Breaking News

Tuesday, 22 December 2015

Faktor Faktor Pendidikan




FAKTOR-FAKTOR PENDIDIKAN
            Dalam proses perkembangan pemikiran pendidikandi dunia barat,kegiatan pendidikan berkembang dari konsep paedagogi,andragogi,dan enducantion.dalam konsep paedagogi,kegiatan pendidikan ditujukan hanya kepada anak yang belum dewasa (paeda artinya anak).tujuan mendewasakan anak.namun karena banyak hasil didikan justru menggambarkan perilaku yang tidak dewasa,maka sebagai antithesis dari kenyataan itu,munculah gerakan androgogi (kata dasar andro artinya laki-laki yang rupanya seperti perempuan).selanjutnya gerakan modern memunculkan konsep education yang berfungsi ganda,yakni “transfer of knowledge” di satu sisi dengan “making scientific attitude”pada sisi yang lain.
            Kaidah-kaidah tersebut menunjukan bahwa dalam proses pendidikan  ada pendidik yang berfungsi sebagai pelatih,pengembang,pemberi atau pewaris.kemudian terdapat bahan yang dilatihkan,dikembangkan,diberikan dan diwariskan yakni pengetahuan,ketrampilan,berfikir,karakter yang berupa bahan ajar,serta ada murid yang menerima latihan;,pengembangan,pemberian dan pewarisan pengetahuan,keterampilan,pikiran dan karakter.
            Menurut Sutari  Imam Barnadib,bahwa perbuatan mendidik dan dididik memuat faktor-faktor tertentu memengaruhi dan menentukan,yaitu:
1.      Adanya tujuan yang hendak dicapai.
2.      Adanya subjek manusia (pendidik dan anak didik) yang melakukan pendidikan.
3.      Yang hidup bersama dalam lingkungan hidup tertentu (milieu).
4.      Yang menggunakan alat-alat tertentu untuk mencapai tujuan.
Antara faktor yang satu dengan faktor lainnya,tidak bisa dipisahkan,karena semuanya saling pengaruh memengaruhi.

    2.Faktor Tujuan                                             
                 Bagaimanapun segala sesuatu atau usaha yang tidak mempunyai tujuan tidak akan mempunyai arti apa-apa.Dengan demikian,tujuan merupakan faktor yang sangat menentukan.pendidikan sebagai suatu bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya juga menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai,baik tujuan yang dirumuskan itu bersifat abstrak sampai pada rumusan-rumusan yang dibentuk secara khusus untuk memudahkan pencapaian tujuan yang lebih tinggi.begitu juga dikarenakan pendidikan merupakan bimbingan terhadap perkembangan manusia menuju kearah cita-cita tertentu,maka merupakan masalah pokok bagi pendidikan ialah memilih arah atau tujuan yang ingin dicapai.
                 Cita-cita atau tujuan yang ingin dicapai harus dinyatakan secara jela,sehingga semua pelaksana dan sasaran pendidikan memahami atau mengetahui suatu proses kegiatan seperti pendidikan,bila tidak mempunyai tujuan yang jelas untuk dicapai,maka prosesnya akan mengabur.oleh karena tujuan tersebut tidak mungkin dapat  dicapai secara sekaligus,maka perludibuat secara bertahap,misalnya tujuan umum,tujuan institusional,tujuan kulikuler dan tujuan instruksionalnyaditetapkan secara jelas dan terarah.
                 Tentang tujuan ini,didalam UU Nomor 2 tahun 1989,secara jelas disebutkan tujuan pendidikan nasional,yaitu:
“mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia indonesia  seutuhnya,yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap tuhan yang maha esa berbudi pekerti luhur,memiliki pengetauan dan keterampilan,kesehatan jasmani dan rohani,kepribadian yang mantap dan mandiriserta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.[1]
                 Secara singkat dikatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya,dengan  ciri-ciri sebagai berikut.
a.Beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa.
b.Berbudi pekerti luhur.
c.Memiliki pengetahuan dan keterampilan.
d.Sehat jasmani dan rohani.
e.Kepribadian yang mantap dan mandiri.
f.Bertanggung  jawab terhadap masyarakat dan bangsa.
v  Fungsi tujuan bagi pendidikan
1.sebagai arah pendidikan
                 Tanpa adanya semacam antisipasi (pandangan ke depan) kepada tujuan penyelewengan akan banyak terjadi,demikian pula kegiatan-kegiatannya pun tidak efisien.sebagai contoh,guru berkeinginan membentuk anak didiknya menjadi manusia yang cerdas,maka arah dari usahanya ialah menciptakan situasi belajar yang dapat mengembangkan kecerdasan.
2.tujuan sebagai titik akhir
                 Suatu usaha tentu saja mengalami permulaan serta mengalami pula akhirnya.pada umumnya,suatu usaha baru berakhir jika tujuan akhirnya tercapai.misalnya,jika seorang pendidik bertujuan agar anak didiknya menjadi manusia yang berakhlak mulia,maka penekanannya di sini adalah deskripsi tentang pribadi akhlakul karimah yang diinginkannya tersebut.

3.tujuan sebagai titik pangkal mencapai tujuan lain
                 Apa bila tujuan merupakan titik akhir dari usaha,maka dasar ini merupakan titik tolaknya,dalam arti bahwa dasar tersebut merupakan fondamen yang menjadi alas permulaan setiap usaha.
                 Dengan demikian,antara dasar dan tujuan terbentanglah garis yang menunjukan arahbergeraknya usaha tersebut,serta dasar dan tujuan pendidikan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.

4.memberi nilai pada usaha yang dilakukan
                 Dalam konteks usaha-usaha yang dilakukan,kadang-kadang didapati tujuan yang lebih luhur dan lebih mulia dibanding yang lainnya.semua ini terlihat apabila berdasarkan nilai-nilai tertentu.
v  Macam-macam tujuan pendidikan
                 pendidikan berlangsung dalam suatu proses panjang yang pada akhirnya mencapai tujuan umum atau akhir,yaitu kedewasaan atau pribadi dewasa susila.tujuan bersifat umum ini akan dicapai melalui pencapaian tujuan-tujuan dekat.
                 Seorang ahli pendidikan,langeveld mengemukakan macam-macam tujuan pendidikan,yait: tujuan umum/akhir atau lengkap/total,tujuan khusus,tujuan tak lengkap,tujuan sementara,tujuan insidentil dan tujuan intermedier.
                 Berikut ini akan dikemukakan secara singkat tentang tujuan-tujuan tersebut satu per satu secara hierarki.
1.      Tujuan umum
     Ini merupakan tujuan yang menjiwai pekerjaan mendidik dalam segala waktu dan keadaan.tujuan umum ini dirumuskan dengan memperhatikan hakikat kemanusiaanyang universal.
2.      Tujuan khusus
     Tujuan ini merupakan pengkhususan dari tujuan umum di atasdasar beberapa hal,di antaranya:
a.     terdapat perbedaan individual anak didik,misalnya perbedaan dalam bakat,jenis kelamin,intelegensi,minat dan sebagainya;
b.    perbedaaan lingkungan keluarga atau masyarakat,missal:tujuan khusus untuk masyarakat pertanian,perikanan dan lain-lain;
c.     perbedaan yang berhubungan dengan tugas lembaga pendidikan,misalnya:tujuan khusus untuk pendidikan keluarga,pendidikan sekolah dan pendidikan dalam perkembangan pemuda.
d.    Perbedaan yang berhubungan dengan pandangan atau falsafat hidup suatu bangsa.
3.      Tujuan tak lengkap
     Ini adalah tujuan yang hanya mencakup salah satu dari aspek kepribadian,misalnya:tujuan khusus pembentukan kecerdasan saja,tanpa memperhatikan yang lainnya.jadi tujuan tak lengkap ini merupan bagian dari tujuan umum yang melingkupi perkembangan seluruh aspek kepribadian.
4.      Tujuan sementara
     Perjalanan untuk mencapai tujuan umum tidak dapat dicapai secara sekaligus,karena perlunya ditempuh setingkat demi setingkat.tingkatan demi tingkatan yang diupayakan  untuk menuju tujuan akhir itulah yang dimaksud dengan tujuan sementara.misalnya:anak menyelesaikan pelajaran di jenjang pendidikan dasar merupakan tujuan sementara untuk selanjutnya meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi seperti Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Perguruan Tinggi.
5.      Tujuan Insidentil
     Ini merupakan tujuan yang bersifat sesaat karena adanya situasi yang terjadi secara kebetulan,kendatipun demikian,tujuan ini tidak terlepas dari tujuan umum,misalnya:seorang ayah memanggil anaknya dengan  tujuan anak mencapai kepatuhan.
6.      Tujuan Intermedier
     Disebut juga tujuan perantara,merupakan tujuan yang dilihat sebagai alat dan harus dicapai lebih dahulu demi kelancaran pendidikan selanjutnya,misalnya anak dapat membaca dan menulis (tujuan sementara) demi kelancaran mengikuti pelajaran disekolah.
     Kemudian,dalam hubungannya dengan hierarki tujuan pendidikan dibedakan
 macam-macam tujuan pendidikan yaitu:tujuan nasional,institusional,kurikuler dan tujuan instruksional.
1.      Tujuan Nasional
     Ini merupakan tujuan umum pendidikan nasional yang di dalamnya terkandung rumusan kualifikasi umum yang diharapkan dimiliki setiap warganegara setelah mengikuti dan menyelesaikan program pendidikan nasional tertentu.yang menjadi sumber tujuan umum biasanya terdapat didalam undang-undang[2] atau ketentuan resmi tentang pendidikan.
2.      Tujuan Institusional
     Ini merupakan  tujuan lembaga pendidikan sebagai pengkhususan dari tujuan umum,yang berisi kualifikasi yang diharapkan diperoleh anak setelah menyelesaikan studinya di lembaga pendidikan tertentu.
3.      Tujuan Kurikuler
     Tujuan ini adalah penjabaran dari tujuan institusional,yang berisi kualifikasi yang diharapkan dimiliki oleh si terdidik setelah mengikuti program pengajaran dalam suatu bidang studi tertentu,misalnya tujuan untuk bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam,Bahasa Indonesia,PPKN dan sebagainya.rumusannya terdapat dalam kurikulum suatu lembaga pendidikan tertentu.

4.      Tujuan Instruksional
     Rumusan tujuan ini merupakan pengkhususan dari tujuan kurikuler,dan dibedakan menjadi tujuan Instruksional Umum (TIU) dan tujuan Instruksional Khusus (TIK).Tujuan Instruksional Umum (TIU) merupakan rumusan yang berisi kualifikasi sebagai pernyataan hasil belajar yang diharapkan dimiliki anak didikatau siswa setelah mengikuti  pelajaran dalam pokok bahasan tertentu,namun belum dirumusan secara khusus dalam bentuk perubahan tingkah laku siswa,yang mudah diamati dan tidak menimbulkan banyak interpretasi.

     Sementara itu ,tujuan instruksional khusus (TIK) merupakan penjabaran lebih lanjut dari TIU kualifikasi yang diharapkan dimiliki anak didik setelah mengikuti pelajaran dalam sub pokok bahasan tertentu.TIK dirumuskan dengan menggunakan istilah yang operasional,dari sudut produk belajar dan tingkah laku anak didik serta dinyatakan dalam rumusan yang sangat khusus,sehingga tujuan tersebut mudah dinilai,dan tidak menimbulkan salah penafsiran.
 


  2.Faktor Pendidik
            Pendidik ialah orang yang memikul pertanggung jawaban untuk mendidik.[3]Dwi Nugroho Hidayanto,menginventarisasi bahwa pengertian pendidik meliputi :
a.         Orang dewasa;
b.         Orang tua;
c.         Guru
d.         Pemimpin masyarakat
e.         Pemimpin agama
            secara umum dikatakan bahwa setiap orang dewasa dalam masyarakat  dapat menjadi pendidik,sebab pendidikan merupakan suatu perbuatan sosial,perbuatan fundamental menyangkut keutuhan perkembangan pribadi anak didik menuju pribadi dewasa susila.pribadi dewasa susila itu sendiri memiliki beberapa karakteristik,yaitu:
a.       Mempunyai individualitas yang utuh;
b.      Mempunyai sosialitas yang utuh;
c.       Mempunyai orma kesusilaan dan nilai-nilai kemanusiaan;
d.      Bertindak sesuai dengan norma dan nilai-nilai itu atas tanggung jawab sendiri demi
kebahagiaan dirinya dan kebahagiaan masyarakat atau orang lain.

Orang dewasa disifati secara umum melalui gejala-gejala kepribadiaannya,yaitu:
a.       Telah mampu mandiri;
b.      Dapat mengambil keputusan batin sendiri atas perbuatannya;
c.       Memiliki pandangan hidup,dan prinsip hidup yang pasti dan tetap;
d.      Kesanggupan untuk ikut serta  secara konstruktif pada matra sosio cultural;
e.       Kesadaran akan norma-norma;
f.       Menunjukan hubungan pribadi dengan norma-norma.[4]

 Seorang pendidik harus memperlihatkan bahwa ia mampu mandiri, tidak tergantung kepada orang lain. Ia harus mampu membentuk dirinya sendiri. Dia juga bahkan saja dituntut bertanggung jawab terhadap anak didik, namun dituntut pula bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.tanggung jawab ini didasarkan atas kebebasan yang ada pada drinya untuk memilih perbuatan yang terbaik menurutnya. Apa yang dilakukannya menjadi teladan bagi masyarakat.
a.       Beberapa Karakteristik pendidik
Sebagaimana dikemukakan terdahulu,bahwa tanggung jawab seorang pendidik cukup berat,maka predikatnya tersebut hanya dapat dapatb dipegang oleh orang dewasa. Untuk menjadi pendidik diperlukan berbagai persiapan,seperti persiapan perkawinan,pendidikan calon pendidik di sekolah, pendidikan pemimpin dan sebagainya.dengan demikian diharapkan dengan status kodrat dan sosialnya sanggup mendidik orang lain,maksudnya memiliki kemapuan (kompetensi) untuk melaksanakan tugas-tugas mendidik.
            Ada beberapa karakteristik yang harus dimiliki pendidik dalam melaksanakan tugasnya dalam mendidik,yaitu sebagai berikut.
1.      Kematangan diri yang stabil;memahami diri sendiri,mencintai diri secara wajar dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan serta bertindak sesuai dengan nilai-nilai itu,sehingga ia bertanggung jawab sendiri atas hidupnya,tidak menggantungkan diri atau menjadi beban orang lain.
2.      Kematangan sosial yang stabil;dalam hal ini seorangpendidik dituntut mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masyarakatnya,dan mempunyai kecakapan membina kerja sama dengan orang lain.
3.      Kematangan professional (kemampuan mendidik);yakni menaruh perhatian dan sikap cinta terhadap anak didik serta mempunyai pengetahuan yang cukup tentang latar belakang anak didik dan perkembangannya,memiliki kecakapan dalam menggunakan cara-cara mendidik.

                


[1] Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta,PT RajaGrafindo Persada, 2009, hlm 11
[2]Binti Maunah, Ilmu Pendidikan, Yogyakarta:PT Teras Komplek POLRI,2009, hlm 77
[3] Ibid hlm 17
[4] Drs.Fuad Ikhsan, Dasar-Dasar Pendidikan, Jakarta:PT Rineka Cipta, 2003,   hlm 8

No comments:

Post a Comment

Designed By VungTauZ.Com