FAKTOR-FAKTOR
PENDIDIKAN
Dalam proses perkembangan pemikiran
pendidikandi dunia barat,kegiatan pendidikan berkembang dari konsep
paedagogi,andragogi,dan enducantion.dalam konsep paedagogi,kegiatan pendidikan
ditujukan hanya kepada anak yang belum dewasa (paeda artinya anak).tujuan
mendewasakan anak.namun karena banyak hasil didikan justru menggambarkan
perilaku yang tidak dewasa,maka sebagai antithesis dari kenyataan itu,munculah
gerakan androgogi (kata dasar andro artinya laki-laki yang rupanya seperti
perempuan).selanjutnya gerakan modern memunculkan konsep education yang
berfungsi ganda,yakni “transfer of knowledge” di satu sisi dengan “making
scientific attitude”pada sisi yang lain.
Kaidah-kaidah tersebut menunjukan
bahwa dalam proses pendidikan ada
pendidik yang berfungsi sebagai pelatih,pengembang,pemberi atau
pewaris.kemudian terdapat bahan yang dilatihkan,dikembangkan,diberikan dan
diwariskan yakni pengetahuan,ketrampilan,berfikir,karakter yang berupa bahan
ajar,serta ada murid yang menerima latihan;,pengembangan,pemberian dan
pewarisan pengetahuan,keterampilan,pikiran dan karakter.
Menurut Sutari Imam Barnadib,bahwa perbuatan mendidik dan
dididik memuat faktor-faktor tertentu memengaruhi dan menentukan,yaitu:
1. Adanya
tujuan yang hendak dicapai.
2. Adanya
subjek manusia (pendidik dan anak didik) yang melakukan pendidikan.
3. Yang
hidup bersama dalam lingkungan hidup tertentu (milieu).
4. Yang
menggunakan alat-alat tertentu untuk mencapai tujuan.
Antara
faktor yang satu dengan faktor lainnya,tidak bisa dipisahkan,karena semuanya
saling pengaruh memengaruhi.
2.Faktor Tujuan
Bagaimanapun segala sesuatu
atau usaha yang tidak mempunyai tujuan tidak akan mempunyai arti apa-apa.Dengan
demikian,tujuan merupakan faktor yang sangat menentukan.pendidikan sebagai
suatu bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya juga menempatkan tujuan
sebagai sesuatu yang hendak dicapai,baik tujuan yang dirumuskan itu bersifat
abstrak sampai pada rumusan-rumusan yang dibentuk secara khusus untuk memudahkan
pencapaian tujuan yang lebih tinggi.begitu juga dikarenakan pendidikan
merupakan bimbingan terhadap perkembangan manusia menuju kearah cita-cita
tertentu,maka merupakan masalah pokok bagi pendidikan ialah memilih arah atau
tujuan yang ingin dicapai.
Cita-cita atau tujuan yang
ingin dicapai harus dinyatakan secara jela,sehingga semua pelaksana dan sasaran
pendidikan memahami atau mengetahui suatu proses kegiatan seperti
pendidikan,bila tidak mempunyai tujuan yang jelas untuk dicapai,maka prosesnya
akan mengabur.oleh karena tujuan tersebut tidak mungkin dapat dicapai secara sekaligus,maka perludibuat
secara bertahap,misalnya tujuan umum,tujuan institusional,tujuan kulikuler dan
tujuan instruksionalnyaditetapkan secara jelas dan terarah.
Tentang tujuan ini,didalam UU
Nomor 2 tahun 1989,secara jelas disebutkan tujuan pendidikan nasional,yaitu:
“mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia indonesia
seutuhnya,yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap tuhan yang
maha esa berbudi pekerti luhur,memiliki pengetauan dan keterampilan,kesehatan
jasmani dan rohani,kepribadian yang mantap dan mandiriserta tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan.[1]
Secara
singkat dikatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya,dengan ciri-ciri sebagai berikut.
a.Beriman
dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa.
b.Berbudi
pekerti luhur.
c.Memiliki
pengetahuan dan keterampilan.
d.Sehat
jasmani dan rohani.
e.Kepribadian
yang mantap dan mandiri.
f.Bertanggung jawab terhadap masyarakat dan bangsa.
v Fungsi tujuan bagi pendidikan
1.sebagai arah pendidikan
Tanpa adanya semacam antisipasi
(pandangan ke depan) kepada tujuan penyelewengan akan banyak terjadi,demikian
pula kegiatan-kegiatannya pun tidak efisien.sebagai contoh,guru berkeinginan
membentuk anak didiknya menjadi manusia yang cerdas,maka arah dari usahanya
ialah menciptakan situasi belajar yang dapat mengembangkan kecerdasan.
2.tujuan
sebagai titik akhir
Suatu usaha tentu saja mengalami permulaan serta
mengalami pula akhirnya.pada umumnya,suatu usaha baru berakhir jika tujuan
akhirnya tercapai.misalnya,jika seorang pendidik bertujuan agar anak didiknya
menjadi manusia yang berakhlak mulia,maka penekanannya di sini adalah deskripsi
tentang pribadi akhlakul karimah yang diinginkannya tersebut.
3.tujuan
sebagai titik pangkal mencapai tujuan lain
Apa bila tujuan merupakan titik akhir dari
usaha,maka dasar ini merupakan titik tolaknya,dalam arti bahwa dasar tersebut
merupakan fondamen yang menjadi alas permulaan setiap usaha.
Dengan demikian,antara dasar dan tujuan
terbentanglah garis yang menunjukan arahbergeraknya usaha tersebut,serta dasar
dan tujuan pendidikan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan antara yang
satu dengan yang lainnya.
4.memberi
nilai pada usaha yang dilakukan
Dalam konteks usaha-usaha yang
dilakukan,kadang-kadang didapati tujuan yang lebih luhur dan lebih mulia
dibanding yang lainnya.semua ini terlihat apabila berdasarkan nilai-nilai
tertentu.
v Macam-macam
tujuan pendidikan
pendidikan berlangsung dalam
suatu proses panjang yang pada akhirnya mencapai tujuan umum atau akhir,yaitu
kedewasaan atau pribadi dewasa susila.tujuan bersifat umum ini akan dicapai
melalui pencapaian tujuan-tujuan dekat.
Seorang ahli
pendidikan,langeveld mengemukakan macam-macam tujuan pendidikan,yait: tujuan
umum/akhir atau lengkap/total,tujuan khusus,tujuan tak lengkap,tujuan
sementara,tujuan insidentil dan tujuan intermedier.
Berikut ini akan dikemukakan
secara singkat tentang tujuan-tujuan tersebut satu per satu secara hierarki.
1. Tujuan
umum
Ini
merupakan tujuan yang menjiwai pekerjaan mendidik dalam segala waktu dan
keadaan.tujuan umum ini dirumuskan dengan memperhatikan hakikat kemanusiaanyang
universal.
2. Tujuan
khusus
Tujuan ini
merupakan pengkhususan dari tujuan umum di atasdasar beberapa hal,di antaranya:
a.
terdapat perbedaan individual anak
didik,misalnya perbedaan dalam bakat,jenis kelamin,intelegensi,minat dan
sebagainya;
b.
perbedaaan lingkungan keluarga atau
masyarakat,missal:tujuan khusus untuk masyarakat pertanian,perikanan dan
lain-lain;
c.
perbedaan yang berhubungan dengan tugas
lembaga pendidikan,misalnya:tujuan khusus untuk pendidikan keluarga,pendidikan
sekolah dan pendidikan dalam perkembangan pemuda.
d.
Perbedaan yang berhubungan dengan
pandangan atau falsafat hidup suatu bangsa.
3. Tujuan
tak lengkap
Ini adalah
tujuan yang hanya mencakup salah satu dari aspek kepribadian,misalnya:tujuan
khusus pembentukan kecerdasan saja,tanpa memperhatikan yang lainnya.jadi tujuan
tak lengkap ini merupan bagian dari tujuan umum yang melingkupi perkembangan
seluruh aspek kepribadian.
4. Tujuan
sementara
Perjalanan
untuk mencapai tujuan umum tidak dapat dicapai secara sekaligus,karena perlunya
ditempuh setingkat demi setingkat.tingkatan demi tingkatan yang diupayakan untuk menuju tujuan akhir itulah yang
dimaksud dengan tujuan sementara.misalnya:anak menyelesaikan pelajaran di
jenjang pendidikan dasar merupakan tujuan sementara untuk selanjutnya
meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi seperti Sekolah Menengah Umum (SMU) dan
Perguruan Tinggi.
5. Tujuan
Insidentil
Ini
merupakan tujuan yang bersifat sesaat karena adanya situasi yang terjadi secara
kebetulan,kendatipun demikian,tujuan ini tidak terlepas dari tujuan
umum,misalnya:seorang ayah memanggil anaknya dengan tujuan anak mencapai kepatuhan.
6. Tujuan
Intermedier
Disebut
juga tujuan perantara,merupakan tujuan yang dilihat sebagai alat dan harus
dicapai lebih dahulu demi kelancaran pendidikan selanjutnya,misalnya anak dapat
membaca dan menulis (tujuan sementara) demi kelancaran mengikuti pelajaran
disekolah.
Kemudian,dalam hubungannya dengan hierarki
tujuan pendidikan dibedakan
macam-macam
tujuan pendidikan yaitu:tujuan nasional,institusional,kurikuler dan tujuan
instruksional.
1. Tujuan
Nasional
Ini merupakan
tujuan umum pendidikan nasional yang di dalamnya terkandung rumusan kualifikasi
umum yang diharapkan dimiliki setiap warganegara setelah mengikuti dan
menyelesaikan program pendidikan nasional tertentu.yang menjadi sumber tujuan
umum biasanya terdapat didalam undang-undang[2]
atau ketentuan resmi tentang pendidikan.
2. Tujuan
Institusional
Ini
merupakan tujuan lembaga pendidikan
sebagai pengkhususan dari tujuan umum,yang berisi kualifikasi yang diharapkan
diperoleh anak setelah menyelesaikan studinya di lembaga pendidikan tertentu.
3. Tujuan
Kurikuler
Tujuan ini
adalah penjabaran dari tujuan institusional,yang berisi kualifikasi yang
diharapkan dimiliki oleh si terdidik setelah mengikuti program pengajaran dalam
suatu bidang studi tertentu,misalnya tujuan untuk bidang studi Sejarah
Kebudayaan Islam,Bahasa Indonesia,PPKN dan sebagainya.rumusannya terdapat dalam
kurikulum suatu lembaga pendidikan tertentu.
4. Tujuan
Instruksional
Rumusan
tujuan ini merupakan pengkhususan dari tujuan kurikuler,dan dibedakan menjadi
tujuan Instruksional Umum (TIU) dan tujuan Instruksional Khusus (TIK).Tujuan Instruksional
Umum (TIU) merupakan rumusan yang berisi kualifikasi sebagai pernyataan hasil
belajar yang diharapkan dimiliki anak didikatau siswa setelah mengikuti pelajaran dalam pokok bahasan tertentu,namun
belum dirumusan secara khusus dalam bentuk perubahan tingkah laku siswa,yang
mudah diamati dan tidak menimbulkan banyak interpretasi.
Sementara
itu ,tujuan instruksional khusus (TIK) merupakan penjabaran lebih lanjut dari TIU
kualifikasi yang diharapkan dimiliki anak didik setelah mengikuti pelajaran
dalam sub pokok bahasan tertentu.TIK dirumuskan dengan menggunakan istilah yang
operasional,dari sudut produk belajar dan tingkah laku anak didik serta
dinyatakan dalam rumusan yang sangat khusus,sehingga tujuan tersebut mudah
dinilai,dan tidak menimbulkan salah penafsiran.
2.Faktor Pendidik
Pendidik ialah orang yang memikul
pertanggung jawaban untuk mendidik.[3]Dwi
Nugroho Hidayanto,menginventarisasi bahwa pengertian pendidik meliputi :
a. Orang dewasa;
b. Orang tua;
c. Guru
d. Pemimpin masyarakat
e. Pemimpin agama
secara umum dikatakan bahwa setiap
orang dewasa dalam masyarakat dapat
menjadi pendidik,sebab pendidikan merupakan suatu perbuatan sosial,perbuatan
fundamental menyangkut keutuhan perkembangan pribadi anak didik menuju pribadi
dewasa susila.pribadi dewasa susila itu sendiri memiliki beberapa
karakteristik,yaitu:
a.
Mempunyai individualitas yang utuh;
b.
Mempunyai sosialitas yang utuh;
c.
Mempunyai orma kesusilaan dan
nilai-nilai kemanusiaan;
d.
Bertindak sesuai dengan norma dan
nilai-nilai itu atas tanggung jawab sendiri demi
kebahagiaan
dirinya dan kebahagiaan masyarakat atau orang lain.
Orang
dewasa disifati secara umum melalui gejala-gejala kepribadiaannya,yaitu:
a.
Telah mampu mandiri;
b.
Dapat mengambil keputusan batin sendiri
atas perbuatannya;
c.
Memiliki pandangan hidup,dan prinsip
hidup yang pasti dan tetap;
d.
Kesanggupan untuk ikut serta secara konstruktif pada matra sosio cultural;
e.
Kesadaran akan norma-norma;
f.
Menunjukan hubungan pribadi dengan
norma-norma.[4]
Seorang
pendidik harus memperlihatkan bahwa ia mampu mandiri, tidak tergantung kepada
orang lain. Ia harus mampu membentuk dirinya sendiri. Dia juga bahkan saja
dituntut bertanggung jawab terhadap anak didik, namun dituntut pula bertanggung
jawab terhadap dirinya sendiri.tanggung jawab ini didasarkan atas kebebasan
yang ada pada drinya untuk memilih perbuatan yang terbaik menurutnya. Apa yang
dilakukannya menjadi teladan bagi masyarakat.
a.
Beberapa Karakteristik pendidik
Sebagaimana
dikemukakan terdahulu,bahwa tanggung jawab seorang pendidik cukup berat,maka
predikatnya tersebut hanya dapat dapatb dipegang oleh orang dewasa. Untuk
menjadi pendidik diperlukan berbagai persiapan,seperti persiapan
perkawinan,pendidikan calon pendidik di sekolah, pendidikan pemimpin dan
sebagainya.dengan demikian diharapkan dengan status kodrat dan sosialnya
sanggup mendidik orang lain,maksudnya memiliki kemapuan (kompetensi) untuk
melaksanakan tugas-tugas mendidik.
Ada beberapa karakteristik yang
harus dimiliki pendidik dalam melaksanakan tugasnya dalam mendidik,yaitu
sebagai berikut.
1. Kematangan
diri yang stabil;memahami diri sendiri,mencintai diri secara wajar dan memiliki
nilai-nilai kemanusiaan serta bertindak sesuai dengan nilai-nilai itu,sehingga
ia bertanggung jawab sendiri atas hidupnya,tidak menggantungkan diri atau
menjadi beban orang lain.
2. Kematangan
sosial yang stabil;dalam hal ini seorangpendidik dituntut mempunyai pengetahuan
yang cukup tentang masyarakatnya,dan mempunyai kecakapan membina kerja sama
dengan orang lain.
3. Kematangan
professional (kemampuan mendidik);yakni menaruh perhatian dan sikap cinta
terhadap anak didik serta mempunyai pengetahuan yang cukup tentang latar
belakang anak didik dan perkembangannya,memiliki kecakapan dalam menggunakan
cara-cara mendidik.
No comments:
Post a Comment