Sejarah
Peradaban Islam “ Di Lampung
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah sehingga
makalah ini yang berjudul Kedatangan
Islam di Lampung dapat terselesaikan
dengan baik. Makalah ini dibuat sebagai salah satu pemenuhan tugas kami pada
semester ini. Makalah ini juga terselesaikan berkat dukungan dari :
1.
Dosen pengampu mata
kuliah Sejarah Peradaban Islam.
2. Orang
tua yang memberikan dukungan baik moril maupun materil.
3.
Serta teman-teman yang
selalu memberikan motivasi dan kritikan yang positif.
Selain
sebagai pemenuhan tugas, makalah ini juga dimaksudkan agar bermanfaat baik bagi
yang membaca maupun menulis,
sehingga dapat memahami tentang penulisan kata secara lebih mendalam.
Tak
ada gading yang tak retak, begitu pula pada makalah ini, kami mohom maaf
apabila terdapat kesalahan atau pun kekeliruan, sehingga bagi pembaca makalah
ini dapat memberikan saran dan kritik yang semestinya.
Metro, Desember 2014
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL........................................................................................... i
KATA
PENGANTAR........................................................................................ ii
DAFTAR
ISI..................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN................................................................................. 1
A.
Latar Belakang........................................................................................ 1
B.
Rumusan Masalah.................................................................................... 1
C.
Tujuan Makalah....................................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN................................................................................... 3
A.
Sejarah Masuknya Islam di Lampung..................................................... 3
B.
Bukti Peradaban Islam di Lampung........................................................ 7
BAB
III PENUTUP......................................................................................... 12
Kesimpulan................................................................................................. 12
DAFTAR
PUSTAKA....................................................................................... 14
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kedatangan Islam di Lampung yang diawali masuknya pengaruh Hindu,
kemudian masyarakat Lampung mengenal sistem pemerintahan yang dibahas secara
global dengan menunjukkan bukti-bukti yang ditemukan di Lampung. Proses
masuknya Islam di Lampung, tidak langsung diterima oleh masyarakat Lampung,
namun masyarakat Lampung yang masuk Islam pun tidak lepas dari pengaruh Hindu.
Penyebaran Islam di Lampung sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut, karena
masih banyak pendapat yang simpang siur mengenai masuknya Islam di Lampung,
dengan menggunakan metode atau jalur yang ditempuh dalam menyampaikan ajaran
Islam.
Islam diperkirakan memasuki daerah Lampung sekitar abad ke-15,
Melalui tiga arah antara lain: Pertama, dari daerah (Minangkabau), memasuki
dataran tinggi belalau. Kedua dari daerah (palembang) memasuki daerah Komering
pada permulaan abad ke-15 atau setidak- tidaknya di masa Adipati Arya Damar
(1443) di Palembang. Ketiga, dari daerah banten oleh fatahillah sunan gunung
jati, memasuki daerah Labuhan Meringgai sekarang. Keratuan Pugung di sekitar
tahun 1525, sebelum direbutnya Sunda Kelapa (1526), dan yang paling berpengaruh
Islam di Lampung yaitu dari Banten.
B. Rumusan Masakah
1. Bagaimana Sejarah Masuknya Islam di Lampung?
2. Media Apa Saja yang digunakan untuk Penyebaran Islam di Lampung?
3. Apa Bukti Peradapan Islam di Lampung?
C. Tujuan Makalah
Tujuan Makalah ini adalah
untuk mendapatkan pengetahuan yang konkret mengenai permasalahan yang
menyangkut sejarah Islam di Lampung dengan penelitian yang sistematis dan
komperehensif serta menemukan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang
terangkum dalam rumusan masalah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Masuknya Islam
di Lampung
Islam masuk ke Lampung melalui tiga
penjuru, yang mana seperti yang diterangkan dalam Lampung Pos Rabu, 11 Agustus
2010. Agama Islam masuk Lampung sekitar abad ke-15 melalui tiga pintu
utama. Dari arah barat (Minangkabau) agama ini masuk melalui Belalau (Lampung
Barat), dari utara (Palembang) melalui Komering pada masa Adipati Arya Damar
(1443), dan dari arah selatan (Banten) oleh Fatahillah atau Sunan Gunung Jati,
melalui Labuhan Maringgai di Keratuan Pugung (1525).
Dari ketiga pintu masuk agama Islam
itu, yang paling berpengaruh melalui jalur selatan. Ini bisa dilihat dari
situs-situs sejarah seperti makam Tubagus Haji Muhammad Saleh di Pagardewa,
Tulangbawang Barat, makam Tubagus Machdum di Kuala, Telukbetung Selatan, dan
makam Tubagus Yahya di Lempasing, Kahuripan diduga keduanya masih keturunan
Sultan Hasanuddin dari Banten. Di Ketapang, Lampung Selatan, terdapat makam
Habib Alwi bin Ali Al-Idrus.
Selain itu, sebanyak 12 orang
penggawa dari beberapa kebuaian di daerah ini mengunjungi Banten untuk belajar agama
Islam. Mereka adalah penggawa dari Bumi Pemuka Bumi, penggawa dari Buai Subing,
Buai Berugo, Buai Selagai, Buai Aji, Buai Teladas, Buai Bugis, Buai Mega Putih,
Buai Muyi, Buai Cempaka, Buai Kametaro, dan Buai Bungo Mayang.
Di Belalau, Islam dibawa empat
orang putra Pagaruyung (Minangkabau). Sebelumnya, di wilayah ini telah berdiri
sebuah kerajaan legendaris bernama Sekala Brak, dengan penghuninya suku bangsa
Tumi, penganut animisme.
Bangsa Tumi mengagungkan sebuah
pohon bernama Belasa Kepampang atau nangka bercabang. Konon, pohon ini memiliki
dua cabang, satunya nangka dan sisi yang lain adalah sebukau, sejenis kayu
bergetah. Keistimewaan pohon ini, jika terkena getah kayu sebukau bisa
menimbulkan koreng dan hanya dapat disembuhkan dengan getah nangka di
sebelahnya. Selain itu, Islam di Lampung Masuk lewat Budaya Setempat.
Meskipun penyebaran agama Islam di Lampung dominan melalui selatan
(Banten), bukan berarti bisa menjamah seluruh daerah di Lampung. Dari
utara, misalnya, Islam mudah masuk dari Pagaruyung (Minangkabau). Dari utara,
Islam masuk dari Palembang melalui Komering.
Dari utara, Islam dibawa empat
putra Raja Pagaruyung Maulana Umpu Ngegalang Paksi. Empat putra Maulana Umpu
Ngegalang Paksi adalah Umpu Bejalan Di Way, Umpu Belunguh, Umpu Nyerupa, dan
Umpu Pernong. Fase ini menjadi bagian terpenting dari eksistensi masyarakat
Lampung. Kedatangan keempat umpu ini merupakan kemunduran dari Kerajaan Sekala
Brak Kuno atau Buay Tumi yang merupakan penganut Hindu Bairawa/animisme. Momentum
ini sekaligus tonggak berdirinya Kepaksian Sekala Brak atau Paksi Pak Sekala
Brak yang berasaskan Islam. Umpu berasal dari kata ampu tuan (bahasa
Pagaruyung), sebutan bagi anak raja-raja Pagaruyung Minangkabau. Di Sekala
Brak, keempat umpu tersebut mendirikan suatu perserikatan yang dinamai Paksi
Pak yang berarti empat serangkai atau empat sepakat.
Setelah perserikatan ini cukup
kuat, suku bangsa Tumi dapat ditaklukkan dan sejak itu berkembanglah Islam di
Sekala Brak. Pemimpin Buay Tumi dari Kerajaan Sekala Brak saat itu wanita yang
bernama Ratu Sekerumong yang pada akhirnya dapat ditaklukkan Perserikatan Paksi
Pak. Sedangkan penduduk yang belum memeluk Islam melarikan diri ke pesisir Krui
dan terus menyeberang ke Jawa dan sebagian lagi ke Palembang.
Agar syiar agama Islam tidak
mendapatkan hambatan, pohon belasa kepampang yang disembah suku bangsa Tumi
ditebang untuk kemudian dibuat pepadun. Pepadun adalah singgasana yang hanya
dapat digunakan atau diduduki pada saat penobatan saibatin raja-raja dari Paksi
Pak Sekala Brak serta keturunannya. Ditebangnya pohon belasa kepampang ini
pertanda jatuhnya kekuasaan Tumi sekaligus hilangnya animisme di Kerajaan
Sekala Brak, Lampung Barat.
Islam juga erat kaitannya dengan
adat dan budaya Lampung. Sebagai cikal bakal masyarakat suku Lampung, Paksi Pak
Sekala Brak memasukkan nilai-nilai keislaman dalam semua peristiwa dan upacara
adat. Hampir tidak ada acara adat yang tidak berbau Islam. Mulai dari kelahiran
anak sampai perkawinan dan kematian selalu bernuansa Islam.
Menurut kitab Kuntara Raja Niti,
orang Lampung memiliki sifat-sifat piil-pusanggiri (malu melakukan pekerjaan
hina menurut agama serta memiliki harga diri), juluk-adok (mempunyai
kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya), nemui-nyimah (saling
mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu), nengah-nyampur
(aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis), sakai-sambaian
(gotong royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya). Semua
sifat itu fondasinya adalah islam.
Sedangkan pengaruh agama Islam dari
arah (Palembang) masuk lewat Komering. Ketika itu, Palembang diperintah Arya
Damar. Diperkirakan, Islam masuk dari utara dibawa Minak Kemala Bumi atau yang
juga dikenal dengan nama Minak Patih Prajurit. Makamnya berada di Pagardewa,
Tulangbawang Barat, bersebelahan dengan makam Tubagus Haji Muhammad Saleh dari
Banten, yang juga tokoh penyebar agama Islam di daerah ini.
Dari selatan (Banten), Islam
diperkirakan dibawa Fatahillah atau Sunan Gunung Jati melalui Labuhan Maringgai
sekarang, tepatnya di Keratuan Pugung. Di sini, konon, Fatahillah menikah
dengan Putri Sinar Alam, anak Ratu Pugung. Dari pernikahan ini melahirkan anak
yang diberi nama Minak Kemala Ratu, yang kemudian menjadi cikal bakal Keratuan
Darah Putih dan menurunkan Raden Intan, pahlawan Lampung yang juga tokoh penyebar
Islam di pesisir. selain melalui jalur budaya, perdagangan juga ikut mewarnai
masuknya Islam di Lampung. Salah satunya rombongan dari Tiongkok yang dipimpin
Laksamana Cheng Ho, berniaga dari Palembang dan menyusuri Way Tulangbawang.
Awalnya Islam masuk ke Indonesia
pada abad VII Masehi Selat Malaka. Perdagangan saat itu menghubungkan Dinasti
Tang di China, Sriwijaya di Asia Tenggara, dan Bani Umayyah di Asia Barat. Kerajaan
Sriwijaya mempunyai hubungan perdagangan yang sangat baik dengan saudagar dari
China, India, Arab, dan Madagaskar. Hal itu bisa dipastikan dari temuan mata
uang China, mulai dari periode Dinasti Tang (960-1279 M) sampai Dinasti Ming
(abad 14-17 M).
Berkaitan dengan komoditas yang
diperdagangkan, berita Arab dari Ibn al-Fakih (902 M), Abu Zayd (916 M), dan
Mas’udi (955 M) menyebutkan beberapa di antaranya cengkih, pala, kapulaga,
lada, pinang, kayu gaharu, kayu cendana, kapur barus, gading, timah, emas,
perak, kayu hitam, kayu sapan, rempah-rempah, dan penyu. Barang-barang ini
dibeli oleh pedagang asing, atau dibarter dengan porselen, katun, dan sutra
Menurut sumber-sumber China
menjelang akhir perempatan ketiga abad VII, seorang pedagang Arab menjadi
pemimpin permukiman Arab muslim di pesisir pantai Sumatera. Jalur perdagangan
ini kemudian disambung dengan tali perkawinan antara saudagar dan masyarakat
setempat, atau bahkan keluarga kerajaan. Dari hasil perkawinan inilah yang
membuat perubahan pada kerajaan-kerajaan di Sumatera.
Salah satu penyebab banyak
hilangnya situs-situs milik kerajaan di Sumatera karena dijual keluarga kerajaan
kepada saudagar asing. Situs-situs sebelum Islam masuk berupa patung-patung
sesembahan yang kemudian disingkirkan karena bertentangan dengan ajaran Islam.
Berbeda dengan kerajaan di Pulau Jawa yang terus mempertahankan benda-benda
budayanya, sebab memang Islam masuk sebagian besar melalui jalur budaya.
Barulah sekitar abad 14 perjalanan
Laksamana Cheng Ho memasuki Way Tulang Bawang dan berinteraksi dengan warga
sekitar. Selain itu juga ada pintu masuk lain, yakni Labuhan maringgai,
terbukti ada beberapa daerah yang dinamai Lawangkuri di Gedungwani dari Sultan
Banten.
B.
Bukti Peradaban islam di Lampung
Diantara bukti-bukti adanya
peradaban Islam di Lampung pada masa itu adalah batu nisan Bercorak Kerajaan
Samudera Pasai di Lampung Selatan, yaitu di Kampung Muarabatang dan Wonosobo
(sekarang Tanggamus, red). “Batu nisan ini mempunyai bentuk dan corak sama
dengan nisan milik Malik Al Saleh di Pasai yang berasal dari tahun 1297,” yang
merupakan dua jejak masuknya Islam dari arah Malaka. Bukti lainnya itu berupa peta Kota Mekah dan baju adat bertuliskan
aksara arab yang disimpan di Rumah Karya Niti Jaman di wilayah pesisir,
tepatnya di Desa Condong, Kecamatan Rajabasa.
Peninggalan abad 15 sebagai
pertanda Islam masuk ke sana antara lain Alquran bertulis tangan kuno dan
Perjanjian Banten-Lampung. Perjanjian persaudaraan itu ditulis menggunakan
bahasa arab. Selain itu, bukti lain adalah Undang-undang Adat atau Kuntara Raja
Niti. Undang-undang ditulis dalam dua versi, yakni berbahasa Banten dengan
aksara Arab dan bahasa Lampung dengan huruf ka-ga-nga.
Bukti lain juga dapat dilihat dari
adanya Masjid Jamik Al-Anwar yang berdiri sejak 1839 yang terletak di Kelurahan
Pesawahan, Telukbetung Selatan, Bandar Lampung. Yang di prakarsai oleh Muhammad
Soleh yang sebelumnya hanya sebuah mushola kecil yang merupakan cikal bakal
berdirinya masjid tersebut. Namun, tragedi meletusnya Gunung Krakatau tahun
yang mengakibatkan air pasang sangat tinggi, merendam dan menghanyutkan banyak
bangunan di kawasan Teluk Lampung, termasuk bangunan mushola yang dibangun pada
1839.
Pasca meletusnya gunung krakatau,
penyebaran islam di lampung semakin pesat, Salah satunya di prakarsai oleh
penyiar agama Islam asal Hadramaut, Yaman, yakni Habib Alwi bin Ali Al Idrus
yang makamnya di Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan. Makam itu disertai dua
makam yang konon murid sang Habib di dalam Masjid Nurul Huda, Desa Ketapang.
Hingga kini makam itu terus diziarahi umat Islam dari berbagai daerah.
Salah satu peninggalan Habib dan
pengikutnya saat tinggal di Bakauheni adalah sebuah sumur yang airnya tetap
tawar walaupun terintrusi air laut. Namun, sumur itu baru bisa dilihat kalau
air laut surut, Di dalam Masjid Nurul Huda ada dua nisan berdekatan tapi
berbeda. Makam sang Habib tertutup kelambu, sedangkan makam di sebelahnya
tidak. Konon makam itu merupakan makam murid kesayangan Habib.
Di papan pengumuman masjid terdapat
foto bangunan surau dan silsilah keturunan Habib. Tercantum keturunan Habib
Alwi Al-Idrus, mulai dari Abdurrohman bin Syekh Nul Karim, Abdurrohim bin
Abdurrohman dan terakhir Abdurrouf bin Abdurrohim. Keturunan Habib yang masih
hidup kabarnya ada di Labuhanmaringgai, Lamtim. Di sana juga terdapat makam
saudara kandung Habib.
Di halaman Masjid Jami itu juga
terdapat meriam kuno peninggalan Portugis pada 1811. Bunyi meriam ini kemudian
menjadi tanda umat Islam sebagai awal berpuasa. Meriam kuno ini dibunyikan pada
waktu-waktu tertentu yakni untuk menyerukan ibadah salat magrib, subuh, dan
saat berbuka puasa.
Memasuki periode 1922–1962,
keberadaan Masjid Jami Al Anwar memberikan makna besar terhadap nilai-nilai
perjuangan menghadapi penjajahan Belanda. Masjid Al Anwar menjadi basis pendidikan
dan pembinaan kader pejuang muslim.
Menurut buku Risalah Masjid Jami Al
Anwar, semangat yang ditunjukkan jemaah luar biasa untuk mengikuti setiap
kegiatan pembinaan mental dan spiritual oleh ulama di masjid itu. Saat itu,
jemaah diajarkan sekaligus ditanamkan sikap-sikap mengenai semangat perjuangan
dan nasionalisme.
Kedudukan Masjid Al Anwar yang
sangat strategis dari aspek perjuangan, membuat ulama dan jemaah mencari solusi
terbaik dan efektif menggalang dan mengorganisasikan kekuatan umat Islam di
medan perjuangan. Kemudian, pada Oktober 1946, dibentuk Laskar Hizbullah dan
Sabilillah yang dipimpin A. Rauf Ali dan H. Harun. Setelah dibentuknya
Hizbullah dan Sabilillah, potensi persatuan antarumat Islam semakin erat untuk
berjuang menghadapi penjajahan Belanda dan Jepang.
Setelah zaman kemerdekaan,
kepengurusan Masjid Jami Al Anwar mengalami pembaruan, baik dari sumber daya
manusia maupun pengorganisasiannya. Akhirnya, pada 1950 terbentuk kepengurusan
baru yang diketuai Kgs. Abdul Hakim, sedangkan pembina umat dipercayakan kepada
K.H. Nawawi dan K.H. Ahmad Toha dibantu para ulama, seperti K.H. S.D.M. Hadi
Sulaiman, K.H.A. Majid Hamid, K.H.A. Rauf Ali, Ibrahim Magad, Kgs. H. M. Soleh
Thoib, Ustaz Ramli, dan Kgs. M. Saleh Amin.
Sejalan dengan perkembangan zaman,
tahun 1962 strategi dalam hal pola pembinaan umat Islam mengalami perubahan dan
penyempurnaan, yakni mewujudkan pembangunan sekolah keagamaan, seperti (middle
arabische school (MAS) dengan pimpinannya seorang keturunan Arab yang memiliki
predikat sayid, yaitu Mohammad Said Ali. Lalu, pembangunan madrasah ibtidaiah
(MI) di depan Masjid Al Anwar. Pembangunan ini diprakarsai Mas Agus Muhammad
Amin alias H. Item bersama ulama dan saudagar Arab yang konon berjumlah 29
orang. Di sekolah ini pucuk pimpinan dipercayakan kepada Subroto.
Sedangkan bangunan tempat pembinaan
dan pendidikan yang terakhir, yakni sekolah Muhammadiyah yang diprakarsai Kgs.
H. Ateh, Kgs. H. Anang, dan Somad Solichin di Kelurahan Gedungpakuon
dipindahkan ke Jalan Kampung Upas.
Bukti lainnya juga dapat dilihat
dengan adanya bedung masjid di pring sewu yang waktu itu dipimpin oleh
K.H. Gholib seorang ulama yangbelajar dengan banyak guru. Yang mana beduk
tersebut berfungsi sebagai tanda waktu sholat. Selain itu pesantren yang
dibangun oleh K.H. Ghalib di pring sewu ini juga merupakan bukti adanya
peradaban islam di lampung.
Masjid Yaqin yang berdiri sejak
1912, juga merupakan bukti adanya peradaban islam di Lampung, Masjid itu kini
terletak di Jalan Raden Intan, Bandar Lampung, (depan Kantor BRI Tanjungkarang)
bisa dikatakan sebagai salah satu tempat ibadah umat muslim yang berperan dalam
kesinambungan ajaran-ajaran Islam di Bandar Lampung.
Kemudian, pada 1925, masjid ini
dipindahkan ke Enggal (lokasi masjid saat ini) dan diberi nama Masjid Enggal
Perdana. Pada 1965, atribut masjid ini kembali diubah menjadi Masjid Jami Al
Yaqin hingga sekarang.
Bukti lain juga dapat dilihat dari
adanya syair dari Mohammad Saleh yang ditemukan 125 tahun pasca meletusnya
gunung krakatau oleh suryadi seorang ahli filologi dan dosen/peneliti di Leiden
University. Naskah syair tesebut berbunyi:
Hamba
mengarang fakir yang hina
Muhammad
Saleh nama yang sempurna
Karena
hati gundah gulana
Melainkan
Allah yang mengetahuinya
Penemuan naskahnya pun terpisah-pisah
dalam bentuk naskah kuno yang tersimpan di enam negara, yakni Inggris, Belanda,
Jerman, Rusia, Malaysia, dan Indonesia. Yang mana naskah tersebut merupakan
adanya saksi sejarah.
Bukti lain adalah adanya
naskah-naskah kuno yang tersimpan di Masjid Jami’ Al Anwar. Sayang sekali,
400-an kitab yang ditulis dengan aksara Arab Melayu yang disimpan digudang
kurang terawat. Kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal, kitab-kitab itu
adalah “harta karun” yang tak ternilai harganya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dengan
diadakannya kegiatan pembuatan makalah tentang Kedatangan Islam di Lampung. Penulis dapat mengambil
beberapa kesimpulan, diantaranya
yaitu:
1. Agama
Islam masuk Lampung sekitar abad ke-15 melalui tiga pintu utama. Dari arah
barat (Minangkabau) agama ini masuk melalui Belalau (Lampung Barat), dari utara
(Palembang) melalui Komering pada masa Adipati Arya Damar (1443), dan dari arah
selatan (Banten) oleh Fatahillah atau Sunan Gunung Jati, melalui Labuhan
Maringgai di Keratuan Pugung (1525).
2. Penyebaran
Islam di Lampung melalui beberapa jalur, diantaranya:
a.
Daerah-daerah di
Lampung.
b.
Kebudayaan.
c.
Perkawinan.
d.
Perdagangan.
3. Bukti-bukti
Peradaban di Lampung yaitu:
a.
Batu nisan Bercorak
Kerajaan Samudera Pasai di Lampung Selatan.
b.
Peta Kota Mekah dan
baju adat bertuliskan aksara arab yang disimpan di Rumah Karya Niti Jaman di
wilayah pesisir.
c.
Alquran bertulis tangan
kuno dan Perjanjian Banten-Lampung.
d.
Undang-undang Adat atau
Kuntara Raja Niti.
e.
Adanya Masjid Jamik
Al-Anwar yang berdiri sejak 1839 yang terletak di Kelurahan Pesawahan.
f.
Makam Habib Alwi bin
Ali Al Idrus dan murid sang Habib di dalam Masjid Nurul Huda.
g.
Dibangunnya sekolah
keagamaan.
h.
Bedung masjid di pring
sewu yang waktu itu dipimpin oleh K.H. Gholib.
i.
Adanya pesantren yang
dibangun oleh K.H. Ghalib di pring sewu.
j.
Masjid Yaqin yang
berdiri sejak 1912 di Jalan Raden Intan, Bandar Lampung.
k.
Adanya syair dari
Mohammad Saleh dan adanya naskah-naskah kuno yang tersimpan di Masjid Jami’ Al
Anwar.
DAFTAR
PUSTAKA
Mundzirin, Yusuf (ed.). 2006. Sejarah Peradaban Islam di
Indonesia. Yogyakarta: Pustaka.
Yakub, T. Ismail. 2008. Sejarah Islam di Indonesia.
Jakarta: Wijaya, t.t.
Yatim, Badri. 2004. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah
II. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
No comments:
Post a Comment