Breaking News

Tuesday, 22 December 2015

Makalah Pengorganisasian



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Managemen sebagai suatu kegiatan untuk mencapai tujuan menjadi hal yang wajib diketahui oleh seseorang yang terlibat dalam kepanitiaan, organisasi, atau perusahaan. Pengorganisasian merupakan ilmu dasar management yang perlu dikuasai sebagai landasan untuk  mempelajari ilmu managemen terapan lainnya.
Kegiatan pengorganisasian tidak pernah berakhir. Melihat sebuah organisasi sebagai “jaringan kerja (network) pusat-pusat komunikasi daam pengambilan keputusan yang dapat menghasilkan usaha-usaha kelompok secara efektif dari usaha-usaha perorangan sehingga terlihat bahwa pengorganisasian bersifat dinamis. Perubahan-perubahan pasti terjadi, karena kita berurusan dengan manusia, hubungan mereka dengan fisiknya, tidak ada satupun yang bersifat statis. Sebuah organisasi harus siap menghadapi perubahan-perubahan identitas dan lingkungannya juga berubah.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pengorganisasian?
2.      Apa tujuan pengorganisasian?
3.      Apa yang dimaksud dengan pendelegasian wewenang?
4.      Apa faktor penentu dari pendelegasian wewenang?



BAB II
PEMBAHASAN
A.      Hakikat Organisasi
Organisasi berasal dari istilah Yunani organon dan istilah latin organum yang berarti alat, bagian, anggota, atau badan.[1]
Organisasi (organization) dan pengorganisasian (organizing) memiliki hubungan yang erat dalam manajemen. Organisasi merupakan alat dan wadah atau tempat manejer melakukan kegiatan-kegiatannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dan didalamnya terdapat norma-norma yang harus dipedomani dan nilai yang perlu dipegang teguh.
Oraganisasi adalah sekelompok orang (dua atau lebih) yang saling berinteraksi dan bekerja sama untuk merealisasikan tujuan bersama. Berdasarkan definisi tersebut jelaslah bahwa dalam suatu organisasi minimum mengandung tiga elemen yang paling berhubungan.
Ketiga elemen organisasi tersebut adalah
1) sekelompok orang,
2) interaksi dan kerja sama dan,
3) tujuan bersama.[2]

Manusialah yang memegang peranan penting dalam setiap kegiatan yang disebut organisasi, mereka harus melaksanakan tugas dan pekerjaan sesuai dengan fungsi yang harus dilakukannya. Siapa mengerjakan apa, dan di bagian mana. Di dalam organisasi ada tujuan yang akan dicapai, aturan bekerja, norma yang harus ditaati, metode dan prosedur mengerjakan, orang yang menjalankan pekerjaan, kesatuan arah dan perintah koordinasi, control dan kerja sama, hubungan social di antara orang–orang yang ada didalamnya, serta penghargaan kepada setiap orang yang telah melaksankan pekerjaannya.[3]

B.      Pengertian dan Tujuan Pengorganisasian
 Pengorganisasian (organizing) adalah:
1.       penentuan-penentuan sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi,
2.      perencanaan dan pengembangan suatu organisasi,
3.      penugasan tanggung jawab tertentu dan,
4.      kemudian pendelegasian wewenang yang diperlukan kepada individu-individu untuk melaksanakan tugas-tugasnya.[4]

Pengorganisasian menurut George R. Terry adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang, sehingga mereka dapat bekerjasama secara efisien dan dengan demikian memperoleh kepuasan pribadi dalam dalam hal melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan dan sasaran tertentu.
Jadi, pengorganisasian adalah suatu proses menempatkan sesuatu pada tempatnya sesuai dengan kemampun yang dimiliki.
Di dalam menyusun sebuah organisasi, perlu sekali mengadakan pembagian tugas yang sebaik-baiknya dan memberi wewenang-wewenang yang tepat, namun demikian yang paling penting ialah menempatkan orang secara tepat di tempat-tempat tugas managerial. Pengorganisasian merupakan kegiatan dasar dari manajemen untuk dilaksanakan dan mengatur seluruh sumber-sumber yang dibutuhkan termasuk unsur manusia, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sukses.

Tujuan dari pengorganisasian adalah untuk membimbing manusia-manusia bekerja sama secara efektif.
Seorang menejer harus tahu kegiatan-kegiatan mana yang perlu ditangani, siapa-siapa yang membantu dan siapa-siapa yang dibantu, jalur komunikasi, liku-liku pekerjaan yang harus diikuti, keterangan antara pribadi pegawai, dan antar kelompok kerja dan tugas dari kelompok kerja masing-masing.
Pengorganisasian terjadi karena pekerjaan yang akan dilaksanakan itu terlalu berat ditangani oleh satu orang saja. Dengan demikian diperlukan tenaga-tenaga bantuan dan terbentuknya kelompok kerja yang efektif. Banyak pikiran, banyak tangan dan keterampilan dihimpun menjadi satu yang harus dikoordinasi bukan saja untuk menyelesaikan tugas-tugas yang bersangkutan, tetapi juga untuk menciptakan kegunaan bagi masing-masing anggota kelompok tersebut terhadap keinginannya, keterampilan dan pengetahuan.
C.      Komponen-komponen pengorganisasian
Ada empat komponen-komponen nyata dari pengorganisasian, dan dapat diingat dengan kata WERE yang berarti “ Work, Employes, Relationships, dan Environment” (pekerjaan, pegawai, hubungan kerja dan lingkungan).
1.      Pekerjaan
Fungsi yang harus dilaksanakan berasal dari sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Fungsi tersebut dipisah-pisahkan ke dalam sub-sub fungsi.
Hal tersebut dilakukan karena:
a.    Distribusi pekerjaan kepada kelompok yang kemudian akan dibagikan lagi.
b.    Spesifikasi pekerjaan ke dalam bagian-bagian tugas yang kecil.
Dari berbagai fungsi tersebut, dibentuk pekerjaan kecil yang sejenis atas dasar persamaan pekerjaan atau efisiensi apabila dapat dijadikan bagian-bagian yang kecil, maka pelaksanaanya akan lebih mudah. Bagian-bagian tersebut disebut “unit-unit organisasi”.
2.      Pegawai
Setiap orang ditugaskan untuk melaksanakan bagian tertentu dari seluruh pekerjaan. Lebih baik lagi apabila penugasan tersebut disertai perhatian terhadap kepentingan pegawai, setiap pengalaman dan keterampilan. Perhatian tersebut sangat diperlukan dalam pengorganisasian. Penugasan yang diberikan kepada masing-masing individu biasanya merupakan bagian tugas-tugas organisasi atau dapat juga berupa seluruh tugas dari suatu unit kerja. Pembagian tugas tersebut menghasilkan “unit kerja pegawai organisasi”.
3.      Hubungan Kerja
Merupakan masalah penting di dalam organisasi. Hubungan antara pegawai dengan pekerjaanya, interaksi antara satu pegawai dengan pegawai lainnya dan unit pekerja pegawai dengan unit kerja lainnya. Mencari keserasian dan kesatuan usaha hanyalah mungkin apabila hubungan tersebut terbina cukup baik. Sebagian besar problema di dalam pengorganisasian berkaitan dengan kesulitan hubungan.
4.      Lingkungan.
Komponen terakhir dari pengorganisasian mencakup sarana-sarana fisik dan sasaran umum di dalam lingkungan dimana pegawai-pegawai melaksanakan tugas-tugas mereka, lokasi, mesin, perabot kantor, blanco-blanco, penerangan, dan sikap mental merupakan faktor-faktor yang membemtuk lingkungan. Dari proses pengorganisasian lahir struktur organisasi yang memperlihatkan arus dari interaksi di dalam organisasi siapa yang menetapkan apa, siapa yang memerintahkan kerja, siapa yang harus menanggapi dan siapa yang mengerjakan pekerjaan apa walaupun demikian segala sesuatu tidak selalu harus terjadi seperti ditetapkan di dalam struktur, bukan saja karena strukturnya tidak lengkap, akan tetapi terutama sekali karena kita berurusan dengan manusia yang memiliki interaksi yang berbeda sesuai dengan kepribadian masing-masing.[5]

D.      Bentuk-bentuk organisasi
Menurut pola hubungan kerja, serat lalu lintas wewenang dan tanggung jawab, maka bentuk-bentuk organisasi itu dapat dibedakan sebagai berikut:
a.       Bentuk organisasi Garis,
b.      Bentuk organisasi Fungsional,
c.       Bentuk organisasi Garis dan Staf,
d.      Bentuk organisasi Fungsional dan Staf.

a)      Bentuk organisasi Garis
Organisasi garis adalah bentuk organisasi yang tertua dan paling sederhana. Ciri-ciri bentuk organisasi garis adalah organisasi masih kecil, jumlah karyawan sedikit dan saling kenal, serta spesialisasi kerja belum begitu tinggi.
                        Kebaikan:
1)      Kesatuan komando terjamin baik karena pimpinan berada di atas satu tangan.
2)      Jumlah pengambilan keputusan berjalan dengan cepat karena jumlah orang yang diajak berkonsultasi masih sedikit atau tidak ada sama sekali.
3)      Rasa solidaritas diantara karyawan umumnya tinggi karena saling mengenal.
Keburukan:
1)      Seluruh organisasi terlalu bergantung pada satu orang sehingga kalau orang itu tidak mampu, seluruh organisasi akan terancam kehancuran.
2)      Adanya kecenderungan pimpinan bertindak secara otokratis.
3)      Kesempatan karyawan untuk berkembang terbatas.

b)     Bentuk organisasi Fungsional
Organisasi fungsional diciptakan oleh F.W. Taylor, dimana segelintir pimpinan tidak mempunyai bawahan yang jelas sebab setiap atasan berwenang memberi komando kepada setiap karyawan, sepanjang ada hubungannya dengan fungsi atasan tersebut.
Kebaikan:
1)      Pembidangan tugas-tugas jelas.
2)      Spesialisasi karyawan dapat dikembangkan dan digunakan semaksimal mungkin.
3)      Digunakan tenaga-tenaga ahli dalam berbagai bidang, sesuai dengan fungsi-fungsinya.
Keburukan:
1)      Karena adanya spesialisasi, sukar mengadakan tou of duty.
2)      Para karyawan lebih mementingkan bidangnya, sehingga sukar melaksanakan koordinasi
c)      Bentuk organisasi garis dan staf
Bentuk organisasi ini dianut oleh organisasi besar, daerah kerjanya luas dan mempunyai bidang-bidang tugas yang beraneka ragam serta rumit, dan jumlah karyawannya banyak.
Kebaikan:
1)      Dapat digunakan oleh setiap organisasi besar, apapun tujuannya, betapa pun luas tugasnya, dan betapa pun kompleks susunan organisasinya.
2)      Pengambilan keputusan yang sehat lebih mudah dapat diambil karena adanya staf ahli.
3)      Perwujudan “the right man in the right place” lebih mudah dilaksanakan.
Keburukan:
1)      Karena karyawan tidak saling mengenal, solidaritas sukar diharapkan.
2)      Karena rumit dan kompleksnya susunan organisasi, koordinasi kadang-kadang diterapkan.

d)     Bentuk organisasi Staf dan Fungsional.
        Bentuk organisasi Staf dan Fungsional merupakan kombinasi dari bentuk organisasi fungsional dan bentuk organisasi garis dan staf.

E.      Prinsip-prinsip Organisasi
1.      Perumusan tujuan yang jelas
Sebelum melakukan suatu aktifitas, mengorganisasi atau membuat suatu badan, maka yang pertama harus jelas apa yang menjadi tujuan kita.
2.      Pembagian kerja
Pembagian kerja merupakan keharusan dalam berorganisasi, sebab tanpa adanya pembagian kerja kemungkinan terjadinya tumpang tindih tugas menjadi amat besar.
3.      Delegasi wewenang (pelimpahan wewenang)
Delegasi adalah suatu pelimpahan wewenang dan tanggung jawab kepada orang lain untuk melaksanakan kegiatan tertentu.
4.      Rentangan kekuasaan
Rentangan kekuasaan dimaksudkan berapa jumlah bawahan seorang pemimpin itu dapat memimpin, membimbing, dan mengawasi secara berhasil guna dan berdaya guna.
5.      Tanggung jawab dan otoritas
Otoritas harus seimbang dengan tanggung jawab, artinya seseorang yang diberi tanggung jawab harus diberi otoritas untuk melaksanakan sesuatu yang diperlukan guna memenuhi tanggung jawab mereka.
6.      Koordinasi
Koordinasi adalah usaha mengarahkan kegiatan seluruh unit-unit organisasi agar tertuju untuk memberikan sumbangan semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan organisasi secara keseluruhan.[6]

F.       Proses (Langkah-Langkah) Pengorganisasian
1.      Manager harus mengetahui tujuan organisasi yang ingin dicapai, apakah profit motive atau service motive.
2.      Penentuan kegiatan-kegiatan, artinya manager harus mengetahui, merumuskan, dan menspesifikasikan kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi dan menyusun daftar kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan.
3.      Pengelompokan kegiatan-kegiatan, artinya manager harus mengelompokkan kegiatan-kegiatan ke dalam beberapa kelompok atas dasar tujuan yang sama. Kegiatan-kegiatan yang bersamaan dan berkaitan erat disatukan ke dalam satu departemen atau satu bagian.
4.      Pendelegasian wewenang, artinya manager harus menetapkan besarnya wewenang yang akan didelegasikan kepada setiap departemen.
5.      Rentang kendali, artinya manager harus menetapkan jumlah karyawan pada setiap departemen atau bagian.
6.      Peranan perorangan, artinya manager harus menetapkan dengan jelas tugas-tugas  setiap individu karyawan, supaya tumpang tindih tugas dapat dihindarkan.
7.      Tipe organisasi, artinya manager harus menetapkan tipe organisasiapa yang akan dipakai,  apakah line organization, line and staff organization ataukah function organization.
8.      Struktur (organization chart= bagan organisasi), artinya manager harus menetapkan struktur organisasi yang bagaimana yang akan digunakan.

Jika proses pengorganisasian di atas dilakukan dengan baik dan berdasarkan ilmiah maka organisasi yang disusun akan baik, efektif, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan dalam mencapai tujuannya.[7]

G.     Struktur organisasi
Stuktur organisasi adalah kerangka atau susunan dan hubungan antarbagian, komponen, dan posisi dalam suatu perkumpulan. Struktur organisasi menspesifikasi pembagian aktivitas yang beraneka macam dihubungkan sampai batas tertentu, juga menunjukkan tingkat spesialisasi aktivitas kerja. Struktur organisasi juga menunjukkan hierarki dan struktur otoritas organisasi serta memperlihatkan hubungan pelaporannya. Struktur organisasi memberikan stabilitas dan kontinuitas yang memungkinkan organisasi mempertahankan kedatangan dan kepergian individu serta untuk mengkoordinasi hubungannya dengan lingkungan.
Dalam organisasi modern terdapat tiga bentuk struktur organisasi yang secara formal disusun menurut fungsi, menurut produk atau pasar, dan dalam bentuk matriks.
1.      Struktur Organisasi Fungsional
Struktur organisasi fungsional menghimpun seluruh individu yang terlibat dalam suatu aktivitas yang berkaitan dalam suatu departemen. Sebagai contoh, organisasi yang dibagi manurut fungsi dapat memiliki bagian produksi, pemasaran, finansial, dan tenaga kerja. Seorang manager pada organisasi tersebut akan bertanggung jawab atas bagiannya masing-masing.
Bentuk struktur organisasi fungsional seringkali digunakan oleh perusahaan kecil yang menawarkan jajaran produk yang terbatas, karena memungkinkan sumber daya yang khusus dapat digunakan dengan efisien.  Secara detail, Stoner dan Wankell mengutip karakteristik struktur fungsional sebagai berikut:
a.       Keunggulam (Advantages)
1)      Sesuai dengan lingkungan yang stabil
2)      Menunjang pengembangan keahlian
3)      Meberi kesempatan bagi para spesialis
4)      Memerlukan koordinasi internal minimum
5)      Hanya sedikit memerlukan keterampilan antar pribadi

b.      Kelemahan (Disadvantages)
1)      Pada organisasi besar, respon lebih lambat diterima
2)      Menyebabkan terjadinya penyumbatan, karena pelaksanaan tugas sekuensial
3)      Kurang inovatif (memiliki perspektif yang sempit)
4)      Dapat menimbulkan konflik tentang prioritas produk
5)      Tidak menunjang berkembangnya manajer umum
6)      Mengaburkan tanggung jawab atas tugas keseluruhan.

2.      Struktur Organisasi Produk atau Pasar
Struktur organisasi produk atau pasar seringkali dipandang sebagai organisasi menurut divisi yang menghimpun dalam dalam suatu unit kerja seluruh tenaga kerja yang terlibat dalam produksi dan pemasaran suatu produk atau sekelompok produk yang berkaitan.
Struktur organisasi produk atau pasar seringkali dianut oleh perusahaan besar dan perusahaan multiproduk. Pola utama atas pembagian produk atau pasar yang sering dianut adalah sebagai berikut.
a)      Pembagian menurut produk (in division by produk)
Pada versi ini bahwa tiap bagian bertanggung jawab atas suatu produk atau seperangkat produk yang berhubungan.
b)      Pembagian menurut geografis (division by geography)
Versi ini menghimpun dalam suatu bagian, seluruh aktivitas yang dilaksanakan di wilayah tertentu di mana unit yang bersangkutan melakukan operasinya. Pengaturan semacam ini dipandang logis manakala dengan pertimbangan tentang:
1)      Sumber bahan baku
2)      Sumber bawahan
3)      Pasar atau produk yang dihasilkan
c)      Pembagian menurut pelanggan (division by customer)
Versi ini terjadi apabila suatu divisi menjual hampir seluruh produksinya kepada kelompok tertentu.

1.      Keunggulan
a)      Sesuai dengan perubahan yang cepat
b)      Memungkinkan adanya visibilitas produk yang tinggi
c)      Memungkinkan konsentrasi penuh terhadap tugas
d)     Kejelasan tanggung jawab
e)      Memungkinkan tugas ganda secara paralel
f)       Memudahkan pelatihan bagi manajer umum

2.      Kelemahan
a)      Membantu perkembangan politik dalam alokasi sumber daya
b)      Kurang mendukung koordinasi aktivitas antardivisi
c)      Mendorong terabaikannya prioritas jangka panjang
d)     Memungkinkan menurunkan pendalaman kompetisi
e)      Menimbulkan konflik antara tugas divisi dengan prioritas perusahaan.

3.      Struktur organisasi matriks
Pada struktur organisasi matriks terdapat dua jenis desaign sekaligus. Bagian fungsional permanen memiliki otoritas atas standar prestasi dan profesional unitnya,  sedangkan tim proyek dibentuk sesuai dengan kebutuhan untuk melaksanakan program tertentu. Anggota tim ini berasal dari berbagai bagian fungsional dan melapor kepada manager proyek, yang bertanggung jawab atas hasil tim kerja.
Struktur organisasi matriks berusaha memaksimumkan keunggulan dan meminimumkan kelemahan dari struktur fungsional dan struktur produk atas pasar. struktur organisasi matriks mencapai keseimbangan yang diinginkan dengan melapisi atau membubuhi suatu struktur otoritas horizontal, pengaruh, dan komunikasi. Terdapatnya suatu sistem otoritas ganda (a dual authority system) merupakan ciri khas dari struktur organisasi matriks. Organisasi fungsional yang tradisional dan organisasi yang berdasarkan produk menjalankan rantai komando yang keras, yaitu masing-masing bawahan melapor kepada seorang atasan saja.
Struktur organisasi matriks ditemukan dalam organisasi yang memerlukan tanggapan terhadap perubahan yang cepat dalam dua sektor, seperti tekhnologi dan pasar, yang menghadapi ketidakpastian dan memerlukan persyaratan tinggi mengenai pengolahan informasi serta harus menghadapi keterbatasan sumber daya finansial dan sumber daya manusia.
1.      Keunggulan
a)      Memberikan fleksibilitas kepada organisasi
b)      Merangsang kerja sama antardisiplin
c)      Melibatkan dan menantang perorangan
d)     Mengembangkan keterampilan karyawan
e)      Membebaskan top manajemen untuk perencanaan
f)       Memotivasi perorangan untuk mengidentifikasi produk akhir
g)      Memungkinkan para ahli ke wilayah penting apabila diperlukan.

2.      Kelemahan
a)      Risiko timbulnya perasaan anarki
b)      Mendorong pergulatan otoritas
c)      Dapat mengarah pada diskusi bukan aksi
d)     Menuntut keterampilan antarpribadi yang tinggi
e)      Implementasinya memerlukan biaya yang tinggi
f)       Risiko duplikasi usaha oleh tim proyek
g)      Berpengaruh pada moral kerja ketika personel diatur kembali.
     
H.      Pendelegasian Wewenang
Pendelegasian adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab kepada orang lain (staf/bawahan) untuk melaksanakan kegiatan tertentu.
(Manulang, 1988), pendelegasian adalah kegiatan seseorang untuk menugaskan stafnya/bawahannya untuk melaksanakan bagian dari tugas manajer yang bersangkutan dan pada waktu bersamaan memberikan kekuasaan kepada staf/bawahan tersebut, sehingga bawahan tersebut dapat melaksanakan tugas-tugas itu sebaik-baiknya serta dapat mempertanggung jawabkan hal-hal yang didelegasikan kepadanya.
Menurut Malayu S.P. Hasibun, pendelegasian wewenang adalah memberikan sebagian pekerjaan atau wewenang oleh delegator kepada delegate untuk dikerjakan atas nama delegator.[8]
Menurut Louis A. Allen pendelegasian wewenang adalah dinamika managemen. Pendelegasian wewenang adalah proses yamg diikuti oleh seorang manager dalam pembagian kerja yang dipikulkan kepadanya, sehingga ia melakukan bagian kerja itu hanya karena penempatan organisasi yang unik, dapat mengerjakan dengan efektif, sehingga ia dapat memperoleh orang-orang lain untuk membantu pekerjaan yang tidak dapat ia kerjakan.[9]
Delegasi merupakan penekanan pemindahan kekuasaan dari seorang manager kepada bawahan. Delegasi memperbolehkan bawahan mengambil keputusan, yaitu pemindahan kekuasaan pengambilan keputusan, dari suatu tingkat organisasi yang lebih tinggi ke suatu tingkat organisasi yang lebih rendah. Perlu diketahui bahwa delegasi itu tidak sama dengan partisipasi. Dalam pengambil keputusan yang partisipatif, terdapat suatu pembagian kekuasaan. Akan tetapi dalam delegasi, bawahan mengambil keputusannya sendiri.


Delegasi terdiri atas 4 langkah proses yaitu:
1.      Alokasi atau pembagian tugas
2.      Delegasi kekuasaan
3.      Pemberian tanggung jawab
4.      Penciptaan akuntabilitas
            Untuk melengkapi proses delegasi, manager perlu menciptakan akuntabilitas. Manager perlu meminta bawahan untuk menjawab tugas-tugas yang telah dilaksanakannya. Tanggung jawab berarti seorang bawahan berkewajiban melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Akuntabilitas berarti bawahan harus melaksanakan tugas dengan keadaan yang memuaskan. Bawahan bertanggung jawab untuk meyelesaikan tanggung jawab yang diberikan kepada mereka, dan bertanggung jawab kepada manager untuk pelaksanaan pekerjaan yang memuaskan.
Sebab dilakukan delegasi:
            Alasannya adalah karena manager tidak dapat mengerjakan segalanya secara sendiri. Oleh karena itu, pendelegasian wewenang perlu dilakukan agar pekerjaan dalam suatu unit organisasi tidak terbengkalai dan dapat mencapai tujuan yang ditetapkan organisasi.[10]
            Pendelegasian wewenang dimaksudkan agar setiap bagian dapat menjalankan segala aktivitas managerial dan dapat dituntut tanggung jawabnya. Dalam hal ini, perlu perlu diperhatikan keseimbangan antara kewenangan dan tanggung jawab pekerjaan. Keseimbangan ini akan mewujudkan mekanisme kerja yang sehat. Pada akhirnya, akan memotivasi bawahan untuk lebih percaya diri, bekerja lebih baik, kreatif, dan bertanggung jawab.[11]

Manfaat pendelegasian wewenang:
1.      Manajer memiliki banayak kesempatan untuk mencari dan menerima peningkatan tanggung jawab dari tingkatan manajer yang tinggi.
2.      Memberikan keputusan yang lebih baik.
3.      Pelimpahan yang efektif mempercepat pembuatan keputusan.
4.      Melatih bawahan memikul tanggung jawab, melakukan penilaian dan meningkatkan keyakinan diri serta kesediaan untuk berinisiatif.[12]

I.         Sifat Pendelegasian Wewenang
Wewenang merupakan alat untuk bertindak dan berbuat, sedangkan delegasi wewenang (delegation of authority) merupakan kunci dinamika organisasi atau delegation of authorpty is the key of organization. Delegator walaupun telah mendelegasikan sebagian wewenang dan tugas-tugasnya, tetapi pada saat yang bersamaan delegator masih tetap memiliki wewenang tersebut. Hal inilah yang menyebabkan seorang manager masih tetap berhak untuk memerintah, mengkoordinasi, dan mengintegrasikan semua tugas dalam organisasi. Delegate harus melaksanakan tugas-tugas dan kewajibannya sesuai dengan wewenang yang diterimanya, jika tidak delegator berhak menarik kembali wewenang trsebut. Pemimpin yang efektif dalam kepemimpinannya, jika ia mampu dan cakap mendelegasikan wewenang kepada seseorang (delegate) yang tepat, mampu, dan bertanggung jawab atas hasil wewenang yang diterimanya.
Delegation of authority sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara tepat, karena dalam delegation of authority ini terdapat sifat du characteristic. Du charactristic artinya pihak bawahan menerima wewenang dari atasan, tetapi pada saat yang sama atasan yang bersangkutan masih tetap memiliki wewenang tersebut. Pemimpin (delegator) tidak hilang haknya terhadap wewenang yang telah didelegasikannya itu. Jadi wewenang itu menjadi milik bersama delegator dan delegate, sehingga tugas-tugas atas wewenang yang didelegasikan itu masih dapat dikerjakan sendiri oleh delegator.
Manager walaupun masih tetap memiliki wewenang yang telah didelegasikannya kepada bawahan, hendaknya memberi kebebasan, kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan-keputusan demi lancarnya pelaksanaan tugas-tugas yang dibebankan itu. Manager hanya megamati dan mengendalikan, agar wewenang tadi jangan disalahgunakan. Jika terjadi kesalahan-kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan hendaknya manager memberikan bimbingan, teguran, dan jika perlu menarik kembali wewenang tadi.[13]














BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Dari uraian-uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang, sehingga mereka dapat bekerjasama secara efisien dan memperoleh kepuasan dalam hal melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan dan sasaran tertentu.

B.     SARAN
Kepada para pembaca kami kami menyarankan agar lebih banyak membaca buku yang berkaitan dengan pengorganisasian agar lebih memahami dan dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.











[1] M.Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, (Medan: Gadjah Mada University Press, 2001), hal. 59
[2] H.B. Siswanto, Pengantar Manajemen, (Bandung: Bumi Aksara, 2005), hal. 73
[4] T, Hani Handoko, Managemen, (Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 1999), hal. 24
[5]George R. Terry, Prinsip-Prinsip Managemen,(Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), hal.78
[6] M. Manullang, Dasar-dasar Manajemen..., hal. 61-72
[7] Malayu S.P. Hasibuhan, Managemen Dasar, Pengertian, dan Masalah, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), hal.127
[9]Ibid., hal. 73           
[10] Amin Widjaja Tunggal, Management Suatu Pengantar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,2006), hal.224
[11] Ahmad Ibrahim Abu Sinn, Manajemen syariah Sebuah Kajian Historis dan Kontemporer, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2008), hal.92
[12] http://yuraanisa.blogspot.com..., diunduh pada tanggal 26 Maret 2015
[13] Ibid.,hal.75

No comments:

Post a Comment

Designed By VungTauZ.Com