Breaking News

Wednesday, 23 December 2015

Makalah Pengaruh Budaya Untuk Manajemen




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Budaya merupakan suatu yang sudah menjadi kebiasaan dan dilakukan secara turun temurun dan terus-menerus, yang  kemudian hal tersebut diyakini dan kecil kemungkinan untuk dapat dirubah atau digantikan dengan yang baru, bahkan mereka yang berusaha menggantikannya dianggap telah melanggar aturan yang sudah ada. Dalam hal ini dapat dipastikan bahwa para karyawan akan membawa budaya lokalnya bahkan budaya pribadinya kedalam organisasi tempatnya bekerja. namun apabila seorang manajer mampu memahami situasi kultural dari lingkungan tempat ia memimpin, tidak akan sulit baginya memahami sikap dan perilaku para bawahannya dan menyesuaikan gayanya dalam menyelenggarakan fungsi-fungsi manajerialnya.
Mengingat budaya memiliki peranan penting dalam manajerial, maka dalam makalah ini akan dipaparkan mengenai pengaruh budaya terhadap sebuah manajemen dan menjelaskan gaya manajemen di beberapa negara seperti Indonesia. Jepang, dan Amerika.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengaruh budaya terhadap manajemen?
2.      Bagaimanakah gaya manajemen di Indonesia?
3.      Bagaimanakah gaya manajemen di Jepang?
4.      Bagaimanakah gaya manajemen di Amerika?
C.    Tujuan Makalah
1.      Untuk mengetahui pengaruh budaya terhadap manajemen.
2.      Untuk mengetahui gaya manajemen di Indonesia.
3.      Untuk mengetahui gaya manajemen di Jepang.
4.      Untuk mengetahui gaya manajemen di Amerika.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Perbedaan budaya bangsa
Budaya bangsa (national culture) adalah nilai-nilai dan praktek-praktek utama yang dianut suatu negara tertentu. Setiap negara mempunyai budaya sendiri. Ada bukti yang menunjukkan bahwa budaya bangsa antara suatu negara dengan negara lain berbeda.
Berdasarkan riset para ahli, dunia ini adalah heterogen. Terdapat perbedaan budaya antar negara. Berdasarkan geografi, bahasa, agama, dan lain-lain, negara-negara didunia ini dapat dibagi menjadi beberapa kelompok atau kategori budaya yang disebut  “cultural clusters”.
Konsep budaya kelompok ini sangat penting dan akan lebih bernilai apabila kita lebih sempit sedikit memusatkan dan mengidentifikasi dimensi kunci budaya yang berbeda antara negara ( different cultural dimensions). Geert Hofstd melakukan survai 160.000 karyawan yang masing-masing bekerja hanya pada 1 perusahaan multinasional di 60 Negara dan menemukan bahwa budaya nasional mempunyai pengaruh besar terhadap nilai dan sikap pekerjaan karyawan. Beliau menemukan bahwa budaya nasional manajer dan karyawan berbeda dalam 4 dimensi yaitu :
1)      Individualisme versus kolektivitas
 Individualisme merupakan suatu budaya nasional yang manusianya hanya menekankan pada kepentingan pribadi dan keluarganya yang dekat. Hal ini dimungkinkan karena adanya kebebasan dan masyarakatnya memperbolehkan nilai-nilai inividu. [1]
kolektivitas merupakan satu budaya nasionalisme merupakan suatu budaya nasional yang manusianya menghendaki orang lain masuk kedalam kelompok tersebut dan mereka merupakan bagian dari  kelompok tersebut. Mereka saling memelihara dan melindungi satu sama lain bila ada kesulitan. Loyalitas pada masyarakat yang menganut kolektivitas ini sangat tinggi.  
Menurut Hofstede, tingkat individualisme dalam suatu negara berhubungan eret dengan kekayaan negara tersebut. Negara yang kaya seperti, Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda sangat individualitas. Negara yang miskin kekayaan alamnya seperti, Colombia, Pakistan, dan Taiwan bersifat sangat kolektivitas.
2)      Jarak kekuasaan (Power distance)
 Jarak kekuasaan(Power distance) merupakan suatu ukuran suatu masyarakat yang menerima kenyataan bahwa terdapat perbedaan distribusi kekuasaan dalam institusi dan organisasi. Setiap manusia secara alamiah berbeda, baik dalam fisik maupun dari segi kemampuan intelektual. Perbedaan tersebut menciptakan perbedaan dalam kekuasaan dan kekayaan.
3)      Penghindaran ketidakpastian (uncertainty avoidance)
 Budaya penghindaran ketidakpastian (uncertainty avoidance) merupakan budaya masyarakat yang merasa terancam adanya ketidakpastian dan situasi yang ragu-ragu, sehingga mereka berusaha menghindarinya. [2]
4)      Maskulinitas versus Femininitas
 Pada beberapa masyarakat negara, lelaki dan wanita berperan sangat berbeda. “ masculinity “ merupakan nilai budaya dominan dari suatu masyarakat yang mempertahankan dari kepemilikan barang dan uang, dan kurang menghiraukan yang lain serta kualitas hidup. Sebaliknya “ feminity “ merupakan budaya nasional yang menekankan pada hubungan, memperhatikan yang lain serta kualitas hidup ( quality of life ).
Pemahaman budaya bangsa lain sangat bermanfaat bagi masyarakat suatu bangsa yang ingin tinggal dan bekerja di Negara lain. Hal ini juga sangat penting bagi seorang manajer yang pekerjaanya mengelola bawahan yang mempunyai latar belekang budaya yang berbeda dengannya. Telah umum diakui bahwa sikap seseorang melatarbelakangi perilakunya, gayanya berkomunikasi, dan caranya menerjemahkan suatu pesan yang diterimanya dari pihak lain. Empat bentuk sikap yang biasanya mengemuka ialah apa yang disebut sebagai halo effect, pembandingan atau contrasting, proyeksi, dan stereotip.
1)        Halo effect,
Menurut  variabel ini halo effect adalah sikap yang terlihat dalam cara seseorang menilai orang lain dalam kehidupan organisasional, termasuk dalam berkomunikasi.
2)        Contrasting,
Menurut variabel ini bukan hal yang mustahil apabila seorang manajer mempunyai bawahan yang berasal dari barbagai bangsa, ras, kebangsaan, dan budaya yang berbeda. Masing-masing membawa kedalam organisasi persepsi, latar belakang pendidikan, keterampilan, kemampuan, dan sikap tertentu yang mengacu pada budaya yang dianutnya. Tidaklah mengherankan apabila seorang manajer mau membandingkan sikap para karyawan yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda itu. Hanya saja variabel ini dapat menjadi noise dalam berkomunikasi apabila sang manajer menggunakan tolak ukur yang seragam.
3)        Proyeksi.
Jadi dalam menilai sikap, prilaku dan tindakan orang lain termasuk bawahan- yang dimaksud dengan proyeksi ialah tindakan seseorang yang menggunakan diri sendiri sebagai alat pembanding. Hasilnya ialah menganggap orang lain harus sama dengan dirinya.
4)        Stereotip
Menggunakan pendekatan stereotip pada dasarnya berarti melakukan generalisasi atas tindakan, karakterisik, dan perilaku sekelompok orang yang berasal dari satu suku atau daerah tertentu. Ketidaktepatan penggunaan stereotip didasarkan pada pandangan bahwa sekelompok orang yang berasal dari suku dan daerah tertentu sama dalam cara berfikir dan pada gilirannya sama dalam bertindak dan berprilaku. Pendekatan ini mengabaikan kenyataan bahwa setiap orang adalah mahluk yang khas yang tidak ada duplikatnya dimuka bumi ini.
Memang benar sepanjang menyangkut beberapa karakteristik fisik, generalisasi terbatas tentang satu suku atau sekelompok orang yang datang dari satu daerah tertentu dapat dilakukan. Misalnya, generalisasi tentang orang afrika yang berambut keriting dan warna kulit hitam. Bangsa atau suku tertentu bermata sipit. Akan tetapi kalau sudah menyangkut karakteristik nonfisik, generalisasi tidak mungkin dilakukan.  Seorang manajer harus berusaha mengenali karakteristik para bawahannya secara individual dan dengan demikian memelihara hubungan yang bersifat khas. Kalaupun melakukan pendekatan stereotip, harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

B.       Manajemen Indonesia  
Praktek manajemen di dunia usaha, jauh sebelum perang dunia ke II, praktis didominasi oleh orang asing. Selama penjajahan Belanda sedikit sekali kaum pribumi yang berhasil dalam dunia usaha. Hampir semua bidang usaha dikuasai oleh kaum penjajah beserta sekutu mereka. Praktek manajemen oleh bangsa indonesia, baru di rasakan mulai tanggal 27 Desember 1957, saat kita mengambil alih perusahaan-perusahaan minyak, perkebunan, industri, dan niaga milik penjajah. Sejak itu bangsa Indonesia memperoleh kesempatan untuk berpraktek manajemen usaha dengan nyata.
        Perkembangaan manajemen di Indonesia, walaupun berjalan dengan baik, namun dirasakan masih terlalu lamban dibandingkan dengan perkembangan manajemen di negara-negara lain, hal ini disebabkan oleh banyak faktor , diantaranya adalah adanya kelebihan permintaan terhadap jumlah produksi, sehingga para penguasa dan manajer tidak merasakan adanya masalah manajemen dalam perusahaannya. Disamping itu, rendahnya tingkat pendidikan rata-rata bangsa Indonesia , juga merupakan faktor penghambat lambannya perkembangan manajemen itu sendiri.[3]
        Masyarakat indonesia saat ini sedang berada dalam masa transisi. Artinya, masyarakat Indonesia pada saat ini sedang bergerak dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Dalam masa transisi ini, masyarakat sedang mengalami  kebingungan budaya. Untuk bertahan pada kehidupan tradisional akan dianggap ketinggalan zaman, sedangkan untuk meninggalkan sama sekali juga tidak mampu. Misalnya, dalam masyarakat Indonesia hubungan kekerabatan memegang peranan yang penting. Pada saat perusahaan melakukan penarikan tenaga kerja, seringkali keunggulan individu bukanlah satu-satunya syarat yang dapat dihandalkan. Praktek nepotisme, koneksi, dan pencaloan tenaga kerja sudah menjadi bagian budaya masyarakat Indonesia. Mereka tahu hal itu menyimpang dari ketentuan hidup modern, tetapi mereka tidak mampu mengubahnya. Praktek-praktek nepotisme dan koneksi diatas, tanpa mempertimbangkan keunggulan individu akan dapat menjadi penghambat bagi laju pertumbuhan dan perkembangan usaha dan mengurangi daya saing usaha.
Nilai budaya masyarakat Indonesia juga masih menekankan pada kehidupan yang berorientasi “kepentingan kekinian”. Maksudnya hasil karya seseorang lebih diarahkan pada upaya untuk memperoleh kedudukan atau status sosial dalam masyarakat daripada untuk untuk mengembangkan karya itu sendiri. Kecenderungan pada orientasi nilai budaya yang bersiat materialistis. Hal ini dapat dilihat dari perilaku seperti menganggap hamburger dan cola-cola sebagai makanan dan minuman bergengsi, dan tumbuhnya pasar-pasar swalayan bagaikan jamur dimusim hujan.
Hal-hal tersebut perlu diantisipasi oleh setiap orang yang masuk dalam dunia bisnis. Dalam kaitannya dengan era pasar bebas, nilai-nilai budaya manakah yang perlu dikembangkan atau yang harus dikurangi agar dapat menjadi penopang untuk meningkatkan daya saing dan kelangsungan hidup usaha dimasa mendatang.
C.      Manajemen Jepang       
 Karakreristik yang menonjol dalam manajemen gaya jepang adalah efektifitas, efesinsi, produktifitas tinggi, dan keuletan kerja. ada empat elemen (dasar) utama yang membentuk dasar manajemen jepang yaitu kebersamaan (kolektivitas dalam kelompok), kesamaan (homogenitas), falsafah confusius, dan tingkat pendidikan yang rata-rata tinggi.
1.        Empat elemen dasar gaya manajemen Jepang
a)             Kebersamaan / kolektivitas dalam kelompok
Ini merupakan elemen terpenting dalam budaya jepang dimana individu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kelompok dan kelompok merupakan unit sosial yang paling utama. Tanpa dukungan dari kelompok, seorang pemimpin akan sulit mencapai tujuannya. dalam kelompok terdapat unsur untuk mempertahankan efektivitas dan moral (semangat kerja) anggota kelompoknya.
b)             Kesamaan / homogenitas
Dibentuk oleh letak geografis yang menyendiri, terpisah dari daratan atau benua lain. Isolasi dari laut disekelilingnya pernah membuat jepang menutup diri dari dunia luar selama berabad-abad dan ini menimbulkan rasa kesamaan, saling pengertian, dan saling mempercayai sesama bangsa jepang.
c)             Falsafah confusius 
Falsafah confusius yang sudah dikontrol jepang sejak abad ke-4. Falsafah ini diajarkan kepada kaum samurai (kaum pendekar jepang) selama kurang lebih 300 tahun sampai dengan tahun 1868. Meskipun falsafah confusius tidak lagi diajarkan pada sekolah dimasa kini namun falsafah ini telah mengakar di keluarga jepang dan mendasari gaya hidup mereka.
d)            Tingkat pendidikan rakyat Jepang yang rata-rata tinggi
90% rakyat Jepang telah melewati tingkat pendidikan tinggi menengah dan 30% telah melewati tingkat pendidikan diuniversitas. Tingkat pendidikan yang tinggi ini merupakan sala satu kunci sukses pengendalian mutu dalam kelompok ( Quality control circles) yang memerlukan penguasaan kontrol statistik dan teknis persoalan.
2.        Ciri-ciri manajemen Jepang
a)              Sistem kerja seumur hidup
b)             Evaluasi dan promosi lama
c)              Sistem bonus dan kemudahan kerja
d)             Karier tidak berdasarkan spesialisasi
e)              Mekanisme pengawasan oleh anggota kelompok
f)              Proses pengambilan keputusan dari tingkat bawah
g)             Tanggung jawab kelompok dalam manajemen
h)             Keterlibatan seluruh orang
3.        Kelebihan dan kekurangan manajemen Jepang
a)              Kelebihan manajemen Jepang
Sistem jepang ini bertujuan untuk meningkatkan semangat kerja tim bagi perusahaan terutama dalam menciptakan basis yang kuat. Pondasi ini dibuat bahkan diperkuat dengan fakta bahwa dalam perusahaan Jepang tidak ada hirarki status atau posisi di mana manajer, eksekutif, sopir, dan pekerja semuanya makan dengan makanan yang sama di kantin yang sama. Dampaknya adalah terbuka secara vertikal antara manajer dan para pekerja dan juga secara herizontal di antara anggota yang berbeda bagian atau golongan.[4]
Manajemen Jepang pada hakekatnya menitikberatkan karyawan sebagai modal utama dan yang terpenting dalam organisasi.
b)             kekurangan manajemen Jepang
Tanggung jawab kolektif ini bisa membuat kariyawan melempar tanggung jawab nya dengan yang lain karena merasa bukan tanggung jawab individu saja.
Karena keberhasilan ekonomi jepang, akhir-akhir ini banyak perhatian diberikan kepada sistem manajemennya. Agar dapat menangkap suatu pengertian mengenai sistem jepang itu, maka akan dibahas 4 bidang khusus yaitu,, paternalisme, manajemen partisipatif, kelincahan tenaga kerja dan latihan serta pendidikan dan prestise.
1)         Paternalisme
Hubungan antara majikan dan pegawai-pegawai di jepang sangatlah paternalisme ke-bapak-an. Hubungan ini sudah berkembang selama bertahun-tahun. Pekerjaan jepang tidak memandang tempat kerja semata sebagai suatu tempat mencari nafkah. Tetapi tempat kerja dipandang lebih banyak sebagai tempat kepunyaannya. Masyarakat kerja itu merupakan kelompok pengacuan peranan “ role reference group” bagi pegawai-pegawai. Perasaan ke-bapak-an dipelihara oleh konsep pekerjaan selama hidup. Hampir semua koorporasi-koorporasi jepang yang besar menguji pegawai-pegawai dengan harapan menahan mereka sampai pensiun, sikap ini mengandung jaminan diam-diam terhadap pemecatan. Sistem pemberian ganjaran mereka, yang terutama sekali atas senioritas, memperkuat pula iklim “kekeluargaan”.
2)        Participatory manajement
 Bagi seorang manajer jepang mengetahui bagaimana perasaan seorang bawahan mengenai suatu isu tertentu, adalah vital, karena tanpa pengetahuan ini sangatlah sulit ntuk membuat keputusan, yang mempertahankan, kedamaian, keselarasan dan kerja sama kelompok kerja itu. 
Manajemen partisipatif mulai dengan seorang pegawai pada tingkat organisasi yang rendah menggariskan suatu ide atau saran pemecahan suatu persoalan berikut dengan sebuah penjelasan mengenai bagaimana cara mengimplementasikan rekomendasi itu. Sumbangan itu diedarkan dikalangan semua orang yang terkena oleh saran itu dan berikutnya diedarkan kepada orang atasan berturut-turut. Maksudnya adalah untuk mencapai suatu konsensus tidak saja dikalangan anggota-anggota kelompok, tetapi juga dikalangan para manajer yang terkena oleh keputusan itu. Sehabisnya pembahasan yang dicapai suatu keputusan-keputusan itu dianggap sebagai suatu yang mengikutsertakan semua pihak terlibat dalam pembahasan-pembahasan.
Dengan demikian sistem jepang itu mendorong dan mengharapkan pekerjaan-pekerjaan untuk ikut serta untuk aktif dalam proses pembuatan keputusan.
3)        Kelincahan kerja dan latihan
Tidak seperti kebanyakan organisasi-organisasi amerika serikat, perusahaan-perusahaan jepang tidak mengerahkan tenaga kerja untuk suatu kecakapan tertentu atau untuk suatu lowongan kerja khusus. Mereka lebih banyak memilih pegawai-pegawai karena latar belakang pribadinya. Pemikiran dasarnya adalah menggaji orang-orang yang baik dan kemudian melatihnya untuk pekerjaan-pekerjaan khusus dalam organisasi itu. Pendekatan terhadap pengerahan tak dapat tidak menciptakan suatu saling ketergantungan dan suatu hubungan khusus antara perorangan dan organisasi.  
        Dengan pendekatan ini, latihan yang diterima oleh para pegawai adalah khas perusahaan, berbeda dengan khas pekerjaan atau produksi jadi, latihan ditempat kerja didominasi oleh kegiatan-kegiatan khas perusahaan “company specific”. “on the job training” difasilitaskan oleh sistem senioritas mereka. Pekerjaan-pekerjaan senior bersedia untuk memberitahukan pengetahuan dan pengalaman mereka yang sudah terkumpul kepada yang junior yang lebih muda atau rendah tanpa takut untuk membahayakan kedudukan mereka sendiri.
4)        Pendidikan dan prestasi       
Seperti telah disebut dalam ruas terdahulu, penyaringan pegawai sebagian besar didasarkan atas latar belakang mereka. Pendidikan adalah bagian yang paling dihargai dari latar belakang mereka. Tingkat masuk, kerja sama dan peluang untuk naik keatas banyak tergantung dari banyaknya dan tempat-tempat pendidikan. Status sosial pegawai-pegawai di jepang adalah suatu fungsi langsung dari organisasi mana mereka bekerja. Makin banyak untung dan keberhasilan perusahaan itu, makin tinggi status sosial pegawainya. Walaupun banyak terdapat perbedaan-perbedaan budaya yang besar antara Amerika Serikat dan jepang, namun banyak yang banyak dipelajari dari keberhasilan-keberhasilan jepang itu hal ini dengan jelas dicontohkan oleh faktor, bahwa orang jepang dengan berhasil mengimplementasikan sistem mereka dalam beberapa buah pabrik kepunyaan jepang di Amerika Serikat. [5] 
D.      Manajemen Amerika
Amerika dikenal sebagai negara paling demokratis di dunia, sebagian besar perusahaan memberikan jalan bagi manajemen dan pekerja untuk bernegosiasi sebelum dilakukan perjanjian. Kebijakan untuk langsung berhubungan dengan top management tersedia dan terbuka, namun terbatas. Kendati demikian, dapat dikatakan bahwa Amerika sudah menerapkan manajemen partisipatif. [6]
1)        Ciri-ciri manajemen Amerika
a.              Sistem kerja jangka pendek
b.              Evaluasi dan promosi cepat
c.              Sistem bonus dan upah berdasarkan produktivitas
d.             Karier berdasaran spesialisasi
e.              Mekanisme pengawasan berupa hirarki
f.               Pengambilan keputusan oleh pimpinan
g.              Tanggung jawab individual

2)        Kelebihan dan kekurangan manajemen Amerika
a.              Kelebihan manajemen Amerika
Tanggung jawab diberikan secara perorangan dan mengakui prestasi kerja, dengan adanya tanggung jawab ini maka karyawan bebas menggunakan keterampilan yang dimilikinya.
b.             Kekurangan manajemen Amerika
Pengambilan keputusan yang secara individual. Walaupun tidak memakan banyak waktu namun tingkat keberhasilannya kecil karena tidak dilakukan secara terbukakarena manajemen Amerika lebih menekankan pada individu.

BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa budaya memiliki pengaruh terhadap manajemen dimana budaya selalu melekat pada setiap diri individu yang akan berpengaruh pada kualitas kerjanya. Bahkan, antar negara satu dengan negara lainnya memiliki gaya manajemen yang berbeda-beda. Seperti Negara Indonesia. Amerika, dan Jepang dimana  karakteristik manajemen jepang ini selalu menonjolkan  efektifitas, efesinsi, produktifitas tinggi, dan keuletan kerja. Dari gaya manajemen di Indonesia, Jepang, dan Amerika memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Beberapa dari kondisi ini mungkin dapat juga mempengaruhi sikap manajemen dan semangat kewiraswastaan. Beberapa dari kondisi ini mungkin dapat diacu sebagai faktor-faktor khususnya kecakapan dan kemampuan, keinginan akan hasil –hasil produksi dan jasa-jasa serta adat kebiasaan umum dan kepercayaan dalam suatu negara asing. Fakta bahwa terdapat perbedaan-perbedaan budaya itu menyebabkan setengah orang menyimpulkan, bahwa kerangka pengetahuan manajemen, sebagai yang terdapat amerika serikat, hanyalah berlaku dalam masyarakat-masyarakat serupa dengan yang ada di Amerika Serikat. Mereka yang bertahan bahwa manajemen tidak dapat dengan efektif diekspor dari negara yang satu kenegara yang lain kepada kesulitan-kesulitan yang diciptakan dalam hubungan-hubungan antar perorangan, termasuk kedalmnya, hubungan-hubungan antar manajer dan non manajer dan antar para manajer dan penjual, pelanggan-pelanggan, pemilik-pemilik, pemerintah dan saingan-saingan.


DAFTAR PUSTAKA

Ranupandojo Heidjrachman. 1996. Teori dan Konsep Manajemen. Yogyakarta: UPP-AMP YKPN
Siagian Sondang P. 2004. Manajemen internasional. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Terry,George R & Leslie W. Rue. 2012. Dasar-dasar Manajemen.        Jakarta:PT.Bumi Aksara




[1] Sondang P. Siagian, manajemen internasional;(Jakarta: Bumi Aksara,2004) hal.103-105


[2]  ibid...hal.106
         [3] Heidjrachman Ranupandojo, Teori dan konsep manajemen; (Yogyakarta: UPP-AMP YKPN,1996) hal.37-38
[5] George R. Terry & Leslie W. Rue, Dasar-dasar Manajemen, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012). Hal. 277-278

No comments:

Post a Comment

Designed By VungTauZ.Com