Breaking News

Tuesday, 22 December 2015

Sejarah Peradaban Islam Di Lampung



Sejarah Peradaban Islam “ Di Lampung

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah sehingga makalah ini yang berjudul Kedatangan Islam di Lampung dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini dibuat sebagai salah satu pemenuhan tugas kami pada semester ini. Makalah ini juga terselesaikan berkat dukungan dari :
1.      Dosen pengampu mata kuliah Sejarah Peradaban Islam.
2.      Orang tua yang memberikan dukungan baik moril maupun materil.
3.      Serta teman-teman yang selalu memberikan motivasi dan kritikan yang positif.
Selain sebagai pemenuhan tugas, makalah ini juga dimaksudkan agar bermanfaat baik bagi yang membaca maupun menulis, sehingga dapat memahami tentang penulisan kata secara lebih mendalam.
Tak ada gading yang tak retak, begitu pula pada makalah ini, kami mohom maaf apabila terdapat kesalahan atau pun kekeliruan, sehingga bagi pembaca makalah ini dapat memberikan saran dan kritik yang semestinya.


Metro,   Desember 2014
Penulis










DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................... i
KATA PENGANTAR........................................................................................ ii
DAFTAR ISI..................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 1
A. Latar Belakang........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah.................................................................................... 1
C. Tujuan Makalah....................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN................................................................................... 3
A. Sejarah Masuknya Islam di Lampung..................................................... 3
B. Bukti Peradaban Islam di Lampung........................................................ 7
BAB III PENUTUP......................................................................................... 12
Kesimpulan................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 14







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kedatangan Islam di Lampung yang diawali masuknya pengaruh Hindu, kemudian masyarakat Lampung mengenal sistem pemerintahan yang dibahas secara global dengan menunjukkan bukti-bukti yang ditemukan di Lampung. Proses masuknya Islam di Lampung, tidak langsung diterima oleh masyarakat Lampung, namun masyarakat Lampung yang masuk Islam pun tidak lepas dari pengaruh Hindu. Penyebaran Islam di Lampung sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut, karena masih banyak pendapat yang simpang siur mengenai masuknya Islam di Lampung, dengan menggunakan metode atau jalur yang ditempuh dalam menyampaikan ajaran Islam.
Islam diperkirakan memasuki daerah Lampung sekitar abad ke-15, Melalui tiga arah antara lain: Pertama, dari daerah (Minangkabau), memasuki dataran tinggi belalau. Kedua dari daerah (palembang) memasuki daerah Komering pada permulaan abad ke-15 atau setidak- tidaknya di masa Adipati Arya Damar (1443) di Palembang. Ketiga, dari daerah banten oleh fatahillah sunan gunung jati, memasuki daerah Labuhan Meringgai sekarang. Keratuan Pugung di sekitar tahun 1525, sebelum direbutnya Sunda Kelapa (1526), dan yang paling berpengaruh Islam di Lampung yaitu dari Banten.
B.      Rumusan Masakah
1.    Bagaimana Sejarah Masuknya Islam di Lampung?
2.    Media Apa Saja yang digunakan untuk Penyebaran Islam di Lampung?
3.    Apa Bukti Peradapan Islam di Lampung?


C.    Tujuan Makalah
Tujuan Makalah ini adalah untuk mendapatkan pengetahuan yang konkret mengenai permasalahan yang menyangkut sejarah Islam di Lampung dengan penelitian yang sistematis dan komperehensif serta menemukan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang terangkum dalam rumusan masalah.
























BAB II
PEMBAHASAN

A.      Sejarah Masuknya Islam di Lampung
Islam masuk ke Lampung melalui tiga penjuru, yang mana seperti yang diterangkan dalam Lampung Pos Rabu, 11 Agustus 2010.  Agama Islam masuk Lampung sekitar abad ke-15 melalui tiga pintu utama. Dari arah barat (Minangkabau) agama ini masuk melalui Belalau (Lampung Barat), dari utara (Palembang) melalui Komering pada masa Adipati Arya Damar (1443), dan dari arah selatan (Banten) oleh Fatahillah atau Sunan Gunung Jati, melalui Labuhan Maringgai di Keratuan Pugung (1525).
Dari ketiga pintu masuk agama Islam itu, yang paling berpengaruh melalui jalur selatan. Ini bisa dilihat dari situs-situs sejarah seperti makam Tubagus Haji Muhammad Saleh di Pagardewa, Tulangbawang Barat, makam Tubagus Machdum di Kuala, Telukbetung Selatan, dan makam Tubagus Yahya di Lempasing, Kahuripan diduga keduanya masih keturunan Sultan Hasanuddin dari Banten. Di Ketapang, Lampung Selatan, terdapat makam Habib Alwi bin Ali Al-Idrus.
Selain itu, sebanyak 12 orang penggawa dari beberapa kebuaian di daerah ini mengunjungi Banten untuk belajar agama Islam. Mereka adalah penggawa dari Bumi Pemuka Bumi, penggawa dari Buai Subing, Buai Berugo, Buai Selagai, Buai Aji, Buai Teladas, Buai Bugis, Buai Mega Putih, Buai Muyi, Buai Cempaka, Buai Kametaro, dan Buai Bungo Mayang.
Di Belalau, Islam dibawa empat orang putra Pagaruyung (Minangkabau). Sebelumnya, di wilayah ini telah berdiri sebuah kerajaan legendaris bernama Sekala Brak, dengan penghuninya suku bangsa Tumi, penganut animisme.
Bangsa Tumi mengagungkan sebuah pohon bernama Belasa Kepampang atau nangka bercabang. Konon, pohon ini memiliki dua cabang, satunya nangka dan sisi yang lain adalah sebukau, sejenis kayu bergetah. Keistimewaan pohon ini, jika terkena getah kayu sebukau bisa menimbulkan koreng dan hanya dapat disembuhkan dengan getah nangka di sebelahnya. Selain itu, Islam di Lampung  Masuk lewat Budaya Setempat.  Meskipun  penyebaran agama Islam di Lampung dominan melalui selatan (Banten), bukan berarti bisa menjamah seluruh daerah di Lampung.  Dari utara, misalnya, Islam mudah masuk dari Pagaruyung (Minangkabau). Dari utara, Islam masuk dari Palembang melalui Komering.
Dari utara, Islam dibawa empat putra Raja Pagaruyung Maulana Umpu Ngegalang Paksi. Empat putra Maulana Umpu Ngegalang Paksi adalah Umpu Bejalan Di Way, Umpu Belunguh, Umpu Nyerupa, dan Umpu Pernong. Fase ini menjadi bagian terpenting dari eksistensi masyarakat Lampung. Kedatangan keempat umpu ini merupakan kemunduran dari Kerajaan Sekala Brak Kuno atau Buay Tumi yang merupakan penganut Hindu Bairawa/animisme. Momentum ini sekaligus tonggak berdirinya Kepaksian Sekala Brak atau Paksi Pak Sekala Brak yang berasaskan Islam. Umpu berasal dari kata ampu tuan (bahasa Pagaruyung), sebutan bagi anak raja-raja Pagaruyung Minangkabau. Di Sekala Brak, keempat umpu tersebut mendirikan suatu perserikatan yang dinamai Paksi Pak yang berarti empat serangkai atau empat sepakat.
Setelah perserikatan ini cukup kuat, suku bangsa Tumi dapat ditaklukkan dan sejak itu berkembanglah Islam di Sekala Brak. Pemimpin Buay Tumi dari Kerajaan Sekala Brak saat itu wanita yang bernama Ratu Sekerumong yang pada akhirnya dapat ditaklukkan Perserikatan Paksi Pak. Sedangkan penduduk yang belum memeluk Islam melarikan diri ke pesisir Krui dan terus menyeberang ke Jawa dan sebagian lagi ke Palembang.
Agar syiar agama Islam tidak mendapatkan hambatan, pohon belasa kepampang yang disembah suku bangsa Tumi ditebang untuk kemudian dibuat pepadun. Pepadun adalah singgasana yang hanya dapat digunakan atau diduduki pada saat penobatan saibatin raja-raja dari Paksi Pak Sekala Brak serta keturunannya. Ditebangnya pohon belasa kepampang ini pertanda jatuhnya kekuasaan Tumi sekaligus hilangnya animisme di Kerajaan Sekala Brak, Lampung Barat.
Islam juga erat kaitannya dengan adat dan budaya Lampung. Sebagai cikal bakal masyarakat suku Lampung, Paksi Pak Sekala Brak memasukkan nilai-nilai keislaman dalam semua peristiwa dan upacara adat. Hampir tidak ada acara adat yang tidak berbau Islam. Mulai dari kelahiran anak sampai perkawinan dan kematian selalu bernuansa Islam.
Menurut kitab Kuntara Raja Niti, orang Lampung memiliki sifat-sifat piil-pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri), juluk-adok (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya), nemui-nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu), nengah-nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis), sakai-sambaian (gotong royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya). Semua sifat itu fondasinya adalah islam.
Sedangkan pengaruh agama Islam dari arah (Palembang) masuk lewat Komering. Ketika itu, Palembang diperintah Arya Damar. Diperkirakan, Islam masuk dari utara dibawa Minak Kemala Bumi atau yang juga dikenal dengan nama Minak Patih Prajurit. Makamnya berada di Pagardewa, Tulangbawang Barat, bersebelahan dengan makam Tubagus Haji Muhammad Saleh dari Banten, yang juga tokoh penyebar agama Islam di daerah ini.

Dari selatan (Banten), Islam diperkirakan dibawa Fatahillah atau Sunan Gunung Jati melalui Labuhan Maringgai sekarang, tepatnya di Keratuan Pugung. Di sini, konon, Fatahillah menikah dengan Putri Sinar Alam, anak Ratu Pugung. Dari pernikahan ini melahirkan anak yang diberi nama Minak Kemala Ratu, yang kemudian menjadi cikal bakal Keratuan Darah Putih dan menurunkan Raden Intan, pahlawan Lampung yang juga tokoh penyebar Islam di pesisir. selain melalui jalur budaya, perdagangan juga ikut mewarnai masuknya Islam di Lampung. Salah satunya rombongan dari Tiongkok yang dipimpin Laksamana Cheng Ho, berniaga dari Palembang dan menyusuri Way Tulangbawang.
Awalnya Islam masuk ke Indonesia pada abad VII Masehi Selat Malaka. Perdagangan saat itu menghubungkan Dinasti Tang di China, Sriwijaya di Asia Tenggara, dan Bani Umayyah di Asia Barat. Kerajaan Sriwijaya mempunyai hubungan perdagangan yang sangat baik dengan saudagar dari China, India, Arab, dan Madagaskar. Hal itu bisa dipastikan dari temuan mata uang China, mulai dari periode Dinasti Tang (960-1279 M) sampai Dinasti Ming (abad 14-17 M).
Berkaitan dengan komoditas yang diperdagangkan, berita Arab dari Ibn al-Fakih (902 M), Abu Zayd (916 M), dan Mas’udi (955 M) menyebutkan beberapa di antaranya cengkih, pala, kapulaga, lada, pinang, kayu gaharu, kayu cendana, kapur barus, gading, timah, emas, perak, kayu hitam, kayu sapan, rempah-rempah, dan penyu. Barang-barang ini dibeli oleh pedagang asing, atau dibarter dengan porselen, katun, dan sutra
Menurut sumber-sumber China menjelang akhir perempatan ketiga abad VII, seorang pedagang Arab menjadi pemimpin permukiman Arab muslim di pesisir pantai Sumatera. Jalur perdagangan ini kemudian disambung dengan tali perkawinan antara saudagar dan masyarakat setempat, atau bahkan keluarga kerajaan. Dari hasil perkawinan inilah yang membuat perubahan pada kerajaan-kerajaan di Sumatera.
Salah satu penyebab banyak hilangnya situs-situs milik kerajaan di Sumatera karena dijual keluarga kerajaan kepada saudagar asing. Situs-situs sebelum Islam masuk berupa patung-patung sesembahan yang kemudian disingkirkan karena bertentangan dengan ajaran Islam. Berbeda dengan kerajaan di Pulau Jawa yang terus mempertahankan benda-benda budayanya, sebab memang Islam masuk sebagian besar melalui jalur budaya.
Barulah sekitar abad 14 perjalanan Laksamana Cheng Ho memasuki Way Tulang Bawang dan berinteraksi dengan warga sekitar. Selain itu juga ada pintu masuk lain, yakni Labuhan maringgai, terbukti ada beberapa daerah yang dinamai Lawangkuri di Gedungwani dari Sultan Banten. 
B. Bukti Peradaban islam di Lampung
Diantara bukti-bukti adanya peradaban Islam di Lampung pada masa itu adalah batu nisan Bercorak Kerajaan Samudera Pasai di Lampung Selatan, yaitu di Kampung Muarabatang dan Wonosobo (sekarang Tanggamus, red). “Batu nisan ini mempunyai bentuk dan corak sama dengan nisan milik Malik Al Saleh di Pasai yang berasal dari tahun 1297,” yang merupakan dua jejak masuknya Islam dari arah Malaka. Bukti lainnya itu berupa peta Kota Mekah dan baju adat bertuliskan aksara arab yang disimpan di Rumah Karya Niti Jaman di wilayah pesisir, tepatnya di Desa Condong, Kecamatan Rajabasa.
Peninggalan abad 15 sebagai pertanda Islam masuk ke sana antara lain Alquran bertulis tangan kuno dan Perjanjian Banten-Lampung. Perjanjian persaudaraan itu ditulis menggunakan bahasa arab. Selain itu, bukti lain adalah Undang-undang Adat atau Kuntara Raja Niti. Undang-undang ditulis dalam dua versi, yakni berbahasa Banten dengan aksara Arab dan bahasa Lampung dengan huruf ka-ga-nga.
Bukti lain juga dapat dilihat dari adanya Masjid Jamik Al-Anwar yang berdiri sejak 1839 yang terletak di Kelurahan Pesawahan, Telukbetung Selatan, Bandar Lampung. Yang di prakarsai oleh Muhammad Soleh yang sebelumnya hanya sebuah mushola kecil yang merupakan cikal bakal berdirinya masjid tersebut. Namun, tragedi meletusnya Gunung Krakatau tahun yang mengakibatkan air pasang sangat tinggi, merendam dan menghanyutkan banyak bangunan di kawasan Teluk Lampung, termasuk bangunan mushola yang dibangun pada 1839.
Pasca meletusnya gunung krakatau, penyebaran islam di lampung semakin pesat, Salah satunya di prakarsai oleh penyiar agama Islam asal Hadramaut, Yaman, yakni Habib Alwi bin Ali Al Idrus yang makamnya di Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan. Makam itu disertai dua makam yang konon murid sang Habib di dalam Masjid Nurul Huda, Desa Ketapang. Hingga kini makam itu terus diziarahi umat Islam dari berbagai daerah.
Salah satu peninggalan Habib dan pengikutnya saat tinggal di Bakauheni adalah sebuah sumur yang airnya tetap tawar walaupun terintrusi air laut. Namun, sumur itu baru bisa dilihat kalau air laut surut, Di dalam Masjid Nurul Huda ada dua nisan berdekatan tapi berbeda. Makam sang Habib tertutup kelambu, sedangkan makam di sebelahnya tidak. Konon makam itu merupakan makam murid kesayangan Habib.
Di papan pengumuman masjid terdapat foto bangunan surau dan silsilah keturunan Habib. Tercantum keturunan Habib Alwi Al-Idrus, mulai dari Abdurrohman bin Syekh Nul Karim, Abdurrohim bin Abdurrohman dan terakhir Abdurrouf bin Abdurrohim. Keturunan Habib yang masih hidup kabarnya ada di Labuhanmaringgai, Lamtim. Di sana juga terdapat makam saudara kandung Habib.

Di halaman Masjid Jami itu juga terdapat meriam kuno peninggalan Portugis pada 1811. Bunyi meriam ini kemudian menjadi tanda umat Islam sebagai awal berpuasa. Meriam kuno ini dibunyikan pada waktu-waktu tertentu yakni untuk menyerukan ibadah salat magrib, subuh, dan saat berbuka puasa.
Memasuki periode 1922–1962, keberadaan Masjid Jami Al Anwar memberikan makna besar terhadap nilai-nilai perjuangan menghadapi penjajahan Belanda. Masjid Al Anwar menjadi basis pendidikan dan pembinaan kader pejuang muslim.
Menurut buku Risalah Masjid Jami Al Anwar, semangat yang ditunjukkan jemaah luar biasa untuk mengikuti setiap kegiatan pembinaan mental dan spiritual oleh ulama di masjid itu. Saat itu, jemaah diajarkan sekaligus ditanamkan sikap-sikap mengenai semangat perjuangan dan nasionalisme.
Kedudukan Masjid Al Anwar yang sangat strategis dari aspek perjuangan, membuat ulama dan jemaah mencari solusi terbaik dan efektif menggalang dan mengorganisasikan kekuatan umat Islam di medan perjuangan. Kemudian, pada Oktober 1946, dibentuk Laskar Hizbullah dan Sabilillah yang dipimpin A. Rauf Ali dan H. Harun. Setelah dibentuknya Hizbullah dan Sabilillah, potensi persatuan antarumat Islam semakin erat untuk berjuang menghadapi penjajahan Belanda dan Jepang.
Setelah zaman kemerdekaan, kepengurusan Masjid Jami Al Anwar mengalami pembaruan, baik dari sumber daya manusia maupun pengorganisasiannya. Akhirnya, pada 1950 terbentuk kepengurusan baru yang diketuai Kgs. Abdul Hakim, sedangkan pembina umat dipercayakan kepada K.H. Nawawi dan K.H. Ahmad Toha dibantu para ulama, seperti K.H. S.D.M. Hadi Sulaiman, K.H.A. Majid Hamid, K.H.A. Rauf Ali, Ibrahim Magad, Kgs. H. M. Soleh Thoib, Ustaz Ramli, dan Kgs. M. Saleh Amin.
Sejalan dengan perkembangan zaman, tahun 1962 strategi dalam hal pola pembinaan umat Islam mengalami perubahan dan penyempurnaan, yakni mewujudkan pembangunan sekolah keagamaan, seperti (middle arabische school (MAS) dengan pimpinannya seorang keturunan Arab yang memiliki predikat sayid, yaitu Mohammad Said Ali. Lalu, pembangunan madrasah ibtidaiah (MI) di depan Masjid Al Anwar. Pembangunan ini diprakarsai Mas Agus Muhammad Amin alias H. Item bersama ulama dan saudagar Arab yang konon berjumlah 29 orang. Di sekolah ini pucuk pimpinan dipercayakan kepada Subroto.
Sedangkan bangunan tempat pembinaan dan pendidikan yang terakhir, yakni sekolah Muhammadiyah yang diprakarsai Kgs. H. Ateh, Kgs. H. Anang, dan Somad Solichin di Kelurahan Gedungpakuon dipindahkan ke Jalan Kampung Upas.
Bukti lainnya juga dapat dilihat dengan adanya  bedung masjid di pring sewu yang waktu itu dipimpin oleh K.H. Gholib seorang ulama yangbelajar dengan banyak guru. Yang mana beduk tersebut berfungsi sebagai tanda waktu sholat. Selain itu pesantren yang dibangun oleh K.H. Ghalib di pring sewu ini juga merupakan bukti  adanya peradaban islam di lampung.
Masjid Yaqin yang berdiri sejak 1912, juga merupakan bukti adanya peradaban islam di Lampung, Masjid itu kini terletak di Jalan Raden Intan, Bandar Lampung, (depan Kantor BRI Tanjungkarang) bisa dikatakan sebagai salah satu tempat ibadah umat muslim yang berperan dalam kesinambungan ajaran-ajaran Islam di Bandar Lampung.
Kemudian, pada 1925, masjid ini dipindahkan ke Enggal (lokasi masjid saat ini) dan diberi nama Masjid Enggal Perdana. Pada 1965, atribut masjid ini kembali diubah menjadi Masjid Jami Al Yaqin hingga sekarang.

Bukti lain juga dapat dilihat dari adanya syair dari Mohammad Saleh yang ditemukan 125 tahun pasca meletusnya gunung krakatau oleh suryadi seorang ahli filologi dan dosen/peneliti di Leiden University. Naskah syair tesebut berbunyi:
Hamba mengarang fakir yang hina
Muhammad Saleh nama yang sempurna
Karena hati gundah gulana
Melainkan Allah yang mengetahuinya
Penemuan naskahnya pun terpisah-pisah dalam bentuk naskah kuno yang tersimpan di enam negara, yakni Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, Malaysia, dan Indonesia. Yang mana naskah tersebut merupakan adanya saksi sejarah.
Bukti lain adalah adanya naskah-naskah kuno yang tersimpan di Masjid Jami’ Al Anwar. Sayang sekali, 400-an kitab yang ditulis dengan aksara Arab Melayu yang disimpan digudang kurang terawat. Kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal, kitab-kitab itu adalah “harta karun” yang tak ternilai harganya.








BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dengan diadakannya kegiatan pembuatan makalah tentang Kedatangan Islam di Lampung. Penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan, diantaranya yaitu:
1.      Agama Islam masuk Lampung sekitar abad ke-15 melalui tiga pintu utama. Dari arah barat (Minangkabau) agama ini masuk melalui Belalau (Lampung Barat), dari utara (Palembang) melalui Komering pada masa Adipati Arya Damar (1443), dan dari arah selatan (Banten) oleh Fatahillah atau Sunan Gunung Jati, melalui Labuhan Maringgai di Keratuan Pugung (1525).
2.      Penyebaran Islam di Lampung melalui beberapa jalur, diantaranya:
a.         Daerah-daerah di Lampung.
b.        Kebudayaan.
c.         Perkawinan.
d.        Perdagangan.
3.      Bukti-bukti Peradaban di Lampung yaitu:
a.         Batu nisan Bercorak Kerajaan Samudera Pasai di Lampung Selatan.
b.        Peta Kota Mekah dan baju adat bertuliskan aksara arab yang disimpan di Rumah Karya Niti Jaman di wilayah pesisir.
c.         Alquran bertulis tangan kuno dan Perjanjian Banten-Lampung.
d.        Undang-undang Adat atau Kuntara Raja Niti.
e.         Adanya Masjid Jamik Al-Anwar yang berdiri sejak 1839 yang terletak di Kelurahan Pesawahan.

f.         Makam Habib Alwi bin Ali Al Idrus dan murid sang Habib di dalam Masjid Nurul Huda.
g.        Dibangunnya sekolah keagamaan.
h.        Bedung masjid di pring sewu yang waktu itu dipimpin oleh K.H. Gholib.
i.          Adanya pesantren yang dibangun oleh K.H. Ghalib di pring sewu.
j.          Masjid Yaqin yang berdiri sejak 1912 di Jalan Raden Intan, Bandar Lampung.
k.        Adanya syair dari Mohammad Saleh dan adanya naskah-naskah kuno yang tersimpan di Masjid Jami’ Al Anwar.




















DAFTAR PUSTAKA

Mundzirin, Yusuf (ed.). 2006. Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka.
Yakub, T. Ismail. 2008. Sejarah Islam di Indonesia. Jakarta: Wijaya, t.t.
Yatim, Badri. 2004. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.


No comments:

Post a Comment

Designed By VungTauZ.Com