MASA DISINTEGRASI
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah sehingga makalah ini yang berjudul Masa
Disintegrasi dapat terselesaikan
dengan baik. Makalah ini sengaja dibuat sebagai salah satu pemenuhan tugas kami
pada semester ini. Makalah ini juga terselesaikan berkat dukungan dari :
1.
Dosen pengampu
mata kuliah Sejarah Peradaban Islam.
2.
Orang tua yang
memberikan dukungan baik moril maupun materil.
3.
Serta
teman-teman yang selalu memberikan motivasi dan kritikan yang positif.
Selain
sebagai pemenuhan tugas, makalah ini juga dimaksudkan agar bermanfaat baik bagi
yang membaca maupun penulis, sehingga dapat memahami tentang penulisan kata
secara lebih mendalam.
Tak
ada gading yang tak retak, begitu pula pada makalah ini, kami mohom maaf
apabila terdapat kesalahan atau pun kekeliruan, sehingga bagi pembaca makalah
ini dapat memberikan saran dan kritik yang semestinya.
Metro, 1 Desember 2014
Penulis
DAFTAR ISI
COVER MAKALAH ..................................................................................... .... 1
KATA PENGANTAR ......................................................................................... 2
DAFTAR ISI ....................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. .... 4
A.
Latar Belakang ..................................................................................... .... 4
B.
Rumusan Masalah
................................................................................ .... 5
C.
Tujuan
Penulisan .................................................................................. .... 5
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... .... 6
A.
Dinasti-Dinasti
Yang Memerdekakan Diri Dari Baghdad ....................... 6
B.
Perebutan
Kekuasaan Di Pusat Pemerintahan .......................................... 8
C.
Sebab-Sebab
Kemunduran Pemerinntahan Bani Abbas .......................... 9
BAB III PENUTUP ............................................................................................ 12
A.
Kesimpulan ............................................................................................... 12
B.
Saran ......................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Semenjak pemerintahan Harun
ar-Rasyid (786-809M/170-194H) dikatakan bahwa pada masa itu terjadi masa
keemasan Bani Abbasiyah. Tetapi pada waktu inilah terjadi benih benih
disintegrasi tepatnya saat penurunan tahta. Harun ar-Rasyid telah mewariskan tahta
kekhalifahan pada putranya yaitu Al-Amin dan putera yang lebih muda yaitu
al-Ma’mun (saat itu menjabat sebagai gubernur khurasan). Setelah wafatnya Harun
al-Rasyid , al-Amin berusaha mengkhianati hak adiknya dan menunjuk anak
laki-lakinya sebagai penggantinya kelak. Inilah yang akhirnya menjadi awal masa
perpecahan, yang akhirnya dimenangkan oleh al-Ma’mun.
Pada masa kekhalifahan al-Ma’mun
(198-218 H/813-833 M) juga mengalami disintegrasi yang menyebabkan
munculnya dinasti Thaahiriyah yang didirikan oleh Thahir. Beliau diangkat
menjadi jendral militer Abbasiyah karena telah membantu dalam memperebutkan
kekuasaan al-Amin. Pemberian jabatan ini dimaksudkan agar al-Ma’mun dapat
menjalin kerja sama dengan kalangan elit yang dinaungi oleh Thahir. Namun upaya
untuk menyatukannya tidak dapat terwujud dan akhirnya kekuasaan dikuasai oleh
penguasa gubernur besar.
Dalam periode pertama,sebenarnya
banyak tantangan dan gangguan yang dihadapi dinasti Abbasiyah. Beberapa gerakan
politik yang merongrong pemerintah dan mengganggu stabilitas muncul
dimana-mana, baik gerakan di kalangan intern Bani Abbas sendiri maupun dari
luar. Namun semuanya dapat diatasi dengan baik. Keberhasilan penguasa Abbasiyah
mengatasi gejolak dalam negeri ini semakin memantapkan posisi dan kedudukan
mereka sebagai pemimpin yang tangguh. Kekuasaan betul-betul berada ditangan
khalifah. Keadaan ini sangat berbeda dengan periode sesudahnya. Setelah periode
pertama berlalu, kekuatan khalifah mulai melemah, mereka berada dibawah
pengaruh kekuasaan lain. Kondisi ini memberi peluang kepada tentara
professional asal Turki untuk menguasai kakuasaan.
Kekuasaan Turki tidaklah
selamanya mengalami kejayaan, pada akhir periode kedua, pemerintahan tentara
turki mulai melemah dengan sendirinya, didaerah-daerah muncul tokoh-tokoh kuat
yang kemudian memerdekakan diri dari kekuasaan pusat, mendirikan
dinasti-dinasti kecil. Inilah yang menjadi permulaan masa disintegrasi dalam
sejarah politik islam.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian
disentegrasi?
2.
Apa penyebab
terjadinya disentegrasi?
C.
Tujuan
Penulisan
1.
Mengetahui
pengertian disentegrasi.
2.
Mengetahui
penyebab disentegrasi.
BAB II
PEMBAHASAN
MASA DISINTEGRASI (1000-1250)
Disentegrasi merupakan suatu keadaan yang terpecah belah dari
kesatuan yang utuh menjadi terpisah-pisah. Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan
besar yang dicapai Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para
penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung mencolok. Setiap khalifah
cenderung ingin lebih mewah dari pendahulunya. kehidupan mewah
khalifah-khalifah ini ditiru oleh para hartawan dan anak-anak pejabat.
Kecenderungan bermewah-mewah, ditambah dengan kelemahan khlaifah dan khalifah dan
faktor lainnya menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat miskin.
Kondisi ini member peluang kepada tentara professional asal Turki yang
semula diangkat oleh khalifah Al-Mu’tashim untuk mengambil alih pemerintah.
Usaha mereka berhasil, sehingga
kekuasaaan sesungguhnya berada ditangan mereka, sementara kekuasaaan
Bani Abbas didalam khilafah Abbbasiyah yang didiraikannya mulai pudar dan ini
merupakan awal dari keruntuhan dinasti ini meskipun setelah itu usianya masih
dapat bertahan lebih dari empat ratus tahun.
A.
DINASTI-DINASTI YANG MEMERDEKAKAN DIRI DARI BAGHDAD
Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya mulai terjadi pada
akhir zaman Dinasti Umayyah, tetapi memuncak pada zaman Dinasti Abbasiyah.
Sebagaimana diketahui, wilayah kekuasaan Bani Umayyah mulai dari awal
berdirinya sampai masa keruntuhannya, sejajar dengan batas-batas wilayah
kekuasaan Islam. Hal ini berbeda dengan masa Dinasti Abbasiyah. Kekuasaan
dinasti ini tidak pernah diakui oleh Islam di wilayah Spanyol dan Afrika Utara,
kecuali Mesir. Bahkan dalam kenyataannya, banyak wilayah tidak dikuasai
Khalifah. Secara riil, daerah-daerah itu bersa di bawah kekuasaan
gubernur-gubernur provinsi bersangkutan. Hubungannya dengan khalifah ditandai
dengan pembayaran upeti.
Ada kemungkinan bahwa para khalifah Bani Abbasiyah sudah cukup puas
dengan pengakuan nominal dari provinsi-provinsi tertentu, dengan pembayaran
upeti. Alasannya, pertama, mungkin para khalifah tidak cukup kuat untuk
membuat mereka tunduk kepadannya. Kedua, penguasa Bani Abbas lebih
menitikberatkan pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan
ekspansi.
Akibat dari kebijakan yang lebih menekanan pembinaan peradaban dan
kebudayaan Islam daripada persoalan politik itu, beberapa provinsi tertentu di
pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbasiyah.
Adapun dinasti yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasaan
Baghdad pada masa khalifah Abbasiyah, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Yang berbangsa Persia:
a.
Thahiriyyah
di Khurasan, (205-259 H/820-872 M).
b.
Shafariyah
di Fars, (254-290 H/868-901 M).
c.
Samaniyah
di Transoxania, (261-389 H/873-998 M).
d.
Sajiyyah
di Azerbaijan, (266-318 H/878-930 M).
e.
Buwaihiyyah,
bahkan menguasai Baghdad, (320-447 H/ 932-1055 M).
2.
Yang
berbangsa Turki:
a.
Thuluniyah
di Mesir, (254-292 H/837-903 M).
b.
Ikhsyidiyah
di Turkistan, (320-560 H/932-1163 M).
c.
Ghaznawiyah
di Afghanistan, (351-585 H/962-1189 M).
d.
Dinasti
Seljuk dan cabang-cabangnya:
1)
Seljuk
besar, atau seljuk Agung, didirikan oleh Rukn al-Din Abu Thalib Tuqhrul Bek ibn
Mikail ibn Seljuk ibn Tuqaq. Seljuk ini menguasai Baghdad dan memerintah selama
sekitar 93 tahun (429-522H/1037-1127 M).
2)
Seljuk
Kinnan di Kirman, (433-583 H/1040-1187 M).
3)
Seljuk
Syriaatau Syam di Syria,(487-511 H/1094-1117 M).
4)
Seljuk
Irak di Irak dan Kurdistan, (511-590 H/1117-1194 M).
5)
Seljuk
Rum atau Asia kecil di Asia Kecil, (470-700 H/1077-1299 M).
3.
Yang
berbangsa Kurdi:
a.
al-Barzuqani,
(348-406 H/959-1015 M).
b.
Abu
Ali, (380-489 H/990-1095 M).
c.
Ayubiyah,
(564-648 H/1167-1250 M).
4.
Yang
berbangsa Arab:
a.
Idrisiyyah
di Marokko, (172-375 H/788-985 M).
b.
Aghlabiyyah
di Tunisia (184-289 H/800-900 M).
c.
Dulafiyah
di Kurdistan, (210-285 H/825-898 M).
d.
Alawiyah
di Tabaristan, (250-316 H/864-928 M).
e.
Hamdaniyah
di Aleppo dan Maushil, (317-394 H/929- 1002 M).
f.
Mazyadiyyah
di Hillah, (403-545 H/1011-1150 M).
g.
Ukailiyyah
di Maushil, (386-489 H/996-1 095 M).
h.
Mirdasiyyah
di Aleppo, (414-472 H/1023-1079 M).
5.
Yang
mengaku dirinya sebagai khilafah:
a.
Umawiyah
di Spanyol (Andalusia)
b.
Fathimiyah
di Mesir.
Dari latar belakang dinasti-dinasti tersebut, tampak jelas adanya
persaingan antarbangsa terutama bangsa Arab,Persia, dan Turki. Disamping latar
belakang kebangsaan, dinasti-dinasti itu juga dilatarbelakangi oleh paham
keagamaan, ada yang melatarbelakangi Syi’ah dan ada pula yang Sunni.
B. PEREBUTAN KEKUASAAN DI
PUSAT PEMERINAHAN
Faktor lain yang menyebabkan peran
politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan,
Hal ini sebenarnya juga terjadi pada pemerintahan-pemerintahan Islam
sebelumnya. Tetapi, apa yang terjadi pada pemerintahan Abbasiyah berbeda dengan
yang terjadi sebelumnya. Setelah Nabi wafat, terjadi pertentangan pendapat
antara kaum Muhajirin dan Anshar di balai kota Bani Sa'idah di Madinah.
Masing-masing golongan berpendapat bahwa kepemimpinan harus berada di pihak
mereka, atau setidak-tidaknya masing-masing golongan mempunyai pemimpin
sendiri. Akan tetapi, karena pemahaman keagamaan mereka yang baik dan semangat
musyawarah dan ukhuwah yang tinggi perbedaan itu dapat diselesaikan, Abu Bakar
terpilih menjadi Khalifah.
Pertumpahan
darah pertama dalam Islam karena perebutan kekuasaan terjadi pada masa
kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Pertama-tama Ali menghadapi pemberontakan
Thalhah, Zubair, dan Aisyah. Alasan pemberontakan itu adalah Ali tidak mau
menghukum para pembunuh Usman, dan mereka menuntut bela terhadap darah Usman
yang ditumpahkan secara zalim. Namun di balik alasan itu, menurut Ahmad
Syalabi, Abdullah ibn Zubairlah yang menyebabkan terjadinya pemberontakan yang
banyak membawa korban tersebut. Dia berambisi besar untuk menduduki kursi
khilafah. Untuk itu, ia menghasut bibi dan ibu asuhnya, Aisyah, agar
memberontak terhadap Ali, dengan harapan Ali gugur dan ia dapat menggantikan
posisi Ali. Dengan tujuan mendapatkan kedudukan khilafah itu pula Muawiyah,
gubemur Damaskus, memberontak. Selain banyak menimbulkan korban, Muawiyah
berhasil mencapai maksudnya, sementara Ali terbunuh oleh bekas pengikutnya
sendiri.
Pemberontakan-pemberontakan
yang muncul pada masa Ali ini bertujuan untuk menjatuhkannya dari kursi
khilafah dan diganti oleh pemimpin pemberontak itu. Hal yang sama juga terjadi
pada masa pemerintahan Bani Umayyah di Damaskus. Pemberontakan-pemberontakan
sering terjadi, diantaranya pemberontakan Husein ibn Ali, Syi'ah yang dipimpin
oleh al-Mukhtar, Abdullah ibn Zubair, dan terakhir pemberontakan Bani Abbas
yang untuk pertama kalinya menggunakan nama gerakan Bani Hasyim. Pemberontakan
terakhir ini berhasil dan kemudian mendirikan pemerintahan baru yang diberi
nama khilafah Abbasiyah atau Bani Abbas.
Pada
masa pemerintahan Bani Abbas, perebutan kekuasaan seperti itu juga terjadi,
terutama di awal berdirinya. Akan tetapi, pada masa-masa berikutnya, seperti
terlihat pada periode kedua dan seterusnya, meskipun khalifah tidak berdaya,
tidak ada usaha untuk merebut jabatan khilafah dari tangan Bani Abbas. Yang ada
hanyalah usaha merebut kekuasaannya dengan membiarkan jabatan khalifah tetap
dipegang Bani Abbas. Hal ini terjadi karena khalifah sudah dianggap sebagai
jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Sedangkan
kekuasaan dapat didirikan di pusat maupun di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan
dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. Tentara Turki berhasil merebut
kekuasaan tersebut. Di tangan mereka khalifah bagaikan boneka yang tak bisa
berbuat apa-apa. Bahkan merekalah yang memilih dan menjatuhkan khalifah sesuai
dengan keinginan politik mereka.
C. SEBAB-SEBAB
KEMUNDURAN PEMERINTAHAN BANI ABBAS
Berakhirnya kekuasaan dinasti Seljuk atas Baghdad atau
khilafah Abbasiyah merupakan awal dari periode kelima. Pada periode ini,
khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu,
walaupun banyak sekali dinasti Islam berdiri. Ada diantaranya yang cukup besar,
namun yang terbanyak adalah dinasti kecil.
Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah,
masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. Namun demikian, faktor-faktor
penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. Hal ini sudah terlihat
pada periode pertama, hanya karena khalifah pada periode ini sangat kuat,
benih-benih itu tidak sempat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat
bahwa apabila khalifah kuat, para menteri cenderung berperan sebagai kepala
pegawai sipil, tetapi jika khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda
pemerintahan.
Menurut W. Wontgomery Watt, bahwa
beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran pada masa daulah Bani Abbasiyah
adalah sebagai berikut:
1. Luasnya wilayah kekuasaan daulah Abbasiyah, sementara
komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat
saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintah sangat
rendah.
2. Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata,
ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.
3. Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang
dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. Pada saat kekuatan militer
menurun, khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.
Sedangkan
menurut Dr. Badri Yatim, M.A., yang menyebabkan kemunduran daulah Bani
Abbasiyah adalah sebagai berikut:
1.
Persaingan
antar bangsa
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas
yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh
persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya
sama-sama tertindas. Setelah Dinasti Abbasiyah berdiri, dinasti Bani Abbas
tetap mempertahankan persekutuan itu. Meskipun demikian, orang-orang
Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan
pegawai dari Persia pula. Pada masa
ini pesaingan antarbangsa menjadi pemicu untuk saling berkuasa. Kecenderungan
masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal
khalifah Abbasiyah berdiri.
2. Kemerosotan ekonomi
Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemerosotan di
bidang ekonomi. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan
pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga
Bait al-Mal penuh dengan harta. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran,
pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar.
Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah
kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan. Dengan demikian terjadi kemerosotan
dalam bidang ekonomi.
3.
Konflik
keagamaan
Fanatisme keagamaan berkaitan erat
dengan persoalan kebangsaan. Pada periode Abbasiyah, konflik keagamaan yang
muncul menjadi isu sehingga mengakibatkan terjadinya perpecahan. Erbagai aliran
keagamaan seperti Mu’tazilah, Syi’ah, Ahlus Sunnah, dan kelompok-kelompok
lainnya menjadikan pemerintahan Abbasiyah mengalami kesulitan untuk
mempersatukan berbagai faham keagamaan yang ada.
4. Perang Salib
Perang salib merupakan sebab eksternal dari umat
Islam.perang salib yang berlangsung beberapa gelombang banyak menelan korban.
Konsentrasi dan perhatian pemerintahan Abbasiyah terpecah belah untuk
menghadapi tentara Salib sehingga memunculkan kelemahan-kelemahan.
5.
Serangan Bangsa
Mongol
Serangan bangsa Mongol ke wilayah kekuasaan Islam menyebabkan
kekuatan Islam menjadi lemah, apalagi serangan Hulagu Khan dengan pasukan
Mongol yang biadab menyebabkan kekuatan Abbasiyah menjadi lemah dan akhirnya
menyerah kepada kekuatan Mongol.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Disentegrasi merupakan suatu keadaan yang terpecah belah dari
kesatuan yang utuh menjadi terpisah-pisah. Banyak sekali faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya disintegrasi, yaitu: dinasti-dinasti yang memerdekakan
diri dari Baghdad, perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan, persaingan antar
bangsa, kemerosotan ekonomi, konflik keagamaan, dan serangan bangsa Mongol
B.
Saran
Kami sebagai penulis dari bakalah ini menyarankan agar memahami dan
mempelajari tentang masa disintegrasi islam, supaya mengetahui dampak dari
disintegrasi kekhaifahan Islam terhadap keutuuhan dan kesatuan kita sebagai
umat Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman Mas’ud. 2013. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta:
Amzah.
Badri Yatim. 2000. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja
Grapindo Persada.
Dedi Supriyadi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV.
Pustaka Setia.
Sunanto Musyrifah. 2003. Sejarah Islam Klasik. Bogor:
Jakarta.
Tohir Ajid. 2004. Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
No comments:
Post a Comment