MAKALAH PENGAWASAN
DAN PENGENDALIAN
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Ilmu pengetahuan pada
dasarnya dibagi atas dua golongan, yaitu ilmu pengetahuan alam / eksakta dan
ilmu pengetahuan sosial.
Manajemen termasuk
kedalam kelompok ilmu pengetahuan sosial. Manajemen adalah bidang yang sangat
penting untuk dipelajari dan dikembangkan karena tidak ada perusahaan yang
dapat berhasil baik tanpa menerapkan manajemen secara baik. Manajemen digunakan
untuk menetapkan tujuan, usaha untuk
mencapai tujuan serta memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber-sumber
lainnya secara efektif dan efisien.
Manajemen juga merupakan suatu pedoman pikiran dan tindakan.
Jadi, jika ilmu
manajemen dipahami, dihayati, dikembangkan serta diterapkan, maka pembinaan
bangsa, politik, ekonomi, kemakmuran dan sebagainya akan mudah ditingkatkan.
Manajemen juga didasarkan pada kerjasama yang serasi, harmonis, serta pembagian
kerja, tanggung jawab diantara semua anggota masyarakat, maka pentinglah ilmu
pengetahuan ini dipelajari.
Pengendalian
(pengawasan) atau controlling adalah bagian terakhir dari fungsi manajemen.
Fungsi ini sangat penting dan sangat menentukan pelaksanaan proses manajemen,
karena itu harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Fungsi manajemen yang
dikendalikan adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian
itu sendiri. Kasus-kasus yang banyak terjadi dalam organisasi adalah akibat
masih lemahnya pengendalian sehingga terjadilah berbagai penyimpangan antara
yang direncanakan dengan yang dilaksanakan.
B. RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa pengertian pengawasan dan pengendalian?
2.
Apa tujuan pengawasan dan
pengendalian?
3.
Apa prinsip pengawasan dan
pengendalian?
4.
Apa saja asas-asas pengawasan dan
pengendalian?
5.
Apa saja jenis-jenis pengawasan dan
pengendalian?
6.
Bagaimana proses pengawasan dan
pengendalian?
C. TUJUAN
1.
Pembaca
dapat memahami pengertian pengawasan dan pengendalian.
2.
Pembaca
dapat memahami tujuan pengawasan dan pengendalian.
3.
Pembaca
dapat memahami prinsip pengawasan dan pengendalian.
4.
Pembaca
dapat memahami asas-asas pengawasan dan pengendalian.
5.
Pembaca
dapat mengerti jenis-jenis pengawasan dan pengendalian.
6.
Pembaca
dapat memahami proses pengawasan dan pengendalian.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pengawasan dan Pengendalian
Fungsi kelima dari seorang pemimpin adalah
pengawasan serta pengendalian. Fungsi ini merupakan fungsi setiap manajer yang
terakhir. Fungsi ini merupakan fungsi pimpinan yang berhubungan dengan usaha
menyelamatkan jalannya perusahaan ke arah pulau cita-cita yakni kepada tujuan yang telah direncanakan.
Melakukan suatu tugas, hanya mungkin dengan baik
bila seseorang yang melaksanakan tugas itu mengerti arti dan tujuan dari tugas
yang dilaksanakan. Demikianpun seorang pemimpin yang melakukan tugas
pengawasan, haruslah sungguh-sungguh mengerti arti dan tujuan daripada
pelaksanaan tugas pengawasan.
Pengawasan atau pengendalian merupakan
follow up dari perintah-perintah yang sudah dikeluarkan. Apa yang sudah
diperintahkan haruslah diawasi, agar apa yang diperintahkan itu benar-benar
dilaksanakan.
Pengawasan dapat diartikan sebagai suatu proses
untuk penentuan apa pekerjaan selanjutnya untuk apa yang telah dilaksanakan,
menilainya dan mengkoreksi bila perlu dengan maksud agar pelaksanaan pekerjaan
sesuai dengan rencana semula.
B. Tujuan
Pengawasan dan Pengendalian
Jelas kiranya, dari pengertian pengawasan diatas,
bahwa tujuan utama dari pengawasan ialah :
1.
Mengusahakan
agar apa yang direncanakan menjadi kenyataan.
2.
Supaya
proses pelaksanaan dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan rencana.
3.
Melakukan
tindakan perbaikan (corrective) jika terdapat penyimpangan-penyimpangan
(deviasi)
4.
Agar
tujuan yang dihasilkan sesuai dengan yang direncanakan.
Untuk dapat mencapai
tujuan-tujuan tersebut, maka pengawasan pada taraf pertama bertujuan agar
pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan instruksi yang telah dikeluarkan, dan untuk
mengetahui kelemahan-kelemahan serta kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam
pelaksanaan rencana berdasarkan penemuan-penemuan tersebut dapat diambil tindakan
untuk memperbaikinya baik pada waktu itu ataupun waktu-waktu yang akan datang.
C. Fungsi
Pengawasan
Ralph Currier Davis dan Alan C. Filley membagi
fungsi pengawasan menjadi delapan sub-fungsi yang terdiri dari tahap-tahap
kegiatan sebagai berikut:
1.
Perencanaan
rutin (routine planning)
2.
Penjadwalan
(scheduling)
3.
Persiapan
(preparation)
4.
Pengabaran
(dispatching)
5.
Pengarahan
(direction)
6.
Pemeriksaan
(supervision)
7.
Pembandingan
(comparison)
8.
Pembetulan
(corrective action)
D. Prinsip-prinsip
Pengawasan dan Pengendalian
Untuk mendapatkan sistem pengawasan yang efektif, maka
perlu dipenuhi beberapa prinsip pengawasan. Dua prinsip pokok yang merupakan
suatu kondisi bagi sistem pengawasan yang efektif ialah adanya rencana tertentu
dan adanya pemberian instruksi-instruksi, serta wewenang-wewenang kepada
bawahan.
Selain kedua prinsip pokok diatas, maka suatu sitem
pengawasan haruslah mengandung prinsip-prinsip berikut:
1.
Dapat
mereflektir sifat-sifat dan kebutuhan-kebutuhan dari kegiatan-kegiatan yang
harus diawasi.
2.
Dapat
dengan segera melaporkan penyimpangan-penyimpangan.
3.
Fleksibel.
4.
Dapat
mereflektir pola organisasi.
5.
Ekonomis.
6.
Dapat
dimengerti.
7.
Dapat
menjamin diadakannya tindakan korektif.
Sistem pengawasan
adalah efektif, bilamana sistem pengawasan itu memenuhi prinsip fleksibilitas.
Ini berarti bahwa sistem pengawasan itu tetap dapat dipergunakan meskipun
terjadi perubahan-perubahan terhadap rencana diluar dugaan.
E. Asas-asas
Pengawasan dan Pengendalian
Harold Koontz dan Cyril O Donnel menetapkan asas
pengendalian sebagai berikut :
1.
Asas
tercapainya tujuan (Principle of assurance of objective), artinya pengendalian
harus ditujukan ke arah tercapainya tujuan yaitu dengan mengadakan perbaikan
untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan dari rencana.
2.
Asas
efisiensi pengendalian (Principle of efficiency of control), artinya
pengendalian itu efisien, dapat menghindari penyimpangan dari rencana, sehingga
tidak menimbulkan hal-hal lain yang diluar dugaan.
3.
Asas
tanggung jawab pengendalian (Principle of control responsibility), artinya pengendalian
hanya dapat dilaksanakan jika manajer bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
rencana.
4.
Asas
pengendalian terhadap masa depan (principle of future control), artinya
pengendalian yang efektif harus ditujukan kearah pencegahan
penyimpangan-penyimpangan yang akan terjadi, baik waktu sekarang maupun masa
yang akan datang.
5.
Asas
pengendalian langsung (Principle of direct control), artinya teknik kontrol
yang paling efektif ialah mengusahakan adanya manajer bawahan yang berkualitas
baik.
6.
Asas
refleksi perencanaan (principle of reflection of plans), artinya pengendalian
harus disusun dengan baik, sehingga dapat mencerminkan karakter dan susunan
rencana.
7.
Asas
penyesuaian dengan organisasi (Principle of organizational suitability),
artinya pengendalian harus dilakukan sesuai dengan struktur organisasi.
8.
Asas
pengendalian individual (Principle of individuality of control), artinya
pengendalian dan teknik pengendalian harus sesuai dengan kebutuhan manajer.
9.
Asas
standar (principle of standard), artinya pengendalian yang efektif dan efisien
memerlukan standar yang tepat yang akan dipergunakan sebagai tolok ukur
pelaksanaan dan tujuan yang akan dicapai.
10. Asas pengawasan terhadap strategis
(Principle of strategic point control), artinya pengendalian yang efektif dan
efisien memerlukan adanya perhatian yang ditujukan terhadap faktor-faktor yang
strategis dalam perusahaan.
11. Asas kekecualian (the exception
principle), artinya efisiensi dalam pengendalian membutuhkan adanya perhatian
yang ditujukan terhadap faktor kekecualian.
12. Asas pengendalian fleksibel (principle
of flexibility of control), artinya pengendalian harus luwes untuk menghindari
kegagalan pelaksanaan rencana.
13. Asas peninjauan kembali (principle of
review), artinya sistem pengendalian harus ditinjau berkali-kali, agar sistem
yang digunakan berguna untuk mencapai tujuan.
14. Asas tindakan (principle of action),
artinya pengendalian dapat dilakukan apabila ada ukuran-ukuran untuk mengoreksi
penyimpangan-penyimpangan rencana, organisasi, staffing, dan directing.
F. Jenis-jenis
Pengendalian
Ada berbagai macam pendapat tentang jenis-jenis
pengawasan. Hal itu terjadi karena perbedaan sudut pandangan atau dasar
perbedaan jenis-jenis pengawasan itu. Ada empat macam dasar penggolongan
jenis-jenis pengawasan, yakni:
1.
Berdasarkan
sifat dan waktu pengawasan
Sifat dan waktu pengawasan dapat dibedakan atas :
a.
Preventive
control , yaitu pengendalian yang dilakukan sebelum kegiatan dikerjakan dengan
maksud supaya tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan.
b.
Repressive
control , yaitu pengendalian yang dilakukan setelah terjadi
penyimpangan/kesalahan dalam pelaksanaan kegiatan, dengan maksud agar tidak
terjadi pengulangan kesalahan, sehingga sasaran yang direncanakan dapat
tercapai.
c.
Pengendalian
yang dilakukan ditengah proses penyimpangan terjadi
d.
Pengendalian
berkala, yaitu pengendalian yang dilakukan secara berkala sebulan sekali atau
satu kuartal sekali atau satu tahun sekali.
e.
Pengendalian
mendadak, yaitu pengendalian yang dilakukan secara mendadak.
2.
Berdasarkan
obyek pengawasan
Obyek
atau sasaran pengawasan ialah :
a.
Pengendalian
produksi (production control). Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui
kualitas dan kuantitas produksi yang dihasilkan, apakah sesuai dengan standar
atau rencananya.
b.
Pengendalian
keuangan (financial control). Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang
menyangkut keuangan, tentang pemasukan dan pengeluaran, biaya-biaya perusahaan
termasuk pengendalian anggarannya.
c.
Pengendalian
pegawai (personal control). Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang ada
hubungannya dengan kegiatan karyawan. Misalnya apakah karyawan bekerja sesuai
dengan rencana, perintah, tata kerja, disiplin, absensi, dan sebagainya.
d.
Pengendalian
waktu (time control). Pengendalian ini ditujukan kepada penggunaan waktu,
artinya apakah waktu untuk mengerjakan suatu pekerjaan sesuai atau tidak dengan
rencana.
e.
Pengendalian
kebijaksanaan (policy control). Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui dan
menilai, apakah kebijaksanaan-kebijaksanaan organisasi telah dilaksanakan
sesuai dengan yang telah digariskan.
f.
Pengendalian
teknis (technical control). Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang
bersifat fisik, yang berhubungan dengan tindakan dan teknis pelaksanaan.
g.
Pengendalian
penjualan (sales control). Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui apakah
produksi atau jasa yang dihasilkan terjual sesuai dengan target yang telah
ditetapkan.
h.
Pengendalian
inventaris (Inventary control). Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui apakah
inventaris perusahaan masih ada semua atau ada yang hilang, apakah masih layak
pakai, atau harus diganti.
i.
Pengendalian
pemeliharaan (Maintenance control). Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui
apakah semua inventaris perusahaan dan kantor dipelihara dengan baik atau
tidak, dan jika ada yang rusak apa kerusakannya, apa masih dapat diperbaiki
atau tidak.
3.
Berdasarkan
Subyek pengawasan
Bilamana
pengawasan itu dibedakan atas dasar penggolongan siapa yang mengadakannya, maka
pengawasan itu dapat dibedakan atas:
a.
Internal
control, yaitu pengendalian yang dilakukan seorang atasan terhadap bawahannya.
Cakupan dari pengendalian intern ini meliputi hal-hal yang cukup luas, baik
pelaksanaan tugas, prosedur, sistem, hasil, kehadiran dan lain-lain.
b.
External
control, yaitu pengendalian yang dilakukan oleh pihak luar. Pengendalian extern
dapat dilakukan secara formal atau informal.
c.
Audit
control, yaitu pengendalian atau penilaian atas masalah-masalah yang berkaitan
dengan pembukuan perusahaan.
d.
Formal
control, yaitu pengendalian yang dilakukan oleh instansi atau pejabat yang
berwenang dan dapat dilakukan secara intern, maupun extern.
e.
Informil
control, yaitu pengendalian yang dilakukan oleh masyarakat atau konsumen, baik
langsung maupun tidak langsung.
4.
Berdasarkan
proses dan cara-cara pengendalian
Proses pengendalian dilakukan secara bertahap
melalui langkah-langkah berikut:
a.
Menentukan
standar-standar yang akan digunakan sebagai dasar pengendalian.
b.
Mengukur
pelaksanaan atau hasil yang telah dicapai.
c.
Membandingkan
pelaksanaan atau hasil dengan standar dan menentukan penyimpangan jika ada.
d.
Melakukan
tidakan perbaikan, jika terdapat penyimpangan agar pelaksanaan dan tujuan
sesuai dengan rencana. Rencana juga perlu dinilai ulang dan dianalisi kembali,
apakah sudah benr-benar realistis atau tidak. Jika belum benar atau realistis
maka rencana itu harus diperbaiki.
Agar pengawasan yang dilakukan seorang atasan
berjalan secara efektif, maka haruslah terkumpul fakta-fakta ditangan pemimpin
yang bersangkutan. Dapat dilakukan dengan:
a.
Personal
observation (peninjauan pribadi), yaitu mengawasi dengan jalan meninjau secara
pribadi sehingga dapat dilihat sendiri pelaksanaan pekerjaannya. Cara
pengawasan ini mengandung suatu kelemahan, bila timbul syak wasangka dari
bawahan. Cara seperti ini memberi kesan kepada bawahan, bahwa mereka diamati
secara kerass dan kuat sekali. Di pihak lain ada yang berpendapat bahwa cara
inilah yang terbaik. Sebagai alasan karena dengan cara ini kontak langsung
antara atasan dan bawahan dapat dipererat.
b.
Interview
(laporan lisan), yaitu pengawasan yang dilakukan dengan mengumpulkan
fakta-fakta melalui laporan lisan yang diberikan bawahan. Wawancara yang
diberikan ditujukan kepada orang-orang atau segolongan orang tertentu yang
dapat memberikan gambaran dari hal-hal yang ingin diketahui terutama tentang
hasil sesungguhnya (actual results) yang dicapai oleh bahawannya.
c.
Written
report (laporan tertulis), yaitu suatu pertanggung jawaban kepada atasannya
mengenai pekerjaan yang dilaksanakannya, sesuai dengan instruksi dan
tugas-tugas yang diberikan atasan kepadanya.
d.
Control
by exception (pengawasan berdasarkan kekecualian), adalah suatu sistem
pengawasan, dimana pengawasan itu ditujukan kepada soal-soal kekecualian. Jadi
pengawasan hanya dilakukan bila diterima laporan yang menunjukkan adanya
peristiwa-peristiwa yang istimewa. Pengendalian ini dikhususkan untuk
kesalahan-kesalahan yang luar biasa dari hasil atau standar yang diharapkan.
G. Alat-alat
Pengendalian
Alat-alat pengendalian yang dapat dipergunakan suatu
perusahaan atau organisasi, yaitu:
1.
Budget
(anggaran)
Budget adalah suatu ikhtisar hasil yang akan
diharapkan dari pengeluaran-pengeluaran yang disediakan untuk mencapai hasil
tersebut. Pengendalian budget (budgetary control) bertujuan untuk mengetahui
apakah hasil yang diharapkan dari penerimaan atau pengeluaran itu sesuai dengan
yang diinginkan atau tidak. Hal ini dapat diketahui dengan cara membandingkanny
dengan budget, karena dalam budget telah ditetapkan jumlah penerimaan, jumlah
pengeluaran dan hasil yang akan diperoleh untuk masa yang akan datang. Apabila
tidak sesuai dengan budget, baik penerimaan atau pengeluaran, maupun hasil yang
diperoleh, maka perusahaan itu tidak efektif karena terdapat penyimpangan
(deviasi) dan manajer perusahaan harus segera mengadakan perbaikan
(correction).
Pada dasarnya, tipe-tipe budget dibedakan atas :
a.
Sales
budget (anggaran penjualan)
b.
Production
budget (anggaran produksi)
c.
Cost
production budget (anggaran biaya produksi)
d.
Step
budget (menunjukkan bermacam-macam tingkat produksi)
e.
Purchasing
budget (anggaran pembelian)
f.
Labor
budget/budget personnel (berhubungan dengan jumlah buruh)
g.
Cash
and financial budget (anggaran keuangan)
h.
Master
budget (budget keseluruhan)
2.
Non
Budget
Alat pengendalian nonbudget yaitu sebagai berikut:
a.
Personal
observation, yaitu pengawasan langsung secara pribadi oleh pimpinan perusahaan
terhadap para bawahan yang sedang bekerja. Jika terjadi kesalahan, maka
pimpinan dapat segera melakukan koreksi dengan cara menegur atau memberikan
petunjuk, sehingga pada saat itu juga kegiatan itu dapat segera diperbaiki.
b.
Report
(laporan). Laporan yang dibuat oleh para manajer bawahan, misalnya manajer
produksi, manajer pemasaran membuat laporan-laporan pemasaran atau marketing
report. Manajer personal membuat laporan karyawan atau personnel report.
Manajer keuangan membuat laporan keuangan atau financial report. Berdasarkan
laporan-laporan ini diketahui dan diawasi perkembangan dan kegiatan-kegiatan
yang sudah lampau. Tetapi jika terjadi penyimpangan tidak dapat segera
diketahui, sehingga perbaikan akan terlambat. Hal ini merupaka suatu kelemahan
alat pengendalian report ini.
c.
Financial
statement, adalah daftar laporan keuangan yang biasanya terdiri dari Balance
sheet dan Income statement. Dari kedua daftar ini dapat diketahui dan diawasi
melalui analisis laporan keuangan, mengenai keadaan permodalan perusahaan.
d.
Statistic,
merupakan pengumpulan data, informasi, dan kejadian yang telah berlalu. Menganalisa
data tersebut, dan menyajikannya dalam bentuk-bentuk tertentu, misalnya grafik,
curva, sehingga dapat memudahkan pimpinan mengetahui kejadian yang telah
berlalu dan dapat dengan mudah pula dijadikan informasi sebagai bahan dalam
mengambil keputusan.
e.
Break
even point (titik pulang pokok). Yaitu suatu titik atau keadaan ketika jumlah
penjualan tertentu tidak mendapat laba ataupun rugi. Jadi jumlah biaya sama
dengan jumlah penjualan.
f.
Internal
audit. Yaitu pengendalian yang dilakukan oleh atasan terhadap bawahan yang
meliputi bidang-bidang kegiatan secara menyeluruh yang menyangkut masalah
keuangan, apakah sesuai dengan prosedur dan praktek yang telah ditetapkan.
Auditing ini juga menyangkut pengendalian persediaan yang baik, pembayaran
barang yang dibeli, dan pemeriksaan yang cukup, apakah barang yang telah
dibayar benar-benar telah diterima.
Personal
audit adalah suatu analisa dari semua faktor yang menyangkut administrasi
personalia. Berdasarkan analisa tersebut dan berbagai rekomendasi, diperbaiki
setiap penyimpangan dari standar yang diinginkan.
Audit
by A.I.M
Pemerisaan
dengan A.I.M. (American Institute of Management) terhadap perusahaan ialah
dengan menggunakan 10 kategori dasar yang seluruhnya mempunyai 10.000 point
nilai.
Kategori
dasar itu ialah:
1)
Fungsi
ekonomi (economic function)
2)
Struktur
perusahaan (cooperate structure)
3)
Kesehatan
pertumbuhan pendapatan (health of earning growth)
4)
Kejujuran
terhadap pemegang saham (fairness to stock olders)
5)
Penelitian
dan pengembangan (research and development)
6)
Analisis
kepemimpinan (directorate analysis)
7)
Efisiensi
produksi (production efficiency)
8)
Penilaian
pelaksanaan (executive evaluation)
9)
Analisis
permodalan (financial analysis)
10) Analisis hasil (income analysis)
H. Cara-cara
membuat laporan guna pengawasan
Menurut James
Williamson, ada tujuh landasan pokok dalam penulisan laporan. Ketujuh landasan
tersebut adalah:
1.
Jelas
2.
Lengkap
3.
Ringkas
4.
Sopan
5.
Tulus
6.
Mengandung
kepribadian
7.
Teliti
Selanjutnya John C. Johnson, mengemukakan lima buah
pedoman pokok dalam meyusun suatu laporan, yaitu
1.
Periksalah
semua fakta-fakta yang dibutuhkan sebelum membuat laporan.
2.
Aturlah
keterangan-keterangan itu sebaik mungkin.
3.
Laporan
harus singkat tetapi lengkap.
4.
Pergunakanlah
bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti.
5.
Cantumkanlah
badan-badan yang dapat membantu atasan untuk mendapatkan gambaran yang lebih
jelas.
Untuk
menjawab pertanyaan, bila laporan disusun, maka John C. Johnson menjawab dalam
empat hal, yaitu:
1.
Bilamana
pelapor mengambil putusan penting yang secara langsung berpengaruh terhadap
atasannya, walaupun pengambilan putusan itu adalah wewenang dan tanggung jawab
pelapor sendiri.
2.
Bilamana
pelapor memerlukan bantuan dalam rangka pengambilan suatu putusan penting atau
dalam pemecahan suatu masalah yang sulit.
3.
Jika
pelapor meramalkan akan timbul kesulitan-kesulitan
4.
Jika
terjadi peristiwa yang istimewa atau luar biasa yang perlu diketahui atasan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan
laporan adalah unsur-unsur laporan. Laporan sebaiknya di standariser.
Unsur-unsur laporan itu terdiri dari :
1.
Judul
2.
Daftar
isi dan intisari
3.
Ringkasan
4.
Tubuh
laporan
5.
Appendix
Susunan dari unsur-unsur diatas tidak selalu
demikian. Seringkali unsur ketiga didahului oleh unsur keempat. Hal ini
sesungguhnya bukan merupakan persoalan yang prinsipel.
BAB III
KESIMPULAN
Dari penjelasan-penjelasan yang telah disampaikan
pada makalah ini, dapat kita simpulkan bahwa fungsi pengawasan dan pengendalian
didalam suatu manajemen sangatlah penting adanya. Karena jika pengawasan dan
pengendalian tidak dilaksanakan secara baik, maka akan sangat berpengaruh
didalam pemanajemenan untuk mencapai tujuan pada suatu organisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Hasibuan, Drs. Malayu S.P. 1986. Manajemen dasar, Pengertian dan
Masalah.Jakarta: PT. Gunung Agung
Juran, J.M. 1988. Terobosan Manajemen, Jakarta: Erlangga
Manullang, Drs.M .1981. Dasar-dasar
Manajemen,
Jakarta:
Ghalia Indonesia
Sutabri, Tata .2005. Sistem
Informasi Manajemen,
Yogyakarta: Andi Yogyakarta
Uchjana Effendy.M.A, Onong .1996.
Sistem Informasi Manajemen,
Bandung:
Mandar Maju
Malayu Hasibuan Manajemen dasar,Pengertian danMasalah
Jakarta: PT. Gunung Agung 1986.hml.101
Juran Terobosan
Manajemen Jakarta:
Erlangga,1988.hml.78
M Manullang,
Dasar-dasar Manajemen, Jakarta: Ghalia Indonesia,1981.hlm.96
Tata Sutabri, Sistem Informasi Manajemen, Yogyakarta:
Andi Yogyakarta,2005.hml.115
Onong Uchjana
Effendy Sistem Informasi Manajemen
Bandung: Mandar Maju,1996.hml.128