“Kedatangan Islam Di Indonesia Dan
Peradapannya”
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Permasalahan
Untuk
mempelajari suatu agama, termasuk agama Islam harus bermula dari mempelajari
aspek geografis dan geografi persebaran agama-agama dunia. Setelah itu dapat
dipahami pula proses kelahiran Islam sebagai salah satu dari agama dunia, terutama
yang dilahirkan di Timur, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Ketiganya dikenal
sebagai agama langit atau wahyu. Kedua hal itu, geografi persebaran dan
persebaran agama itu sendiri. Selanjutnya untuk dapat memahami proses
perkembangan Islam sehingga menjadi salah satu agama yang dianut oleh penduduk
dunia yang cukup luas, harus dikenali lebih dahulu tokoh penerimaan ajaran yang
sekaligus menyebarkan ajaran itu, yaitu Nabi Muhammad saw., sang pembawa
risalah.
Keberhasilan
proses Islamisasi di Indonesia ini memaksa Islam sebagai pendatang, untuk
mendapatkan simbol-simbol kultural yang selaras dengan kemampuan penangkapan dan
pemahaman masyarakat yang akan dimasukinya dalam pengakuan dunia Islam. Langkah
ini merupakan salah satu watak Islam yang pluralistis yang dimiliki semenjak
awal kelahirannya.
B.
Rumusan Masalah
Dari
permasalahan diatas, berikut merupakan rumusan masalah yang akan dibahas pada
makalah ini:
1. Proses
masuknya islam di Indonesia
2. Saluran dan
cara-cara Islamisasi di Indonesia
3. Perkembangan
Islam di Indonesia pada masa kerajaan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Proses Masuknya Islam di Indonesia
Kedatangan
Islam di berbagai daerah Indonesia tidaklah bersamaan. Demikian pula
kerajaan-kerajaan dan daerah-daerah yang didatanginya mempunyai situasi politik
dan sosial budaya yang berlainan. Proses masuknya Islam ke Indonesia
memunculkan beberapa pendapat. Para Tokoh yang mengemukakan pendapat itu
diantaranya ada yang langsung mengetahui tentang masuk dan tersebarnya budaya
serta ajaran agama Islam di Indonesia, ada pula yang melalui berbagai bentuk
penelitian seperti yang dilakukan oleh orang-orang barat (eropa) yang datang ke
Indonesia karena tugas atau dipekerjakan oleh pemerintahnya di Indonesia.
Ada
dua faktor utama yang menyebabkan Indonesia mudah di kenal oleh bangsa-bangsa
lain, khususnya oleh bangsa-bangsa di Timur Tengah dan Timur jauh sejak dahulu
kala, yaitu:
1. Faktor Letak Geografis
Indonesia
Indonesia berada di persimpangan jalan raya
internasional dari jurusan timur tengah menuju Tiongkok1
melalui lautan dan jalan menuju Amerika dan Australia.
2. Faktor Kesuburan Tanah
Indonesia mempunyai kesuburan tanah yang
menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup yang dibutuhkan oleh bangsa-bangsa
lain, misalnya: rempah-rempah.
Oleh
karena itulah, maka tidak mengherankan jika masuknya Islam di Indonesia ini
terjadi tidak terlalu jauh dari zaman kelahirannya. Harus dibedakan antara
datangnya orang Islam yang pertama di Indonesia dengan permulaan pensyiaran
islam di Indonesia.
Sedangkan
sumber-sumber pendukung Masuknya Islam di Indonesia diantaranya adalah:
1. Berita dari Arab
Berita ini
diketahui dari pedagang Arab yang melakukan aktivitas perdagangan dengan bangsa
Indonesia. Pedagang Arab Telah datang ke Indonesia sejak masa kerajaan
Sriwijaya (abad ke-7 M) yang menguasai jalur pelayaran perdagangan di wilayah
Indonesia bagian barat termasuk Selat Malaka pada waktu itu. Hubungan pedagang
Arab dengan kerajaan Sriwijaya terbukti dengan adanya para pedagang Arab untuk
kerajaan Sriwijaya dengan sebutan Zabak, Zabay atau Sribusa.2
2. Berita Eropa
Berita ini
datangnya dari Marcopolo tahun 1292 M. Dia adalah orang yang pertama kali
menginjakan kakinya di Indonesia, ketika dia kembali dari cina menuju Eropa
melalui jalan laut, dia dapat tugas dari kaisar Cina untuk mengantarkan
putrinya yang dipersembagkan kepada kaisar Romawi, dari perjalannya itu, dia
singgah di Sumatera bagian utara. Di daerah ini dia menemukan adanya kerajaan
Islam, yaitu kerajaan Samudera dengan ibukotanya Pasai. 3
3. Berita India
Berita ini
menyebutkan bahwa para pedagang India dari Gujarat mempunyai peranan penting
dalam penyebaran agama dan kebudayaan Islam di Indonesia. Karena disamping
berdagang mereka juga aktif mengajarkan agama dan kebudayaan Islam kepada
setiap masyarakat yang dijumpainya, terutama kepada masyarakat yang terletak di
daerah pesisisr pantai.4
4. Berita Cina
Berita ini
diketahui melalui catatan dari Ma Huan, seorang penulis yang mengikuti
perjalanan Laksamana Cheng-Ho. dia menyatakan melalui tulisannya bahwa sejak
kira-kira tahun 1400 telah ada saudagar-saudagar Islam yang bertempat tinggal
di pantai utara Pulai Jawa. T.W. Arnol pun mengatakan para pedagang Arab
yang menyebarkan agama Islam di Nusantara, ketika mereka mendominasi
perdagangan Barat-Timur sejak abad-abad awal Hijrah atau abad ke-7 dan ke-8 M.
Dalam sumber-sumber Cina disebutkan bahwa, pada abad ke-7 M seorang pedagang
Arab menjadi pemimpin sebuah pemukiman Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera
(disebut Ta’shih).5
5. Sumber dalam Negeri
Terdapat
sumber-sumber dari dalam negeri yang menerangkan berkembangnya pengaruh Islam
di Indonesia. Yaitu Penemuan sebuah batu di Leran (Gresik). Batu bersurat itu
menggunakan huruf dari bahasa Arab, yang sebagian tulisannya telah rusak. Batu
itu memuat tentang meninggalnya seorang perempuan yang bernama Fatimah Binti
Maimun (1028). Makam Sultan Malikul Saleh di Sumatera Utara yang meninggal pada
bulan Ramadhan tahun 676 H atau tahun 1297 M. Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim
di Gresik yang wafat tahun 1419M. Jirat makan didatangkan dari Guzarat dan
berisi tulisan-tulisan Arab.6
B.
Saluran dan
Cara-Cara Islamisasi di Indonesia
Kedatangan
Islam ke Indonesia dan penyebarannya kepada golongan bangsawan dan rakyat
umumnya, dilakukan secara damai. Saluran-saluran Islamisasi yang berkembang ada
enam, yaitu:
1. Saluran Perdagangan
Diantara
saluran Islamisasi di Indonesia pada taraf permulaannya ialah melalui
perdagangan. Hal ini sesuia dengan kesibukan lalu lintas perdagangan abad-7
sampai abad ke-16, perdagangan antara negeri-negeri di bagian barat, Tenggara
dan Timur benua Asia dan dimana pedagang-pedagang Muslim (Arab, Persia, India)
turut serta menggambil bagiannya di Indonesia. Penggunaan saluran islamisasi
melalui perdagangan itu sangat menguntungkan. Hal ini menimbulkan. Secara umum
Islamisasi melalui perdagangan itu dapat digambarkan sebagai berikut:
Para pedagang
yang berdatangan diantaranya ada yang bertempat tinggal, baik untuk sementara maupun
untuk menetap. Semakin lama tempat tinggal mereka berkembang menjadi
perkampungan-perkampungan. Perkampungan pedagang Muslim dari negeri-negeri
asing disebut juga dengan Pekojan.
2. Saluran Perkawinan
Perkawinan
merupakan salah satu dari saluran-saluran Islamisasi yang paling memudahkan.
Karena ikatan perkawinan merupakan ikatan lahir batin, tempat mencari kedamaian
diantara dua individu. Kedua individu yaitu suami isteri membentuk keluarga
yang justru menjadi inti masyarakat. Dalam hal ini berarti membentuk masyarakat
muslim.
Saluran
Islamisasi melalui perkawinan yakni antara pedagang atau saudagar dengan wanita
pribumi juga merupakan bagian yang erat berjalinan dengan Islamisasi. Jalinan
baik ini kadang diteruskan dengan perkawinan antara putri kaum pribumi dengan
para pedagang Islam. Melalui perkawinan inilah terlahir seorang muslim. Dari
sudut ekonomi, para pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih baik
daripada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi, terutama putri-putri
bangsawan, tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar itu. Sebelum kawin,
mereka diislamkan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyai kerturunan,
lingkungan mereka makin luas. Akhirnya timbul kampung-kampung, daerah-daerah,
dan kerajaan-kerajaan muslim.7
3. Saluran Tasawuf
Tasawuf
merupakan salah satu saluran yang penting dalam proses Islamisasi.
Tasawuf termasuk kategori yang berfungsi dan membentuk kehidupan sosial bangsa
Indonesia yang meninggalkan bukti-bukti yang jelas pada tulisan-tulisan antara
abad ke-13 dan ke-18. Hal itu berhubungan langsung dengan penyebaran Islam di
Indonesia. Dalam hal ini para ahli tasawuf hidup dalam kesederhanaan, mereka
selalu berusaha menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup bersama di
tengah-tengah masyarakatnya. Jalur tasawuf, yaitu proses islamisasi dengan
mengajarknan teosofi dengan mengakomodir nilai-nilai budaya bahkan ajaran agama
yang ada yaitu agama Hindu ke dalam ajaran Islam, dengan tentu saja terlebih
dahulu dikodifikasikan dengan nilai-nilai Islam sehingga mudah dimengerti dan
diterima.8
4. Saluran Pendidikan
Para ulama,
guru-guru agama, raja berperan besar dalam proses Islamisasi, mereka
menyebarkan agama Islam melalui pendidikan yaitu dengan mendirikan
pondok-pondok pesantren merupakan tempat pengajaran agama Islam bagi para
santri. Pada umumnya di pondok pesantren ini diajarkan oleh guru-guru agama,
kyai-kyai, atau ulama-ulama. Mereka setelah belajar ilmu-ilmu agama dari
berbagai kitab-kitab, setelah keluar dari suatu pesantren itu maka akan kembali
ke masing-masing kampung atau desanya untuk menjadi tokoh keagamaan, menjadi
kyai yang menyelenggarakan pesantren lagi. Semakin terkenal kyai yang
mengajarkan semakin terkenal pesantrennya, dan pengaruhnya akan mencapai lebih
luas lagi.9
5. Saluran Kesenian
Saluran
Islamisasi melalui seni seperti seni bangunan, seni pahat atau ukir, seni tari,
musik dan seni sastra. Misalnya pada seni bangunan ini telihat pada masjid kuno
Demak, Sendang Duwur Agung Kasepuhan di Cirebon, masjid Agung Banten,
Baiturrahman di Aceh, Ternate dan sebagainya. Contoh lain dalam seni adalah
dengan pertunjukan wayang, yang digemari oleh masyarakat. Melalui cerita-cerita
wayang itu disisipkan ajaran agama Islam.10
6. Saluran Politik
Pengaruh
kekuasan raja sangat berperan besar dalam proses Islamisasi. Ketika seorang
raja memeluk agama Islam, maka rakyat juga akan mengikuti jejak rajanya. Rakyat
memiliki kepatuhan yang sangat tinggi dan raja sebagai panutan bahkan menjadi
tauladan bagi rakyatnya. Misalnya di Sulawesi Selatan dan Maluku, kebanyakan
rakyatnya masuk Islam setelah rajanya memeluk agama Islam terlebih dahulu.
Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini.
Dari berbagai
saluran dan cara penyebaran diatas, para wali merupakan salah satu penyebar
agama islam yang menerapkan cara-cara tersebut. Para wali yang berjasa dalam
menyebarkan agama Islam di Indonesia dikenal dengan sebutan Wali Songo. Para
wali itu adalah sebagai berikut11:
1. Maulana
Malik Ibrahim yang kabarnya berasal dari Persia dan kemudian berkedudukan di
Gresik.
2. Sunan
Ampel yang semula bernama Raden Rakhmat berkedudukan di Ngampel (Ampel), dekat
Surabaya.
3. Sunan
Bonang yang semula bernama Makdum Ibrahim, putra Raden Rakhmat dan berkedudukan
di Bonang, dekat Tuban.
4. Sunan
Drajat yang semula bernama Masih Munat juga putra Raden Rakhmat yang
berkedudukan di Drajat dekat Sedayu (Surabaya).
5. Sunan
Giri yang semula bernama Raden Paku, murid Sunan Ngampel berkedudukan di bukit
Giri Gresik.
6. Sunan
Muria yang berkedudukan di Gunung Muria di daerah Kudus.
7. Sunan
Kudus yang semula bernama Udung berkedudukan di Kudus.
8. Sunan
Kalijaga yang semula bernama Joko Said berkedudukan di Kadilangu dekat Demak.
9. Sunan
Gunung Jati yang semula bernama Fatahillah atau Faletehan yang berasal dari
Samudera Pasai dan menetap di Gunung Jati dekat Cirebon.
C.
Perkembangan
Islam di Indonesia pada Masa Kerajaan
Islam dimulai di wilayah ini lewat kehadiran
Individu-individu dari Arab, atau dari penduduk asli sendiri yang telah memeluk
Islam. Dengan usaha mereka. Islam tersebar sedikit demi sedikit dan secara
perlahan-lahan. Langkah penyebaran islam mulai dilakukan secara besar-besaran
ketika dakwah telah memiliki orang-orang yang khusus menyebarkan dakwah.
Setelah fase itu kerajaan-kerajaan Islam mulai terbentuk di kepulauan ini.
Diantara kerajaan-kerajaan terpenting adalah sebagai berikut:
1. Kerajaan Malaka (803-917
H/1400-1511M)
Malaka
dikenal sebagai pintu gerbang Nusantara. Sebutan ini diberikan mengingat
peranannya sebagai jalan lalulintas bagi pedagang-pedagang asing yang berhak
masuk dan keluar pelabuahan-pelabuhan Indonesia. Letak geografis Malaka sangat
menguntungkan, yang menjadi jalan antara AsiaTimur dan asia Barat. Dengan letak
geografis yang demikian membuat Malaka menjadi kerajaan yang berpengaruh atas
daerahnya.
Setelah
Malaka menjadi kerajaan Islam, para pedagang, mubaligh, dan guru sufi dari negeri
Timur Tengah dan India makin ramai mendatangi kota Bandar Malaka. Dari bandar
ini, Islam di bawa ke tempat di semenanjung
seperti Pahang, Johor dan Perlak.
Kesultanan
Malaka mempunyai pengaruh di daerah Sumatera dan sekitarnya, dengan
mempengaruhi daerah-daerah tersebut untuk masuk Islam seperti: Rokan Kampar,
India Giri dan Siak. Dan kesultanan Malaka merupakan pusat perdagangan
Internasional antara Barat dan Timur, pelabuhan transit. Maka dengan
didudukinya Kesultanan Malaka oleh Portugis tahun 1511, maka kerajaan di
Nusantara menjadi tumbuh dan berkembang karena jalur Selat Malaka tidak
digunakan lagi oleh pedagang Muslim sebab telah diduduki oleh Portugis.12
2. Kerajaan Aceh (920-1322
H/1514-1904 M)
Pada
abad ke-16, Aceh mulai memegang peranan penting dibagian utara pulau Sumatra. Pengaruh Aceh ini meluas dari Barus di sebelah
utara hingga sebelah selatan di daerah Indrapura. Indrapura sebelum di bawah
pengaruh Aceh, yang tadinya merupakan daerah pengaruh Minangkabau. Yang menjadi
pendiri kerajaan Aceh adalah Sultan Ibrahim (1514-1528 M), dia berhasil
melepaskan Aceh dari Pidie. Aceh menerima Islam dari Pasai yang kini menjadi
bagian wiliyah Aceh dan pergantian agama diperkiraan terjadi mendekati
pertengahan abad ke-14.13
Kejayaan
kerajaan Aceh pada puncaknya ketika diperintahkan oleh Iskandar Muda
(1608-1637). Dia mampu menyatukan kembali wilayah yang telah memisahkan diri
dari Aceh ke bawah kekuasaannya kembali. Pada masanya Aceh menguasai seluruh
pelabuhan di pesisir Timur dan Barat Sumatera. Dari Aceh tanah Gayo yang
berbatasan di Islamkan, juga Minangkabau. Dimasa pemerintahannya, Sultan
Iskandar muda tidak bergantung kepada Turki Usmani. Untuk mengalahkan Portugis,
Sultan kemudian bekerjasama dengan musuh Portugis, yaitu Belanda dan Inggris.
3. Kerajaan Demak ( 918- 960
H/ 1512-1552 M)
Di
Jawa, Islam di sebarkan oleh para wali songo (wali sembilan), mereka tidak
hanya berkuasa dalam lapangan keagamaan, tetapi juga dalam hal pemerintahan dan
politik, bahkan sering kali seorang raja seolah-olah baru sah seorang raja
kalau dia sudah diakui dan diberkahi wali songo. Para wali menjadikan Demak
sebagai pusat penyebaran Islam dan sekaligus menjadikannya sebagai kerajaan
Islam yang menunjuk Raden Patah sebagai Rajanya. Kerajaan ini berlangsung kira-kira
abad 15 dan abad 16 M. Di samping kerajaan Demak juga berdiri kerajaan-kerajaan
Islam lainnya seperti Cirebon, Banten dan Mataram.
Perkembangan
dan kemajuan Islam di pulau Jawa ini bersamaan dengan melemahnya posisi raja
Majapahit. Hal ini memberi peluang kepada raja-raja Islam pesisir untuk
membangun pusat-pusat-pusat kekuasaan yang independen. Di bawah bimbingan
spiritual Sunan Kudus, meskipun bukan yang tertua dari wali Songo. Demak
akhirnya berhasil menggantikan Majapahit sebagai keraton pusat14. Kerajaan Demak
menempatkan pengaruhnya di pesisir utara Jawa Barat itu tidak dapat dipisahkan
dari tujuannya yang bersifat politis dan ekonomi. Politiknya adalah untuk
mematahkan kerajaan Pajajaran yang masih berkuasa di daerah pedalaman, dengan
Portugis di Malaka.
4. Kerajaan Banten (960-1096
H/1552-1684 M)
Banten
merupakan kerajaan Islam yang mulai berkembang pada abad ke-16, setelah
pedagang-pedagang India, Arab, persia, mulai menghindarai Malaka yang sejak
tahun 1511 telah dikuasai Portugis. Dilihat dari geografinya, Banten, pelabuhan
yang penting dan ekonominya mempunyai letak yang strategis dalam penguasa Selat
Sunda, yang menjadi uratnadi dalam pelayaran dan perdagangan melalui lautan
Indoneia di bagian selatan dan barat Sumatera. Kepentingannya sangat dirasakan
terutama waktu selat Malaka di bawah pengawasan politik Portugis di Malaka.
Kerajaan
Islam di Banten yang semula kedudukannya di Banten Girang dipindahkan ke kota
Surosowan, di Banten lama dekat pantai. Dilihat dari sudut ekonomi dan politik,
pemindahan ini dimaksudkan untuk memudahkan hubungan antara pesisir utara Jawa
dengan pesisir Sumatera, melalui selat sunda dan samudra Indonesia. Situasi ini
berkaitan dengan kondis politik di Asia Tenggara masa itu setelah malaka jatuh
ke tangan Portugis, para pedagang yang segan berhubungan dengan Portugis
mengalihkan jalur pelayarannya melalui Selat Sunda. Tentang keberadaan Islam di
Banten, Tom Pires menyebutkan, bahwa di daerah Cimanuk, kota pelabuhan dan
batas kerajaan Sunda dengan Cirebon, banyak dijumpai orang Islam. Ini berarti
pada akhir abad ke-15 M diwilayah kerajaan Sunda Hindu sudah ada masyarakat
yang beragama Islam.
5. Kerajaan Goa (Makasar)
(1078 H/1667 M)
Kerajaan
yang bercorak Islam di Semenanjung Selatan Sulawesi adalah Goa-Tallo, kerajaan
ini menerima Islam pada tahun 1605 M. Rajanya yang terkenal engan nama
Tumaparisi-Kallona yang berkuasa pada akhir abad ke-15 dan permulaan abad
ke-16. dia adalah memerintah kerajaan dengan peraturan memungut cukai dan juga
mengangkat kepala-kepala daerah.
Kerajaan
Goa-Tallo menjalin hubungan dengan Ternate yang telah menerima Islam dari
Gresik/Giri. Penguasa Ternate mengajak penguasa Goa-tallo untuk masuk agama
Islam, namun gagal. Islam baru berhasil masuk di Goa-Tallo pada waktu datuk ri
Bandang datang ke kerajaan Goa-Tallo. Sultan Alauddin adalah raja pertama yang
memeluk agama Islam tahun 1605 M.
Kerajaan
Goa-Tallo mengadakan ekspansi ke Bone tahun 1611, namun ekspansi itu
menimbulkan permusuhan antara Goa dan Bone. Penyebaran Islam yang dilakukan
oleh Goa-Tallo berhasil, hal ini merupakan tradisi yang mengharuskan seorang
raja untuk menyampaikan hal baik kepada yang lain. Seperti Luwu, Wajo, Sopeng,
dan Bone. Luwu terlebih dahulu masuk Islam, sedangkan Wajo dan Bone harus
melalui peperangan dulu. Raja Bone yang pertama masuk Islam adalah yang dikenal
Sultan Adam.16
6. Kerajaan Maluku
Kerajaan
Maluku terletak dibagian daerah Indonesia bagian Timur. Kedatangan Islam
keindonesia bagian Timur yaitu ke Maluku, tidak dapat dipisahkan dari jalan perdagangan
yang terbentang antara pusat lalu lintas pelayaran Internasional di Malaka,
Jawa dan Maluku. Diceritakan bahwa pada abad ke-14 Raja ternate yang
keduabelas, Molomateya, (1350-1357) bersahabat baik dengan orang Arab yang
memberikan petunjuk bagaimana pembuatan kapal-kapal, tetapi agaknya bukan dalam
kepercayaan. Manurut tradisi setempat, sejak abad ke-14 Islam sudah datng di
daerah Maluku. Pengislaman di daerah Maluku, di bawa oleh maulana Husayn. Hal
ini terjadi pada masa pemerintahan Marhum di Ternate.
Tentang
masuknya Islam ke Maluku, Tome Pires mengatakan bahwa kapal-kapal dagang dari
Gresik ialah milik Pate Cucuf. Raja ternate yang sudah memeluk Islam bernama
Sultan Bem Acorala, dan hanyalah raja ternate yang disebut sultan sedang yang lainnya
digelari raja. Dijelaskan bahwa dia sedang berperang dengan mertuanya yang
menjadi raja Tidore yang bernama Raja Almancor. Di Banda, Hitu, Maluku dan
Bacan sudah terdapat masyarakat Muslim. Di daerah Maluku itu raja yang
mula-mula masuk Islam sebagaimana dijelaskan Tome Pires sejak kira-kira 50
tahun yang lalu, berarti antara 1460-1465.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Proses
masuknya islam di Indonesia
Ada dua faktor utama yang menyebabkan Indonesia
mudah di kenal oleh bangsa-bangsa lain, yaitu:
a). Faktor letak geografis Indonesia b).
Faktor kesuburan tanah
Sedangkan
sumber-sumber pendukung Masuknya Islam di Indonesia diantaranya adalah:
1. Berita dari Arab
2. Berita dari Eropa
3. Berita dari India
|
4. Berita dari Cina
5. Berita dari dalam Negeri
|
2.
Saluran dan cara-cara Islamisasi di Indonesia
Saluran-saluran Islamisasi yang berkembang ada
enam, yaitu:
a.
Saluran perdagangan
b.
Saluran Perkawinan
c.
Saluran Tasawuf
|
a.
Saluran Pendidikan
b.
Saluran Kesenian
c.
Saluran Politik
|
3.
Perkembangan Islam di Indonesia pada masa kerajaan
Pada masa
penyebaran Islam kerajaan-kerajaan Islam mulai terbentuk di kepulauan
Nusantara. Diantara kerajaan-kerajaan terpenting adalah sebagai berikut:
a.
Kerajaan Malaka
b.
Kerajaan Aceh
c.
Kerajaan Demak
|
a.
Kerajaan Banten
b.
Kerajaan Goa (Makasar)
c.
Kerajaan Maluku
|
DAFTAR PUSTAKA
Edyar, Busman, dkk (Ed.), Sejarah Peradaban
Islam, Pustaka Asatruss, Jakarta, 2009.
Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam,
Pustaka Setia, Bandung, 2008.
Taufik Abdullah dan Sharon Siddique (Ed.), Tradisi dan Kebangkitan
Islam di Asia Tenggara, LP3ES, Jakarta, 1989.
Yatim, Badri, Sejarah Islam di
Indonesia, Depag, Jakarta, 1998.
Zuhairani, dkk., Sejarah
Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 2006.
Zuhri, Saifuddin, Sejarah Kebangkan Islam dan Perkembanganya di Indonesia,
4 Badri Yatim, Sejarah Islam di
Indonesia, Depag, Jakarta, 1998, hal. 30
5 Busman Edyar, dkk (Ed.), Sejarah
Peradaban Islam, Pustaka Asatruss, Jakarta, 2009, hal. 187
6 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam,
Raja Grafindo Press, Jakarta, 2007, hal. 191-192
7 Ibid., hal 202
14 Taufik Abdullah
dan Sharon Siddique (Ed.), Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara,
LP3ES, Jakarta, 1989, hal. 73
16 Ibid., hal. 224
No comments:
Post a Comment