Breaking News

Tuesday, 22 December 2015

PENGARUH BUDAYA TERHADAP MANAJEMEN




MAKALAH
PENGARUH BUDAYA TERHADAP MANAJEMEN


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Ancam nasionalisasi dapat juga mempengaruhi sikap-sikap manajemen dn semangat kewirasastaan. Beberapa dari kondisi ini mungkin dapat juga mempengaruhi sikap manajemen dan semangat kewiraswastaan. Beberapa dari kondisi ini mungkin dapat diacu sebagai faktor-faktor khususnya kecakapan dan kemampuan, keinginan akan hasil –hasil produksi dan jasa-jasa serta adat kebiasaan umum dan kepercayaan dalam suatu negara asing. Fakta bahwa terdapat perbedaan-perbedaan budaya itu menyebabkan setengah orang menyimpulkan, bahwa kerangka pengetahuan manajemen, sebagai yang terdapat amerika serikat, hanyalah berlaku dalam masyarakat-masyarakat serupa dengan yang ada diamerika serikat. Mereka yang bertahan bahwa manajemen tidak dapat dengan efektif diekspor dari negara yang satu kenegara yang lain kepada kesulitan-kesulitan yang diciptakan dalam hubungan-hubungan antar perorangan, termasuk kedalmnya, hubungan-hubungan antar manajer dan non manajer dan antar para manajer dan penjual, pelanggan-pelanggan, pemilik-pemilik, pemerintah dan saingan-saingan.

B.     Rumusan Masalah
“Bagaimana Pengaruh Budaya Terhadap Manajemen”
C.     Tujuan
Unuk dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksud dengan manajemen bahkan mengenai pembahasannya. Baik pembahasan mengenai manfaat, tujuan, maupun pengaruh manajemen. Seperti pada makalah ini kita dapat mengetahui pengaruh budaya terhadap manajeman.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Persyaratan manajemen internasional
Sampai titik ini, manajemen sudah dibahas dan istilah-istilahnya bagaimana caranya organisasi-organisasi amerika beroperasi diamerika serikat. Suatu kecenderungan penting zaman sekarang dan yang akan datang meningkatkan internasionalisasi kegiatan bisnis. Kegiatan-kegiatan bisnis internasional meluas dari mengekspor barang-barang dari bangsa lain sampai melakukan operasi manufactur pada bangsa-bangsa lain. kegiatan-kegiatan ini menyajikan tantangan-tantangan dan praktek-praktek baru bagi manajer. Walaupun tidak semua organisasi terlibat dalam kegiatan-kegiatan bisnis internasional, namun peristiwa yang banyak memepengaruhi manajemen orrganisasi-organisasi amerika terjadi setiap hari pada bangsa bangsa lain. ini sudah terbukti ditahun-tahun akhir ini dipasaran minyak internasional tidak hanya organisasi-organisasi amerika yang dibiarkan tak tersentuh karena peristiwa ini. jadi makin bertambah pentingnya, bahwa para manajer mempunyai pengertian dari sifat kegiatan bisnis internasional.

B.     Politik dan kebudayaan
Faktor- faktor plitik dan dan pemerintah dinegara-negara asing barangkali merupakan hal yang terpenting dari semua kondisi yang memepengaruhi manajemen. Politik sebuah negara yang memepengaruhi pemerintah yang berkuasa, mempengaruhi pajak-pajak, pengawasan-pengawasan, impir-ekspor, pembatasan keuangan, peraturan mengenai operasi-operasi dan pengembalian pengahasilan-penghasilan kenegaraan asal semua itu sangatlah penting bagi manajer. Kekuasaan perpajakan haruslah selalu diperhitungkan oleh seorang manajer.  Misalnya, jerman barat sekarang ini menawarkan perangsang-perangsang perpajakan yang menarik sehubungan dengan penanaman modal. Suatu pemerintah dapat menolak suatu lisensi impor atau ekspor untuk barang-barang atau jasa-jasa yag dianggapnya tidak penting dan tidak diinginkan dalam tujuan-tujuan yang menyeluruh, sehingga pada dasarnya manajer itu dipaksa untuk menyetujui keinginan-keinginan badan politik itu. Selanjutnya pemerintah dapat menggandakan modal yang diperlukan oleh seorang manajer atau menawarkan suatu badan yang disponsori oleh seorang pemerintah, manajer dapat memberikan dan merencanakan urusan-urusan mereka.
Sebuah pemerintah asing dapat memberikan dorongan atau menghalangi organisasi-organisasi diluar wewenang langsungnya dengan menggunakan pengawasan atas penghasilan-penghasilan, dengan memberikan kemudahan dan pertimbangan khusus, atau berlainan dengan itu, dengan menetapkan persyaratan-persyaratan pemulangan ketanah air mereka. Ancam nasionalisasi dapat juga mempengaruhi sikap-sikap manajemen dn semangat kewirasastaan. Beberapa dari kondisi ini mungkin dapat juga mempengaruhi sikap manajemen dan semangat kewiraswastaan. Beberapa dari kondisi ini mungkin dapat diacu sebagai faktor-faktor khususnya kecakapan dan kemampuan, keinginan akan hasil –hasil produksi dan jasa-jasa serta adat kebiasaan umum dan kepercayaan dalam suatu negara asing. Fakta bahwa terdapat perbedaan-perbedaan budaya itu menyebabkan setengah orang menyimpulkan, bahwa kerangka pengetahuan manajemen, sebagai yang terdapat amerika serikat, hanyalah berlaku dalam masyarakat-masyarakat serupa dengan yang ada diamerika serikat. Mereka yang bertahan bahwa manajemen tidak dapat dengan efektif diekspor dari negara yang satu kenegara yang lain kepada kesulitan-kesulitan yang diciptakan dalam hubungan-hubungan antar perorangan, termasuk kedalmnya, hubungan-hubungan antar manajer dan non manajer dan antar para manajer dan penjual, pelanggan-pelanggan, pemilik-pemilik, pemerintah dan saingan-saingan.
Pengetahuan menejemen adalah universal dalam hal struktur konsep-konsep dan prinsip-prinsip adalah berlaku terlepas dari lokasi fisik bahkan walaupun pendekatan dan tehnik-tehnik yang digunakan dalam pemakaian konsep-konsep dan prinsip- prinsip itu akan berbeda pula.
C.    Manajemen jepang
Karena keberhasilan ekonomi jepang, akhir-akhir ini banyak perhatian diberikan pada sistem manajemennya. Ada 4 bidang khusus mengenai sistem ekonomi jepang yaitu :
1.      Paternalisme, hubungan antar majikan dan pegawai-pegawai dijepang sangatlah paternalisme ke-bapak-an. Hubungan ini sudah berkembang bertahun-tahun. Pekerjaan jepang tidak memandang tempat kerja semata sebagai suatu tempt mencari nafkah. Tetapi tempat kerja dipandang sebagai tempat kepunyaanya. Masyarakat kerja itu merupakan kelompok pengacuan peranan “role refrence group” bagi pegawai-pegawai. Perasaan kebapakan dipelihara oleh konsep pekerjaan selama hidup. Hampir semua koorporasi-koorporasi jepang yang besar menguji pegawai-pegawai dengan harapan menahan mereka sampai pensiun, sikap ini jaminan diam-diam terhadap pemecatan. Sistem pemberian ganjaran mereka, yang terutama sekali didasarkan atas senioritas, memperkuat pula iklim “kekeluargaan”.
2.      Participatory management, bagi seorang manajer jepang mengetahui bagaimana perasaan seorang bawahan mengenai suatu isu tertentu, adalah vital, karena pengetahuan ini sangatlah sulit untuk membuat keputusan, yang mempertahankan, kedamaian, keselarasan dan kerjasama kelompok kerja itu. Manajemen partisipatif mulai dengan seorang pegawai pada tingkat organisasi yang rendah menggariskan suatu ide atau saran pemecahan suatu persoalan dengan sebuah penjelasan mengenai bagaimana cara mengimplementasikan rekomendasi itu. Sumbangan itu diedarkan di kalangan semua orang yang terkena oleh saran itu dan berikutnya diedarkan kepada atasan berturut-turut. Maksudnya adalah untuk mencapai suatu konsesnsus tidak saja dikalangan anggota-anggota kelompok, tetapi juga dikalangan para manajer yang terkena oleh keputusan itu. Sehabisnya pembahasan yang dicapai suatu keputusan-keputusan  itu dianggap sebagai suatu yang mengikut sertakan semua pihak terlibat dalam pembahasan-pembahasan. Dengan demikian sistem jepang itu mendorong dan mengharapkan pekerja-pekerja untu ikut serta dengan aktif dalam proses pembuatan manajemen.
3.      Kelincahan kerja dan latihan, tidak seperti kebanyakan organisasi-organisasi amerika serikat, perusahan-perusahan kerja tidak mengarahkan tenaga kerja untuk suatu kecakapan tertentu atau untuk suatu lowongan kerja khusus. Mereka lebih banyak memilih pegawai-pegawai karena latar belakang pribadinya. Pemikiran dasarnya adalah menggaji orang-orang yang baiak dan kemudian melatihnya untuk pekerjaan-pekerjaan khusus dalam organisasi-organisasi itu. Pendekatan terhadap pengerahan tak dapat tidak menciptakan suatu saling ketergantungan dan suatu hubungan khusus antara perorang dan organisasi.  Dengan pendekatan ini, latihan yang diterima oleh para pegawai adalah khas perusahaan, berbeda dengan khas pekerjan atau produksi jadi, latihan ditempat kerja didominasi oleh kegiatan-kegiatan khas perusahan “company specific”. “on the job training” difasilitaskan oleh sisitem senioritas mereka. Pekerja-pekerja senior bersedia untuk memeberitahukan pengethauan dan pengalaman mereka yang sudah terkumpul kepada yang junior yang lebih muda atau rendah tanpa takut untuk membahayakan kedudukan mereka sendiri.
4.      Pendidikan dan prestasi, seperti telah disebut dalam ruas yang terdahulu penyaringan pegawai sebagain besar didasarkan atas latarbelakang mereka. Pendidikan adalah bagian yang paling dihaegai dari latar belakang mereka. Tingkat masuk, kerjasama dan peluang untuk naik keatas banyak tergantung dari banyakanya dan tempat-tempat pendidikan. Status sosial pegawai-pegawai dijepang adalah suatu fungsi langsung dari organisasi mana mereka bekerja. Makin banyak untung dan keberhasilan perusahaan itu, makin tinggi ststus sosial para pegawainya. Walaupun memang terdapat perbedaan-perbedaan budaya yang besar antara amerika serikat dan jepang, namun banyak yang dpat dipelajari dari keberhasilan-keberhasilan jepang itu hal ini dengan jelas dicontohkan oleh faktor, bahwa orang jepang dengan berhasil mengimplementasikan sistem mereka dalam beberapa buah publik kepunyaan jepang diamerika serikat.[1]
D.    Perkembangan Manajemen di Indonesia
Manajemen sebagai ilmu, belum lama dikenal diindonesia ini. namun demikian tidak berarti kita belum memperaktekan manajemen. Bukti sejarah menunjukan, jauh sebelum penjajahan belanda indonesia (1600-1945), bangsa indonesia sudah melakukan perdagangan antar pulau, bahkan antar benua. Kerajaan-kerajaan zaman dahulu, peninggalan-peninggalan sejarah seperti borobudur merupakan saksi bisu akan praktek manajemen indonesia zaman dahulu.
Praktek manajemen didunia usaha, jauh sebelum perang dunia ke II, praktis didominasi oleh orang asing. Selam penjajahan belanda, jauh sedikit sekali orang pribumi yang berhasil dalam dunia usaha. Hampir semua dunia usaha dikuasa oleh kaum penjajah beserta sekutu mereka. Praktek manajemn oleh bangsa indonesia, harus dirasakan mulai tanggal 27 desember 1958, saat kita mengambil alih perusahaan-perusahaan minyak, perkebunan, industri dan niaga milik penjajah. Sejak itu bangsa indonesia memperoleh kesempatan untuk berpraktek manajemen usaha dengan nyata. Namun menghadapai tugas-tugas ini bangsa indonesia ternyata belum siap, sehingga banyak perusahaan yang diambil alih mengalami kegagalan, bahkan kegagalan total. Sejak saat itulah sangat diraakan akan pengembangan manjemen indoneisa dalam fase pengembangannyabanyak mengalami rintangan, karena itulah perjuangan politik masih menjadi prioritas perjuangan bangsa, baru pada tahun 1968, disaat orientasi pembangunan beralih dari bidang politik ke bidang sosial ekonomi melalui rencana pembangunan nasional secara bertahap, bidang manajemn mulai digarap dan mampu berkembang dengan baik. Dalam waktu relatif pendek banyak perusahaan tumbuh dengan pesat pembangunan ekonomi pun berjalan lancar, denfan laju rata-rata 7%  per tahun.
Perkembangan manajemen diindonesia, walaupun berjalan dengan baik, namun dirasakan masih terlalu lamban dibandingkan dengan perkembangan manajemen dineegara-negara lain, hal ini disebabkan oleh banyak faktor diantaranya adalah adanya kelebihan permintaan terhadap jumlah produksi, sehingga para pengusaha dan manajer tidak merasakan adanya masalah manajemen dalam perusahaanya. Disamping itu, rendahnya tingkat pendidikan rata-rata bangsa indonesia, juga merupakan faktor penghambat lambanya perkembangan manajemn itu sendiri.
Pada tahun-tahun dimana pembangunan mengalami kesuksesan makin terasa akan kebutuhan jumlah manajer indonesia. Hal ini menodrong pada tahun ke 80-an bermunculan lembaga-lembaga manajmen yang berusaha mendidik calon-calon manajer profesional. Ini semua memperlihatkan bukti bahwa dunia manajemen indoneisa sudah dirasakan sebagai kebutuhan mutlak bagi suksesnya pembangunan yang kita inginkan.
Dalam bidang pembangunan, manajmen ini sudah mulai dipraktekan secara serius, seperti terlihat pada tahun 1960-an kita menyusun perencanaan nasional semesta berencana (PNSB) yang tidak sempat dilaksankan secara tuntas, karena danya pemberontakan pki tahun 1965. Pada zaman orde baru, disusunlah perencanaan pembangunan jangka panjang yang kemudian dijabarkan dalam reflika-reflika yang merupakan pedoman pokok pembangunan indonesia. Seklai lagi bukti bahwa manajemen diindonesia telah melngkah memasuki era pembangunannya. Dunia manajmen indonesia telah melnagkah lebih jauh dengan adanya praktek manajemen jepang di BUMN ( Badan Usaha Milik Negara) dan dibeberapa perusahaan lain. demikian diindonesia tidak mau ketinggalan dengan negara-negara lain dalam bidang manajemenya.  

E.     Lingkungan sosila budaya
Keadaan sosial dan budaya , juga harus diperhitungkan oleh setiap manajer dalam kegiatannya. Termasuk dalam lingkungan sosial dan budaya ini diantaranya adalah adanya berbagai kebutuhan manusia, yaitu:
1.      Kehidupankerabatan (pelmaran, perkawinan, poligami, perceraian, adopsi dan lain-lain)
2.      Pencarian hidup (pertanian,perdagangan,industri,pegawai negri,koperasi dan lain-lain)
3.      Penerangan dan pendidikan (pendidikan formal dan non formal)
4.      Ilmu  penegetahuan (penelitian, metode ilimiah,pendidikan ilmiah dan lain-lain
5.      Rasa keindahan (seni rupa,seni suara,seni gerak, kesusasteraan, olah raga dan lain-lain)
6.      Berhubungan dengan tuhan, dengan alam ghaib (doa,kenduri,dakwah, dan lain-lain)
7.      Mengatur kehidupan berkelompok besar-besaran (pemerintah demokrasi, kehakiman,ketentaraan dan lain-lain).
8.      Kebutuhan jasmani ( kosmetik,senam,kesehatan,kedokteran dan lain-lain)
9.      Lain-lain kebutuhan manusia
Kondisi sosial budaya ini akan memberika masukan terhadap manajer tentang adanya kebutuhan tertentu bagi masyarakat. Diketahuinya kebutuhan tertentu masyarakat akan membantu manajer dalam menyusun strategi dan kegiatan operasionalnya. Sebagai contoh, misalnya data tentang pemuluk agama diindonesia. Data ini sangat dibutuhkan bagi manajer perusahaan makanan, misalnya pada tabel dibawah ini pemuluk agama pada tahun 1980. Penduduk menurut agama berdasarkan sesnsus penduduk 1980
Islam
128.462.176
88%
Katholik
4.355.475
03%
Kristen
8.505.696
06%
Hindu
2.988.461
02%
Budha
1.391.991
01%


Dari table diatas diperoleh informasi bahwa sebagian besar penduduk Indonesia (88%) adalah pemeluk agama islam, informasi ini penting bagi manajer perusahaan makanan, yaitu dalam strategi dan teknik dagangnya, perusahaan perlu mencantumkan label yang berisi tulisan “ TIDAK MENGANDUNG DAGING BABI, DIJAMIN HALAL”. Dengan mencantumkan label tersebut konsumen tidak ragu lagi membeli barang kebutuhannya, sehingga penjualan barang tersebut dapat lancar tanpa adanya keluhan akan kehawatiran konsumen bahwa barang yang dibelinya tidak halal.
F.     Proses pengaruh lingkungan pada kegiatan manajemen
Pendekatan kontigensi menjelaskan , bahwa setiap keputusan manajmen, operasiaonal, jika sesuai situasi dan kondisi pada saat keputusan itu akan dijalankan. Hal ini menunjukan bahwa situasi dan kondisi akan selalu diperhitungkan bagi setiap keputusan. Dengan perkataan lain, setiap keputusan akan selalu memperhitungkan faktor lingkungan yang akan memberikan pengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan keputusan yang diambil oleh manajemen. Menjadi jelas, bahwa ada proses pemberian pengaruh oleh lingkungan pada setiap keputusan manajemen.
Nampak pada gambar dibawah ini. faktor lingkungan (katakan misalnya penurunan harga minyak bumi dipasaran dunia)akan memepengaruhi peramalan perusahaan (misalnya, diramalakan akan terjadi peningkata pajak penjualan) ramalan peruasahaan akan dijadikan pedoman bagi manajer (manajer akan bekerja lebih keras) hal ini akan membawa pada perencanaan operasional perusahaan (katakan, perencanaan harus diarahkan pada peningkatan hasil guna penggunaan sumber-sumber dan pekerja).




Berikut ini adalah Proses pengaruh lingkungan pada kegiatan manajemen



 






Dengan demikian, manajemen akan selalu berkepentingan dengan lingkungannya. Seorang manajer, harus selalu memantau data, fakta lingkungan, khususnya fakta tentang perubahan-perubahan yang terjadi dibidang politik, ekonomi, budaya, social, hokum, keamanan dan lain-lain. Perkembangan perang ditimur tengah, penurunan terus menerus harga minyak bumi dipasaran dunia, nilai dolar yang terus bertambah kuat, kebijakan pemerintah dan lain-lain. [2]









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dapat kita simupkan bahwa budaya memang sangat berpengaruh dalam dunia manajeman. Karena budaya sanagat berperan aktif dan memiliki dampak positif juga memiliki dampak negative.
Seperti manajeman di Indonesia, Jepang, Dan internasuonal
Beberapa dari kondisi ini mungkin dapat juga mempengaruhi sikap manajemen dan semangat kewiraswastaan. Beberapa dari kondisi ini mungkin dapat diacu sebagai faktor-faktor khususnya kecakapan dan kemampuan, keinginan akan hasil –hasil produksi dan jasa-jasa serta adat kebiasaan umum dan kepercayaan dalam suatu negara asing. Fakta bahwa terdapat perbedaan-perbedaan budaya itu menyebabkan setengah orang menyimpulkan, bahwa kerangka pengetahuan manajemen, sebagai yang terdapat amerika serikat, hanyalah berlaku dalam masyarakat-masyarakat serupa dengan yang ada diamerika serikat. Mereka yang bertahan bahwa manajemen tidak dapat dengan efektif diekspor dari negara yang satu kenegara yang lain kepada kesulitan-kesulitan yang diciptakan dalam hubungan-hubungan antar perorangan, termasuk kedalmnya, hubungan-hubungan antar manajer dan non manajer dan antar para manajer dan penjual, pelanggan-pelanggan, pemilik-pemilik, pemerintah dan saingan-saingan.






DAFTAR PUSTAKA

1.      Leslie w rue, georgio R. Terry, dasar-dasar manajemen, Pt.Bumi Aksara : jakarta,2012
2.      Pandojo ranu  Rachman J held, teori dan konsep manajemen, Upp-amp ykpn : yogyakarta 1996


[1] George R. Terry, Leslie W. Rue, dasar-dasar manajemen, Pt.Bumi Aksara : jakarta,2012,hlm. 269-278
[2] Drs.Held J Rachman Ranu Pandojo, teori dan konsep manajemen, Upp-amp ykpn : yogyakarta 1996,hal. 37-87

No comments:

Post a Comment

Designed By VungTauZ.Com