1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Manusia
adalah makhluk social yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalau
berinteraksi dengan sesama serta
dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun
dalam kelompok kecil.
Hidup
dalam kelompok tentulah tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang
harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati & menghargai.
Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah impian setiap
insan. Menciptakan & menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi
disbanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk
berpikir, kemampuan untuk memilah & memilih mana yang baik & mana yang
buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan
dengan baik.
Tidak
hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan social manusiapun
perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang
berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin
dirinya sendiri.
Dengan
berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok & lingkungan
dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik &
sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan
agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.
I.2 RUMUSAN MASALAH
Dari
latar belakang masalah yang penulis uraikan, banyak permasalahan yang penulis
dapatkan. Permasalahan tersebut antara lain :
a.
Bagaimana
hakikat menjadi seorang pemimpin?
b.
Adakah
teor –teori untuk menjadi pemimpin yang baik?
c.
Apa dan bagaimana menjadi
pemimpin yang melayani?
d.
Apa dan bagaimana menjadi
pemimpin sejati?
e.
Bagaimana
hubungan kearifan lokal dengan kepemimpinan?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kepemimpinan
Dalam
kehidupan sehari–hari, baik di lingkungan keluarga, organisasi, perusahaan
sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin, kepemimpinan
serta kekuasaan. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan
satu dengan lainnya. Istilah pemimpin adalah terjemahan dari leader/head/manager, yang juga disebut “manager/kepala/ketua/direktur/presiden” dan lain sebagainya, tegasnya setiap
orang yang mempunyai bawahan.[1]
Kepemimpinan merupakan kemapuan yang dipunyai seorang untuk mempengaruhi
orang-orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Manajemen mencakup
kepemimpinan, tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lain seperti perencanaan,
pengorganisasian dan pengawasan.[2]
Kepemimpinan meliputi
proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku
pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok.
Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang–orang
sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan, kepercayaan, respek, dan kerjasama
secara royal untuk menyelesaikan tugas.
Pada
efisiensinya bahwa baik kepemimpinan yang sukses maupun kepemimpinan yang
efektif melakukan delegasi wewenang meskipun kedua kepemimpinan tersebut
ferkuensi pelaksananya tidak sama. Karena keduanya berbeda. Kepemimpinan yang
sukses tampak pada kepemimpinan manajer mempengaruhi bawahan untuk melakukan suatu tugas, apabila bawahan tersebut melakukan
hal itu berarti manajer sukses
dalam kepemimpinannya, tetapi hal tersebut tidaklah efektif. Karena bawahan
tersebut mengerjakan tugas tersebut dengan rasa ketidak senangan. Akan tetapi
kepemimpinan yang efektif, seorang menejer akan menghormati seorang bawahanya,
begitu juga sebaliknya. Dengan demikian seorang bawahan akan mengerjakan tugas
dengan senang hati dan patuh kepada atasannya. Hal ini yang dimaksud dengan
kepemimpinan yang efektif. Disini bawahan melihat tujuan peribadinya tersalur
dengan mengerjakan hal tersebut.[3]
Berikut ini definisi-definisi yang di
kemukaan para penulis tentang pengertian pemimpin :[4]
1.
Drs.H.Malayu
S.P.Hasibuan
Pemimpin
adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk
mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan. Manejer adalah
seseorang yang mencapai tujuannya melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Jadi, pemimpin
itu harus mempunyai bawahan, harus membagi pekerjaannya dan harus tetap
bertanggung jawab terhadap pekerjaan tersebut.
2.
Robert
Tanebaun
Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk
mengorganisasi, mengarahkan dan mengontrol para bawahaan yang bertanggung
jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikeordinasi demi mencapai tujuan
perusahaan.[5]
3.
Prof.
Macoby
Seorang
pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang relijius, dalam artian
menerima kepercayan etnis dan moral dari berbagai agama besar secara komulatif,
kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang
berlainan.[6]
4.
Menurut
pancasila
Beberapa
asas utama dara kepemimpinan pancasila adalah :
Ing
ngarsa sung tuladha:
seorang pemimpin harus mampu dengan sikap dan perbuatannya menjadikan dirinya
pola panutan dan ikutan bagi orang-orang yang dipimpinnya.
Ing madya mangun karsa: seorang pemimpin harus mampu membangkitkan
semangat bersakarsa dan berkreasi pada orang-orang yang dibimbingnya.
Tut wuri handayani: seorang harus mampu mendorong orang-orang yang
diasuhnya berani berjalan didepan dan sanggup bertanggup jawab.[7]
Dalam
kelompok manusia manapun, seorang pemimpin harus memiliki power ‘
pengaruh’ diantaranya adalah [8]:
1.
Power eksekutif ‘ pelaksanan’
yaitu pengaruh yang dapat menimbulkan karisma dan wibawa untuk mengatur anggota
kelompok ataupun
untuk mengatur orang lain.
2.
Power legislatif ‘pembuat hukum’ yaitu pengaruh untuk mengatur
hubungan antar kelompok (satu kelompok dengan kelompok lainya).
3.
Power pembuat keputusan, yaitu pengaruh
untuk melerai perselisihan yang terjadi dalam penerapan hukum.
Susunan
pengaruh tersebut harus dilaksanakan dengan tertib, dan cocok diterapkan dalam sebuah
lambaga perusahan dan negara bahkan cocok juga jika diterapkan dalam lembaga
asosiasi internasional.
Dalam
dunia usaha, keputusan seorang pemimpin sangatlah penting untuk mengambil
sebuah hasil akhir dari satu masalah yang harus diputuskan oleh pemimpin. Untuk
menghasilkan suatu keputusan dari pemimpin dalam melaksanakan tugasnya dengan
baik dan sukses, seorang pemimpin harus memiliki beberapa sifat di antaranya
adalah[9] :
1.
Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk
mengendalikan perusahanya. Semangkin besar kemampuan dan pengetahuanya terhadap
urusan perushaan, maka pengaruhnya akan semangkin kuat juga.
2.
Memiliki keistimewan yang lebih dibanding dengan
orang lain.
3.
Memahami kebiasan dan bahas orang yang menjadi
tnaggung jawabnya.
4.
Mempunyai kharisma dan wibawa dihadapan rekan
maupun bawahannya.
5.
Konsekuen dengan kebenaran dan tidak mengikuti hawa
nafsu.
6.
Berprilaku dengn lembut dan kasih sayang terhadap
yang dipimpinnya, agar orang lain simpatik kepadanya.
7.
Mempunyai suasana saling memafkan antara pemimpin
dan bawahanya.
8.
Bermusyawarah dengan para bawhan serta mintala pendapat
dan nasihat dari para bawahan dan tidak sombong.
9.
Menertibkan semua urusan dan membulatkan tekat
untuk kemudian bertawakal.
10. Membangun
kesadaran akan adanya pengawasan dari Allah.
Seorang
yang berjiwa pemimpin harus mengutamakan tugas, tanggung jawab, dan membina
hubungan yang harmonis, baik dengan atasannya maupun dengan bawahannya. Jadi,
seorang yang berjiwa pemimpin harus mengadakan komunikasi yang lancar terhadap
atasan dan bawahan, baik komunikasi formal maupun komunikasi informal.
B. Tipologi Kepemimpinan
Tokoh
manajemen dan ahli sosiologi sepakat bahwa tidak terdapat karakteristik baku
yang melekat dalam kepemimpinan dan harus dipegang oleh seorang pemimpin
sepanjang waktu untuk merealisasikan tujuannya. Kepemimpinan diartikan sebagai
peran tertentu yang dijalankan seorang pemimpin dalam sebuah sikap tertentu
yang mengintegrasikan peran manusia, permasalahan dan kondisi. Berikut ini
beberapa tipe/gaya kepemimpinan:[10]
1.
Tipe
Demokrasi
Keputusan
yang diambil dalam model kepemimpinan ini merupakan hasil kesepakatan bersama
melalui sebuah diskusi dan pemikiran kolektif. Dalam menjalankan model
kepemimpinan ini dibangun dengan semangat kebersamaan, persamaan dan
egaliterisme. Masing-masing individu adalah sama dan merupakan bagian yang
lain.
2.
Tipe
Autoritarian
Seorang
pemimpin memiliki wewenang mutlak untuk menentukan program atau kebijakan
tanpaharus meminta pertimbangan dan bermusyawarah dengan masyarakat. Rakyat
hanya berperan menjalankan program dan kebijakan pemerintah, selangkah demi
selangkah, tanpa mengetahui masa depan dan tujuan yang ingin diraih. Pemimpin
memiliki wewenang mutlak untuk membagi pekerjaan, menurunkan perintah dan
memaksa rakyat untuk mematuhinya secara otoriter.
3.
Tipe
Laissezfaire
Dalam
model kepemimpinan ini, peran seorang pemimpin bersifat pasif. Dia memberikan
kebebasan mutlak kapada rakyat untuk mengambil keputusan, tindakan atau langkah
lain terkait dengan kehidupannya.
4.
Tipe
Kepemimpinan Pribadi
Motivasi
dan pengarahan menimbulkan kontak antar pribadi pegawai. Lahirlah suatu hubungan
yang dekat antara pemimpin dan bawahannya. Apabila kepemimpinan pribadi, maka
situasinya diliputi oleh karakteristik pribadi dan suasana yang informal.
5.
Tipe
Kepemimpinan Paternalistis
Di dalam
system kepemimpinan ini terdapat suatu pengaruh kebapakan antara pemimpin dan
kelompoknya. Tujuannya ialah untuk melindungi dan memperhatikan kesejahteraan
pengikut-pengikutnya. Paternalism cocokuntuk situasi-situasi tertentu, namun
dapat menghambat pengembangan rasa percaya pada diri sendiri dari anggota-anggota
kelompoknya.
6.
Tipe
Orientasi Tugas (taks-oriented)
Manager
berorientasi tugas mengarahkan dan mengawasi bawahan secara tertutup untuk
menjamin bahwa tugas dilaksanakan sesuai dengan yang diinginkannya. Manager
dengan gaya kepemimpinan ini lebih memperhatikan pelaksanaan pekerjaan daripada
pengembangan dan pertumbuhan karyawan.
C. Fungsi dan Alat Kepemimpinan
Fungsi
Kepemimpinan
Fungsi-fungsi
yang dilakukan pemimpin dalam kelompoknya, agar kelompok berjalan dengan
efektif adalah:[11]
1.
Fungsi-fungsi
yang berhubungan dengan tugas (taks-related)
atau pemecahan masalah. Fungsi ini menyangkut pemberian saran, penyelesaian,
informasi dan pendapat.
2.
Fungsi-fungsi
pemeliharaan kelompok (group-maintenance)
atau social. Fungsi kedua mencangkup segala sesuatu yang dapat membantu
kelompok berjalan lebih lancar, persetujuan dengan kelompok lain, penengahan
perbedaan pendapat dan sebagainya.
Fungsi kepemimpinan menurut Hadari
Nawawi ada lima yaitu:
1.
Fungsi Instruktif.
Pemimpin berfungsi
sebagai komunikator yang menentukan apa (isi perintah), bagaimana (cara
mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai, melaksanakan dan melaporkan
hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan
secara efektif. Sehingga fungsi orang yang dipimpin hanyalah melaksanakan
perintah.
2.
Fungsi konsultatif.
Pemimpin dapat
menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua arah. Hal tersebut
digunakan manakala pemimpin dalam usaha menetapkan keputusan yang memerlukan
bahan pertimbangan dan berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya.
3.
Fungsi Partisipasi.
Dalam menjaiankan
fungsi partisipasi pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya,
baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam melaksanakannya. Setiap anggota
kelompok memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam
melaksanakan kegiatan yang dijabarkan dari tugas-tugas pokok, sesuai dengan
posisi masing-masing.
4.
Fungsi Delegasi
Dalam menjalankan
fungsi delegasi, pemimpin memberikan pelimpahan wewenang membuay atau
menetapkan keputusan. Fungsi delegasi sebenarnya adalah kepercayaan ssorang
pemimpin kepada orang yang diberi kepercayaan untuk pelimpahan wewenang dengan
melaksanakannya secara bertanggungjawab. Fungsi pendelegasian ini, harus
diwujudkan karena kemajuan dan perkembangan kelompok tidak mungkin diwujudkan
oleh seorang pemimpin seorang diri.
5.
Fungsi Pengendalian.
Fungsi pengendalian
berasumsi bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu mengatur aktifitas
anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga
memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Dalam melaksanakan
fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkan melalui kegiatan bimbingan,
pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.[12]
Sealain itu fungsi kepemimpinen baru bisa
dijalankan dalam sebuah masyarakat jika telah terpenuhi tiga unsur utama, yakni
kumpulan manusia yang dimulai dari tiga orang atau lebih, terdapat tujuan
kolektif yang ingin diwujudkan bersama, terdapat seseorang yang dipilih untuk
menjadi pemimpin dan mendapatkan persetujuan dari mayoritas anggota masyarakat
yang akan membuatnya merealisasikan
tujuan bersama.[13]
Alat
Kepemimpinan
Alat ukur kepemimpinan ada 7, yaitu:
- Komunikasi
- Bagaimana membina hubungan dengan orang lain
- Memahami diri sendiri
- Bekerja dalam kelompok
- Kemampuan manajemen
- Learning skills
- Kemampuan membuat keputusan
D.
Teori Kepemimpinan
Memahami
teori-teori kepemimpinan sangat besar artinya untuk mengkaji sejauh mana
kepemimpinan dalam suatu organisasi telah dapat dilaksanakan secara efektif
serta menunjang kepada produktifitas organisasi secara keseluruhan. Dalam
makalah ini akan dibahas tentang teori kepemimpinan. Seorang pemimpin harus
mengerti tentang teori kepemimpinan agar nantinya mempunyai referensi dalam
menjalankan sebuah organisasi. Beberapa teori tentang kepemimpinan antara lain[14]
:
1.
Teori Kepemimpinan Sifat (
Trait Theory )
Analisis
ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu
sendiri. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang
beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan yang kemudian teori
ini dikenal dengan ”The Greatma Theory”. Dalam perkembanganya, teori ini
mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan
bahwa sifat–sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga
dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. Sifat–sifat itu antara lain :
sifat fisik, mental, dan kepribadian.
Keith Devis
merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan
organisasi, antara lain :
a)
Kecerdasan
Berdasarkan hasil
penelitian, pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan
rata–rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi
pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan pengikutnya.
b)
Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial
Umumnya di dalam melakukan
interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal, seorang pemimpin
yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat pemimpin
tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini
kebenarannya.
c)
Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi
Seorang pemimpin yang
berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk
berprestasi. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang
optimal, efektif dan efisien.
d) Sikap
Hubungan Kemanusiaan
Adanya
pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu
berpihak kepadanya.
2.
Teori Kepemimpinan Perilaku
dan Situasi
Berdasarkan
penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki
kecenderungan kearah 2 hal.
a)
Pertama yang disebut dengan Konsiderasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang menggambarkan
hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam hal ini seperti :
membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi
dengan bawahan.
b) Kedua disebut Struktur Inisiasi yaitu Kecendrungan seorang pemimpin
yangmemberikan batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat, bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan,
bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai.
Jadi, berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana
seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan
terhadap hasil yang tinggi pula.
3.
Teori Kewibawaan Pemimpin
Kewibawaan
merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu
seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara
perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa
yang dikehendaki oleh pemimpin.
4.
Teori Kepemimpinan Situasi
Seorang
pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat
fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.
5. Teori
Kelompok
Agar tujuan
kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif antara
pemimpin dengan pengikutnya.
Dari adanya berbagai teori kepemimpinan di atas, dapat diketahui bahwa
teori kepemimpinan tertentu akan sangat mempengaruhi gaya kepemimpinan
(Leadership Style), yakni pemimpin yang menjalankan fungsi kepemimpinannya
dengan segenap filsafat, keterampilan dan sikapnya.
E.
Metode
kepemimpinan
Tidak
banyak pemimpin yang memiliki metode kepemimpinan ini. Karena hal ini tidak
pernah diajarkan di sekolah – sekolah formal. Keterampilan seperti ini disebut
dengan Softskill atau Personalskill. Dalam sebuah ulasan berjudul Can
Leadership Be Taught, dibahas bahwa kepemimpinan (dalam hal ini metode
kepemimpinan) dapat diajarkan sehingga melengkapi mereka yang memiliki karakter
kepemimpinan. Ada 3 hal penting dalam metode kepemimpinan, yaitu:
1. Kepemimpinan yang efektif dimulai
dengan visi yang jelas. Visi ini merupakan sebuah daya atau kekuatan untuk
melakukan perubahan, yang mendorong terjadinya proses ledakan kreatifitas yang
dahsyat melalui integrasi maupun sinergi berbagai keahlian dari orang – orang
yang ada dalam organisasi tersebut. Bahkan dikatakan bahwa nothing motivates
change more powerfully than a clear vision. Visi yang jelas dapat secara
dahsyat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi. Seorang pemimpin
adalah inspirator perubahan dan visioner yaitu memiliki visi yang jelas kemana
organisasinya akan menuju. Kepemimpinan secara sederhana adalah proses untuk
membawa orang – orang atau organisasi yang dipimpin menuju suatu tujuan yang
jelas. Tanpa visi, kepemimpinan tidak ada artinya sama sekali. Visi inilah yang
mendorong sebuah organisasi untuk senantiasa tumbuh dan belajar serta
berkembang dalam mempertahankan survivalnya sehingga bias bertahan sampai beberapa
generasi. Ada 2 aspek mengenai visi, yaitu visionary role dan implementation
role. Artinya seorang pemimpin tidak hanya dapat membangun atau menciptakan
visi bagi organisasinya tapi memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan visi
tsb ke dalam suatu rangkaian tindakan atau kegiatan yang diperlukan untuk
mencapai visi itu.
2. Seorang pemimpin yang efektif adalah
seorang yang responsive. Artinya dia selalu tanggap terhadap setiap persoalan,
kebutuhan, harapan, dan impian dari mereka yang dipimpin. Selain itu selalu
aktif dan proaktif dalam mencari solusi dari setiap permasalahan ataupun
tantangan yang dihadapi.
3. Seorang pemimpin yang efektif adalah
seorang pelatih atau pendamping bagi orang–orang yang dipimpinnya (performance
coach). Artinya dia memiliki kemempuan untuk menginspirasi, mendorong dan
memampukan anak buahnya dalam menyusun perencanaan (termasuk rencana kegiatan,
target atau sasaran, rencana kebutuhan sumber daya, dan sebagainya), melakukan kegiatan
sehari–hari seperti monitoring dan pengendalian, serta mengevaluasi kinerja
dari anak buahnya.[15]
BAB III
KESIMPULAN
Kepemimpinan
merupakan kemapuan yang dipunyai seorang untuk mempengaruhi orang-orang lain
agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Manajemen mencakup kepemimpinan, tetapi
juga mencakup fungsi-fungsi lain seperti perencanaan, pengorganisasian dan
pengawasan.
Seorang yang berjiwa pemimpin harus mengutamakan tugas,
tanggung jawab, dan membina hubungan yang harmonis, baik dengan atasannya
maupun dengan bawahannya. Jadi, seorang yang berjiwa pemimpin harus mengadakan
komunikasi yang lancar terhadap atasan dan bawahan, baik komunikasi formal
maupun komunikasi informal.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Sinn, Ahmad Ibrahim. 2008. Manajemen syariah :
sebuah kajian historis dan kontemporer. Jakarta: PT Raja Gravindo
Persada.
Handoko, T. Hani. 1984. Managenem. Yokyakarta: BPFE-Yokyakarta.
Hasibuan Malayu S.P. 2007. Managemen: Dasar,
pengertian, dan Masalah,.Jakarta: Bumi Aksara.
Kartono, Kartini. 1995. Pemimpin dan Kepemimpinan.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Siswanto, H. B. 2012. Pengantar
Manajemen. Jakarta: PT Bumi Angkasa.
Taufik, Ali Muhamad. 2004. “Peraktik Manajemen
Berbasis Al-quran" Jakarta: Gema
Isnani Press.
[1] H. Malayu S.P.Hasibuan,. MANAJEMEN:
Dasar, pengertian, dan Masalah,.Jakarta,. Bumi Aksara,.2007,.Hal : 42
[3]
H. B Siswanto,.Pengantar
Manajemen,. Jakarta,. PT Bumi Angkasa,. 2012,. Hal :163.
[4] Op.cit,. H. Malayu S.P.Hasibuan,. hal: 43.
[5]
Robert Tanebaun dalam Malayu S.P. Hasibuan,. Manajemen,. Jakarta,. PT Bumi Aksara,. 2007,. hal: 43.
[6] Macoby dalam
Malayu S.P. Hasibuan,. Manajemen,.
Jakarta,. PT Bumi Aksara,. 2007,. hal: 43.
[7] Pancasila
dalam Malayu S.P. Hasibuan,. Manajemen,.
Jakarta,. PT Bumi Aksara,. 2007,. hal: 43.
[8]
Ali Muhamad Taufik., “Peraktik
Manajemen Berbasis Al-quran" Jakarta.,
Gema Isnani Press., Th : 2004., hal : 35-36
[9]
Op.cit. Ali Muhamad Taufik. Hal : 37-39
[10]
Abu Sinn, Ahmad Ibrahim,. Manajemen
syariah : sebuah kajian historis dan kontemporer,. Jakarta,.PT Raja
Gravindo Persada,. 2008,. Hal: 131-132.
[11]
Op.cit,. Hani Handoko,.Hal: 299
[13]
Op.cit., Ahmad Ibrahim Abu Sinn, hal. 128.
[15]. Kartono, Kartini., Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada,.1995., hal : 55-63.
No comments:
Post a Comment