MAKALAH SEJARAH PERADABAN ISLAM
“PENDEKATAN SEJARAH DALAM MEMAHAMI PERDABAN
ISLAM”
BAB
I
Pendahuluan
Terminologi peradaban atau
kadangkala disebut tamadun dibicara dan dikupas oleh para ahli dari berbagai
disiplin mengikut pandangan masing-masing. Biarpun begitu, kerana berlainan
latar belakang ilmu dan disiplin para ahli, menyebabkan wujudnya penafsiran
yang berbeda.
Fokus utama makalah ini ialah untuk memberi gambaran dan seterusnya menjelaskan konsep peradaban atau tamadun berdasarkan aspek bahasa (semantik) dan pandangan beberapa ahli. Kemudian menjelakan rauang lingkup sejarah peradaban islam dan hubungannya dengan kitab suci Al- Qua’an dan Al-Hadits.
Fokus utama makalah ini ialah untuk memberi gambaran dan seterusnya menjelaskan konsep peradaban atau tamadun berdasarkan aspek bahasa (semantik) dan pandangan beberapa ahli. Kemudian menjelakan rauang lingkup sejarah peradaban islam dan hubungannya dengan kitab suci Al- Qua’an dan Al-Hadits.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Sejarah
Sejarah
secara etimologi dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, yang mengambil
dari kata “al-syajarah” dari bahasa
Arab, yang semula berarti pohon[1].
Kemudian berkembang lagi, yang berarti silsilah, asal-usul atau riwayat. Di
berbagai daerah Indonesia terdapat pula istilah-istilah daerah yang memiliki
pengertian yang sama misalnya tambo,
babat, hikayat,dan lain sebagainya.
Adapun secara terminologi, ada
beberapa definisi sejarah yang dikemukakan para ahli, antara lain:
Ibnu
khaldun memberikan batasan sejarah dengan “Sejarah ialah menunjuk kepada
peristiwa-peristiwa istimewa atau penting
pada waktu atas ras tertentu”.[2]
Al-Maqiri
membatasi dengan “Sejarah ialah memberikan informasi tentang sesuatu yang
pernah terjadi didunia’.[3]
W.Bauer
(1928) mendefinisikan ”Sejarah ialah satu ilmu pengetahuan yang berikhtisar untuk
melukiskan dengan penglihatan yang simpatik menjelaskan fenomena kehidupan
sepanjang terjadinya perubahan karena adanya hubungan antara manusia terhadap
masyarakatnya.[4]
E.Bernhim
(1908) mendefinisikan “ilmu pengetahuan sejarah ialah ilmu yang menyelidiki dan
menceritakan sejarah fakta-fakta didalam waktu temporer dan di dalam hubungan
dengan perkembangan umat manusia dalam aktifitas mereka (baik individu maupun
kolektif) sebagai makhluk sosial di dalam hubungan dengan sebab akibat”. [5]
Dari rumusan-rumusan di atas, para
ahli sepakat bahwa sejarah ialah peristiwa masa lalu yang tidak hanya sekedar
memberi informasi tentang terjadinya peristiwa, tetapi juga memberi interpretasi
atas peristiwa yang terjadi dengan melihat pada hukum sebab akibat.
Dari uraian di atas dapatlah kita
simpulkan bahwa mempelajari sejarah, berarti mempelajari peristiwa-peristiwa
yang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan suatu masyarakat yang hidup dalam
sutu tempat tertentu sejak masa lalu sampai dengan masa sekarang dan
sebagaimana perkembangan di masa depan.
Bersejarah dalam arti mempelajari
sejarah, menurut ajaran islam, adalah mrupakan perbuatan/usaha yang
diperintahkan, untuk dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari peristiwa atau
kejadian yang ada di muka bumi.[6]
“Kami tidak mengutus sebelum kamu,
melainkan orang laki-laki yang kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk
negeri. Maka tidaklah mereka berpergian di muka bumi lalu melihat bagaimana
kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan Sesungguhnya
kampung akhirat adalah lebih baik bagi
orang-orang yang bertakwa. Maka tidaklah kamu memikirnya?
B. Pengertian Peradaban
Kata
peradaban secara etimologi adalah terjemahan dari kata Arab al-haharah. Istilah Arab ini juga sering
di terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan “kebudayaan”. Padahal istilah
kebudayaan dalam bahasa Arab adalah al-tsaqafah.
“kebudayaan” al tsaqafah(Arab) dan culture
(Inggris) dengan “Peradaban” al hadharah (Arab) dan civilization (Inggris) sebagai istilah
baku kebudayaan.
Definisi kebudayaan menurut para
ahli:
Sildi Gazalba,
mengatakan bahwa “Kebudayaan ialah cara berpikir dan cara merasa yang
menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia yang membentuk
kesatuan sosial (masyarakat) dalam satu ruang dan waktu”.[7]
E,B.Taylor,
“Kebudayaan ialah suatu kesatuan jalinan yang meliputi pengetahuan, kesenian,
sosial, hukum, adat, dan tiap kesanggupan yang diperoleh seseorang sebagai
anggota masyarakat”.[8]
C.
Peradaban dan Kebudayaan Islam
Menurut
Ibn Khaldun, wujud suatu peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen
penting, anatra lain:
a) Kemampuan
manusian untuk berfikir dan menghasilkan sains dan tekhnologi
b) Kemampuan
berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer
c) Kesanggupan
berjuang utuk hidup
Jadi kemampuan berfikir merupakan elemen asas suatu
peradaban. Suatu bangsa akan beradab (berbudaya) hanya jika bangsa itu telah
mencapai tingkat kemapuan intelektual tertentu. Sebab kesempurnaan manusia
ditentukan oleh ketinggian pemikirannya. Suatu peradaban hanya akan wujud jika
manusia di dalamnya memiliki pemikiran yang tinggi sehingga mampu meningkatkan
taraf kehidupannya. Suatu pemikiran tidak da
pat tumbuh begitu saja tanpa sarana dan prasarana ataupun
supra-struktur dan infra-struktur yang tersedia. Dalam hal ini pendidikan
merupakan sarana penting bagi tumbuhnya pemikiran, namun yang lebih mendasar
lagi dari pemikiran adalah struktur ilmu pengetahuan yang berasal dari
pandangan hidup.
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan
paling tidak mempunyai tiga wujud:
1.
Wujud ideal, yaitu wujud kebudayaan
sebagainsuatu ide-ide,gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan,dan
sebagainya.
2.
Wujud kelakuan, yaitu wujud
kebudayaan sebagai suatu yang kompleks atas aktifitas, kelakuan berpola dari
manusia dalam masyarakat.
3.
Wujud benda, yaitu wujud kebudayaan
sebagai benda-benda hasil karya.[9]
D. Hubungan Kitab Suci Al-qur’an dan
Al-Hadits dengan Kebudayaan
Sebagai umat
islam kita meyakini Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber ajaran agama islam.
Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW yang membacanya bernilai ibadah dan Al-Hadits adalah sabda (qoul),
perbuatan (fi’li), ketetapan (takri) dan sifat yang disandarkan kepada Nabi
Muhammad SAW.
Dalam
proses sejarah, ulama dalam berbagai generasii dengan berbagai usaha untuk
memahami maksud-maksud yang ada pada kitab-kitab tersebut. Dalam memahami
Al-Qur’an, sebagian ulama cenderung pada pendekatan kualitas keutamaan
structural, mereka mengajukan Metode Tafsir bi Al-Matsur (bi
Al-Riwayat) dengan prosedur penafsiran sebagai berikut:
·
Penafsiran ayat al-qur’an dengan ayat
alqur’an.
·
Penafsiran ayat al-qur’an dengan hadis
nabi.
·
Penafsiran ayat al-qur’an dengan qoul
sahabat
Begitu
juga dengan al-hadits ulama memverifikasi dengan melakukan dua pendekatan
yaitu:
1. Pendekatan
kuntitatif, dengan menghitung jumlah hadis pada setiap periode yang melahirakn
hadis ahad dan mutawattir.
2. Pendekatan kualitatif, yang
melahirkan hadits-hadits, yaitu shahih, hasan dan dha’if.
Dari penjelasan diatas, kita bias mengetahui hubungan masing-masing dengan kebudayaan. Adapun hubungan Al-Qur’an dengan kebudayan terdapat pada prosedur penafsiran Al-Qur’an bi al-ma’tsur karena merupakan produk pemikiran ulama’ dalam rangka memahami kandungan makna Al-Qur’an. Dan juga bisa disebut peradaban karena prosedur tersebut sudah maju ( terutama dari segi semangat memahami dan menjalani kitab suci ). Sedangkan hubungan Al-Hadits dengan kebudayaan terdapat pada ilmu verifikasi hadits ( ulum al hadits) karena merupakan gagasan ulama’ dan bisa dikatakan peradaban karena verifikasi dilakukan oleh ulama’. Akan tetapi sebagian umat islam merasa keberatan apabila ilmu al-qur’an dan verifikasi hadis disebut sebagai kebudayaan atau peradaban.
Dari penjelasan diatas, kita bias mengetahui hubungan masing-masing dengan kebudayaan. Adapun hubungan Al-Qur’an dengan kebudayan terdapat pada prosedur penafsiran Al-Qur’an bi al-ma’tsur karena merupakan produk pemikiran ulama’ dalam rangka memahami kandungan makna Al-Qur’an. Dan juga bisa disebut peradaban karena prosedur tersebut sudah maju ( terutama dari segi semangat memahami dan menjalani kitab suci ). Sedangkan hubungan Al-Hadits dengan kebudayaan terdapat pada ilmu verifikasi hadits ( ulum al hadits) karena merupakan gagasan ulama’ dan bisa dikatakan peradaban karena verifikasi dilakukan oleh ulama’. Akan tetapi sebagian umat islam merasa keberatan apabila ilmu al-qur’an dan verifikasi hadis disebut sebagai kebudayaan atau peradaban.
D. Ruang Lingkup Sejarah Peradaban
Islam
Karena
Islam lahir di Arab, maka ruang lingkup dari sejarah peradaban Islam membahas
tentang riwayat Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa wahyu Tuhan, antara lain :
1.
Sebelum Nabi dilahirakn yakni apa
saja yang berkembang menjelang Rasulullah lahir yang dipengaruhi oleh budaya
bangsa-bangsa disekitarnya yang lebih awal maju daripada kebudayaan dan
peradaban Arab. Pengaruh tersebut melalui beberapa jalur :
a. Hubungan
dagang dengan bangsa lain, seperti bangsa syiria, Persia, Mesir, dan Romawi
yang telah mendapat pengaruh Hellenisme (kebudayaan dulu yang mempengaruhi
perkembangan fikir).
b. Melalui
kerajaan proktetorat, seperti kerajaan Hirah dibawah perlindungan Persia dan
kerajaan Ghasa dibawah perlindugan Romawi.
c.
Masuknya misi Yahudi dan Kristen,
tapi meski agama Yahudi dan Kristen sudah masuk ke Arab, bangsa Arab kebanyakan
masi menganut agama asli mereka yakni menyembah berhala.
2.
Riwayat Rasulullah dilahirkan sampai
beliau wafat, yakni sebelum masa kerasulan Nabi Muhammad dari kelahirannya
dalam keadaan yatim menjadi yatim piatu sampai beliau mendapat wahyu dari Tuhan
dan berdakwah menyebarkannya hingga beliau wafat.
3.
Kemajuan Islam yang diteruskan oleh
para sahabat seperti masa khulafaurrasyidin, bani Umayyah, dan bani Abbasiyah.
4.
Masa disentrigasi yakni adanya
dinasti-dinasti yang memerdekakan diri dari kekuasaan bani Abbasiyah.
5. Masa
kemunduran yakni masa dimana adanya persaingan antar bangsa, kemerosotan
ekonomi, konflik keagamaan, dan lain-lain.
6. Penyebaran
Islam di belahan dunia barat dan lainnya, seperti Islam di Spanyol dan
pengaruhnya di Eropa, di Asia dan lainnya.
E. Tujuan Mempelajari Sejarah
Perdaban Islam
Sejarah
perdaban islam adalah suatu ilmu pengetahuan yang melukiskan tentang
perkembangan peradaban Islam sejak zaman dahulu hingga sekarang di dalamnya
telah memberikan gambaran kepada kita tentang maju mundurnya peradaban islam
pada setiap zaman dan bangsa di mana masyarakat Islam berada. Dengan demikian,
maka mempelajari sejarah peradaban Islam itu sangatlah penting.
Di antara tujuan mempelajari sejarah
peradaban islam antara lain:
1.
Untuk menyelidiki dan mengetahui
sejauh mana kemajuan yang telah dicapai oleh umat Islam terdahulu dalam
lapangan peradaban
2.
Untuk mengetahui perkembangan
peradaban islm diberbagai negara, terutama negara-negara Islam
3.
Untuk menggali dan meninjau kembali
fakto-faktor apa yang menyebabkan kemajuan islam dalam lapangan peradaban dan
faktor apa pula yang menyebabkan kemundurannya, yang kemudian menjadi cermin
bagi masa-masa sesudah nya
4.
Untuk mengetahui dan
memperbandingkan antara peradaban yang dijiwai oleh islam dengan peradaban yang lepas dari jiwa islam, dan dari sini akan
diketahui mana peradaban islam dan mana pula peradaban non islam yang
dicetuskan oleh hasil karya umat Islam
5.
Dengan mempelajari sejarah peradaban
Islam kita akan mengetahui sumbangan Islam dan umat Islam dalam lapangan
peradaban umat manusia dipermukaan bumi ini
BABA
III
PENUTUP
Kesimpulan
Kebudayaan berasal dari bahasa arab Al-Tsaqafah
dan bahasa inggris culture. Kebudayaan memiliki banyak arti diantaranya,
kebudayaan merupakan bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu asyarakat.
Menurut Selo Sumarjan budaya merupakan semua karya, rasa dan cipta masyarakat.
Dan kebudayaan ini merupakan sesuatu yag ideal yang berupa cita-cita, rencana
atu bahkan sesuatu yang kita inginkan. Kebudayaan terefleksi dalam politik,
ekonomi dan juga tekhnologi. Oleh karena itu, kebudayaan merupakan
strategi-strategi yang dimiliki manusia untuk mewujudkan suatu rencana-rencana
dalam kehidupan. Yang disebut peradaban ruang lingkup dari sejarah. Peradaban
islam membahas tentang riwayat Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa wahyu Tuhan.
Daftar
Pustaka
Ghazalba, Sidi, Sejarah Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu, Jakarta: Bharata Karya
Aksara, 1981.
Shiddiqie, Nourouzzaman, Pengantar Sejarah Muslim, Yogyakarta:
Nur Cahaya, 1983.
Ghazalba Sidi, Azas Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1997 http:// http://www.google.com/Pengertian
Sejarah-Peradaban-Islam.
3.
Perbedaan antara Sejarah Kebudayaan Islam dan
Sejarah Peradaban Islam
Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan perbedaan diantara keduanya :
a. - Peradaban ( hadharah, civilization ) berakar pada ide tentang kota, kemajuan material ( ilmu dan teknologi ), aspek kehalusan, penataan sosial dan aspek kemajuan lain.
- Kebudayaan ( tsaqofah, culture ) berakar pada ide mengenai nilai, tujuan, pemikiran yang ditransmisikan melalui ilmu, seni, dan agama suatu masyarakat.
b. - Peradaban ide utamanya adalah kemajuan, perkembangan ( progress dan development ).
- Kebudayaan ide utamanya adalah berupa cita-cita dan rencana-rencana.
c. - Sebuah peradaban siklus dalam waktu
- Kebudayaan lepas dari kontradiksi ruang dan waktu.
B. Hubungan Kitab Suci Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan Kebudayaan
Sebagai umat Islam, kita meyakini Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai sumber ajaran agama Islam, yang telah kita ketahui definisinya, Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membacanya bernilai ibadah, dan Al-Hadits adalah sabda ( qoul ), perbuatan ( fi’li ), ketetapan ( taqrir ) dan sifat yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam proses sejarah, ulama dalam berbagai generasii dengan berbagai usaha untuk memahami maksud-maksud yang ada pada kitab-kitab tersebut. Dalam memahami Al-Qur’an, sebagian ulama cenderung pada pendekatan kualitas keutamaan structural, mereka mengajukan metode Tafsir bi Al-Ma’tsur ( bi Al-Riwayat ) dengan prosedur penafsiran sebagai berikut :
1. Penafsiran ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an.
2. Penafsiran ayat Al-Qur’an dengan hadits Nabi.
3. Penafsiran ayat Al-Qur’an dengan qoul sahabat.
Begitu juga dengan Al-Hadits, ulama meverifikasi dengan melakukan dua pendekatan, yaitu :
1. Pendekatan kuantitatif, dengan menghitung jumlah Rowi hadits pada setiap periode yang melahirkan hadits ahad dan mutawattir.
2. Pendekatan kualitatif, yang melahirkan hadits-hadits, yaitu shahih, hasan dan dha’if.
Dari penjelasan diatas, kita bias mengetahui hubungan masing-masing dengan kebudayaan. Adapun hubungan Al-Qur’an dengan kebudayan terdapat pada prosedur penafsiran Al-Qur’an bi al-ma’tsur karena merupakan produk pemikiran ulama’ dalam rangka memahami kandungan makna Al-Qur’an. Dan juga bisa disebut peradaban karena prosedur tersebut sudah maju ( terutama dari segi semangat memahami dan menjalani kitab suci ). Sedangkan hubungan Al-Hadits dengan kebudayaan terdapat pada ilmu verifikasi hadits ( ulum al hadits) karena merupakan gagasan ulama’ dan bisa dikatakan peradaban karena verifikasi dilakukan oleh ulama’. Akan tetapi sebagian umat Islam merasa keberatan apabila ilmu Al-Qur’an dan verifikasi hadits disebut sebagai kebudayaan atau peradaban.
Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan perbedaan diantara keduanya :
a. - Peradaban ( hadharah, civilization ) berakar pada ide tentang kota, kemajuan material ( ilmu dan teknologi ), aspek kehalusan, penataan sosial dan aspek kemajuan lain.
- Kebudayaan ( tsaqofah, culture ) berakar pada ide mengenai nilai, tujuan, pemikiran yang ditransmisikan melalui ilmu, seni, dan agama suatu masyarakat.
b. - Peradaban ide utamanya adalah kemajuan, perkembangan ( progress dan development ).
- Kebudayaan ide utamanya adalah berupa cita-cita dan rencana-rencana.
c. - Sebuah peradaban siklus dalam waktu
- Kebudayaan lepas dari kontradiksi ruang dan waktu.
B. Hubungan Kitab Suci Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan Kebudayaan
Sebagai umat Islam, kita meyakini Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai sumber ajaran agama Islam, yang telah kita ketahui definisinya, Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membacanya bernilai ibadah, dan Al-Hadits adalah sabda ( qoul ), perbuatan ( fi’li ), ketetapan ( taqrir ) dan sifat yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam proses sejarah, ulama dalam berbagai generasii dengan berbagai usaha untuk memahami maksud-maksud yang ada pada kitab-kitab tersebut. Dalam memahami Al-Qur’an, sebagian ulama cenderung pada pendekatan kualitas keutamaan structural, mereka mengajukan metode Tafsir bi Al-Ma’tsur ( bi Al-Riwayat ) dengan prosedur penafsiran sebagai berikut :
1. Penafsiran ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an.
2. Penafsiran ayat Al-Qur’an dengan hadits Nabi.
3. Penafsiran ayat Al-Qur’an dengan qoul sahabat.
Begitu juga dengan Al-Hadits, ulama meverifikasi dengan melakukan dua pendekatan, yaitu :
1. Pendekatan kuantitatif, dengan menghitung jumlah Rowi hadits pada setiap periode yang melahirkan hadits ahad dan mutawattir.
2. Pendekatan kualitatif, yang melahirkan hadits-hadits, yaitu shahih, hasan dan dha’if.
Dari penjelasan diatas, kita bias mengetahui hubungan masing-masing dengan kebudayaan. Adapun hubungan Al-Qur’an dengan kebudayan terdapat pada prosedur penafsiran Al-Qur’an bi al-ma’tsur karena merupakan produk pemikiran ulama’ dalam rangka memahami kandungan makna Al-Qur’an. Dan juga bisa disebut peradaban karena prosedur tersebut sudah maju ( terutama dari segi semangat memahami dan menjalani kitab suci ). Sedangkan hubungan Al-Hadits dengan kebudayaan terdapat pada ilmu verifikasi hadits ( ulum al hadits) karena merupakan gagasan ulama’ dan bisa dikatakan peradaban karena verifikasi dilakukan oleh ulama’. Akan tetapi sebagian umat Islam merasa keberatan apabila ilmu Al-Qur’an dan verifikasi hadits disebut sebagai kebudayaan atau peradaban.
B. DEVINISI PERADABAN
Dalam bahasa Inggeris, istilah peradaban di ambil dari kata civilizations. kata civilize berarti memperbaiki tingkahlaku yang kasar atau kurang sopan, menjinakkan (to tame) dan menyelaraskan mengikut keperluan masyarakat. Ringkasnya civilized dikatakan keluar dari kehidupan primitif atau barbarian kepada kehidupan yang mempunyai kehalusan akal budi dan kesopanan. Nampaknya aspek tingkahlaku atau moral lebih ditekankan dalam definisi civilizations ini.
Istilah civilizations dalam bahasa Inggeris itu dikatakan lahir daripada perkataan Latin yaitu civitas yang membawa maksud city atau bandar. kata peradaban lebih sinonim dengan bandar atas alasan tiap-tiap tamadun yang ternama memiliki bandar-bandar yang besar dan ciri-ciri sesebuah peradaban mudah ditemui di kawasan bandar.
Dalam bahasa Arab, beberapa istilah sering digunapakai bagi menjelaskan konsep peradaban. Beberapa istilah seperti madaniah, hadarah dan tamaddana. Perkataan peradaban lahir daripada perkataan maddana yang mempunyai dua pengertian, iaitu merujuk kepada perbuatan membuka bandar atau kota, serta perbuatan memperhalus budi pekerti. Daripada maddana muncul perkataan maddani yang membawa erti pembangunan perbandaran serta kehalusan budi pekerti yang terpuji.
Hadarah pula dikaitkan dengan keadaan kehidupan yang berada pada tahap maju. Lawannya ialah badawah yang bererti mundur. Daripada erti perkataan hadarah ini dapat difahamkan bahawa apa yang kita namakan peradaban itu adalah berasal daripada bandar. Hal ini kerana bandar merupakan tempat yang sesuai untuk melahirkan kemajuan disebabkan di situ terdapat berbagai benda dan kemudahan yang boleh menjadi asas kepada kelahiran dan peningkatan tamadun. Kehidupan hadarah banyak tertumpu kepada unsur-unsur yang bercorak perdagangan, kemajuan teknologi, dan pengkhususan pekerjaan. Kota-kota dalam bahasa Arab dipanggil mudun yang memiliki ciri-ciri tamadun.
Perkataan tamadun diambil daripada kata dasar bahasa Arab Tamaddana atau Madana yang mengandungi erti pemilihan sesuatu lokasi sebagai tempat tinggal, membangun sesuatu kawasan hingga menjadi suatu perbandaran. Kamus al-Munjid menjelaskan istilah tamadun adalah terbitan daripada lafaz tamaddana, iaitu fenomena daripada perubahan cara kehidupan daripada corak liar atau nomad kepada kehidupan yang berbentuk maju.
Dari perspektif Islam, peradaban dikaitkan dengan perkataan umran, adab dan dinnun atau dainun. Umran membawa makna harta, kawasan yang didiami, berkembang subur dan maju, perhimpunan, melawat dan hidup berpanjangan . Istilah adab pula merujuk kepada jemputan ke sesuatu majlis. Adbun pula bermakna memperelok tingkah laku yang menunjukkan pemikiran dan roh. Ta’dib adalah proses membentuk disiplin yang baik. Perkataan dainun membawa maksud kepatuhan, penyerahan; cara hidup, pinjaman; hakim atau pemerintah; madinah (sebuah bandar yang ditadbir oleh hakim atau pemerintah).
Dalam bahasa Inggeris, istilah peradaban di ambil dari kata civilizations. kata civilize berarti memperbaiki tingkahlaku yang kasar atau kurang sopan, menjinakkan (to tame) dan menyelaraskan mengikut keperluan masyarakat. Ringkasnya civilized dikatakan keluar dari kehidupan primitif atau barbarian kepada kehidupan yang mempunyai kehalusan akal budi dan kesopanan. Nampaknya aspek tingkahlaku atau moral lebih ditekankan dalam definisi civilizations ini.
Istilah civilizations dalam bahasa Inggeris itu dikatakan lahir daripada perkataan Latin yaitu civitas yang membawa maksud city atau bandar. kata peradaban lebih sinonim dengan bandar atas alasan tiap-tiap tamadun yang ternama memiliki bandar-bandar yang besar dan ciri-ciri sesebuah peradaban mudah ditemui di kawasan bandar.
Dalam bahasa Arab, beberapa istilah sering digunapakai bagi menjelaskan konsep peradaban. Beberapa istilah seperti madaniah, hadarah dan tamaddana. Perkataan peradaban lahir daripada perkataan maddana yang mempunyai dua pengertian, iaitu merujuk kepada perbuatan membuka bandar atau kota, serta perbuatan memperhalus budi pekerti. Daripada maddana muncul perkataan maddani yang membawa erti pembangunan perbandaran serta kehalusan budi pekerti yang terpuji.
Hadarah pula dikaitkan dengan keadaan kehidupan yang berada pada tahap maju. Lawannya ialah badawah yang bererti mundur. Daripada erti perkataan hadarah ini dapat difahamkan bahawa apa yang kita namakan peradaban itu adalah berasal daripada bandar. Hal ini kerana bandar merupakan tempat yang sesuai untuk melahirkan kemajuan disebabkan di situ terdapat berbagai benda dan kemudahan yang boleh menjadi asas kepada kelahiran dan peningkatan tamadun. Kehidupan hadarah banyak tertumpu kepada unsur-unsur yang bercorak perdagangan, kemajuan teknologi, dan pengkhususan pekerjaan. Kota-kota dalam bahasa Arab dipanggil mudun yang memiliki ciri-ciri tamadun.
Perkataan tamadun diambil daripada kata dasar bahasa Arab Tamaddana atau Madana yang mengandungi erti pemilihan sesuatu lokasi sebagai tempat tinggal, membangun sesuatu kawasan hingga menjadi suatu perbandaran. Kamus al-Munjid menjelaskan istilah tamadun adalah terbitan daripada lafaz tamaddana, iaitu fenomena daripada perubahan cara kehidupan daripada corak liar atau nomad kepada kehidupan yang berbentuk maju.
Dari perspektif Islam, peradaban dikaitkan dengan perkataan umran, adab dan dinnun atau dainun. Umran membawa makna harta, kawasan yang didiami, berkembang subur dan maju, perhimpunan, melawat dan hidup berpanjangan . Istilah adab pula merujuk kepada jemputan ke sesuatu majlis. Adbun pula bermakna memperelok tingkah laku yang menunjukkan pemikiran dan roh. Ta’dib adalah proses membentuk disiplin yang baik. Perkataan dainun membawa maksud kepatuhan, penyerahan; cara hidup, pinjaman; hakim atau pemerintah; madinah (sebuah bandar yang ditadbir oleh hakim atau pemerintah).
C. SUBSTANSI PERADABAN ISLAM
Tanda wujudnya peradaban, menurut Ibn Khaldun adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmetik, astronomi, optic, kedokteran dsb. Bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Namun ilmu pengetahuan tidak mungkin hidup tanpa adanya komunitas yang aktif mengembangkannya. Karena itu suatu peradaban atau suatu umran harus dimulai dari suatu “komunitas kecil” dan ketika komunitas itu membesar maka akan lahir umran besar. Komunitas itu biasanya muncul di perkotaan atau bahkan membentuk suatu kota. Dari kota itulah akan terbentuk masyarakat yang memiliki berbagai kegiatan kehidupan yang daripadanya timbul suatu sistem kemasyarakat dan akhirnya lahirlah suatu Negara. Kota Madinah, kota Cordova, kota Baghdad, kota Samara, kota Cairo dan lain-lain adalah sedikit contoh dari kota yang berasal dari komunitas yang kemudian melahirkan Negara. Tanda-tanda lahir dan hidupnya suatu umran bagi Ibn Khaldun di antaranya adalah berkembanganya teknologi, (tekstil, pangan, dan papan / arsitektur), kegiatan eknomi, tumbuhnya praktek kedokteran, kesenian (kaligrafi, musik, sastra dsb). Di balik tanda-tanda lahirnya suatu peradaban itu terdapat komunitas yang aktif dan kreatif menghasilkan ilmu pengetahuan.
Namun di balik faktor aktivitas dan kreativitas masyarakat masih terdapat faktor lain yaitu agama, spiritualitas atau kepercayaan. Para sarjana Muslim kontemporer umumnya menerima pendapat bahwa agama adalah asas peradaban, menolak agama adalah kebiadaban. Sayyid Qutb menyatakan bahwa keimanan adalah sumber peradaban. Meskipun dalam paradaban Islam struktur organisasi dan bentuknya secara material berbeda-beda, namun prinsip-prinsip dan nilai-nilai asasinya adalah satu dan permanent. Prinsip-prinsip itu adalah ketaqwaan kepada Tuhan (taqwa), keyakinan kepada keesaan Tuhan (tauhid), supremasi kemanusiaan di atas segala sesuatu yang bersifat material, pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan penjagaan dari keinginan hewani, penghormatan terhadap keluarga, menyadari fungsinya sebagai khalifah Allah di Bumi berdasarkan petunjuk dan perintahNya (syariat).
Sejalan dengan Sayyid Qutb, Syeikh Muhammad Abduh menekankan bahwa agama atau keyakinan adalah asas segala peradaban. Bangsa-bangsa purbakala seperti Yunani, Mesir, India, dll, membangun peradaban mereka dari sebuah agama, keyakinan atau kepercayaan. Arnold Toynbee juga mengakui bahwa kekuatan spiritual (batiniyah) adalah kekuatan yang memungkinkan seseorang melahirkan manifestasi lahiriyah (outward manifestation) yang kemudian disebut sebagai peradaban itu.
Jika agama atau kepercayaan merupakan asas peradaban, dan jika agama serta kepercayaan itu membentuk cara pandang seseorang terhadap sesuatu yang pada gilirannya dapat mempengaruhi tindakan nyatanya atau manifestasi lahiriyahnya, maka sejalan dengan teori modern bahwa pandangan hidup (worldview) merupakan asas bagi setiap peradaban dunia.
Para pengkaji peradaban, filsafat, sains dan agama kini telah banyak yang menggunakan worldview sebagai matrik atau framework. Ninian Smart menggunakannya untuk mengkaji agama, S.M. Naquib al-Attas, al-Mawdudi, Sayyid Qutb, memakainya untuk menjelaskan bangunan konsep dalam Islam, Alparslan Acikgence untuk mengkaji sains, Atif Zayn, memakainya untuk perbandingan ideologi, Thomas F Wall untuk kajian filsafat, Thomas S Kuhn dengan konsep paradigmanya sejatinya sama dengan menggunakan worldview bagi kajian sains.
Meski mereka berbeda pendapat tentang makna worldview, mereka pada umumnya mengaitkan worldview dengan peradaban atau seluruh aktivitas ilmiyah,sosial dan keagamaan seseorang. Ninian Smart, pakar kajian perbandingan agama, memberi makna worldview sebagai “kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral.” Penekanannya pada fungsi worldview sebagai motor perubahan sosial dan moral. Secara filosofis Thomas F Wall, memaknai worldview sebagai “sistem kepercayaan asas yang integral tentang hakekat diri kita, realitas, dan tentang makna eksistensi”.
Dalam kaitannya dengan aktivitas ilmiyah Alparslan Acikgence memaknai worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktivitas-aktivitas ilmiyah dan teknologi. Setiap aktivitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, artinya aktivitas manusia dapat direduksi kedalam pandangan hidup itu. Dalam konteks sains, hakekat worldview juga dapat dikaitkan dengan konsep “paradigma” Thomas S Kuhn . Istilah Kuhn “perubahan paradigma” (paradigm shift) menurut Edwin Hung sebenarnya dapat dianggap sebagai weltanschauung Revolution (revolusi pandangan hidup. worldview berkaitan erat secara konseptual dengan segala aktivitas manusia secara sosial, intelektual dan religius. Dan yang terpenting adalah bahwa worldcview sebagai sistem kepercayaan, pemikiran, tata pikir, dan tata nilai memiliki kekuatan untuk merobah. Maka dari itu, aktivitas manusia dari yang sekecil-kecilnya hingga yang sebesar-besarnya yang kemudian menjadi peradaban bersumber dari worldview.
Jika makna worldview adalah konsep nilai, motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktivitas ilmiah, maka Islam mengandung itu semua. Islam bahkan memiliki pandangan terhadap realitas fisik dan non fisik secara integral. Ayat-ayat al-Qur’an jelas-jelas adalah konsep seminal yang memproyeksikan pandangan Islam tentang alam semesta dan kehidupan yang disebut pandangan hidup atau pandangan alam Islam (worldview, al-taÎawwur al-Islami, al-mabda al-Islami) itu. Bukan hanya itu, konsep-konsep itu diberi medium pelaksanaannya yang berupa institusi yang disebut din, yang di dalamnya terkandung konsep peradaban (Tamaddun).
Oleh sebab itu dalam Islam worldview memiliki istilahnya sendiri. Bagi al-Mawdudi worldview Islam adalah Islami Nahzariyat (Islamic Vision) yang berarti “pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (syahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunisecara menyeluruh”.
Menurut Sayyid Qutb worldview Islam adalah al-tashawwur al-Islami, yang berarti “akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat dibalik itu.” Worldview dalam istilah Shaykh Atif al-Zayn adalah al-Mabda’ al-Islami yang lebih cenderung merupakan kesatuan iman dan akal dan karena itu ia mengartikan mabda’ sebagai aqidah fikriyyah yaitu kepercayaan yang berdasarkan pada akal. Sebab baginya iman didahului dengan akal. Namun Shaykh Atif juga menggunakan kata-kata mabda untuk ideologi non-Muslim. Ini berarti bahwa tidak selamanya berarti aqidah fikriyyah. S.M.Naquib al-Attas mengartikan worldview Islam sebagai pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total, maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yat al-Islam li al-wujud).
Jadi sebagaimana peradaban lainnya, substansi peradaban Islam adalah pokok-pokok ajaran Islam yang tidak terbatas pada sistem kepercayaan, tata pikir, dan tata nilai, tapi merupakan super-sistem yang meliputi keseluruhan pandangan tentang wujud, terutamanya pandangan tentang Tuhan. Oleh sebab itu teologi (aqidah) dalam Islam merupakan fondasi bagi tata pikir, tata nilai dan seluruh kegiatan kehidupan Muslim. Itulah pandangan hidup Islam. Jika pandangan hidup itu berakumulasi dalam tata pikiran seseorang ia akan memancar dalam keseluruhan kegiatan kehidupannya dan akan menghasilkan etos kerja dan termanifestasikan dalam bentuk karya nyata. Dan jika ia memancar dari pikiran masyarakat atau bangsa maka ia akan menghasilkan falsafah hidup bangsa dan sistem kehidupan bangsa tersebut. Jadi substansi peradaban Islam adalah pandangan hidup Islam. Namun elemen pandangan hidup yang terpenting adalah pemikiran dan kepercayaan.
Menurut Ibn Khaldun, wujud suatu peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen penting yaitu :
1) kemampuan manusia untuk berfikir yang menghasilkan sains dan teknologi
2) kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer dan
3) kesanggupan berjuang untuk hidup.
Jadi kemampuan berfikir merupakan elemen asas suatu peradaban. Suatu bangsa akan beradab (berbudaya) hanya jika bangsa itu telah mencapai tingkat kemapuan intelektual tertentu. Sebab kesempurnaan manusia ditentukan oleh ketinggian pemikirannya. Suatu peradaban hanya akan wujud jika manusia di dalamnya memiliki pemikiran yang tinggi sehingga mampu meningkatkan taraf kehidupannya. Suatu pemikiran tidak dapat tumbuh begitu saja tanpa sarana dan prasarana ataupun supra-struktur dan infra-struktur yang tersedia. Dalam hal ini pendidikan merupakan sarana penting bagi tumbuhnya pemikiran, namun yang lebih mendasar lagi dari pemikiran adalah struktur ilmu pengetahuan yang berasal dari pandangan hidup.
Tanda wujudnya peradaban, menurut Ibn Khaldun adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmetik, astronomi, optic, kedokteran dsb. Bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Namun ilmu pengetahuan tidak mungkin hidup tanpa adanya komunitas yang aktif mengembangkannya. Karena itu suatu peradaban atau suatu umran harus dimulai dari suatu “komunitas kecil” dan ketika komunitas itu membesar maka akan lahir umran besar. Komunitas itu biasanya muncul di perkotaan atau bahkan membentuk suatu kota. Dari kota itulah akan terbentuk masyarakat yang memiliki berbagai kegiatan kehidupan yang daripadanya timbul suatu sistem kemasyarakat dan akhirnya lahirlah suatu Negara. Kota Madinah, kota Cordova, kota Baghdad, kota Samara, kota Cairo dan lain-lain adalah sedikit contoh dari kota yang berasal dari komunitas yang kemudian melahirkan Negara. Tanda-tanda lahir dan hidupnya suatu umran bagi Ibn Khaldun di antaranya adalah berkembanganya teknologi, (tekstil, pangan, dan papan / arsitektur), kegiatan eknomi, tumbuhnya praktek kedokteran, kesenian (kaligrafi, musik, sastra dsb). Di balik tanda-tanda lahirnya suatu peradaban itu terdapat komunitas yang aktif dan kreatif menghasilkan ilmu pengetahuan.
Namun di balik faktor aktivitas dan kreativitas masyarakat masih terdapat faktor lain yaitu agama, spiritualitas atau kepercayaan. Para sarjana Muslim kontemporer umumnya menerima pendapat bahwa agama adalah asas peradaban, menolak agama adalah kebiadaban. Sayyid Qutb menyatakan bahwa keimanan adalah sumber peradaban. Meskipun dalam paradaban Islam struktur organisasi dan bentuknya secara material berbeda-beda, namun prinsip-prinsip dan nilai-nilai asasinya adalah satu dan permanent. Prinsip-prinsip itu adalah ketaqwaan kepada Tuhan (taqwa), keyakinan kepada keesaan Tuhan (tauhid), supremasi kemanusiaan di atas segala sesuatu yang bersifat material, pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan penjagaan dari keinginan hewani, penghormatan terhadap keluarga, menyadari fungsinya sebagai khalifah Allah di Bumi berdasarkan petunjuk dan perintahNya (syariat).
Sejalan dengan Sayyid Qutb, Syeikh Muhammad Abduh menekankan bahwa agama atau keyakinan adalah asas segala peradaban. Bangsa-bangsa purbakala seperti Yunani, Mesir, India, dll, membangun peradaban mereka dari sebuah agama, keyakinan atau kepercayaan. Arnold Toynbee juga mengakui bahwa kekuatan spiritual (batiniyah) adalah kekuatan yang memungkinkan seseorang melahirkan manifestasi lahiriyah (outward manifestation) yang kemudian disebut sebagai peradaban itu.
Jika agama atau kepercayaan merupakan asas peradaban, dan jika agama serta kepercayaan itu membentuk cara pandang seseorang terhadap sesuatu yang pada gilirannya dapat mempengaruhi tindakan nyatanya atau manifestasi lahiriyahnya, maka sejalan dengan teori modern bahwa pandangan hidup (worldview) merupakan asas bagi setiap peradaban dunia.
Para pengkaji peradaban, filsafat, sains dan agama kini telah banyak yang menggunakan worldview sebagai matrik atau framework. Ninian Smart menggunakannya untuk mengkaji agama, S.M. Naquib al-Attas, al-Mawdudi, Sayyid Qutb, memakainya untuk menjelaskan bangunan konsep dalam Islam, Alparslan Acikgence untuk mengkaji sains, Atif Zayn, memakainya untuk perbandingan ideologi, Thomas F Wall untuk kajian filsafat, Thomas S Kuhn dengan konsep paradigmanya sejatinya sama dengan menggunakan worldview bagi kajian sains.
Meski mereka berbeda pendapat tentang makna worldview, mereka pada umumnya mengaitkan worldview dengan peradaban atau seluruh aktivitas ilmiyah,sosial dan keagamaan seseorang. Ninian Smart, pakar kajian perbandingan agama, memberi makna worldview sebagai “kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral.” Penekanannya pada fungsi worldview sebagai motor perubahan sosial dan moral. Secara filosofis Thomas F Wall, memaknai worldview sebagai “sistem kepercayaan asas yang integral tentang hakekat diri kita, realitas, dan tentang makna eksistensi”.
Dalam kaitannya dengan aktivitas ilmiyah Alparslan Acikgence memaknai worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktivitas-aktivitas ilmiyah dan teknologi. Setiap aktivitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, artinya aktivitas manusia dapat direduksi kedalam pandangan hidup itu. Dalam konteks sains, hakekat worldview juga dapat dikaitkan dengan konsep “paradigma” Thomas S Kuhn . Istilah Kuhn “perubahan paradigma” (paradigm shift) menurut Edwin Hung sebenarnya dapat dianggap sebagai weltanschauung Revolution (revolusi pandangan hidup. worldview berkaitan erat secara konseptual dengan segala aktivitas manusia secara sosial, intelektual dan religius. Dan yang terpenting adalah bahwa worldcview sebagai sistem kepercayaan, pemikiran, tata pikir, dan tata nilai memiliki kekuatan untuk merobah. Maka dari itu, aktivitas manusia dari yang sekecil-kecilnya hingga yang sebesar-besarnya yang kemudian menjadi peradaban bersumber dari worldview.
Jika makna worldview adalah konsep nilai, motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktivitas ilmiah, maka Islam mengandung itu semua. Islam bahkan memiliki pandangan terhadap realitas fisik dan non fisik secara integral. Ayat-ayat al-Qur’an jelas-jelas adalah konsep seminal yang memproyeksikan pandangan Islam tentang alam semesta dan kehidupan yang disebut pandangan hidup atau pandangan alam Islam (worldview, al-taÎawwur al-Islami, al-mabda al-Islami) itu. Bukan hanya itu, konsep-konsep itu diberi medium pelaksanaannya yang berupa institusi yang disebut din, yang di dalamnya terkandung konsep peradaban (Tamaddun).
Oleh sebab itu dalam Islam worldview memiliki istilahnya sendiri. Bagi al-Mawdudi worldview Islam adalah Islami Nahzariyat (Islamic Vision) yang berarti “pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (syahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunisecara menyeluruh”.
Menurut Sayyid Qutb worldview Islam adalah al-tashawwur al-Islami, yang berarti “akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat dibalik itu.” Worldview dalam istilah Shaykh Atif al-Zayn adalah al-Mabda’ al-Islami yang lebih cenderung merupakan kesatuan iman dan akal dan karena itu ia mengartikan mabda’ sebagai aqidah fikriyyah yaitu kepercayaan yang berdasarkan pada akal. Sebab baginya iman didahului dengan akal. Namun Shaykh Atif juga menggunakan kata-kata mabda untuk ideologi non-Muslim. Ini berarti bahwa tidak selamanya berarti aqidah fikriyyah. S.M.Naquib al-Attas mengartikan worldview Islam sebagai pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total, maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yat al-Islam li al-wujud).
Jadi sebagaimana peradaban lainnya, substansi peradaban Islam adalah pokok-pokok ajaran Islam yang tidak terbatas pada sistem kepercayaan, tata pikir, dan tata nilai, tapi merupakan super-sistem yang meliputi keseluruhan pandangan tentang wujud, terutamanya pandangan tentang Tuhan. Oleh sebab itu teologi (aqidah) dalam Islam merupakan fondasi bagi tata pikir, tata nilai dan seluruh kegiatan kehidupan Muslim. Itulah pandangan hidup Islam. Jika pandangan hidup itu berakumulasi dalam tata pikiran seseorang ia akan memancar dalam keseluruhan kegiatan kehidupannya dan akan menghasilkan etos kerja dan termanifestasikan dalam bentuk karya nyata. Dan jika ia memancar dari pikiran masyarakat atau bangsa maka ia akan menghasilkan falsafah hidup bangsa dan sistem kehidupan bangsa tersebut. Jadi substansi peradaban Islam adalah pandangan hidup Islam. Namun elemen pandangan hidup yang terpenting adalah pemikiran dan kepercayaan.
Menurut Ibn Khaldun, wujud suatu peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen penting yaitu :
1) kemampuan manusia untuk berfikir yang menghasilkan sains dan teknologi
2) kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer dan
3) kesanggupan berjuang untuk hidup.
Jadi kemampuan berfikir merupakan elemen asas suatu peradaban. Suatu bangsa akan beradab (berbudaya) hanya jika bangsa itu telah mencapai tingkat kemapuan intelektual tertentu. Sebab kesempurnaan manusia ditentukan oleh ketinggian pemikirannya. Suatu peradaban hanya akan wujud jika manusia di dalamnya memiliki pemikiran yang tinggi sehingga mampu meningkatkan taraf kehidupannya. Suatu pemikiran tidak dapat tumbuh begitu saja tanpa sarana dan prasarana ataupun supra-struktur dan infra-struktur yang tersedia. Dalam hal ini pendidikan merupakan sarana penting bagi tumbuhnya pemikiran, namun yang lebih mendasar lagi dari pemikiran adalah struktur ilmu pengetahuan yang berasal dari pandangan hidup.
[1] Sidi ghazalba, Pengantar Sejarah sebagai Ilmu ,(Jakarta:Bharata
Karya Aksara,1981)hal 1.
[2]
Nourouzzaman Shiddiqie, Pengantar Sejarah Muslim, (Yogyakarta: Nur Cahya, 1983)
hal 4.
[3]
Ibid.
[4]
Ibid.
[5]
Ibid.
[6]
Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam
dalam Lintasan Sejarah (Malang:UIN Malang Press)
[7]
Sidi Gazalba, Azas Kebudayaan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1997), hal 66.
[8]
Ibid hal.37.
[9]Koentjaraningrat,
Kebudayaan mentalitas dan Pembangunan (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama,1992),hal 5.
No comments:
Post a Comment