TUGAS
KELOMPOK SEJARAH PERADABAN ISLAM
“PERADABAN
ISLAM PADA MASA DAULAH UMMAYAH”
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
Wr.Wb
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt. yang telah memberikan
kekuatan dan keteguhan hati kepada kami untuk menyelesaikan makalah ini.
Sholawat beserta salam semoga senantiasa tercurah limpah kepada Nabi Muhammad saw. yang menjadi
tauladan para umat manusia dan yang kita
nantikan safaatnya di hari akhir.
Kami membuat makalah ini bertujuan untuk
mempelajari dan mengetahui ilmu tentang Sejarah
Peradaban Islam yang diberikan oleh dosen mengenai Dinasti Bani Umayyah. Selain
bertujuan untuk memenuhi tugas, tujuan penulis selanjutnya adalah untuk
mengetahui proses pendirian bani Umayah, pola pemerintahan Bani Umayah, Pola
pemerintahan Umar ibn Abdul Aziz, Ekspansi wilayah, dan Peradaban Islam Pada
masa Dinasti Bni Umayyah.
Dalam penyelesaian makalah ini,
penulis banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan kurangnya ilmu
pengtahuan. Namun, berkat kerjasama yang solid dan kesungguhan dalam
menyelesaikan makalah ini, akhirnya dapat diselesaikan dengan baik.
Kami menyadari, sebagai seorang pelajar yang pengetahuannya tidak seberapa yang
masih perlu belajar dalam penulisan makalah, bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
positif demi terciptanya makalah yang lebih baik lagi, serta berdayaguna di
masa yang akan datang.
Besar harapan, mudah-mudahan makalah yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat
bagi semua orang.
Wasalamu'alaikum
Wr.Wb
DAFTAR ISI
HALAMAN
COVER.................................................................................................. i
KATA
PENGANTAR................................................................................................. ii
DAFTAR
ISI............................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN...................................................................................... 1
A.Latar Belakang....................................................................................... 1
B.Rumusan Masalah................................................................................. 1
C.Tujuan.................................................................................................... 2
BAB 2 PEMBAHASAN........................................................................................ 3
A.Sejarah Berdirinya Dinasti
Bani Umyyah.............................................. 3
B. Khalifah Dinasti Bani Umayyah............................................................ 4
C. Pola Pemerintahan Dinasti Bani Umayyah.......................................... 6
D. Masa Kemajuan Dinasti Bani Umayyah.............................................. 7
Kemajuan Bidang Peradaban.............................................................. 8
E.
Masa Kehancuran Dinasti Bani Umayyah........................................... 11
BAB 3 PENUTUP................................................................................................. 13
A.
Kesimpulan........................................................................................... 13
B.Saran..................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 15
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berakhirnya
kekuasaan khalifah Ali bin Abi Thalib mengakibatkan lahirnya kekuasan yang
berpola Dinasti atau kerajaan. Pola kepemimpinan sebelumnya (khalifah Ali) yang
masih menerapkan pola keteladanan Nabi Muhammad, yaitu pemilihan khalifah
dengan proses musyawarah akan terasa berbeda ketika memasuki pola kepemimpinan
dinasti-dinasti yang berkembang sesudahnya.
Bentuk
pemerintahan dinasti atau kerajaan yang cenderung bersifat kekuasaan foedal dan
turun temurun, hanya untuk mempertahankan kekuasaan, adanya unsur otoriter,
kekuasaan mutlak, kekerasan, diplomasi yang dibumbui dengan tipu daya, dan
hilangnya keteladanan Nabi untuk musyawarah dalam menentukan pemimpin merupakan
gambaran umum tentang kekuasaan dinasti sesudah khulafaur rasyidin. Dinasti
Umayyah merupakan kerajaan Islam pertama yang didirikan oleh Muawiyah Ibn Abi
Sufyan. Perintisan dinasti ini dilakukannya dengan cara menolak pembai’atan
terhadap khalifah Ali bin Abi Thalib, kemudian ia memilih berperang dan
melakukan perdamaian dengan pihak Ali dengan strategi politik yang sangat
menguntungkan baginya.
Meskipun
begitu, munculnya Dinasti Umayyah memberikan babak baru dalam kemajuan
peradaban Islam, hal itu dibuktikan dengan sumbangan-sumbangannya dalam
perluasan wilayah, kemajuan pendidikan, kebudayaan dan lain sebagainya.[1]
B. Rumusan Masalah
Ada pun masalah
yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Sejarah
Berdirinya Dinasti bani Umayyah.
2.
Para Khalifah
Dinasti bani Umayyah.
3.
Pola
Pemerintahan Dinasti bani Umayyah.
4.
Masa Kemajuan
Dinasti bani Umayyah.
5.
Masa Kehancuran
Dinasti bani Umayyah.
C. Tujuan
1. Untuk dapat nilai yang baik dari Dosen Pembimbing.
2. Untuk lebih
melekatnya ilmu Pengetahuan dengan pembuatan
makalah.
3. Untuk memenuhi persyaratan mata kuliah Sejarah
Peradaban Islam.
BAB 2
PEMBAHASAN
A. Sejarah Berdirinya Dinasti Bani Umayyah
Nama Dinasti
Umayyah dinisbatkan kepada Umayyah bin Abd Syams bin Abdu Manaf. Ia adalah
seorang tokoh penting ditengah Quraisy pada masa Jahiliah. Ia dan pamanya
Hasyim bin Abdu Manaf selalu bertarung
dalam memperebutkan kekuasaan dan kedudukan.
Dimana
Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb. Muawiyah disamping
sebagai pendiri daulah Bani Abassiyah juga sekaligus menjadi khalifah pertama.
Ia memindahkan ibu kota kekuasaan Islam dari Kufah ke Damaskus.
Muawiyah
juga dipandang sebagai tokoh yang negatif pada awalnya oleh sebagian besar para
sejarawan, karena ia memperoleh legalitas dan kekuasaannya dalam perang saudara
di siffin di capai melalui cara yang curang. Selain itu muawiyah juga dituduh
sebagai penghianat prinsip-prinsip demokrasi yang diajarkan Islam, karena
dialah yang awal-mula mengubah pimpinan negara dari seorang yang dipilih oleh
rakyak menjadi kekuasaan raja yang diwariskan turun menurun (monarchy heredity).
Di
lihat dari sikap dan prestasi politiknya yang menakjubkan, sesungguhnya
Muawiyah adalah seorang pribadi yang
sempurna dan seorang pemimpin besar yang berbakat. Karan didalam dirinya
terkumpul sifat-sifat seorang penguasa, politikus, dan administrator.
Pengalaman
politiknya telah memperkaya dirinya dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam
memerintah, mulai dari menjadi seorang pemimpin pasukan di bawah komando
Panglima Abu Ubaidah bin Jarrah yang berhasil merebut wilayah palestina,
Suriah, dan Mesir daari tangan Imperiu Romawi yang telah menguasai ketiga
daerah tersebut sejak tahun 63 SM.
Muawiyah
berhasil mendirikan Dinasti bani Umayyah bukan hanya dikarenakan kemenangan
diplomasi di siffin dan terbunuhnya Khalifah Ali. Melainkan sejak semula
gubernur Suriah itu memiliki ”basis rasional” yang solid bagi landasan
pembangunan politiknya dimasa depan.
Pertama, adalah berupa dukungan yang
kuat dari rakyat Suriah dan dari keluarga Bani Muawiyah sendiri. Penduduk
Suriah yang lama diperintah oleh Muawiyah mempunyai pasukan yang kokoh,
terlatih, dan disiplin di garis depan dala peperangan mealwan Romawi. Mereka
bersama-sama dengan kelompok bangsawan kaya Mekah dari keturuna Umayyah berada
sepenuhnya dibelakang Muawiyah dan memasoknya dengan sumber-sumber kekuatan
yang tidak ada habisnya, baik oral, tenaga manusia, maupun kekayaan. Negeri
Suriah sendiri terkenal makmur dan menyinpan suber alam yang berlipah. Ditambah
lagi bumi Mesir yang berhasil dirapas, maka sumber-sumber kemakmuran dan suplai
bertambah bagi Muawiyah.
Kedua, sebagai seorang
administrator, muawiyah sangat bijaksana dalam menepatkan para pembantunya pada
jabatan-jabatan penting. tiga orang patutlah menjadi perhatian khusus, yaitu
‘Amr bin Ash, Mugirah bin Syu’bah, dan ziyad bin Abihi. Ketiga pembantu
Muawiyah merupakan politikus yang sangat mengagumkan di kalangan musli Arab.
Akses mereka sangat kuat dalam membina perpolitikan Muawiyah.
Ketiga,Muawiyah memiliki kemampuan
menonjol sebagai negarawan sejati, bahkan mencapai tingkatan “hilm”, sifat tertinggi yang dimiliki
oleh para pembesar Mekah zama dahulu. Seorang manusai hilm seperti Muawiyah dapat
menguasai diri secara mutalk dan mengambil keputusan-keputusan yang menentukan,
meskipun ada tekanan dan intimidasi.[2]
B. Khalifah
Dinasti Bani Umayyah
Masa kekuasaan
Dinasti Umayyah hampir satu abad, tepatnya selama 90 tahu, dengan 14 orang
khalifah. Khalifah yang pertama adalah Muawiyah bin Abi Sufyan, sedangkan
khalifah yang terakhir adalah Marwan bin Muhammad. Diantara mreka ada
peimpin-peminpin besar yang berajasa di berbagai bidang sesuai dengan kehendak
zamanya, sebaliknya ada pula khalifah yang tidak patut dan lemah. Adapun urutan
khalifah Umayyah adalah sebagai berikut.
1.
Muawiyah I bin Abi Sufyan 41-60
H / 661-679 M
2.
Yazid I bin Muawiyah 60-64
H / 679-683 M
3.
Muawiyah II bin Yazid 64
H / 683 M
4.
Marwan I bin Hakam 64-65
H / 683-684 M
5.
Abdul Malik bin
Marwan 65-86
H / 684-705 M
6.
Al-Walid I bin Abdul Malik 86-96 H / 705-714 M
7. Sulaiman bin Abdul Malik 96-99
H / 714-717
M
8. Umar
bin Abdul Aziz 99-101
H / 717-719 M
9. Yazid
II bin Abdul Malik 101-105
H / 719-723 M
10. Hisyam
bin Abdul Malik 105-125
H / 723-742 M
11. Al-walid II bin Yazid II 125-126 H /
742-743 M
12. Yazid bin Walid bin Malik 126 H / 743 M
13. Ibrahim bin Al-Walid II 126-127 H /
743-744 M
14. Marwan II bin Muhammad 127-132 H / 744-750 M.[3]
Para sejarawan
umumnya sependapat bahwa para khalifah terbesar dari daulah Bani Umayyah ialah
Muawiyah, Abdul Malik, dan Umar bin Abdul Aziz.
Adapun kehebatan yang dimiliki dari seorang
Muawiyah sehingga ia disebut sebagai khalifah terbesar pertama Dinasti bani
Umayyah, adalah dia dikenal sebagai bapak pendiri Dinasti Umayyah. Dialah tokoh
pembangun yang besar. Namanya disejajarkan dengan khulafaur rasyidin. Bahkan
kesalahanya yang menghianati prinsip pemilihan kepala negara oleh rakyat, dapat
dilupakan orang karena jasa-jasa dan kebijaksanaan politiknya yang mengagumkan.
Muawiyah mendapat kursi kekhalifahan setelah Hasan bin Ali bin Abi Thalib
berdamai denganya pada tahun 41 H. Umat Islam sebagainya membaiat Hasan setelah
ayahnya meninggal dunia/wafat. Namun Hasan menyadari kelemahanya sehingga ia
berdamai dan menyerahkan kepeimpinan umat kepadaa Muawiyah sehingga tahun itu
dinamakan ‘amul jama’ah, atau tahun
perdamaian.
Khaifah Abdul
Malik adalah orang kedua yang terbesar dalam deretan para khalifah Bani Umayyah
yang disebut-sebut sebagai ‘pendiri kedua’ bagi kedaulatan Umayyah. Ia dikenal
sebagai seorang khalifah yang dalam akan ilmu agamanya, terutama dibidang fiqih. Ia telah berhasil mengembalikan
sepenuhnya integritas wilayah dan wibawa kekuasaan keluarga Umayyah dari segala
pengacau negara yang merajalela pada masa-masa sebelumnya. Mulai dari gerakan
separatis Abdullah bin Zubair di Hijah, peberontakan kaum Syi’ah dan Khwarij,
sampai kepada aksi teror yang dilakukan oleh Al-Mukhtar bin Ubaid As-Saqafy di
wilayah Kufah, dan pemberontakan yang dipimpin oleh Mus’ab bin Zubair di Irak.
Ia juga menundukan tentara Romawi yang sengaja membuat keguncangan sendi-sendi
pemerintah Umayyah. Ia memerintahkan penggunaan bahasa arab sebagai bahasa
administrasi di wilayah Umayyah, yang sebelumnya masih memakai bahasa yang
bermacam-macam, seperti bahasa Yunani di Syam, bahasa Persia di Persia, dan bahasa Qibti di Mesir. Ia juga
memerintahkan untuk mencetak uang secara teratur, membangun beberapa gedung dan
masjid serta saluran-saluran air. Dan khalifah Abdul Malik memerintah paling lama
yakni 21 tahun.
Adapun khalifah
ketiga yang besar ialah Umar bin Abdul Aziz. Meskipun masa pemerintahanya
sangat singkat, namun Umar merupakan ‘lembaran putih’ Bani Umayyah dan sebuah
priode yang berdiri sendiri, mempunyai karakter yang tidak terpengaruh oleh berbagai kebijaksanaan Daulah Bani
Umayyah yang banyak disesali. Ia merupakan personifikasi seorang khalifah yang
taqwa dan bersih, suatu sikap yang jarang sekali ditemukan pada sebagian besar
pemimpin Bani Umayyah.
Khalifah Umar
bin Abdul Aziz adalah khalifah yang adil yang berusaha memperbaiki segala
tatanan yang ada di masa kekhalifahanya, seperti menaikan gaji para
gubernurnya,memeratakan kemakmuran dengan memberi kesantunan kepada fakir dan
miskin, dan memperbarui dinas pos. Ia juga menyamakan kedudukan orang-orang non-Arab
sebagai warga negara kelas dua, dengan orang-orang Arab. Ia mengurangi beban
pajak dan menghentikan pembayaran jizyah bagi orang Islam baru.[4]
C. Pola Pemerintahan
Dinasti Bani Umayyah
Aku tidak akan
menggunakan pedang ketika cukup mengunakan cambuk, dan tidak akan mengunakan
cambuk jika cukup dengan lisan. Sekiranya ada ikatan setipis rambut sekalipun
antara aku dan sahabatku, maka aku tidak akan membiarkannya lepas. Saat mereka
menariknya dengan keras, aku akan melonggarkannya, dan ketika mereka
mengendorkannya, aku akan menariknya dengan keras. (Muawiyah ibn Abi Sufyan).[5]
Pernyataan
di atas cukup mewakili sosok Muawiyah ibn Abi Sufyan. Ia cerdas dan cerdik. Ia
seorang politisi ulung dan seorang negarawan yang mampu membangun peradaban besar melalui politik kekuasaannya.
Ia pendiri sebuah dinasti besar yang mampu bertahan selama hampir satu abad.
Dia lah pendiri Dinasti Umayyah, seorang pemimpin yang paling berpengaruh pada
abad ke 7 H.
Di
tangannya, seni berpolitik mengalami kemajuan luar biasa melebihi tokoh-tokoh
muslim lainnya. Baginya, politik adalah senjata maha dahsyat untuk mencapai
ambisi kekuasaaanya. Ia wujudkan seni berpolitiknya dengan membangun Dinasti
Umayyah.
Gaya
dan corak kepemimpinan pemerintahan Bani Umayyah (41 H/661 M) berbeda dengan
kepemimpinan masa-masa sebelumnya yaitu masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin.
Pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin dipilih secara demokratis dengan
kepemimpinan kharismatik yang demokratis sementara para penguasa Bani Umayyah
diangkat secara langsung oleh penguasa sebelumnya dengan menggunakan sistem
Monarchi Heredities, yaitu kepemimpinan yang di wariskan secara turun temurun.
Kekhalifahan Muawiyyah diperoleh melalui kekerasan, diplomasi dan tipu daya,
tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Sukses kepemimpinan secara turun
temurun dimulai ketika Muawiyyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan
setia terhadap anaknya, Yazid. Muawiyah bermaksud mencontoh Monarchi di Persia
dan Binzantium. Dia memang tetap menggunakan istilah Khalifah, namun dia
memberikan interprestasi baru dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan
tersebut.
Dia menyebutnya “Khalifah Allah” dalam pengertian “Penguasa” yang di angkat
oleh Allah.[6]
D. Masa
Kemajuan Dinasti Bani Umayyah
Masa pemerintahan Bani Umayyah terkenal sebagai suatu era
agresif, dimana perhatian tertumpu pada usaha perluasan wilayah dan penaklukan,
yang terhenti sejak zaman kedua khulafaur rasyidin terakhir. Hanya dalam jangka
waktu 90 tahun, banyak bangsa di empat penjuru mata angin beramai-ramai
masuk ke dalam kekuasaan Islam, yang
meliputi tanah Spanyol, seluruh wilayah Afrika Utara, Jazirah Arab, Syiria,
Palestina, sebagian daerah Anatolia, Irak, Persia, Afganistan, India, dan
negeri-negeri yang sekarang dinamakan Turkmenistan, Uzbekistan dan Kirgiztan
yang termasuk Soviet Rusia.
Menurut
Prof. Ahmad Syalibi, penaklukan militer dijaman Umayyah mencakup tiga front
penting, yaitu sebagai berikut.
Pertama, front melawan bangsa Romawi di
Asia kecil dengan sasaran utama pengepungan ke ibu kota Konstantinopel, dan
penyerangan ke pulau-pulau di Lautan Tengah.
Kedua, frontnAfrika Utara. Selain
menundukan daerah hitam Afrika, pasukan muslim juga menyebrangi Selat
Gibraltar, lalu masuk ke Spanyol.
Ketiga, front timur menghadapi wilayah
yang sangat luas, sehingga operasi ke jalur ini di bagi menjadi dua daerah.
Yang satu menuju utara ke daerah-daerah di seberang sungai Jihun (Ammu Darya).
Sedangkan yang lainya ke arah selatan menyusuri Sind, wilayah India bagian
barat.
Pada masa
pemerintahan Muawiyah diraih kemajuan besar dalam perluasan wilayah, meskipun
dibeberapa tempat masih bersifat rintisan. Disamping keberhasilanya dalam
memperluas wilayah, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan berbagai
bidang, baik politik (tata pemerintahan) maupun sosial kebudayaan. Dalam bidang
politik, Bani Umayyah menyusun pemerintahan yang sama sekali baru, untuk memenuhi tuntutan perkembangan wilayah dan
administrasi kenegaraan yang semakin kompleks. Selain mengangkat majlis penasehat
sebagai pendamping, khalifah Bani Umayyah dibantu oleh beberapa orang sekretaris untuk membantu pelaksanaan
tugas, yang meliputi:
1.
Katib Ar-Rasail, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan administrasi
dan surat-menyurat dengan para pembesar setempat.
2.
Katib Al-Kharraj, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan penerimaan dan
pengeluaran negara.
3.
Katib Al-jundi, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan berbagai hal
yang berkaitan dengan ketentaraan.
4.
Katib Asy-Syurtah, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan peeliharaan
keamanan dan ketertiban umum.
5.
Katib Al-Qudat, sekretarsi yang bertugas menyelenggarakan tertib hukum
melalui badan-badan peradilan dan hakimsetempat.
Sekalipun
masa Dinasti Umayyah ini banyak negatifnya, namun dari segi ilmiah, bahasa, sastra
dan hal lainya tetap maju, menonjol dan mengambil kedudukan yang layak. Bangsa
arab adalah ahli syair, dan para penggemarnya dalah rakyat dan orang-orang kaya
yang memberikan kedudukan khusus bagi para penyair denga memberikan hadiah yang
cukup besar dan memuaskan.
Pada
masa itu Abul Aswad Ad-Duali (w. 681 M) menyusun gramatika Arab dengan
memberikan titik pada huruf-huruf hijaiyah yang semula tidak bertitik yang
bertujuan memudahkan orang dalam membaca dan mempelajari, dan menjaga barisan
yang menuntukan gerak kata dan bunyi suara serta ayunan iramanya, hingga dapat
diketahui maknanya. Kerajaan ini pun telah mulai menempatkan dirinya dalam ilmu
pengetahuan dengan mementingkan buku-buku bahasa Yunani dan Kopti (Kristen
Mesir).[7]
Kemajuan Bidang
Peradaban
Dinasti Umayyah meneruskan tradisi kemajuan dalam
berbagai bidang yang telah dilakukan masa kekuasaan sebelunya, yaitu masa
kekuasaan khulafaur rasyidin. Menurut Juri Zaidan (George Zaidan) beberapa
kemajuan dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan antara lain sebagai
berikut.
1.
Pengebangan
Bahasa Arab
Para penguasa Dinasti Umayyah telah menjadikan Islam
sebagai daulah (negara), kemudian dikuatkanya dan dikembangkanlah bahasa Arab
dalam wilayah kerajaan Islam. Upaya tersebut dilakukan dengan menjadikan bahasa
Arab sebagai bahasa resmi dalam tata usaha negara dan pemerintahan sehingga pembukuan dan surat-menyurat harus
menggunakan bahasa Arab, termasuk dalam daerah bekas jajahanya yang semula
menggunakan bahasanya sendiri.
2.
Marbad Kota
Pusat Kegiatan Ilmu
Dinasti Umayyah juga mendirikan sebuah kota kecil sebagai
pusat kegiatan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Tepat tersebut dinamakan
Marbad, kota satelit dari Damaskus. Di kota inilah berkumpul para pujangga,
filsuf,ulama, penyair, dan cendekiawan lainya, sehingga kota ini diberi gelar ukadz-nya Islam.
3.
Ilmu Qiraat
Ilmu qiraat adalah ilmu seni baca Al-Qur’an. Ilmu qiraat
merupakan ilmu syariat tertua, yang telah dibina sejak zaman khulafaur
rasyidin. Kemudian pada masa Dinasti Umayyah dikembangkan sehingga menjadi
cabang ilmu Abdullah bin Qusair (w. 120 H) dan Asyim bin Abi Nujud (w. 127 H).
4.
Ilmu Tafsir
Untuk memahami Alqur’an sebagai kitab suci di perlukan
interpretasi pemahaman secara komprehensif. Minat untuk menafsirkan Al-qur’an
dikalangan umat Islam bertambah. Pada masa perintisan Ilmu tafsir, ulama yang
membukukan Ilmu tafsir yaitu Mujahid (w. 104 H).
5.
Ilmu Hadits
Ketika kaum muslimin berusaha memahami Al-qur’an,
ternyata ada satu hal yang juga sangat mereka butuhkan, yaitu Hadits atau
ucapan Nabi. Oleh karena itu tibul usaha untuk mengumpulkan hadits, menyelidiki
asal-usulnya sehingga menjadi sebuah ilmu yang berdiri sendiri yang disebut
ilmu hadits. Para ahli hadits yang termasyhur pada asa Dinasti Umayyah adala
Al-Auzai Abdurahman bin Amru (w. 159 H), Hasan Basri (w. 110 H), Ibnu Abu
Malikah (w. 119 H), dan Asya’bi Abu Amru Amir bin Syurahbil (w. 104 H).
6.
Ilmu Fiqih
Setelah Islam menjadi daulah, maka para penguasa sangat
membutuhkan adanya peraturan untuk menjadi pedaman dalam menyelesaikan berbagai
masalah. Mereka kembali kepada Al-qur’an dan Hadits dan mengeluarkan syariat
untuk mengatur pemerintahan dan rakyat. Al-qur’an adalah dasar fiqih dan pada
zaman sekarang ilmu fiqh menjadi cabang ilmu syariat yang berdiri sendiri. Di
antara ahli fiqih yang terkenal adalah Sa’ud bin Musib, Abu Bakar
binAbdurahman, Qasim Ubaidillah, Urwah, dan Kharijah.
7.
Ilmu Nahwu
Pada masa dinasti Umayyah karena wilayahnya berkembang
secara luas, khusunya diwilayah luar Arab, maka ilmu nahwu sangat diperlukan.
Hal tersebut diperlukan pula karena bertambahnya orang-orang Ajam (non-Arab)
yang masuk Islam, sehingga keberadaan bahsa Arab sangat dibuktuhkan. Oleh
karena itu, dibukukanlah ilum nahwu dan berkebanglah satu cabang ilmu yang
penting untuk mempelajari berbagai ilmu agama Islam.
8.
Ilmu Jughrafi
dan Tarikh
Jughrafi dan Tarikh pada m asa Dinasti Umayyah terlah
berkembang menjadi Ilmu tersendiri. Demikian ilmu tarikh (ilmu sejarah), baik
sejarah umum maupun sejarah Islam pada khususnya. Adanya pengembangan dakwah
Islam kedaerah-daerah baru yang luas dan jauh menibulkan gairah untuk mengarang
ilmu jughrafi (ilmu bumi atau geografi), deikian pula ilu tarikh. Ilmu jugrafi
dan ilu tarikh lahir pada masa Dinasti Umayyah, barulah berkebang menjadi suatu
ilmu yang betul-betul berdiri sendiri pada masa ini.
9.
Usaha
Penerjemahan
Untuk kepentingan pembinaan dakwah Islamiyah, pada masa
Dinasti Umayyah duulai pula penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari
bahasa-bahasa lain kedalam bahasa Arab. Dengan demikian jelas bahwaa gerakan
penerjemahan telah dimulai pada zaman ini, hanya baru berkembang pesat pada
zaman Dinasti Abbasyiah. Yang mula-mula melakukan penerjemahan adalah Khalid
bin Yazid, seorang pengarang yang sangat cerdas dan abisius. Ketika gagal
endapat kursi kekhalifahan iya menumpahkanya dala ilmu pengetahuan, antara lain
mengusahakan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa lain kedalam
bahasa Arab. Didatang kan ke Damaskus para ahli ilmu penggetahuan yang
melakukan penerjemahan dari berbagai bahasa. Maka diterjeahkan buku-buku
tentang ilmu kimia, ilmu astronomi, ilmu falak, ilu fisika, kedokteran dan
lain-lain. khalid sendiri adalah ahli dalam ilmu astronomi.[8]
Demikian
berbagai kemajuan ilu pengetahuan pada masa Dinasti Umayyah yang telah
berkembang pesat sebagai embrio perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman
Dinasti Abbasyiah.
E. Masa
Kehancuran Dinasti Bani Umayyah
Meskipun kejayaan telah diraih Bani Umayyah ternyata
tidak bertahan lebih lama, dikarenakan kelemahan internal dan semakin kuatnya
tekanan dari pihak luar.
Menurut
Dr. Badri Yatim, ada beberapa faktor yang menyebabkan Dinasti Umayyah lemah dan
mebawanya kepada kehancuran, yaitu sebagai berikut.
1.
Sistem
penggantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu tradisi yang baru
bagi bangsa Arab, yang lebih menentukan aspek senioritas, pengaturanya tidak
jelas. Ketidak jelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya
persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga.
2.
Latar belakang
terbentuknya Dinasti Umayyah tidak terlepas dari berbagai konflik politik yang
terjadi pada masa Ali. Sisa-sisa Syi’ah (para pengikut Ali) dan khawarij terus
menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti dimasa awal dan akhir
maupun secara tersembunyi seperti masa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan
terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
3.
Pada masa
kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku arabia utara (Bani Qais)
dan Arab Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum islam semakin
runcing. Perselesihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat
kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Di samping itu, sebagai
besar golongan timur lainya merasa tidak puas karena status mawali itu
menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang
diperhatikan pada masa Bani Umayyah.
4.
Lemahnya
pemerintahan Daulah Bani Umayyahjuga disebabkan oleh sikap hidup mewah di
lingkingan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat
kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Di samping itu, sebagian besar
golongan awam kecewa karna perhatian penguasa terhadap perkembangan agama
sangat kurang.
5.
Penyebab
langsung runtuhnya kekuasaan Dinasti Umayyah adalah munculnnya kekuatan baru
yang di pelopori oleh keturunan Al-Abbas bin Abbas Al-Muthalib. Gerakan ini
mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah. Dan kaum mawali
yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.[9]
Beberapa
penyebab tersebut muncul dan menumpuk jadi satu, sehingga akhirnya
mengakibatkan keruntuhan Dinasti Umayyah, disusul dengan berdirinya kekuasaan
orang-orang Bani Abbasiyah yang mengejar-ngejar dan membunuh setiap orang dari
Bani Umayyah yang dijupainya.
Demikkianlah,
Dinasti Uayyah pasca wafatnya Umar bin Abdul Aziz yang berangsur-angsur
melemah. Kekhalifahan sesudahnya dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh yang
melemahkan dan akhirnya hancur. Dinasti Bani Umayyah diruntuhkaan oleh Dinasti
Bani Abbasiyah pada masa khalifah Marwan bin Muhammad (arwan II) pada tahun 127
H/744 M.
BAB 3
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
penjelasan yang telah disebutkan, maka dapat
kita ambil kesimpulan. Proses terbentuknya kekhalifahan Bani Umayyah dimulai
sejak khalifah Utsman bin Affan tewas terbunuh oleh tikaman pedang Humran bin
Sudan pada tahun 35 H/656 M. Pada saat itu khalifah Utsman bin Affan di anggap
terlalu nepotisme (mementingkan kaum kerabatnya sendiri). Setelah wafatnya
Utsman bin Afan maka masyarakat Madinah mengangkat sahabat Ali bin Abi Thalib
sebagai khalifah yang baru. Dan masyrakat melakukan sumpah setia (bai’at)
terhadap Ali pada tanggal 17 Juni 656 M / 18 Djulhijah 35 H.
Dinasti
umayyah diambil dari nama Umayyah Ibn ‘Abdi Syams Ibn ‘Abdi Manaf, Dinasti ini
sebenarnya mulai dirintis semenjak masa kepemimpinan khalifah Utsman bin Affan
namun baru kemudian berhasil dideklarasikan dan mendapatkan pengakuan
kedaulatan oleh seluruh rakyat setelah khalifah Ali terbunuh dan Hasan ibn Ali
yang diangkat oleh kaum muslimin di Irak menyerahkan kekuasaanya pada Muawiyah
setelah melakukan perundingan dan perjanjian. Bersatunya ummat muslim dalam
satu kepemimpinan pada masa itu disebut dengan tahun jama’ah (‘Am al Jama’ah)
tahun 41 H /661
M.
Sistem
pemerintahan Dinasti Bani Umayyah diadopsi dari kerangka pemerintahan Persia
dan Bizantium, dimana ia menghapus sistem tradisional yang cenderung pada
kesukuan. Pemilihan khalifah dilakukan dengan sistem turun temurun atau
kerajaan, hal ini dimulai oleh Umayyah ketika menunjuk anaknya Yazid untuk
meneruskan pemerintahan yang dipimpinnya pada tahun 679 M.
Pada
masa kekuasannya yang hampir satu abad, dinasti ini mencapai banyak kemajuan.
Dintaranya adalah: kekuasaan territorial yang mencapai wilayah Afrika Utara,
India, dan benua Eropa, pemisahan kekuasaan, pembagian wilayah kedalam 10 provinsi,
kemajuan bidang administrasi pemerintahan dengan pembentukan dewan-dewan,
organisasi keuangan dan percetakan uang, kemajuan militer yang terdiri dari
angkatan darat dan angkatan laut, organisasi kehakiman, bidang sosial dan
budaya, bidang seni dan sastra, bidang seni rupa, bidang arsitektur, dan dalam
bidang pendidikan.
Kemunduran
dan kehancuran Dinasti Bani Umayyah disebabkan oleh banyak faktor, dinataranya
adalah: perebutan kekuasaan antara keluarga kerajaan, konflik berkepanjagan
dengan golongan oposisi Syi’ah dan Khawarij, pertentangan etnis suku Arab Utara
dan suku Arab Selatan, ketidak cakapan para khalifah dalam memimpin
pemerintahan dan kecenderungan mereka yang hidup mewah, penggulingan oleh Bani
Abbas yang didukung penuh oleh Bani Hasyim, kaum Syi’ah, dan golongan Mawali.
B. Saran
Demikianlah
isi dari makalah kami, yang menurut kami
telah kami susun secara sistematis agar pembaca mudah untuk memahaminya.
Berbicara mengenai sejarah, maka sejarah merupakan ilmu yang tidak akan pernah
ada habisnya. Ingatlah, orang yang cerdas adalah orang yang belajar dari
sejarah.
Sering
kali kita lupa bahwa “meskipun” berkisah mengenai masa lampau, tapi sejarah
begitu penting bagi perjalanan suatu bangsa. Melalui sejarah, kita belajar
untuk menghargai perjuangan para pendahulu kita, belajar menghargai tetes darah
dan keringat mereka untuk apa yang kita nikmati saat ini. Lewat sejarah kita
juga belajar dari pengalaman masa lalu, dan menjadikannya sebagai modal
berharga untuk melangkah di masa depan
Islam
merupakan agama yang besar dengan perjalanan sejarah yang panjang. maka dari
itu, marilah kita menggali lebih jauh lagi ilmu-ilmu yang berkaitan dengan
sejarah Islamiah. Demi menguatkan keteguhan dan rasa kebanggaan hati kita
terhadap agama Islam yang kita peluk ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Al-Usyairi, Sejarah Islam Sejak
Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX.
Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta: Logos, 1997).
Badri yatim, “Sejarah Peradaban Islam,Dirasah islamiyah II”,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001) Cet.XII
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2000),
Faud Mohd, Fachruddin, Perkembangan
Kebudayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1985), hlm.46.
Mashurimas, “Makalah Kekuasaan Dinasti
Umayyah” , di akses dari http://mashurimas.blogspot.com. 09 November 2014
R. Cecep Lukman Yasin
dan Dedi
Slamet Riyadi, The History of Arabs (Jakarta: PT Serambi
Ilmu Semesta. 2008), Cet. Ke-1
Samsul Munir
Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:
Amzah, 2013), cet.3
[1] Mashurimas,
“Makalah Kekuasaan Dinasti Umayyah” , di akses dari http://mashurimas.blogspot.com. 09
November 2014.
[5] R.
Cecep Lukman Yasin dan Dedi
Slamet Riyadi, The
History of Arabs (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta. 2008),
Cet. Ke-1, hlm..257.
[6]
Badri yatim, “Sejarah Peradaban
Islam,Dirasah islamiyah II”, PT Raja Grafindo Persada, Cet.XII, 2001, hlm.
42
No comments:
Post a Comment