MAKALAH
PENGARUH
BUDAYA TERHADAP MANAJEMEN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Ancam
nasionalisasi dapat juga mempengaruhi sikap-sikap manajemen dn semangat
kewirasastaan. Beberapa dari kondisi ini mungkin dapat juga mempengaruhi sikap
manajemen dan semangat kewiraswastaan. Beberapa dari kondisi ini mungkin dapat
diacu sebagai faktor-faktor khususnya kecakapan dan kemampuan, keinginan akan
hasil –hasil produksi dan jasa-jasa serta adat kebiasaan umum dan kepercayaan
dalam suatu negara asing. Fakta bahwa terdapat perbedaan-perbedaan budaya itu
menyebabkan setengah orang menyimpulkan, bahwa kerangka pengetahuan manajemen,
sebagai yang terdapat amerika serikat, hanyalah berlaku dalam
masyarakat-masyarakat serupa dengan yang ada diamerika serikat. Mereka yang
bertahan bahwa manajemen tidak dapat dengan efektif diekspor dari negara yang
satu kenegara yang lain kepada kesulitan-kesulitan yang diciptakan dalam
hubungan-hubungan antar perorangan, termasuk kedalmnya, hubungan-hubungan antar
manajer dan non manajer dan antar para manajer dan penjual,
pelanggan-pelanggan, pemilik-pemilik, pemerintah dan saingan-saingan.
B.
Rumusan
Masalah
“Bagaimana Pengaruh Budaya Terhadap Manajemen”
C.
Tujuan
Unuk
dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksud dengan manajemen bahkan mengenai
pembahasannya. Baik pembahasan mengenai manfaat, tujuan, maupun pengaruh
manajemen. Seperti pada makalah ini kita dapat mengetahui pengaruh budaya
terhadap manajeman.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Persyaratan
manajemen internasional
Sampai titik
ini, manajemen sudah dibahas dan istilah-istilahnya bagaimana caranya
organisasi-organisasi amerika beroperasi diamerika serikat. Suatu kecenderungan
penting zaman sekarang dan yang akan datang meningkatkan internasionalisasi
kegiatan bisnis. Kegiatan-kegiatan bisnis internasional meluas dari mengekspor
barang-barang dari bangsa lain sampai melakukan operasi manufactur pada
bangsa-bangsa lain. kegiatan-kegiatan ini menyajikan tantangan-tantangan dan
praktek-praktek baru bagi manajer. Walaupun tidak semua organisasi terlibat
dalam kegiatan-kegiatan bisnis internasional, namun peristiwa yang banyak
memepengaruhi manajemen orrganisasi-organisasi amerika terjadi setiap hari pada
bangsa bangsa lain. ini sudah terbukti ditahun-tahun akhir ini dipasaran minyak
internasional tidak hanya organisasi-organisasi amerika yang dibiarkan tak
tersentuh karena peristiwa ini. jadi makin bertambah pentingnya, bahwa para
manajer mempunyai pengertian dari sifat kegiatan bisnis internasional.
B.
Politik
dan kebudayaan
Faktor- faktor
plitik dan dan pemerintah dinegara-negara asing barangkali merupakan hal yang
terpenting dari semua kondisi yang memepengaruhi manajemen. Politik sebuah
negara yang memepengaruhi pemerintah yang berkuasa, mempengaruhi pajak-pajak,
pengawasan-pengawasan, impir-ekspor, pembatasan keuangan, peraturan mengenai
operasi-operasi dan pengembalian pengahasilan-penghasilan kenegaraan asal semua
itu sangatlah penting bagi manajer. Kekuasaan perpajakan haruslah selalu
diperhitungkan oleh seorang manajer.
Misalnya, jerman barat sekarang ini menawarkan perangsang-perangsang perpajakan
yang menarik sehubungan dengan penanaman modal. Suatu pemerintah dapat menolak
suatu lisensi impor atau ekspor untuk barang-barang atau jasa-jasa yag
dianggapnya tidak penting dan tidak diinginkan dalam tujuan-tujuan yang
menyeluruh, sehingga pada dasarnya manajer itu dipaksa untuk menyetujui
keinginan-keinginan badan politik itu. Selanjutnya pemerintah dapat
menggandakan modal yang diperlukan oleh seorang manajer atau menawarkan suatu
badan yang disponsori oleh seorang pemerintah, manajer dapat memberikan dan
merencanakan urusan-urusan mereka.
Sebuah
pemerintah asing dapat memberikan dorongan atau menghalangi
organisasi-organisasi diluar wewenang langsungnya dengan menggunakan pengawasan
atas penghasilan-penghasilan, dengan memberikan kemudahan dan pertimbangan
khusus, atau berlainan dengan itu, dengan menetapkan persyaratan-persyaratan
pemulangan ketanah air mereka. Ancam nasionalisasi dapat juga mempengaruhi
sikap-sikap manajemen dn semangat kewirasastaan. Beberapa dari kondisi ini
mungkin dapat juga mempengaruhi sikap manajemen dan semangat kewiraswastaan.
Beberapa dari kondisi ini mungkin dapat diacu sebagai faktor-faktor khususnya
kecakapan dan kemampuan, keinginan akan hasil –hasil produksi dan jasa-jasa
serta adat kebiasaan umum dan kepercayaan dalam suatu negara asing. Fakta bahwa
terdapat perbedaan-perbedaan budaya itu menyebabkan setengah orang
menyimpulkan, bahwa kerangka pengetahuan manajemen, sebagai yang terdapat
amerika serikat, hanyalah berlaku dalam masyarakat-masyarakat serupa dengan
yang ada diamerika serikat. Mereka yang bertahan bahwa manajemen tidak dapat
dengan efektif diekspor dari negara yang satu kenegara yang lain kepada
kesulitan-kesulitan yang diciptakan dalam hubungan-hubungan antar perorangan,
termasuk kedalmnya, hubungan-hubungan antar manajer dan non manajer dan antar
para manajer dan penjual, pelanggan-pelanggan, pemilik-pemilik, pemerintah dan
saingan-saingan.
Pengetahuan
menejemen adalah universal dalam hal struktur konsep-konsep dan prinsip-prinsip
adalah berlaku terlepas dari lokasi fisik bahkan walaupun pendekatan dan
tehnik-tehnik yang digunakan dalam pemakaian konsep-konsep dan prinsip- prinsip
itu akan berbeda pula.
C. Manajemen
jepang
Karena keberhasilan
ekonomi jepang, akhir-akhir ini banyak perhatian diberikan pada sistem
manajemennya. Ada 4 bidang khusus mengenai sistem ekonomi jepang yaitu :
1. Paternalisme, hubungan antar majikan dan pegawai-pegawai
dijepang sangatlah paternalisme ke-bapak-an. Hubungan ini sudah berkembang
bertahun-tahun. Pekerjaan jepang tidak memandang tempat kerja semata sebagai
suatu tempt mencari nafkah. Tetapi tempat kerja dipandang sebagai tempat
kepunyaanya. Masyarakat kerja itu merupakan kelompok pengacuan peranan “role
refrence group” bagi pegawai-pegawai. Perasaan kebapakan dipelihara oleh konsep
pekerjaan selama hidup. Hampir semua koorporasi-koorporasi jepang yang besar
menguji pegawai-pegawai dengan harapan menahan mereka sampai pensiun, sikap ini
jaminan diam-diam terhadap pemecatan. Sistem pemberian ganjaran mereka, yang
terutama sekali didasarkan atas senioritas, memperkuat pula iklim
“kekeluargaan”.
2.
Participatory
management, bagi seorang manajer jepang mengetahui bagaimana perasaan seorang
bawahan mengenai suatu isu tertentu, adalah vital, karena pengetahuan ini
sangatlah sulit untuk membuat keputusan, yang mempertahankan, kedamaian,
keselarasan dan kerjasama kelompok kerja itu. Manajemen partisipatif mulai dengan
seorang pegawai pada tingkat organisasi yang rendah menggariskan suatu ide atau
saran pemecahan suatu persoalan dengan sebuah penjelasan mengenai bagaimana
cara mengimplementasikan rekomendasi itu. Sumbangan itu diedarkan di kalangan
semua orang yang terkena oleh saran itu dan berikutnya diedarkan kepada atasan
berturut-turut. Maksudnya adalah untuk mencapai suatu konsesnsus tidak saja
dikalangan anggota-anggota kelompok, tetapi juga dikalangan para manajer yang
terkena oleh keputusan itu. Sehabisnya pembahasan yang dicapai suatu
keputusan-keputusan itu dianggap sebagai
suatu yang mengikut sertakan semua pihak terlibat dalam pembahasan-pembahasan.
Dengan demikian sistem jepang itu mendorong dan mengharapkan pekerja-pekerja
untu ikut serta dengan aktif dalam proses pembuatan manajemen.
3.
Kelincahan
kerja dan latihan, tidak seperti kebanyakan organisasi-organisasi amerika
serikat, perusahan-perusahan kerja tidak mengarahkan tenaga kerja untuk suatu
kecakapan tertentu atau untuk suatu lowongan kerja khusus. Mereka lebih banyak
memilih pegawai-pegawai karena latar belakang pribadinya. Pemikiran dasarnya adalah
menggaji orang-orang yang baiak dan kemudian melatihnya untuk
pekerjaan-pekerjaan khusus dalam organisasi-organisasi itu. Pendekatan terhadap
pengerahan tak dapat tidak menciptakan suatu saling ketergantungan dan suatu
hubungan khusus antara perorang dan organisasi.
Dengan pendekatan ini, latihan yang diterima oleh para pegawai adalah
khas perusahaan, berbeda dengan khas pekerjan atau produksi jadi, latihan
ditempat kerja didominasi oleh kegiatan-kegiatan khas perusahan “company
specific”. “on the job training” difasilitaskan oleh sisitem senioritas mereka.
Pekerja-pekerja senior bersedia untuk memeberitahukan pengethauan dan
pengalaman mereka yang sudah terkumpul kepada yang junior yang lebih muda atau
rendah tanpa takut untuk membahayakan kedudukan mereka sendiri.
4.
Pendidikan
dan prestasi, seperti telah disebut dalam ruas yang terdahulu penyaringan
pegawai sebagain besar didasarkan atas latarbelakang mereka. Pendidikan adalah
bagian yang paling dihaegai dari latar belakang mereka. Tingkat masuk, kerjasama
dan peluang untuk naik keatas banyak tergantung dari banyakanya dan
tempat-tempat pendidikan. Status sosial pegawai-pegawai dijepang adalah suatu
fungsi langsung dari organisasi mana mereka bekerja. Makin banyak untung dan
keberhasilan perusahaan itu, makin tinggi ststus sosial para pegawainya.
Walaupun memang terdapat perbedaan-perbedaan budaya yang besar antara amerika
serikat dan jepang, namun banyak yang dpat dipelajari dari
keberhasilan-keberhasilan jepang itu hal ini dengan jelas dicontohkan oleh
faktor, bahwa orang jepang dengan berhasil mengimplementasikan sistem mereka
dalam beberapa buah publik kepunyaan jepang diamerika serikat.[1]
D. Perkembangan
Manajemen di Indonesia
Manajemen sebagai
ilmu, belum lama dikenal diindonesia ini. namun demikian tidak berarti kita
belum memperaktekan manajemen. Bukti sejarah menunjukan, jauh sebelum
penjajahan belanda indonesia (1600-1945), bangsa indonesia sudah melakukan
perdagangan antar pulau, bahkan antar benua. Kerajaan-kerajaan zaman dahulu,
peninggalan-peninggalan sejarah seperti borobudur merupakan saksi bisu akan
praktek manajemen indonesia zaman dahulu.
Praktek manajemen
didunia usaha, jauh sebelum perang dunia ke II, praktis didominasi oleh orang
asing. Selam penjajahan belanda, jauh sedikit sekali orang pribumi yang
berhasil dalam dunia usaha. Hampir semua dunia usaha dikuasa oleh kaum penjajah
beserta sekutu mereka. Praktek manajemn oleh bangsa indonesia, harus dirasakan
mulai tanggal 27 desember 1958, saat kita mengambil alih perusahaan-perusahaan
minyak, perkebunan, industri dan niaga milik penjajah. Sejak itu bangsa
indonesia memperoleh kesempatan untuk berpraktek manajemen usaha dengan nyata.
Namun menghadapai tugas-tugas ini bangsa indonesia ternyata belum siap,
sehingga banyak perusahaan yang diambil alih mengalami kegagalan, bahkan
kegagalan total. Sejak saat itulah sangat diraakan akan pengembangan manjemen
indoneisa dalam fase pengembangannyabanyak mengalami rintangan, karena itulah
perjuangan politik masih menjadi prioritas perjuangan bangsa, baru pada tahun
1968, disaat orientasi pembangunan beralih dari bidang politik ke bidang sosial
ekonomi melalui rencana pembangunan nasional secara bertahap, bidang manajemn
mulai digarap dan mampu berkembang dengan baik. Dalam waktu relatif pendek
banyak perusahaan tumbuh dengan pesat pembangunan ekonomi pun berjalan lancar,
denfan laju rata-rata 7% per tahun.
Perkembangan
manajemen diindonesia, walaupun berjalan dengan baik, namun dirasakan masih
terlalu lamban dibandingkan dengan perkembangan manajemen dineegara-negara
lain, hal ini disebabkan oleh banyak faktor diantaranya adalah adanya kelebihan
permintaan terhadap jumlah produksi, sehingga para pengusaha dan manajer tidak
merasakan adanya masalah manajemen dalam perusahaanya. Disamping itu, rendahnya
tingkat pendidikan rata-rata bangsa indonesia, juga merupakan faktor penghambat
lambanya perkembangan manajemn itu sendiri.
Pada tahun-tahun
dimana pembangunan mengalami kesuksesan makin terasa akan kebutuhan jumlah
manajer indonesia. Hal ini menodrong pada tahun ke 80-an bermunculan
lembaga-lembaga manajmen yang berusaha mendidik calon-calon manajer
profesional. Ini semua memperlihatkan bukti bahwa dunia manajemen indoneisa
sudah dirasakan sebagai kebutuhan mutlak bagi suksesnya pembangunan yang kita
inginkan.
Dalam bidang
pembangunan, manajmen ini sudah mulai dipraktekan secara serius, seperti
terlihat pada tahun 1960-an kita menyusun perencanaan nasional semesta
berencana (PNSB) yang tidak sempat dilaksankan secara tuntas, karena danya
pemberontakan pki tahun 1965. Pada zaman orde baru, disusunlah perencanaan
pembangunan jangka panjang yang kemudian dijabarkan dalam reflika-reflika yang
merupakan pedoman pokok pembangunan indonesia. Seklai lagi bukti bahwa manajemen
diindonesia telah melngkah memasuki era pembangunannya. Dunia manajmen
indonesia telah melnagkah lebih jauh dengan adanya praktek manajemen jepang di
BUMN ( Badan Usaha Milik Negara) dan dibeberapa perusahaan lain. demikian
diindonesia tidak mau ketinggalan dengan negara-negara lain dalam bidang manajemenya.
E.
Lingkungan
sosila budaya
Keadaan sosial dan budaya , juga harus diperhitungkan
oleh setiap manajer dalam kegiatannya. Termasuk dalam lingkungan sosial dan
budaya ini diantaranya adalah adanya berbagai kebutuhan manusia, yaitu:
1.
Kehidupankerabatan (pelmaran, perkawinan,
poligami, perceraian, adopsi dan lain-lain)
2.
Pencarian hidup
(pertanian,perdagangan,industri,pegawai negri,koperasi dan lain-lain)
3.
Penerangan dan pendidikan
(pendidikan formal dan non formal)
4.
Ilmu penegetahuan (penelitian, metode
ilimiah,pendidikan ilmiah dan lain-lain
5.
Rasa keindahan (seni rupa,seni
suara,seni gerak, kesusasteraan, olah raga dan lain-lain)
6.
Berhubungan dengan tuhan, dengan
alam ghaib (doa,kenduri,dakwah, dan lain-lain)
7.
Mengatur kehidupan berkelompok
besar-besaran (pemerintah demokrasi, kehakiman,ketentaraan dan lain-lain).
8.
Kebutuhan jasmani (
kosmetik,senam,kesehatan,kedokteran dan lain-lain)
9.
Lain-lain kebutuhan manusia
Kondisi sosial
budaya ini akan memberika masukan terhadap manajer tentang adanya kebutuhan
tertentu bagi masyarakat. Diketahuinya kebutuhan tertentu masyarakat akan
membantu manajer dalam menyusun strategi dan kegiatan operasionalnya. Sebagai
contoh, misalnya data tentang pemuluk agama diindonesia. Data ini sangat
dibutuhkan bagi manajer perusahaan makanan, misalnya pada tabel dibawah ini
pemuluk agama pada tahun 1980. Penduduk menurut agama berdasarkan sesnsus
penduduk 1980
|
Islam
|
128.462.176
|
88%
|
|
Katholik
|
4.355.475
|
03%
|
|
Kristen
|
8.505.696
|
06%
|
|
Hindu
|
2.988.461
|
02%
|
|
Budha
|
1.391.991
|
01%
|
Dari table
diatas diperoleh informasi bahwa sebagian besar penduduk Indonesia (88%) adalah
pemeluk agama islam, informasi ini penting bagi manajer perusahaan makanan,
yaitu dalam strategi dan teknik dagangnya, perusahaan perlu mencantumkan label
yang berisi tulisan “ TIDAK MENGANDUNG DAGING BABI, DIJAMIN HALAL”. Dengan
mencantumkan label tersebut konsumen tidak ragu lagi membeli barang
kebutuhannya, sehingga penjualan barang tersebut dapat lancar tanpa adanya
keluhan akan kehawatiran konsumen bahwa barang yang dibelinya tidak halal.
F.
Proses
pengaruh lingkungan pada kegiatan manajemen
Pendekatan kontigensi menjelaskan , bahwa setiap
keputusan manajmen, operasiaonal, jika sesuai situasi dan kondisi pada saat
keputusan itu akan dijalankan. Hal ini menunjukan bahwa situasi dan kondisi
akan selalu diperhitungkan bagi setiap keputusan. Dengan perkataan lain, setiap
keputusan akan selalu memperhitungkan faktor lingkungan yang akan memberikan
pengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan keputusan yang diambil oleh
manajemen. Menjadi jelas, bahwa ada proses pemberian pengaruh oleh lingkungan pada
setiap keputusan manajemen.
Nampak pada gambar dibawah ini. faktor lingkungan
(katakan misalnya penurunan harga minyak bumi dipasaran dunia)akan
memepengaruhi peramalan perusahaan (misalnya, diramalakan akan terjadi
peningkata pajak penjualan) ramalan peruasahaan akan dijadikan pedoman bagi
manajer (manajer akan bekerja lebih keras) hal ini akan membawa pada
perencanaan operasional perusahaan (katakan, perencanaan harus diarahkan pada
peningkatan hasil guna penggunaan sumber-sumber dan pekerja).
Berikut ini adalah Proses pengaruh lingkungan pada kegiatan manajemen
![]() |
Dengan demikian,
manajemen akan selalu berkepentingan dengan lingkungannya. Seorang manajer,
harus selalu memantau data, fakta lingkungan, khususnya fakta tentang
perubahan-perubahan yang terjadi dibidang politik, ekonomi, budaya, social,
hokum, keamanan dan lain-lain. Perkembangan perang ditimur tengah, penurunan
terus menerus harga minyak bumi dipasaran dunia, nilai dolar yang terus
bertambah kuat, kebijakan pemerintah dan lain-lain. [2]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dapat kita simupkan bahwa budaya memang sangat
berpengaruh dalam dunia manajeman. Karena budaya sanagat berperan aktif dan
memiliki dampak positif juga memiliki dampak negative.
Seperti manajeman di Indonesia, Jepang, Dan
internasuonal
Beberapa
dari kondisi ini mungkin dapat juga mempengaruhi sikap manajemen dan semangat
kewiraswastaan. Beberapa dari kondisi ini mungkin dapat diacu sebagai
faktor-faktor khususnya kecakapan dan kemampuan, keinginan akan hasil –hasil
produksi dan jasa-jasa serta adat kebiasaan umum dan kepercayaan dalam suatu
negara asing. Fakta bahwa terdapat perbedaan-perbedaan budaya itu menyebabkan
setengah orang menyimpulkan, bahwa kerangka pengetahuan manajemen, sebagai yang
terdapat amerika serikat, hanyalah berlaku dalam masyarakat-masyarakat serupa
dengan yang ada diamerika serikat. Mereka yang bertahan bahwa manajemen tidak
dapat dengan efektif diekspor dari negara yang satu kenegara yang lain kepada
kesulitan-kesulitan yang diciptakan dalam hubungan-hubungan antar perorangan,
termasuk kedalmnya, hubungan-hubungan antar manajer dan non manajer dan antar
para manajer dan penjual, pelanggan-pelanggan, pemilik-pemilik, pemerintah dan
saingan-saingan.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Leslie
w rue, georgio R. Terry, dasar-dasar
manajemen, Pt.Bumi Aksara : jakarta,2012
2.
Pandojo
ranu Rachman J held, teori dan konsep manajemen, Upp-amp ykpn
: yogyakarta 1996

No comments:
Post a Comment