara umum, pendanaan luar negeri berasal dari sumber-sumber sebagai
berikut: (1) bilateral (pemerintah negara lain) berupa hibah, pinjaman lunak
dan pinjaman campuran; (2) lembaga multilateral/internasional berupa hibah dan
pinjaman, dan; (3) perbankan atau lembaga keuangan internasional berupa
fasilitas kredit ekspor dan pinjaman komersial. Besarnya nilai utang luar
negeri dapat disebabkan penerimaan pajak dan pengeluaran pemerintah yang tidak
seimbang. Rendahnya penerimaan pajak, sementara pengeluaran pemerintah akibat
impor barang modal tinggi.
Berdasarkan sifatnya pinjaman luar negeri dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu Concessional Loan dengan ciri-ciri bunganya
rendah, grace periode dan repayment-nya lama, dan
ada unsur hibahnya; serta Non-Concessional Loan.
Berdasarkan bentuknya Pinjaman/Hibah Luar Negeri dapat berupa devisa,
barang, dan atau jasa. Sedangkan jika dilihat dari penggunaannya pinjaman luar
negeri ada yang berbentuk bantuan proyek dan ada yang berbentuk bantuan
program. Bantuan proyek adalah penerimaan dana bantuan luar negeri dalam bentuk
barang dan atau jasa bagi keperluan proyek pembangunan yang telah ditentukan
dalam perjanjian. Adapun yang dimaksud dengan bantuan program adalah bantuan
luar negeri berbentuk bahan pangan dan atau devisa (tunai) yang dirupiahkan.
Prioritas penggunaannya untuk pembiayaan proyek pembangunan, namun penentuan
proyeknya diserahkan kepada pemerintah RI. Bantuan program dapat pula berupa
komoditi tertentu yang nilai lawan rupiahnya digunakan untuk menutup kekurangan
pangan dan non pangan di dalam negeri.
Selain jenis bantuan seperti yang disebutkan di atas, ada jenis pinjaman
luar negeri lainnya antara lain pinjaman komersial dan fasilitas kredit ekspor.
Pinjaman komersial adalah pinjaman yang diperoleh dari
bank-bank/lembaga-lembaga keuangan internasional dalam bentuk devisa tunai,
dengan persyaratan komersial sesuai kondisi pasar uang internasional untuk
berbagai keperluan baik untuk pembiayaan proyek maupun untuk menyangga neraca
pembayaran, termasuk ke dalam jenis pinjaman ini adalah obligasi dan leasing.
Sedangkan yang dimaksud fasilitas kredit ekspor adalah pinjaman yang diterima
Indonesia yang berasl dari suatu bank atau lembaga keuangan bukan bank suatu
negara guna membayar barang-barang yang diperlukan Indonesia yang merupakan
produk dari negara pemberi pinjaman.
2.4 Perencanaan
Pinjaman Luar Negeri
Perencanaan di sini maksudnya adalah bagaimana prosedur memperoleh pinjaman
luar negeri. Perencanaan pinjaman luar negeri ini berbeda untuk pinjaman
bilateral, multilateral, dan fasilitas kredit ekspor.
Untuk pinjaman bilateral prosedurnya diawali dengan pengusulan proyek oleh
Menteri/Kepala Lembaga kepada Kepala Bappenas. Usulan itu lalu dinilai apakah
sesuai dengan tujuan pembangunan dan mempunyai prioritas yang tinggi. Jika
mempunyai kelayakan usulan tersebut masuk dalam daftar rencana untuk dibahas dan
selanjutnya diajukan ke pemberi pinjaman. Lalu pemberi pinjaman mengadakan
penilaian kembali terhadap usulan proyek yang disampaikan oleh Pemerintah RI.
Jika penilaian pemberi pinjaman menyatakan proyek tersebut layak, maka pemberi
pinjaman memberi komitmen pembiayaan. Kemudian dilanjutkan dengan negosiasi.
Untuk pinjaman multilateral prosesnya tidak jauh berbeda dengan pinjaman
bilateral. Prosesnya diawali dengan pengusulan proyek, persetujuan dari
Bappenas, dan pengusulan pada calon lender. Dilanjutkan dengan Pre-appraisal
dari lender untuk mengumpulkan dan mengevaluasi data/bahan, melihat
situasi/kondisi lokasi proyek, dan mengadakan pembicaraan dengan instansi
terkait. Setelah itu melakukan pembicaraan dengan Departemen Teknis, Depkeu,
dan Bappenas guna memperoleh kejelasan mengenai persiapan proyek dan lain-lain.
Tahap akhir adalah negosiasi untuk mendapatkan persetujuan.
Untuk Fasilitas Kredit Ekspor proses perencanaannya diawali dengan
pengajuan proposal ke Bappenas. Jika disetujui akan masuk ke Blue Book. Selanjutnya
Departemen/Lembaga/BUMN mengajukan alokasi kredit ekspor kepada Menko
Perekonomian, tembusannya disampaikan kepada Menkeu dan Kepala Bappenas. Lalu
diterbitkan Alokasi Kredit Ekspor. Selanjutnya diadakan pelelangan dan
penandatanganan kontrak dengan rekanan. Setelah itu diadakan negosiasi dengan
lender untuk mendapatkan Credit Agreement.
2.5 Pelaksanaan
Pinjaman Luar Negeri
Pelaksanaan ini diawali dengan penganggaran pinjaman luar negeri. Tahap
selanjutnya adalah pelelangan. Mengenai prosedur pelelangan ini sesuai
ketentuan dalam Loan Agreement. Tahap selanjutnya adalah penarikan
pinjaman setelah dipenuhi berbagai kondisi. Kondisi-kondisi tersebut adalah
Naskah Perjanjian Pinjaman/Hibah Luar Negeri sudah ditandatangani kedua belah pihak
dan dinyatakan efektif.
2.6 Pembayaran
Pinjaman Luar Negeri
Pembayaran ini meliputi pembayaran pokok pinjaman, bunga, dan biaya lainnya
seperti Biaya komitmen (Commitment Fee/Charge), Biaya Manajemen, dan
biaya fee.
2.7 Dampak Hutang Luar
Negeri Indonesia
Pertama, dampak
langsung dari utang yaitu cicilan bunga yang makin mencekik. Kedua, dampak yang paling hakiki dari utang tersebut yaitu hilangnya
kemandirian akibat keterbelengguan atas keleluasaan arah pembangunan negeri,
oleh si pemberi pinjaman. Dapat dilihat pula dengan adanya indikator-indikator
baku yang ditetapkan oleh Negera-negara donor, seperti arah pembangunan yang
ditentukan. Baik motifnya politis maupun motif ekonomi itu sendiri.
Pada akhirnya arah
pembangunan kita memang penuh kompromi dan disetir, membuat Indonesia makin
terjepit dan terbelenggu dalam kebijakan-kebijakan yang dibuat negara Donor.
Hal ini sangat beralasan karena mereka sendiri harus menjaga, mengawasi dan
memastikan bahwa pengembalian dari pinjaman tersebut plus keuntungan atas
pinjaman, mampu dikembalikan. Alih-alih untuk memfokuskan pada kesejahteraan
rakyat, pada akhirnya adalah konsep tersebut asal jalan pada periode
kepemimpinannya, juga makin membuat rakyat terjepit karena mengembalikan
pinjaman tersebut diambil dari pendapatan negara yang harusnya untuk
dikembalikan kepada rakyat yaitu kekayaan negara hasil bumi dan Pajak.
Selain memberikan
dampak seperti yang diatas, utang luar negeri memiliki berbagai dampak baik
positif dan negatif yaitu:
a. Dampak positif
Dalam jangka pendek, utang luar negeri sangat membantu pemerintah Indonesia
dalam upaya menutup defisit anggaran pendapatan dan belanja negara, yang
diakibatkan oleh pembiayaan pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan yang
cukup besar. Dengan adanya utang luar negeri membantu pembangunan negara
Indonesia, dengan menggunakan tambahan dana dari negara lain. Laju pertumbuhan
ekonomi dapat dipacu sesuai dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya.
b. Dampak Negatif
Dalam jangka panjang utang luar negeri dapat menimbulkan berbagai macam
persoalan ekonomi negara Indonesia, salah satunya dapat menyebabkan nilai tukar
rupiah jatuh(Inflasi). Utang luar negeri dapat memberatkan posisi APBN RI,
karena utang luar negeri tersebut harus dibayarkan beserta dengan bunganya.
Negara akan dicap sebagai negara miskin dan tukang utang, karena tidak mampu
untuk mengatasi perekonomian negara sendiri, (hingga membutuhkan campur tangan
dari pihak lain).
Selain itu, hutang luar negeri bisa memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Membantu dan mempermudah negara untuk melakukan
kegiatan ekonomi.
2. Sebagai penurunan biaya bunga APBN
3. Sebagai sumber investasi swasta
4. Sebagai pembiayaan Foreign Direct Investment (FDI) dan
kedalaman pasar modal
5. Berguna untuk menunjang pembangunan nasional yang
dimiliki oleh suatu negara
Menurut aliran
neoklasik, utang luar negeri merupakan suatu hal yang positif. Hal ini
dikarenakan utang luar negeri dapat menambah cadangan devisa dan mengisi
kekurangan modal pembangunan ekonomi suatu negara. Dampak positif ini akan
diperoleh selama utang luar negeri dikelola dengan baik dan benar.
Setiap negara memiliki
perencanaan pembangunan yang berbeda-beda, tetapi memiliki kapasitas fiskal
yang terbatas. Untuk membiayai pembangunan, pemerintah memiliki apa yang
dikenal sebagai government spending. Jika selisih pengeluaran
pemerintah dengan tingkat penerimaan pajak bernilai defisit, maka alternatifnya
adalah dengan memanfaatkan pendanaan yang berasal dari luar negeri.
2.8 Faktor Penyebab Hutang
Luar Negeri Indonesia
Setidaknya ada dua
alasan mengapa pemerintah di negara-negara berkembang tetap membutuhkan utang
luar negeri. Pertama, utang luar negeri dibutuhkan sebagai tambahan modal bagi
pembangunan prasarana fisik. Infrastruktur merupakan investasi yang mahal dalam
pembangunan. Kedua, utang luar negeri dapat digunakan sebagai penyeimbang
neraca pembayaran.
Ada beberapa penyebab
meningkat atau menurunnya utang Luar negeri Indonesia secara umum yaitu:
1. Defisit Transaksi
Berjalan (TB)
TB merupakan
perbandingan antara jumlah pembayaran yang diterima dari luar negeri dan jumlah
pembayaran ke luar negeri. Dengan kata lain, menunjukkan operasi total
perdagangan luar negeri, neraca perdagangan, dan keseimbangan antara ekspor dan
impor, pembayaran transfer.
2.
Meningkatnya kebutuhan investasi
Investasi adalah
penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya
berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa-masa yang
akan datang. Hampir setiap tahun Indonesia menghadapi kekurangan dana
investasi. Menurut pada tahun 2011, jumlah dana tabungan: 12,84 triliun
sementara kebutuhan investasi Rp 2.458,6 triliun. Hal ini mendorong
meningkatnya pinjaman LN. Di samping kelangkaan dana, meningkatnya utang LN juga
didorong oleh perbedaan tingkat suku bunga.
3.
Meningkatnya Inflasi
inflasi adalah suatu
proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu)
berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor .
Laju inflasi mempengaruhi tingkat suku bunga, karena ekspektasi inflasi
merupakan komponen suku bunga nominal. trand inflasi meningkat menyebabkan Bank
Indonesia memangkas suku bunga. Dengan rendahnya suku bunga maka minat orang
untuk berinvestasi rendah, maka pemerintah untuk memenuhi belanja negaranya
melalui pinjaman luar negeri.
4.
Struktur perekonomian tidak efisien
Karena tidak
efisien dalam penggunaan modal, maka memerlukan invetasi besar. Hal ini akan
mendorong utang luar negeri.
2.9 Solusi Terhadap Hutang
Luar Negeri Indonesia
Ada beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi hutang luar
negeri:
1. Meningkatkan daya beli
masyarakat, yakni melalui pemberdayaan ekonomi pedesaan dan
pemberian modal usaha kecil seluasnya.
2. Meningkatkan pajak secara progresif
terhadap barang mewah dan impor.
3. Konsep pembangunan yang berkesinambungan,
berlanjut dan mengarah pada satu titik maksimalisasi kekuatan ekonomi nasional,
melepaskan secara bertahap ketergantungan utang luar negeri.
4. Menggalakan kebanggaan akan produksi
dalam negeri, meningkatkan kemauan dan kemampuan ekspor produk unggulan dan
membina jiwa kewirausahaan masyarakat. Negeri Indonesia ini sebenarnya kaya
akan Sumber daya alam unggulan sehingga bila kita manfaatkan secara maksimal
maka akan memberikan devisa negara,
5. Mengembangkan sumber daya manusia
berkualitas dan menempatkan kesejateraan yang berkeadilan dan merata
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hutang luar negeri dapat disimpulkan bahwa sebagian dari total utang suatu
negara yang diperoleh dari para kreditor di luar negara yang diterima melalui
pinjaman luar negeri ataupun pinjaman dalam negeri yang digunakan untuk
pembiayaan perekonomian. Penerima utang luar negeri dapat berupa pemerintah,
perusahaan, atau perorangan.
Secara teoritis, suatu negara dalam membiayai program-program
pembangunannya dapat memanfaatkan utang luar negeri jika terkendala kapasitas
fiskal yang terbatas. Secara nilai ekonomi, baik negara peminjam maupun negara
pendonor akan diuntungkan dengan adanya utang luar negeri. Di satu sisi negara
pendonor akan mendapatkan bunga dari pokok pinjaman, sedangkan negara pengutang
akan mendapatkan tambahan kapital untuk melaksanakan pembangunannya.
Pada kenyataannya, utang luar negeri merupakan salah satu instrumen
kebijakan politik luar negeri di bidang ekonomi. Dengan memanfaatkan
ketergantungan negara debitur terhadap utang luar negeri, negara kreditur dapat
memanfaatkan keterikatan yang menyertai perjanjian utang luar negeri untuk
kepentingan negaranya. Argumentasi perlu tidaknya kebijakan berutang luar
negeri juga masih bisa diperdebatkan, tergantung kondisi yang dihadapi negara
yang membutuhkan utang luar negeri.
3.2 Saran
Komitmen pemerintah Indonesia untuk mewujudkan kemandirian
ekonomi dan mengurangi ketergantungan terhadap utang luar negeri mulai
dipertanyakan dan tampaknya tidak pernah akan terjadi. Meskipun pemerintah
Indonesia berdalih bahwa rasio utang terhadap PDB cenderung menurun dalam
beberapa tahun terakhir, nyatanya argumentasi ini kurang tepat. Kita tahu bahwa
PDB pada hakikatnya merupakan total output produksi yang dihasilkan di dalam
negeri, terlepas dari siapa yang memproduksi output tersebut (swasta asing atau
swasta pribumi). Jika ternyata output perekonomian didominasi oleh swasta
asing, tentu argumentasi dengan membandingkan jumlah utang luar negeri terhadap
PDB menjadi kurang relevan. Seharusnya, pemerintah menggunakan rasio utang luar
negeri terhadap PNB (akumulasi output perekonomian yang dihasilkan oleh swasta
pribumi, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri).
Penggunaan utang luar negeri sebenarnya tidak perlu terlalu dikhawatirkan
selama digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang produktif. Jika
berhasil, output perekonomian akan meningkat dan economic growth akan
naik. Naiknya angka pertumbuhan merupakan salah satu faktor (selain stok
cadangan devisa dan pengembangan alokasi APBN) yang menjadi pertimbangan dalam
pemberian peringkat utang oleh lembaga-lembaga internasional pemeringkat kredit
dunia seperti Fitch danStandard & Poor. Jika suatu
negara dikategorikan sebagai investment grade, tentu ini akan
berdampak baik bagi perekonomian domestik. Status investment grade ini
akan menekan biaya penerbitan obligasi negara yang diterbitkan pemerintah dan
swasta domestik karena dianggap memiliki risiko gagal bayar yang rendah.
Akibatnya, banyak investor asing akan tertarik untuk menanamkan modalnya di
dalam negeri. Terjadilah capital inflow. Ruang untuk melakukan ekspansi
dalam perekonomian pun semakin lebar.
Akan tetapi, utang luar negeri juga bisa menjadi bumerang. Alih-alih
digunakan untuk sektor-sektor yang produktif, penggunaan utang luar negeri
tidak tepat sasaran akan menyebabkan permasalahan yang serius di kemudian hari.
Kasus yang paling banyak terjadi antara lain penyalahgunaan pinjaman dan
lemahnya pengawasan proyek yang dibiayai dengan utang luar negeri membuat
praktik-praktik korupsi dan rent seeking di kalangan pejabat
pemerintahan tumbuh subur. Di negara-negara yang tidak memiliki struktur dan
sistem kelembagaan yang kuat, penggunaan pinjaman luar negeri yang ditujukan
untuk membiayai program berbasis pemerataan dan pro-pemberantasan kemiskinan
sering mengalami inefisiensi (Chong,Gradstein,dan Calderon,2009). Oleh karena
itu, justifikasi terhadap penggunaan utang luar negeri tidak dapat dilakukan
tanpa mempertimbangkan kondisi-kondisi di atas. Jika tidak, yang terjadi
adalah debt trap yang tidak berkesudahan dimana negara
pengutang kesulitan membayar bunga dan pokok cicilan.
Setidaknya
ada beberapa hal penting yang harus dipikirkan dengan upaya riil untuk
menghentikan utang luar negeri Indonesia, yaitu sebagai berikut:
1.
Pertama, kesadaran akan bahaya utang luar negeri, bahwa utang yang
dikucurkan negara-negara kapitalis akan berujung pada kesengsaraan. Selama ini,
salah satu penghambat besar untuk keluar dari jerat utang adalah pemahaman yang
salah tentang utang luar negeri. Kucuran utang dianggap sebagai bentuk
kepercayaan luar negeri terhadap pemerintah. Sehingga, semakin banyak utang
yang dikucurkan, semakin besar pula kepercayaan luar negeri terhadap
pemerintahan di sini. Demikian juga pemahaman bahwa pembangunan tidak bisa
dilakukan kecuali harus dengan utang luar negeri.
2.
Kedua, keinginan dan tekad kuat untuk
mandiri harus ditancapkan sehingga memunculkan ide-ide kreatif yang dapat
menyelesaikan berbagai problem kehidupan, termasuk problem ekonomi. Sebaliknya
mentalitas ketergantungan pada luar negeri harus dikikis habis.
3.
Ketiga, menekan segala bentuk pemborosan negara, baik oleh korupsi
maupun anggaran yang memperkaya pribadi pejabat, yang bisa menyebabkan defisit
anggaran. Proyek-proyek pembangunan ekonomi yang tidak strategis dalam jangka
panjang, tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat Indonesia, dan semakin
menimbulkan kesenjangan sosial harus dihentikan.
4.
Keempat, melakukan pengembangan dan pembangunan kemandirian dan
ketahanan pangan. Dengan membangun sector pertanian khususnya produk-produk
pertanian seperti beras, kacang, kedelai, tebu, kelapa sawit, peternakan dan
perikanan yang masuk sembako. Dan memberdayakan lahan maupun barang milik
negara dan umum memperkuat struktur perekonomomian untuk menaikan pertumbuhan
ekonomi.
5.
Kelima, mengatur ekspor dan impor yang akan memperkuat ekonomi
dalam negeri dengan memutuskan import atas barang-barang luar negeri yang
diproduksi di dalam negeri dan membatasi import dalam
bentuk bahan mentah atau bahan baku yang diperlukan untuk industri dasar dan
industri berat yang sarat dengan teknologi tinggi. Serta memperbesar ekspor untuk barang-barang yang bernilai ekonomi
tinggi, dengan catatan tidak mengganggu kebutuhan dalam negeri dan tidak
memperkuat ekonomi dan eksistensi negara-negara debitur.
Daftar Pustaka

Nama saya adalah Cynthia Johnson. kita hipotek, pinjaman rumah, kredit mobil, pinjaman Hotel, tawaran komersial Umum Mr John Carlson, orang harus memperbarui semua situasi keuangan di dunia / perusahaan untuk membantu mereka yang terdaftar pemberi pinjaman uang pinjaman pribadi, kredit konstruksi, rendah suku bunga 2% dll kredit modal, pinjaman usaha dan pinjaman kredit buruk bekerja, Memulai. Kami membiayai proyek di tangan dan perusahaan Anda / mitra dan saya juga ingin menawarkan pinjaman pribadi untuk klien mereka. hubungi kami melalui e-mail untuk informasi lebih lanjut: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com
ReplyDelete