Breaking News

Tuesday, 22 December 2015

Makalah Pengawasan Dan Pengendalian



MAKALAH
PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pengawasan merupakan salah satu fungsi dalam manajemen suatu organisasi. Dimana memiliki arti suatu proses mengawasi dan mengevaluasi suatu kegiatan. Suatu Pengawasan dikatakan penting karena tanpa adanya pengawasan yang baik tentunya akan menghasilkan tujuan yang kurang memuaskan, baik bagi organisasinya itu sendiri maupun bagi para pekerjanya. Di dalam suatu organisasi terdapat tipe-tipe pengawasan yang digunakan, seperti pengawasan Pendahuluan (preliminary control), Pengawasan pada saat kerja berlangsung (cocurrent control), Pengawasan Feed Back (feed back control). Di dalam proses pengawasan juga diperlukan Tahap-tahap pengawasan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Tahap-tahap pengawasan tersebut terdiri dari beberapa macam, yaitu Tahap Penetapan Standar, Tahap Penentuan Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan, Tahap Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan, Tahap Pembandingan Pelaksanaan dengan Standar dan Analisa Penyimpangan dan Tahap Pengambilan Tindakan Koreksi.
Suatu Organisasi juga memiliki perancangan proses pengawasan, yang berguna untuk merencanakan secara sistematis dan terstruktur agar proses pengawasan berjalan sesuai dengan apa yang dibutuhkan atau direncanakan. Untuk menjalankan proses pengawasan tersebut dibutuhkan alat bantu manajerial dikarenakan jika terjadi kesalahan dalam suatu proses dapat langsung diperbaiki. Selain itu, pada alat-alat bantu pengawasan ini dapat menunjang terwujudnya proses pengawasan yang sesuai dengan kebutuhan. Pengawasan juga meliputi bidang-bidang pengawasan yang menunjang keberhasilan dari suatu tujuan organisasi diantaranya.
Seperti hanya pada mobil,anda menekan gas,maka mobil anda akan berjalan lebih cepat.Putarlah setir anta maka mobil akan berganti arah.tekan pedal rem,maka mobil pun akan segera berhenti atau melaju secara perlahan. Dengan segala perangkat ini,anda mengendalikan arah dan kecepatan: jika beberapa diantaranya tidak berfungsi, mobil tidak akan melakukan apa yang anda inginkan. Dengan kata lain,mobil tersebut berada diluar kendali. Sebuah Organisasi juga harus dikendalikan; yaitu perangkat harus berada pada tempatnya untuk memastikan bahwa tujuan strategisnya dapat tercapai. Akan tetapi pengendalian organisasi lebuh rumit daripada menegemudikan sebuah mobil.

B.     Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, penyusun akan memberikan gambaran mengenai pembahasan-pembahasan tentang pengawasan dan pengendalian, antara lain :
1.      Pengertian pengawasan?
2.      Tipe-tipe pengawasan?
3.      Fungsi pengawasan?
4.      Teknik-teknik pengawasan?
5.      Manfaat hasil pengawasan?
6.      Pengertian pengendalian?
7.      Asas-asas pengendalian?
8.      Proses pengendalian?
9.      Jenis-jenis pengendalian?
10.  Sifat dan waktu pengendalian?
11.  Cara-cara pengendalian?
12.  Macam-macam pengendalian?









BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pengawasan
            Seorang manajer mengelola agar  tercapai hasil yang di rencanakan. Keberhasilan atau kegagalan yang di sajikan hasil – hasil ini dipertimbangkan dari segi tujuan yang sudah ditentukan. Hal ini mencakup pengawasan yaitu mengevaluasi pelaksanaan kerja dan jika perlu memperbaiki apa yang sedang dikerjakan untuk menjamin tercapainya hasil menurut rencana. Pengawasan adalah dalam bentuk pemerikasaan untuk memastikan bahwa apa yang sudah dikerjakan berjalan dengan lancar.
            Definisi yang lumrah diberikan kepada pengawasan ialah keseluruhan upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional guna menjamin bahwa berbagai kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Dari definisi tersebut terlihat bahwa pengawasan diselenggarakan pada waktu kegiatan operasional sedang berlangsung .  Pengawasan adalah proses evaluasi pelaksanaan kerja dengan membandingkan pelaksanaan actual dengan apa yang diharapkan.
            Beberapa pengertian pengawasan menurut para ahli adalah:
1.         Schermerhorn (2002), mendefinisikan pengawasan sebagai proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut.
2.         Stooner, Freeman, dan Gilbert (2000) mengemukakan pengawasan adalah proses untuk memastikan bahwa segala aktivitas yang terlakasana sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
            Dengan demikian, penulis menyimpulkan pengawasan merupakan suatu kegiatan yang berusaha untuk mengendalikan agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi tercapai. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan itu dan bagaimana pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya.[1]

B.     Tipe-Tipe Pengawasan
Donnelly, et al. (dalam Zuhad, 1996:302) mengelompokkan pengawasan menjadi 3 Tipe pengawasan yaitu :
1. Pengawasan Pendahuluan (preliminary control).
2. Pengawasan pada saat kerja berlangsung (cocurrent control)
3. Pengawasan Feed Back (feed back control)
1.      Pengawasan Pendahuluan (preliminary control).
Pengawasan pendahuluan atau feedforward controls. Pengawasan pendahuluan, atau sering di sebut steering controls. Dirancang untuk mangantisipasi masalah-masalah atau penyimpangan-penyimpangan dari standar atau tujuan dan memungkinan koreksi dibuat sebelum suatu tahap kegiatan tertentu di selesaikan. Pengawasan yang terjadi sebelum kerja dilakukan. Pengawasan Pendahuluan menghilangkan penyimpangan penting pada kerja yang diinginkan yang dihasilkan sebelum penyimpangan tersebut terjadi. Pengawasan Pendahuluan mencakup semua upaya manajerial guna memperbesar kemungkinan bahwa hasil-hasil aktual akan berdekatan hasilnya dibandingkan dengan hasil-hasil yang direncanakan. Memusatkan perhatian pada masalah mencegah timbulnya deviasi-deviasi pada kualitas serta kuantitas sumber-sumber daya yang digunakan pada organisasi-organisasi. Sumber-sumber daya ini harus memenuhi syarat-syarat pekerjaan yang ditetapkan oleh struktur organisasi yang bersangkutan.
Dengan ini, manajemen menciptakan kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur dan aturan-aturan yang ditujukan pada hilangnya perilaku yang menyebabkan hasil kerja yang tidak diinginkan di masa depan. Dipandang dari sudut prespektif demikian, maka kebijaksanaan-¬kebijaksanaan merupakan pedoman-pedoman yang baik untuk tindakan masa mendatang.
Pengawasan pendahuluan meliputi; Pengawasan pendahuluan sumber daya manusia, Pengawasan pendahuluan bahan-bahan, Pengawasan pendahuluan modal dan Pengawasan pendahuluan sumber-sumber daya financial.
2.      Pengawasan pada saat kerja berlangsung (cocurrent control)
Pengawasan yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan atau concurrent control. Pengawasan ini, sering di sebut pengawasan “ya-tidak”, scereening control atau “berhenti-terus”, dilakukan selama suatu kegiatan berlangsung. Pengawasan yang terjadi ketika pekerjaan dilaksanakan. Memonitor pekerjaan yang berlangsung guna memastikan bahwa sasaran-sasaran telah dicapai.
Concurrent control terutama terdiri dari tindakan-tindakan para supervisor yang mengarahkan pekerjaan para bawahan mereka.
Direction berhubungan dengan tindakan-tindakan para manajer sewaktu mereka berupaya untuk:
 Mengajarkan para bawahan mereka bagaimana cara penerapan metode¬-metode serta prosedur-prsedur yang tepat.
• Mengawasi pekerjaan mereka agar pekerjaan dilaksanakan sebagaimana mestinya.
3.      Pengawasan Feed Back (feed back control)
Pengawasan umpan balik atau feedback control. Pengawasan umpan balik, juga dikenal sebagai past-action controls, mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah di selesaikan. Pengawasan Feed Back yaitu mengukur hasil suatu kegiatan yang telah dilaksakan, guna mengukur penyimpangan yang mungkin terjadi atau tidak sesuai dengan standar. Pengawasan yang dipusatkan pada kinerja organisasional dimasa lalu. Tindakan korektif ditujukan ke arah proses pembelian sumber daya atau operasi-operasi aktual. Sifat kas dari metode-metode pengawasan feed back (umpan balik) adalah bahwa dipusatkan perhatian pada hasil-hasil historikal, sebagai landasan untuk mengoreksi tindakan-tindakan masa mendatang.
Adapun sejumlah metode pengawasan feed back yang banyak dilakukan oleh dunia bisnis yaitu:
• Analysis Laporan Keuangan (Financial Statement Analysis)
• Analisis Biaya Standar (Standard Cost Analysis)
• Pengawasan Kualitas (Quality Control)
• Evaluasi Hasil Pekerjaan Pekerja (Employee Performance Evaluation)[2]

C.    Fungsi Pengawasan
Ralp Currier Davis dan Alan C. Filley membagi fungsi pengawasan menjadi 8 subfungsi yang terdiri dari tahap-tahap kegiatan sebagai berikut:
1)      Perencanaan rutin (routine planning)
2)      Penjadwalan (scheduling)
3)      Persiapan (preparation)
4)      Pengabaran (dispatching)
5)      Pengarahan (direction)
6)      Pemeriksaan (supervision)
7)      Pembandingan (comparison)
8)      Pembetulan (corrective action)
Keempat tahap pertama biasanya berlangsung sebelum pekerjaan yang harus diawasi itu dilaksanakan. Sedangkan keempat terakhir berlangsung ketika suatu pekerjaan dijalankan.
1)      Perencanaan rutin (routine planning)
Fungsi pertama dalam pengawasan manajemen adalah Perencanaan Rutin atau Perencanaan Taktis. Ini berbeda dengan Perencanaan Strategis. Perencanaan Strategis membuat keputusan orisinil mengenai berbagai kebutuhan bagi pencapaian suatu tujuan. Perencanaan Taktis tidak. Perencanaan Strategis menjawab pertanyaan: Apa tujuan organisasi? Apa kriterianya untuk menyelesaikan tujuan secara memuaskan? Apa yang harus dijalankan dan bagaimana melakukannya? Perencanaan Taktis itu, tidak lebih dari penerapan rencana-rencana teknis berdasarkan rencana menyuluruh yang telah ditentukan sebelumnya. Fungsinya hnya rutin dan sifatnya sekunder dibandingkan dengan pengambilan keputusan yanag terdapat pada Perencanaan Strategis.
2)      Penjadwalan (scheduling)
Fungsi penjadwalan dalam pengawasan adalah menentukan kapan fase-fase penting dari suatu  rencana harus diselesaikan dalam waktu yang telah ditetapkan.
3)      Persiapan (preparation)
Fungsi persiapan ini memberi kepastian kepada si pengawas bahwa segalanya sudah siap untuk dipergunakan kapan dan di mana serta jenis yang tepat dibutuhkan, tetapi ini tidak bersangkutan dengan pemesanan, pengumpulan dan penyajian barang-barang secara fisik.
4)      Pengabaran (dispatching)
Fungsi pengabaran adalah mengawas pekerjaan para petugas untuk memastikan bahwa penyelesaian pekerjaan tersebut sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Pengawasan mencegah jangan sampai suatu pekerjaan dilakukan terlalu cepat atau terlalu lambat, atau dilakukan lebih bersifat untuk kepentingan pribadi daripada untuk kepentingan organisasi.
5)      Pengarahan (direction)
Fungsi Pengarahan adalah mengatur kegiatan dengan jalan memberikan instruksi dan penjelasan kepada bawahan mengenai kebutuhan- kebutuhan bagi suatu rencana.
6)      Pemeriksaan (supervision)
Fungsi pemeriksaan adalah memastikan apakah pekerjaan dilakukan sesuai dengan rencana dan instruksi atau tidak.
7)      Pembandingan (comparison)
Pembandingan merupakan aktivitas menilai pelaksanaan secara menyeluruh. Pembandingan mencatat penyimpangna-penyimpangan dari pekerjaan yang di rencanakan; mencari sebab-sebab dari penyimpangan.
8)      Pembetulan (corrective action)
Fungsi pembetulan yakni membenarkan penyimpangan-penyimpangan dari pekerjaan yang direncanakan.
Pembetulan dapat dilakukan dengan 3 cara:
a.       Menyesuaikan kegiatan dengan rencana.
b.      Merubah standar agar sesuai dengan kegiatan, jika asumsi atau kondisi yang didasarkan pada rencana berubah.
c.       Merubah kedua-duanya, baikkegiatan maupun rencana, sehingga menjadi sesuai.[3]

D.    Teknik – Teknik Pengawasan
            Untuk mengetahui dengan jelas apakah penyelenggaraan berbagai kegiatan operasional sesuai dengan rencana atau tidak, dan apakah terjadi deviasi atau tidak, menejemen perlu mengamati jalannya kegiatan operasional tersebut.
            Berbagai teknik yang dapat di gunakan untuk pengawasan adalah sebagai berikut :
1.         Pengamatan langsung atau observasi oleh menejemen untuk melihat sendiri bagaimana caranya para petugas operasional menyelenggarakan dan menyelesaikan tugasnya.
2.         Melalui laporan baik lisan maupun tertulis dari para penyedia yang sehari – hari mengawasi secara langsung kegiatan para bawahannya.
3.         Melalui penggunaan kuisioner yang respondennya adalah para pelaksana kegiatan operasional.
4.         Wawancara.








E.     Manfaat Hasil Pengawasan.
            Terlepas dari teknik mana yang dianggap paling tepat untuk digunakana, manfaat terpenting dari pengawasan ialah :
1.      Tersedianya bahan informasi bagi menejemen tentang situasi nyata dalam mana organisasi berada.
2.      Dikenalinya factor – factor pendukung terjadinya operasionalisasi rencana dengan efisiensi dan efektif.
3.      Pemahaman tentang bebagai factor yang menimbulkan kesulitan dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan operasional.
4.      Langkah – langkah apa yang segera dapat diambil untuk menghargai kinerja yang memuaskan.
5.      Tindakan preventif apa yang segera dapat dilakukan agar penyimpangan/kesalahan dari standar tidak terus berlanjut.

A.    Pengertian Pengendalian
Pengendalian (controlling) merupakan suatu faktor penunjang penting terhadap efisiensi organisasi, demikian juga pada perencanaan, pengorganisasian, dan pengarahan. Pengendalian adalah suatu fungsi yang positif dalam menghindarkan dan memperkecil penyimpangan-penyimpangan dari sasaran-sasaran atau target yang direncanakan. Setiap pengorganisasian, oleh karena itu harus memiliki sistem pengawasan (pengendalian).[4]
Fungsi Pengendalian (fungsi Controlling) adalah fungsi terakhir dari proses manajemen. Pengendalian ini berkaitan erat sekali dengan fungsi perencanaan dan kedua fungsi ini merupakan hal yang saling mengisi, karena:
·         Fungsi pengendalian harus terlebih dahulu direncanakan;
·         Pengendalian hanya dapat dilakukan, jika ada perncanaan/rencana;
·         Pelaksanaan rencan akan baik, jika pengendalian dilakukan secara baik;
·         Tujuan baru dapat diketahui tercapai dengan baik atau tidak setelah pengendalian atau pengukuran dilakukan.
Dengan demikian peranan pengendalian sangat menentukan baik/buruknya pelaksanaan suatu rencana. Beberapa para ahli mengemukakan pengertian pengendalian diantaranya yaitu:
v  Earl P. Strong
     Controlling is the process of regulating the various factors in an enterprise according to the requirement of its plans.
“Pengendalian adalah proses pengaturan berbagai faktor dalam suatu perusahaan, agar pelaksanaan sesuai dengan ketetapan-ketetapan dalam rencana.”
v  Harold Koontz
     Control is the measurement and correction of the performance of subordinates in order to make sure that enterprise objectives and the plans devised to attain then are accomplished.
“Pengendalian adalah pengukuran dan perbaikan terhadap pelaksanaan kerja bawahan, agar rencana-rencana yang telah dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan dapat terselenggara.”
v  G.R. Terry
     Contolling can be defined as the process of determining what is to be accomplished, that is the standard, what is being accomplished, that is the performance, evaluating the performance and if necessary applying corrective measure so that performance takes place according to plans, that is in conformity with the standard.
“Pengendalian dapat didefinisikan sebagai proses penentuan, apa yang harus dicapai yaitu standar, apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan dan apabila perlu melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana yaitu selaras dengan standar.”[5]
Dengan demikian, penulis menyimpulkan Pengendalian adalah suatu kegiatan untuk memantau, menilai, melaporkan, dan melakukan perbaikan jika terjadi penyimpangan yang tidak sesuai dengan rencana awal.


F.     Asas-Asas Pengendalian
Harold Koontz dan Cyirl O’Donnel mengemukakan asas-asas pengendalian sebagai berikut:
1.      Asas Tercapainya Tujuan
Pengendalian  harus ditujukan kearah tercapainya tujuan, yaitu dengan mengadakan perbaikan untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan dari perencanaan.
2.      Asas Efisiensi Pengendalian
Pengendalian itu efisien, jika dapat menghindari penyimpangan dari perencanaan, sehingga tidak menimbulkan hal-hal lain yang di luar dugaan.
3.      Asas Tanggung Jawab Pengendalian  
Pengendalian hanya dapat dilaksanakan jika jika manajer bertanggung jawab penuh terhadap pelaksanan rencana.
4.      Asas Pengendalian terhadap Masa depan
Pengendalian yang efektif harus ditujukan ke arah pencegahan penyimpangan-
penyimpangan yang akan terjadi, baik pada waktu sekarang maupun masa yang akan datang.
5.      Asas Pengendalian Langsung
Teknik kontrol yang paling efektif ialah mengusakan adanya manajer bawahan yang berkualitas baik. Pengendalian itu dilakukan oleh manajer, atas dasar bahwa manusia itu sering berbuat salah. Cara yang paling tepat untuk menjamin adanya pelaksanaan yang sesuai dengan rencana adalah mengusahakan sedapat mungkin para petugas memiliki kualitas yang baik.
6.      Asas Refleksi Rencana
Pengendalian harus disusun dengan baik sehingga dapat mencerminkan karakter dan susunan rencana.
7.      Asas Penyesuaian dengan Organisasi
Pengendalian harus dilakukan sesuai dengan struktur organisasi. Manajer dengan bawahannya merupakan sarana untuk melaksanakan rencana. Dengan demikian pengendalian yang efektif harus disesuaikan dengan besarnya wewenang manajer sehingga mencerminkan struktur organisasi.
8.      Asas Penendalian Individual
Pengendalian dan teknik pengendalian harus sesuai dengan kebutuhan manajer. Teknik pengendalain harus ditujukan terhadap kebutuhan-kebutuhan akan informasi setiap manajer.
9.      Asas Standar
Pengendalian yang efektif dan efisien memerlukan standar yang tepat yang akan dipergunakan sebagai tolok ukur pelaksanan dan tujuan yang akan dicapai.
10.  Asas Pengendalian Terhadap Strategis
Pengendalian yang efektif dan efisien memerlukan adanya perhatian yang ditujukan terhadap faktor-faktor yang strategis dalam perusahaan.
11.  Asas kekecualian
Efisiensi dalam pengendalian membutuhkan adanya perhatian yang ditujukan terhadap faktor kekecualian.
12.  Asas Pengendalian Fleksibel
Pengendalian harus luwes untuk menghindari kegagalan pelaksanaan rencana.
13.  Asas Peninjauan Kembali
Sistem pengendalian harus ditinjau berkali-kali agar sistem yang digunakan berguna untuk mencapai tujuan.
14.  Asas Tindakan
Pengendalian dapat dilakukan apabila ada ukuran-ukuran untuk mengoreksi penyimpangan-penyimpangan rencana, organisasi, staffing, dan directing.[6]

G.    Jenis-Jenis Pengendalian
Jenis-jenis pengendalian adalah sebagai berikut:
1.      Pengendalian Karyawan (Personnel Control)
Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang ada hubungannya dengan kegiatan karyawan. Misalnya apakah karyawan bekerja sesuai dengan rencana, perintah, tata kerja, disiplin, absensi, dan sebagainya.
2.      Pengendalian Keuangan (Financial Control)
Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang menyangkut keuangan, tentang pemasukan dan pengeluaran, biaya-biaya perusahaan, termasuk pengendalian anggaran.
3.      Pengendalian Produksi (Production Control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas produksi yang dihasilkan, apakah sesuai dengan standar atau rencananya.
4.      Pengendalian Waktu (Time Control)
Pengendalian ini ditujukan kepada penggunaan waktu, artinya apakah waktu untuk mengerjakan suatu pekerjaan sesuai atau tidak dengan rencana.
5.      Pengendalian Teknis (Technical Control)
Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang bersifat fisik yang berhubungan dengan tindakan dan teknis pelaksanaan.
6.      Pengendalian Kebijaksanaan (Policy Control)
Pengandalian ini ditujukan untuk mengetahui dan menilai, apakah kebijaksanaan-kebijaksanaan organisasi telah dilaksanakan sesuai yang telah digariskan.
7.      Pengendalian Penjualan (Sales Control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui, apakah produksi atau jasa yang dihasilkan terjual sesuai dengan target yang ditetapkan.
8.      Pengendalian Inventaris (Inventory Control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui, apakah inventaris perusahaan masih ada semuanya atau ada yang hilang.
9.      Pengendalian Pemeliharaan (Maintenance Control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui, apakah semua inventaris perusahaan dan kantor dipelihara dengan baik atau tidak, dan jika ada yang rusak apa kerusakannya, apa masih dapat diperbaiki atau tidak.[7]

H.    Proses-Proses Pengendalian
Sebelum mengetahui bagaimana proses-proses pengendalian, maka harus dipahami terlebih dahulu tujuan dan manfaat dari  pengendalian. Adapun tujuannya adalah:
1.      Menghentikan atau meniadakan kesalahan, penyimpangan, penyelewengan, pemborosan, hambatan, dan ketidakadilan
2.      Mencegah terulangnya kembali kesalahan, penyimpangan, penyelewengan, pemborosan, hambatan, dan ketidakadilan
3.      Mendapatkan cara-cara yang lebih baik atau membina yang telah baik
4.      Menciptakan suasana keterbukaan, kejujuran, partisipasi, dan akuntabilitas organisasi
5.      Meningkatkan kelancaran operasi organisasi
6.      Meningkatkan kinerja organisasi
7.      Memberikan opini atas kinerja organisasi
8.      Mengarahkan manajemen untuk melakukan koreksi atas masalah-masalah pencapaian kerja yang ada
9.      Menciptakan terwujudnya pemerintahan yang bersih
Sedangkan manfaat pengendalian adalah untuk meningkatkan akuntabilitas dan keterbukaan. Pengendalian  pada dasarnya menekankan langkah-langkah pembenahan atau koreksi yang objektif jika terjadi perbedaan atau penyimpangan antara pelaksanaan dengan perencanaannya.[8]
Proses pengendalian dilakukan secara bertahap melalui langkah-langkah berikut:

a.    Penetapan standar pelaksanaan (perencanaan)
Tahap pertama dalam pengendalian adalah penetapan standar pelaksanaan. Standar mengandung arti sebagai suatu satuan pengukuran yang dapat digunakan sebagai “patokan” untuk penilaian hasil-hasil. Standar adalah kriteria-kriteria untuk mengukur pelaksanaan pekerjaan. Kriteria tersebut dapat dalam bentuk kuantitatif ataupun kualitatif. Standar pelaksanaan (standard performance) adalah suatu pernyataan mengenai kondisi-kondisi yang terjadi bila suatu pekerjaan dikerjakan secara memuaskan.[9]
1)      Standar pelaksanaan pekerjaan bagi suatu aktifitas menyangkut kriteria: ongkos, waktu, kuantitas, dan kualitas. Tipe bentuk standar yang umum adalah:
Standar-standar fisik, meliputi kuantitas barang atau jasa, jumlah langganan, atau kualitas produk.
2)      Standar-standar moneter, yang ditunjukkan dalam rupiah dan mencakup biaya tenaga kerja, biaya penjualan, laba kotor, pendapatan penjualan, dan lain-lain.
3)      Standar-standar waktu, meliputi kecepatan produksi atau batas waktu suatu pekerjaan harus diselesaikan.
b.      Penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan
Penentuan standar akan sia-sia bila tidak disertai berbagai cara untuk mengukur pelaksanaan kegiatan nyata. Oleh karena itu, tahap kedua dalam pengendalian adalah menentukan pengukuran pelaksanaan kegiatan secara tepat.
c.       Pengukuran pelaksanaan kegiatan
Setelah frekuensi pengukuran dan sistem monitoring ditentukan pengukuran pelaksanaan dilakukan sebagai proses yang berulang-ulang dan terus-menerus. Ada berbagai cara untuk melakukan pengukuran pelaksanaan yaitu pengamatan (observasi), laporan-laporan (lisan dan tertulis), pengujian (tes), atau dengan pengambilan sampel.
d.      Pembandingan pelaksanaan dengan standar dan analisa penyimpangan
Tahap kritis dari proses pengawasan adalah pembandingan pelaksanaan nyata dengan pelaksanaan yang direncanakan atau standar yang telah ditetapkan.
e.       Pengambilan tindakan koreksi bila diperlukan
Bila hasil analisa menunjukkan perlunya tindakan koreksi, tindakan ini harus diambil. Tindakan koreksi mungkin berupa:
1.    Mengubah standar mulu-mulu (barangkali terlalu tinggi atau terlalu rendah)
2.    Mengubah pengukuran pelaksanaan
3.    Mengubah cara dalam menganalisa dan menginterpretasikan penyimpangan-penyimpangan.[10]







I.       Sifat dan Waktu Pengendalian
Sifat dan waktu pengendalian/kontrol dibedakan atas:
1.      Preventive Control : pengendalian yang dilakukan sebelum kegiatan dikerjakan dengan maksud supaya tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara, yaitu:
a.       Membuat peraturan-peraturan yang berhubungan dengan tata cara suatu kegiatan atau dibuat tata tertib
b.      Membuat pedoman-pedoman kerja
c.       Menetapkan sanksi-sanksi terhadap pembuat kesalahan
d.      Menentukan kedudukan, tugas, wewenang dan tanggung jawab
e.       Mengorganisasikan segala macam kegiatan
f.       Menentukan sistem koordinasi pelaporan dan pemeriksaan.
2.      Repressive Control : Pengendalian yang dilakukan setelah terjadi penyimpangan/kessalahan dalam pelaksanaan kegiatan, dengan maksud agar tidak terjadi pengulangan kesalahan, sehingga sasaran yang direncanakan dapat dicapai. Hal ini bisa dilakukan dengan cara-cara berikut:
a.       Membandingkan hasil-hasil kegiatan dengan rencana yang telah di tentukan
b.      Mencari penyebab-penyebab terjadinya penyimpangan, kemudian mencari solusinya
c.       Memberikan penilaian terhadap hasil kegiatan, termasuk kegiatan para penanggung jawabnya
d.      Melaksanakan sanksi yang telah ditentukan terhadap pembuat kesalahan
e.       Menilai kembali prosedur-prosedur yang telah ditentukan
f.       Mengecek kebenaran laporan yang dibuat oleh para petugas pelaksana.
3.      Pengendalian yang dilakukan tengah proses penyimpangan terjadi
4.      Pengendalian berkala : pengendalian yang dilakukan secara berkala sebulan sekali atau satu kuartal sekali atau satu tahun sekali
5.      Pengendalian mendadak : pengendalian yang dilakukan secara mendadak.[11]

J.      Cara–Cara Pengendalian
Seorang manajer harus mempunyai berbagai cara untuk memastikan bahwa semua fungsi manajemen dilaksanakan dengan baik. Hal ini dapat diketahui melalui proses control.
Cara-cara pengendalian ini dapat dibedakan atas :
1.      Pengendalian langsung adalah pengendalian yang dilakukan sendiri secara langsung oleh seorang manajer secara pribadi. Ia memriksa pekerjaan yang sedang dilakukan untuk mengetahui apakah hasil-hasilnya seperti yang dikehendakinya.

Keuntungannya:
a.       Akan terjadi kontak langsung antara bawahan dan atasan, sehingga akan mempertinggi hubungan antara bawahan dan atasan.
b.      Akan memberi kepuasan tersendiri bagi bawahan, karena merasa diperhatikan oleh atasannya.
c.       Akan tertampung sumbangan pikiran dari bawahan yang mungkin bisa berguna bagi kebijaksanaan selanjutnya.
Kerugiannya:
a.       Waktu seorang manajer banyak tersita, akibatnya waktu untuk pekerjaan lainnya berkurang, misalnya perencanaan, pengambilan keputusan dan lain-lain.
b.      Mengurangi inisiatif bawahan, karena bawahan merasa atasannya selalu mengamati mereka.
c.       Ongkos makin besar, karena adanya biaya perjalanan.
Pengendalian langsung ini dapat dilakukan dengan cara inspeksi langsung, observasi di tempat (on the spot observation) dan laporan di tempat (on the spot report).
2.      Pengendalian tidak langsung adalah pengendalian jarak jauh, artinya dengan melalui laporan yang diberikan oleh bawahan.
Kelemahan pengendalian ini adalah: hal-hal yang dilaporkan itu biasanya yang baik-baik saja yang dapat menyenangkan manajer. Laporan biasanya kurang mencerminkan keadaan obyektif, karena ada kecenderungan Asal Bapak Senang (A.B.S).
3.      Pengendalian berdasarkan kekecualian adalah pengendalian yang dikhususkan untuk kesalahan-kesalahan yang luar biasa dari hasil atau standar yang diharapkan.[12]

K.    Macam-Macam Pengendalian

1)      Internal control (pengendalian intern)
2)      External Control (pengendalian ekstern)
Internal Control adalah pengendalian yang dilakukan seorang atasan terhadap bawahannya. Cakupan dari pengendalian intern ini meliputi hal-hal yang cukup luas baik pelaksanaan tugas, prosedur, sistem, hasil, kehadiran dan lain-lain.
Audit Control adalah pengendalian atau penilaian atas masalah-masalah yang berkaitan dengan pembukuan perusahaan. Jadi, pengendalian atas masalah khusus yaitu tentang kebenaran pembukuan suatu perusahaan.
External Control adalah pengendalian yang dilakukan oleh pihak luar. Pengendalian ekstern dapat dilakukan secara formal dan informal.
Formal Control ini dilakukan oleh instansi/pejabat yang berwenang dan dapat dilakukan secara intern, maupun ekstern. Misalnya Badan Pemeriksa Keuangan (B.P.K) terhadap setiap lembaga negara mengenai milik pemerintah.
Informal Control ini dilakukan oleh masyarakat/konsumen baik langsung maupun tidak langsung, misalanya melalui surat kabar, majalah dan lain-lain.[13]

























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

Banyak para ahli memberikan pendapat yang berbeda-beda tentang definisi manajemen, namun secara umum manajemen dapat diartikan sebagai seni dan ilmu dalam perencanaan, pengorganisasian, pengawasan, pengarahan, motivasi dan pengendalian yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan yang efisien.
Pengawasan dan pengendalian merupakan fungsi dari manajemen yang harus terlebih dahulu direncanakan dan pelaksanaan rencana akan baik jika pengendalian dan pengawasan dilakukan dengan baik juga.

B.     Saran
Pengawasan dirasa sangat dibutuhkan dalam suatu organisasi. Karena jika tidak ada pengawasan dalam suatu organisasi akan menimbulkan banyaknya kesalahan-kesalahan yang terjadi baik yang berasal dari bawahan maupun lingkungan.
Pengawasan menjadi sangat dibutuhkan karena dapat membangun suatu komunikasi yang baik antara pemimpin organisasi dengan anggota organisasi. Serta pengawasan dapat memicu terjadinya tindak pengoreksian yang tepat dalam merumuskan suatu masalah.Pengawasan lebih baik dilakukan secara langsung oleh pemimpin organisasi. Disebabkan perlu adanya hak dan wewenang ketegasan seorang pemimpin dalam suatu organisasi. Pengawasan disarankan dilakukan secara rutin karena dapat merubah suatu lingkungan organisasi dari yang baik menjadi lebih baik lagi.





DAFTAR PUSTAKA


Effebdy Onong Uchjana, 1996, Sisitem Informasi Manajemen. Bandung: Mandar Maju.
T. Hani Handoko, 1998, manajemen. Yogyakarta: BPFE.
Sukiswa Iwa, 1986, Dasar-Dasar Umum Manajemen Pendidikan, Bandung: Tarsito.
Hasibuan Malayu S.P., 1986, Manajemen Dasar, Pengertian, dan Masalah, Jakarta: PT.Gunung Agung.
Usman Husaini, 2008, Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.  
Fatah Nanang, 2008, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.











[1] T. Hani Handoko,  Manajemen, (BPFE-YOGYAKARTA: Yogyakarta, 1998).hlm.359-361.
[3] Onong Uchjana Effebdy, Sisitem Informasi Manajemen, (Bandung: Mandar Maju, 1996), hlm.30-34.
[4]Iwa Sukiswa, Dasar-Dasar Umum Manajemen Pendidikan, (Bandung: Tarsito, 1986), hlm. 53.

[5] Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian, dan Masalah (Jakarta: PT.Gunung Agung, 1986 ), hlm.222-223.
[6] Ibid.,hal.224-225.
[7] Ibid.,hlm.225-226.
[8] Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, ( Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm.469-470.  
[9] Nanang Fatah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 2008), hlm. 101.
[11] Malayu S.P. Hasibuan, Op.cit., 1986. hlm 227.
[12] Ibid.,hlm.228-229.

[13] Ibid.,hlm.229.

No comments:

Post a Comment

Designed By VungTauZ.Com